Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Wanita Tak Berperasaan


__ADS_3

"Chris... Bagaimana aku akan menemukannya sekarang? " Ryan tidak pernah merasakan ketidakberdayaan seperti ini sebelumnya. Pikirannya terus teringat kepada senyum Erza dan senyum Rulianna.


"Aku tidak tahu Ryan" Jawab Chris.


"Urgh... Aku harus menemukannya" Batin Ryan sambil terus berfikir.


"Mungkin dia akan datang menemui Ezra besok. aku tidak berpikir dia bisa melupakan ulang tahun putranya" Ucap Ryan tiba-tiba.


"Ya, dia mencintai Ezra dan dia pasti akan datang menemuinya. Tunggu... besok adalah hari kematian Erza. Dia pasti akan ada di sana. Aku akan mendapatkannya kembali" Gumam Ryan lagi.


"Aku bahkan memanggilnya pelacur dan menyakiti dia. Aku juga memperkosanya" Ryan mendapati dirinya menangis untuk wanita yang dia sakiti. Air matanya keluar dan dia tidak memaksanya kembali.


"Bagaimana aku akan menghadapi Erza setelah apa yang aku lakukan pada saudara perempuannya. Hatiku hancur berkeping-keping setiap saat aku ingat cara Erza mengucapkan selamat padaku hari itu. Jika dia tahu bahwa kakaknya yang melahirkan anakku... Sial..." Ryan merasa frustasi.


"Chris... Bawa Ezra ke sini. Aku tidak ingin melihat wajah wanita jahat itu sekarang" Sakit untuk percaya bahwa nenek Ryan menyebabkan kematian seorang anak kecil yang tidak bersalah. Pikiran Ryan kosong dan tidak ada kata-kata untuk menggambarkan rasa sakit di dalam hatinya. Ryan benar-benar merasa tersesat dalam rasa bersalahnya.


"Tidak... Aku harus berbicara dengan nenek. Mengapa aku harus menjauh darinya. Dia mungkin nenekku, tapi dia wanita yang benar-benar kotor" Gumam Ryan sambil bangkit.


"Aku pergi" Dengan pemikiran seperti itu Ryan bangkit dari kursi untuk pergi.


"Apakah kamu bercanda. Kamu tidak bisa mengemudi dalam keadaan seperti ini" Ryan mendengar teriakan Chris. Saat Ryan menoleh, ternyata Chris mengejarnya.


"Ryan berhenti. Biarkan aku yang menyetir" Chris datang dan mendorong Ryan menjauh, lalu dia naik ke kursi pengemudi.


"Menjauhlah Chris" Ryan sangat marah pada Chris karena dia sangat menyebalkan.


"Tidak... Masuklah aku akan mengantarmu kesana" Ucap Chris sambil menyalakan mesin mobil. Tanpa berdebat dengan Chris, Ryan masuk ke mobil dan Chris mulai mengemudi.


Setelah beberapa waktu, Chris menghentikan mobil Ryan di taman yang berada di halaman mansion dan Ryan segera turun dari mobil. Pikiran Ryan dipenuhi Erza dan tiba-tiba darah Ryan mulai mendidih karena marah.


"Chris ayo" Teriak Ryan saat memasuki rumah. Begitu Ryan memasuki rumah, hal yang Ryan lihat membuatnya menjadi lebih marah.


"Daddy" Ezra berlari ke arah Ryan dengan mata berkaca-kaca. Ryan segera mengangkat putranya dan menatap dua wanita di depannya. Natasha ****** sialan dan wanita jahat itu.


"Aku benci dia. Dia memaksaku untuk memanggil dia mama. Dia bilang Daddy suka dia" Ryan menatap Ezra yang sedang menatap Natasha dengan tatapan marah.


"Apakah kamu memanggilnya mama? " Ryan bertanya pada Ezra yang menggelengkan kepalanya.


"Ezra punya mommy" Ryan merasa senang karena anaknya tidak menerima wanita lain selain ibunya.

__ADS_1


"Ya, kamu punya mommy" Ryan menyeringai pada Natasha, dan wajah Natasha menjadi pucat.


"Pergi dari rumahku. Jika kamu berani menunjukkan wajah ****** sialanmu di depanku lagi, percayalah, aku akan mematahkan kepala dari tubuhmu" Kata Ryan dengan tenang, Natashapun matanya dipenuhi air mata.


"Tutup mulutmu Ryan. Natasha akan menjadi istrimu. Kamu berani tidak menghormatinya? " Ucap nenek yang berdiri dari sofa sambil berteriak.


"Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan menikahinya nenek? " Ryan bertanya dengan suara sarkastik.


"Kamu harus menikahinya karena aku sudah berbicara dengan keluarganya" Jawab nenek Ryan. Darah Ryan kembali mendidih karena marah mendengar perkataan neneknya.


"Aku tidak peduli dengan keluarganya dan aku sudah memiliki seorang wanita jadi aku tidak akan pernah menikahi wanita ini" Kata Ryan singkat. Wajah nenek memucat. Lalu nenek tiba-tiba melihat ke arah Ryan.


"Kamu berani meneriakiku karena pelacur itu? Apakah mungkin karena dia merayumu untuk tidur dengannya? Aku tidak pernah mengharapkan ini darimu Ryan" Teriak nenek pada Ryan.


"Pelacur... Ha... Akan kutunjukkan siapa pelacur di sini" Ryan membalas teriakan neneknya.


"Chris, bawa Ezra ke apartemenku. Aku akan segera datang" Kata Ryan pada Chris.


"Tapi..." Chris hendak mengatakan sesuatu tapi aku memotongnya.


"Aku akan segera datang" Chris mengangguk dan pergi dengan Ezra dan Ryan menatap nenek.


"Apa itu Ryan? " Nenek bertanya pada Ryan ketika dia melihat ke arah Chris pergi membawa Ezra.


"Oke... Sekarang mari kita bicara tentang pernikahanmu" Ucap nenek Ryan lagi. Ryan menarik napas dalam-dalam dan menatap Natasha yang merona.


"****** yang menjijikkan" Batin Ryan.


"Tidak ada pernikahan antara aku dan dia. Menyerah saja" Ryan berbicara sambil mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakannya.


"Kenapa kamu merokok di rumah Ryan. Kamu tidak pernah melakukannya" Tanya neneknya. Namun Ryan tetap mengambil sebatang rokok dan menatap nenek sambil tersenyum.


"Aku tidak melakukannya karena Ezra ada di rumah. Sekarang dia tidak ada di sini dan aku tidak peduli dengan kesehatanmu" Begitu Ryan mengatakan itu, nenek menamparnya, tetapi tamparan itu tidak menyakitinya seperti setiap kali Anna melakukannya. Setiap kali Anna menampar Ryan, tidak pernah mengenai wajah Ryan, rasanya seperti Anna menusuk jantungnya.


"Tutup mulutmu Ryan" Teriak nenek pada Ryan dan kakek juga datang turun dan bergabung dengan Ryan dan yang lain.


"Mana uang itu nenek? " Tanya Ryan pada nenek, saat itu juga nenek menatap Ryan dengan tatapan bertanya.


"Uang apa Ryan? " Nenek bertanya lagi dan aku tertawa dingin.

__ADS_1


"Uang yang dikembalikan Rulianna" Ryan menyeringai pada nenek dan melihat wajahnya memucat.


"A... Apa. Rulianna... Siapa? " Seperti biasa, ratu drama.


"Tentu saja ibu dari Ezra" Dengan itu Ryan menatap wajah Natasha dan melihat nenek yang sudah berumur menatap Ryan dengan wajah marah.


"Apa yang kamu bicarakan Ryan. Mengapa kamu berteriak pada nenekmu? " Kakek datang dan bertanya pada Ryan.


"Aku tidak meneriaki kakek. Aku hanya terluka karena rencana jahatnya" Jawab Ryan dingin. Sungguh menyakitkan setiap kali Ryan mengingat mereka. Erza dan Anna.


"Ryan... Ada apa? " Ryan mendengar suara ayahnya yang saat itu memasuki rumah. Ryan menatap ayahnya dan melihat dia mengerutkan kening pada Natasha.


"Ayah. Kau tahu aku menemukan apa yang terjadi empat tahun lalu" Ryan menyeringai pada nenek dan berbicara.


"Apa? " Ayah menatap Ryan dengan wajah bingung.


"Tutup mulutmu Ryan. Beraninya kau tidak menghormatiku di depan Natasha" Ucap nenek dengan nada marah. Natasha segera berdiri dan menghampiri Ryan sambil memeluk tangan nenek.


"Jangan marah padanya nenek" Natasha berbicara dengan manis dan memeluk nenek sambil menatap Ryan.


"****** tak beradab" Batin Ryan dengan senyum smirknya.


"Aku tidak akan menutup mulutku. Kamu nenek, adalah wanita jahat. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kamu lakukan di belakangku. Aku menemukan semua yang kamu lakukan pada Rulianna dan adiknya. Wanita tak tahu malu" Teriak Ryan, nenek yang mendengarpun menatap Ryan dengan tatapan tak percaya.


"Natasha... Pergi dari rumahku sekarang sebelum aku mengusirmu" Ryan ingin membuat wanita itu pergi karena Ryan tidak ingin Natasha mengetahui apa pun tentang Anna.


"Jangan pernah datang ke sini lagi" Natasha menatap Ryan yang berbicara dengan wajah aneh dan menyambar tasnya lalu meninggalkan rumah.


"Ryan, bagaimana kamu bisa berbicara dengan nenekmu di depan Natasha seperti itu? " Kakek mengernyitkan dahi kepada Ryan.


"Bicara seperti itu padanya? Kenapa kakek tidak bertanya padanya apa yang dia lakukan pada ibu Ezra? " Jawab Ryan.


"Kamu jelas berbohong padaku nenek tentang adiknya. Kamu bilang itu pacarnya, dan dia tidak membayar uang dan membiarkannya mati, tapi apa kenyataannya. Kamu tidak memberinya uang dan membiarkan adiknya mati, menungguku selama sembilan bulan penuh dan kamu tidak membiarkan aku melihat dia" Air mata Ryan keluar saat dia berbicara. Anna menunggu Ryan tapi dia tidak bisa pergi menemuinya.


"Kau jelas membunuh anak kecil itu. Wanita tak punya hati. Tidak heran Anna sangat membenciku. Dia bahkan menyebutku pembunuh dan binatang tak berperasaan. Semuanya karenamu" Ucap Ryan.


"Bukannya hatimu luluh ketika dia memohon padamu untuk memberikan uangnya untuk operasi adiknya. Padahal kamu adalah seorang wanita? " Ucap Ryan lagi tanpa membiarkan neneknya berbicara.


"Dia melahirkan anakku karena dia ingin menyelamatkan adiknya bukan karena dia menginginkan uang, tetapi kamu membuatnya kehilangan keduanya" Ryan berkata dengan rasa sakit dihatinya.

__ADS_1


"Nenek... Aku tidak percaya caramu berbohong padaku. Kau bilang dia pelacur dan wanita murahan. Sial... Kenapa aku percaya padamu. Dia bahkan datang dan meminta nenek untuk mengembalikan bayinya. Aku melihatnya hari itu dan dia basah kuyup karena hujan dan dia berjalan melalui jalan setapak, dia seperti kehilangan segalanya, tapi kau BUAT CERITA BOHONG PADAKU. AKU BENCI KAMU" Dengan itu Ryan menendang vas bunga besar di lantai. Ryan melihat nenek yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Katakan padaku mengapa kamu melakukan itu? " Ryan bertanya lagi dengan suara rendah. Lalu nenek melihat ayah Ryan dan berbicara.


__ADS_2