Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Paman


__ADS_3

"Oke daddy" Ucap Ezra sambil cemberut kepada Ryan. Ryan pun berfikir mengapa anaknya tidak suka pergi ke sekolah.


"Baiklah... Kalau begitu Ezra harus menjadi anak yang baik. Sekarang baca buku yang sudah daddy pilihkan untukmu kemarin. Selesaikan" Ryan mencium pipi Ezra lalu menurunkannya. Dan dengan cepat Ezra berlari ke dalam kamarnya. setelah putranya masuk ke kamar, dan segera menemui istrinya di kamar utama. terlihat Ana yang sedang membaca sebuah buku dengan pelan. dia membacakan buku untuk anaknya yang masih berada di dalam kandungan.


"Kamu tidak membaca novel untuknya kan? " Tanya Ryan sambil duduk disamping Anna.


"Ini dongeng tinkerbell Ryan, bukan novel. Kamu benar-benar" Jawab Anna sambil mengerutkan kening ke arah Ryan dan melanjutkan membacanya. Ryan memperhatikan wajah cantik istrinya beberapa saat. Lama-lama Ryan merasa ingin mencium bibir ranum Anna yang seperti cheri. Dengan perlahan, Ryan mencondongkan tubuhnya ke arah Anna. Terdengar tawa Anna yang sedikit keras. Namun tiba-tiba Anna memukul kepala Ryan dengan buku yang dipegangnya.


"Kenapa kamu memukulku? " Tanya Ryan sambil menatap ke arah Anna.


"Ryan... Kamu mudah sekali bernafsu. Jadi tolong jangan ya. Tahan dulu untuk beberapa bulan kedepan" Ana menatap kearah Ryan dan berkata. hanya bisa mengatupkan bibirnya sambil memandang kaget ke arah istrinya.


"Sudah berbulan-bulan Anna. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana mungkin aku bisa bertahan sampai berbulan-bulan seperti apa yang kamu katakan" Ryan mencoba protes kepada istrinya. Karena akhir-akhir ini mereka sangat jarang melakukan.


"Ryan Bersabarlah... Minggu depan aku mau melahirkan" ucap Anna kepada suaminya sambil mencium pipi Ryan. Ryan merasa berat dengan apa yang dikatakan Anna. Namun dia mengangguk karena Anna sedang mengandung anaknya.


"Baiklah Malaikatku. Aku mencintaimu" Ucap Ryan sambil mencium kening Anna. dan Anna pun mulai tertawa pelan dalam pelukan Rian. Setiap kali Ryan mengatakan bahwa dia mencintai istrinya, selalu saja wajah Anna memerah seperti gadis remaja.

__ADS_1


"I love you too" balas Anna sambil mencium pipi suaminya.


"Anna... Aku mau keluar sebentar dan akan segera kembali. Hati-hati di rumah jangan jangan kemana-mana" Ryan berkata kepada istrinya. Dan Anna pun mengangguk dengan patuh. Setelah itu Ryan keluar dari kamar utama dan menuju ke ruang kerjanya. Sambil berjalan ia mengeluarkan ponsel dan memeriksa pesan yang dikirimkan oleh Mark. Ryan pun segera menelpon mark.


"Kamu menemukannya?" Tanya Ryan disaat Mark sudah menjawab panggilannya.


"iya ..." jawab Mark


"Oke aku akan segera kesana" ucap Ryan sambil berjalan keluar rumah dan menutup panggilan tersebut. Ryan mengemudikan mobilnya dengan cepat dan menuju ke tempat di mana yang ditunjukkan Mark. Setelah Ryan sampai ia segera masuk. Begitu masuk Ryan melihat Mark yang sedang memukuli seorang lelaki.


"Jadi ini orang yang sudah menghancurkan semuanya" Batin Ryan saat sudah berada di dekatnya.


"Aku sudah mengambil sampel darah dan juga mengirimnya ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA. Lihat dia... Dia sangat berbeda. Dia tidak memiliki kemiripan sedikitpun dengan kakek" Mark menyeringai kepada pria di depannya Ryan dan mengangkat alisnya.


"Paman mari sekarang kita berbicara. Aku sudah melepaskan seluruh kekesalan yang ku pendam selama ini. Tapi masih belum cukup. Jadi sekarang cepat katakan kepadaku kenapa kamu melakukan ini semua" Ucap Mark yang sedang duduk di lantai sedangkan laki-laki itu duduk di sofa. Terlihat jelas Mark telah memukuli orang tersebut dengan membabi buta. Lihat saja dari prnampilannya. Tanpa mempedulikan apapun, Ryan duduk disofa disamping Mark. Ryan memperhatikan orang tersebut. Tidak ada kemiripan sedikitpun antara dirinya dengan kakek.


"Memang benar apa yang dikatakan Mark, tidak ada kemiripan sedikitpun antara orang itu dengan kakek. Terutama ciri khas keluarga Holland. Mata abu-abu.

__ADS_1


"Kamu menang benar-benar ya" Ucap Mark yang sudah kehilangan kesabarannya karena lelaki itu tidak juga kunjung bicara.


"Ibuku yang memberitahuku tentang semua ini. kakekmu meninggalkan ibuku saat mengetahui usia kehamilan ibuku sama dengan usia kehamilan putranya" Lelaki itu menjawab dengan tenang.


"Apa... Kamu pikir aku percaya dengan ucapanmu. Baiklah kalau begitu... Sekarang katakan Kenapa kamu menculik kedua adikku. kamu bahkan membunuh adikku. Kenapa? dia masih sangat kecil" Teriakan Mark benar-benar membuat lelaki itu menggigil ketakutan.


"Kamu tanya mengapa... Coba kamu pikir orang mana yang tidak iri dengan kehidupanmu. Kalian hidup serba berkecukupan sedangkan aku menderita bersama ibuku. Kamu punya segalanya sedangkan aku tidak. Ayahmu memiliki semuanya, dia memiliki uang banyak kehidupan yang mewah serta semua orang mengaguminya. Aku membencinya karena ayahmu adalah satu-satunya pewaris keluarga Holland. Aku membencinya karena apa, karena kita memiliki darah yang sama sedangkan kehidupan kita sangat berbeda. Ayahmu bahkan memiliki seorang wanita yang sangat mempesona sebagai istrinya lengkap dengan anak-anaknya. Aku juga ingin memiliki semua itu. Dan kamu lihat aku aku selalu hidup dalam penderitaan dan kesendirian. Mengapa yang memiliki itu hanya ayahmu... Bagaimana dengan aku? Jadi ya... Supaya sama, aku menghilangkan semua itu dari ayahmu" Jawab lelaki itu dengan nada lemah. begitu ucapan lelaki itu selesai, Mark menendang perut lelaki itu hingga muntah darah.


"Jadi ini Sebabnya kenapa kamu menghancurkan semuanya. Bahkan kamu menghilangkan nyawa orang lain. Kenapa kamu tidak mendatangi kakek dan berbicara baik-baik kepadanya. Daripada kamu harus membunuh Ayahku dan menculik kedua adikku" Mark berkata sambil meninju wajah lelaki itu dan menjambak rambutnya.


"Aku sudah pernah datang ke sana, tapi kakekmu tidak mengenaliku. Dia bahkan mengatakan bahwa dia tidak mengenal ibuku. Jadi satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah ini. Dan hal lain yang aku sesali adalah aku tidak bisa memiliki ibumu Karena dia sudah keburu meninggal" Lelaki itu menjawab dengan suara yang sangat Lirih.


"Bajingan ini memang benar-benar menginginkan mati saat ini juga, kenapa dia harus memprovokasi Mark dengan ucapannya. Padahal dia tahu Konsekuensi apa yang akan diterima jika dia melakukan itu" Batin Ryan.


"Kamu ingin memiliki ibuku? Ha... Kamu pikir kamu pantas untuk wanita hebat seperti ibuku. Kamu tidak pantas... Lihat saja dirimu... Menjijikan. Dia hanyalah wanita milik Ayahku dan kamu hanyalah debu yang pantas untuk diinjaknya" Mark memukul kepala lelaki itu hingga tersungkur ke lantai dengan emosi yang menggebu.


"Mark... hentikan kamu bisa membunuhnya" Ryan menarik Mark ke belakang dan mark menatap dirinya.

__ADS_1


"Kenapa kamu menculik Mariana dan saudara laki-lakiku? " Tanya mark sambil menghela nafas dan menenangkan diri.


"Bukankah Mariana sangat mirip dan terlihat seperti ibumu. Jadi aku ingin memilikinya. Di saat aku menculiknya, itu juga ada di sana. Jadi aku membawanya saja. Aku hanya ingin melihat mana yang akan dipilih oleh ayahmu. Anak-anaknya atau istrinya. Tapi Mariana melarikan diri dari kami setelah itu tertabrak mobil. Iya menjadi sangat tidak berguna setelah kehilangan ingatannya. Aku hanya ingin menghancurkan hidup kalian" jawab orang tersebut dengan sudah tak bertenaga.


__ADS_2