Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Jangan Tinggalkan Aku


__ADS_3

Setelah selesai dengan semuanya, Ryan dan Anna akhirnya pulang. Begitu sampai dirumah, ternyata Ezra belum ada. Anna menatap Ryan yang sedang menatap Dirinya.


"Ayo nanti keluar untuk makan malam" Ryan mencium kening Anna dan menarik pinggangnya. Anna mengangguk pada Ryan dan tersenyum.


"Anna. Apa yang dia katakan? " Anna paham apa yang Ryan bicarakan.


"bagaimana aku menjawab pertanyaannya? Bagaimana caranya juga memberitahunya, jika dia melakukan itu sekali lagi, maka sama saja dengan bunuh diri" Hati Anna merasakan ketakutan saat mengingat kata-kata dokter itu.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari apa yang dikatakan dokter. Dia hanya memintaku untuk memberimu obat tepat pada waktunya" Anna tersenyum dan mencium pipi Ryan. Ryan memperhatikan Anna dan tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk. Anna tahu Ryan tidak percaya padanya.


"Ryan, jangan terlalu dipikirkan. Semuanya akan baik-baik saja" Anna tidak ingin Ryan meragukan dirinya sendiri dan terlalu banyak berpikir.


"Anna, jangan tinggalkan aku ya? " Ryan membenamkan wajahnya di leher Anna. Tenggorokan Anna terasa kering karena kata-kata Ryan barusan. Serasa dia ingin menangis, tapi Anna menahan air matanya agar tak menetes.


"Aku tidak akan pergi" Anna menjawab sambil membelai rambut Ryan dan mencium kepalanya. Ryan mengangkat kepalanya dan menatap Anna sambil tersenyum.


"Aku membeli sesuatu untukmu" Ryan berkata sambil mengeluarkan sesuatu dari sakunya lalu menyerahkan pada Anna. Setelahnya, Anna merasakan sesuatu yang terasa dingin di lehernya. Anna melihat Ryan yang sedang memasangkan sebuah kalung. Dengan liontin bunga yang sama dengan cincin yang dia pakai, tetapi kelopaknya sebuah berlian merah kecil.


"Ryan tidak usah. Ini sudah cukup" kata Anna. Ryan menggelengkan kepala sambil mencium leher Anna. Ryan membalikkan badan Anna menghadapnya dan mencium keningnya.


"Jangan pernah melepas ini. Apa pun yang terjadi, simpan itu dan pakai selalu bersamamu" Anna mengangguk pada Ryan dan tersenyum.


"Aku harus pergi ke kantor sekarang Anna. Ayah akan datang mengantarkan Ezra sebentar lagi. Bersiap-siaplah, jam setengah tujuh malam aku akan menjemput kalian berdua" Anna menggigit bibir bawahnya dan mengangguk, tapi jauh di lubuk hatinya, dia tidak ingin Ryan pergi. Ryan mencium keningnya lalu berbalik untuk pergi.


"Ryan, hati-hati" Anna meraih lengan Ryan dan dengan cepat dan mencium pipinya, Anna mendengar Ryan terkekeh.


"Tentu saja, suamimu ini akan selalu berhati-hatu untukmu sayang" Ryan mengedipkan mata pada Anna lalu memasuki lift. Anna tersenyum karena apa yang Ryan katakan.


Setelah Ryan pergi, Anna masuk ke kamar dan menanggalkan pakaiannya, lalu mengenakan salah satu kemeja Ryan, karena Anna merasa nyaman memakai baju Ryan. Kemudian Anna membersihkan kamar Ezra dan menemukan begitu banyak bungkus cokelat dan keripik.

__ADS_1


"Bocah ini..." Gumam Anna. Anna pergi ke ruang tamu dan membersihkannya. Saat sedang membersihkan, dia menemukan banyak puntung rokok di bawah sofa. Hati Anna bergetar hebat ketika melihat berapa banyak dari benda itu yang ada di sana.


"Apakah Ryan...? " Anna menarik napas dalam-dalam dan setelah selesai membersihkan ruang tamu dengan cepat, Anna memasuki kamar Ryan yang dia tempati sebelumnya. Anna membuka lemari dan memeriksa. Dia berhasil menemukan lebih dari empat bungkus rokok dan beberapa di antaranya sudah kosong.


"Kapan dia menggunakan barang-barang ini? " Ucap Anna pada diri sendiri. Tiba-tiba amarah memuncak dalam diri Anna.Tanpa berfikir lagi, Anna membuang semuanya ke tempat sampah. Anna tidak tahu apakah Ryan sakit karena merokok.


"Mommy... Aku pulang" Anna mendengar suara Ezra, dan dengan cepat Anna keluar dari kamar dan melihat Ezra sedang tersenyum padanya.


"Di mana kakek? " Anna bertanya kepada Ezra. karena Anna tidak melihat ayah Ryan dengan Ezra.


"Kakek pergi ke kantor karena daddy menelponnya" Anna mengangguk pada Ezra dan mengegendongnya. Ezra pun menatap Anna dengan senyum lebarnya. Imut-imut sekali.


"Mommy apa Daddy yang memberikan ini? Cantik sekali" ucap Ezra sambil menyentuh kalung dileher Anna.


"ya, daddy yang memberikannya" Anna tersenyum pada Ezra. Ezrapun memeluk leher Anna begitu erat.


"Batu berwarna itu disebut berlian sayang. Jangan disebut batu warna" Anna mencium kepala Ezra dan membawanya ke kamar, Anna lalu memandikannya. Setelah mengganti pakaiannya, Anna membawa Ezra ke dapur. "Kamu mau makan apa sayang. Apa kamu sudah makan siang dengan kakek? " Anna bertanya. Dan dengan cepat Ezra menganggukkan kepalanya.


"Aku makan pizza" Anna memperhatikan saat Ezra mengatakan itu. Dia terlihat menjilat bibirnya.


"Ya Tuhan anak ini. Mommy akan membuatkan kue untukmu" Anna mencium kening Ezra dan meletakkannya di atas meja.


"Oke mom" Anna segera membuat kue coklat untuk anaknya.


Setelah selesai, Anna memberikan kue kepada Ezra dan mengajaknya ke ruang tamu lalu meletakkannya di sofa.


"Sayang, daddy bilang kita akan keluar untuk makan malam. Sekarang sudah jam setengah 6, jadi tonton kartun sampai jam enam dan kita harus bersiap-siap" Ucap Anna lalu menyalakan TV dan mencium pipi Ezra. Ezra mengambil kue lalu memasukkan ke mulutnya sampai penuh dan tersenyum pada Anna.


"Mommy akan mandi dan kesini lagi sayang" Anna masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya. Setelah selesai, Anna memakai handuk dan keluar dari kamar. Anna kembali keruang tamu dan melihat anaknya masih menonton kartun sambil tertawa terbahak-bahak. Anna masuk ke kamar lagi saat melihat putranya masih senang dengan filmnya, dia segera berganti pakaian.

__ADS_1


"Mommy. sudah jam enam sekarang" Anna mendengar suara Ezra saat dia sudah selesai mengenakan pakaiannya. Sungguh anak yang baik, Ezra benar-benar tahu bagaimana mendengarkan orang tuanya.


"Baiklah, ayo bersiap-siap" Anna menggendong putranya dan masuk ke kamar. Anna memakaikan baju Ezra, sebuah hoodie kucing yang lucu dan celana denim pendek.


"Mama apa daddy sakit? " Tanya Ezra. Anna melihat wajah Ezra, menatap putranya yang terlihat sedih dan khawatir.


"Bagaimana mungkin daddymu bisa sakit... Tidak sayang. Kenapa kamu menanyakan itu? " Tanya Anna sambil membelai rambut Ezra.


"Mommy menyuruh daddy pergi ke rumah sakit" Hati Anna menegang.


"Apakah dia mendengar itu? Tidak... Daddynya tidak sakit" Batin Anna.


"Tidak sayang, itu karena daddy bilang dia punya teman di rumah sakit" Anna tidak ingin berbohong kepada anaknya, tapi dia tidak bisa memberitahu Ezra apa yang terjadi dengan daddynya.


"Oh" Jawab Ezra, dia mengangguk pada Anna dan tersenyum. Aku tidak akan membiarkan anaknya tahu apa-apa, karena Ezra bahkan tidak tahu tentang hal-hal semacam itu. Saat Anna akan masuk ke kamarnya, dia menoleh ke belakang. Terlihat Ryan yang baru saja datang dan mengangkat putranya ke atas. Anna menatapnya dan tersenyum ketika Ryan mendekat dan mencium kening Anna.


"Ayo pergi. Kita harus pergi ke suatu tempat juga" Ucap Ryan.


"Suatu tempat? " Tanya Anna.


"Ke mana? " Anna bertanya kepada Ryan lagi. Ryan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Apa kamu tidak mau memberitahuku? " Ucap Anna. Dia melihat senyum suaminya dan menghela nafas.


"Tidak apa-apa asalkan dia bahagia. Kenapa aku seperti ini? " Batin Anna. Dia menggigit bibir bawahnya dan menatap wajah tampan Ryan memasuki mobil. Jantung Anna berdegup sangat kencang karena pria ini. Dia benar-benar memperlakukan Anna dengan buruk ketika pertama kali bertemu. Dan Ryan bahkan memperkosa dan menyakiti Anna. Tapi sekarang Ryan bukan orang yang sama yang pernah menyakitinya dulu. Ryan begitu lembut dan perhatian,


"Jadi bagaimana aku bisa bertahan tanpa jatuh cinta pada pria ini. Bagaimanapun dia sudah menjadi suamiku. Aku bahkan melahirkan anaknya, jadi tidak mungkin aku meninggalkan dia dan putra kami" Batin Anna. Anna pikir itu semua terjadi karena semua hal yang terjadi empat tahun lalu, tetapi itu bukan salah Ryan. Dia tidak pernah tahu yang sebenarnya. Anna segera memalingkan muka dari Ryan karena tidak ingin selalu menangis seperti anak kecil. Anna tidak tahu tentang apa yang terjadi pada dirinya sendiri, tetapi dia dapat dengan jelas merasakan bahwa hatinya sudah menjadi milik Ryan.


"Aku mencintai nya" Batin Anna sekali lagi.

__ADS_1


__ADS_2