Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Marianna Holland


__ADS_3

"Kamu pelacur. Berani bicara seperti itu padaku. Apakah kamu tahu siapa aku. Ryan itu milikku, dan kamu dengan anak bajinganmu yang sangat menyebalkan itu" Darah Anna mendidih karena marah ketika mendengar apa yang Natasha katakan.


"Apakah dia baru saja menyebut anakku bajingan? " Tubuh Ryan bergetar hebat saat Natasha berbicara menyebut putranya seperti itu.


"Natasha, kamu akan membayar untuk kata itu dengan seluruh hidup kamu" Gumam Ryan.


"Bajingan itu kamu. Anakku bukan bajingan dan dia punya ayah ibu. Jika kamu berani menyebut anakku dengan sebutan itu lagi aku akan memenggal kepalamu. Pria itu tahu mana yang pelacur" Ryan mendengar suara tamparan dan dia dapat dengan jelas merasakan bahwa tamparan itu dapat melukai kulit seseorang karena terdengar sangat keras. Ryan mendengar suara marah Julianna.


"Huuh... Apakah dia benar-benar Anna. wanita lugu yang ku kenal. Apakah dia baru saja mengatakan dia akan memenggal kepala Natasha. Anna benar-benar wanitaku" Gumam Ryan. Ryan tidak pernah berpikir Anna bisa seberbahaya ini. Ryan menyeringai karena dia sangat senang dengan cara Anna bersikap. "Natasha pantas mendapatkan lebih dari satu tamparan" Fikir Ryan.


"Sialan Anna bahkan menyebut anak buahnya seperti pelacur. Anna benar-benar pantas menjadi wanitaku. Dia harus menjadi wanita yang berdiri di sampingku di masa depan. Aku tahu keputusanku tidak salah" Ryan memutuskan untuk pergi ke Anna. Ryan berjalan ke arah mereka. Ryan melihat Natasha yang menghadap ke arahnya dan Anna ada di depannya. Setelah Ryan berjalan ke mereka, Natasha melihat Ryan dan dia menatap dengan mata penuh harapan. Ryan memperhatikan wajahnya dan mendapati betapa keras Anna menamparnya. Ryan melingkarkan tangannya di pinggang Anna. Ryan menatap Anna dan tahu jika Anna masih menatap Natasha dengan tatapan marah.


"Uuugrrhhh... dia sangat cantik" Ryan tidak peduli dengan kata-kata Natasha dan yang Ryan pedulikan hanyalah wanita yang di gandengnya. Ryan mencium kening Anna dan melihat bagaimana Anna tersipu. Imut-imut sekali. Ryan tidak bisa melihat wanitanya dengan tenang karena suara Natasha yang menyebalkan.


"Aku pikir kamu mendengar apa yang dikatakan wanitaku kepadamu Natasha. Apa yang membuat kamu berpikir bahwa aku akan menikahimu. Aku tidak peduli dengan kehidupan kita, sebelum aku memotong kepalamu seperti yang dia katakan" Ryan menatap Natasha dan memperingatkannya untuk terakhir kalinya karena dia membuat Ryan jijik. Ryan merasa Anna menatapnya dengan tatapan wajah yang kaget dan aku tahu apa yang dia pikirkan. Anna dengan cepat memalingkan muka dari Ryan sambil menggigit bibir bawahnya.


"Sialan... Wanita ini membuatku kehilangan kewarasanku di sini" Tanpa peduli pada Natasha, Ryan memalingkan wajah Anna ke arahnya lalu menciumnya. Ryan bisa merasakan detak jantung Anna saat dia memeluk erat. Setelah beberapa saat Anna melingkarkan tangannya di leher Ryan. Tindakan anna membuat Ryan gila. Ryan mendorong Anna ke dinding terdekat dan memperdalam ciuman dengan mendorong lidahnya di dalam mulut Anna. Ryan tidak punya waktu untuk memperhatikan apa pun. Yang ingin dia lakukan hanyalah menggairahkan dirinya di sana.


"Mmm... Cukup... Ryan" Anna mendorong Ryan menjauh dan berbicara dengan suara rendah. Dia melihat bibir Anna melihat merah karena ciuman kasarnya. Tapi saliva mereka masih terhubung satu sama lain. Anna terlihat sangat cantik.


"Berengsek" Ryan mendengar Natasha mengatakan sesuatu tapi dia tidak peduli karena Ryan tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Anna. Anna melihat ke arah kepergian Natasha dengan pikiran yang terlihat kacau.


"Siapa yang mengira ibu dari anakku sebiadab ini? " Ryan menjilat bibirnya sambil melihat bibir Anna yang seksi.


"Sial... aku ingin menciumnya lagi" Batin Ryan. "Aku pergi" Dengan itu Anna berbalik untuk pergi tapi Ryan meraih tangannya dan membawanya ke kamar kecil sementara Anna memukul bahu Ryan.

__ADS_1


"Urghh Dia sangat senang memukulku" Ryan mendorong Anna yang berusaha melawan kedinding dan menekan tubuhnya ke tubuh Anna.


"Ingat aku tidak peduli apa pun, kau adalah satu-satunya wanitaku dan aku satu-satunya priamu" Kata Ryan dan memperhatikan Anna. Annapun menganggukkan kepalanya. Inilah yang selalu Ryan inginkan.


"Ayo kita ambil akta nikah kita besok" Dengan itu Ryan mencium Anna karena Ryan tidak ingin Anna menolaknya. Menikahi Anna pasti akan ada banyak risiko, tapi Ryan tidak bisa membiarkan Anna meninggalkannya lagi.


"Aku harus secara resmi menjadikannya milikku. Masa depanku tidak akan mudah jika aku menikahinya, tapi aku tidak peduli karena aku hanya menginginkan wanita ini dan anakku" Batin Ryan.


"Mmmph... Ryan... tunggu" Anna mencoba untuk menghentikan Ryan. Tapi Ryan mengabaikan kata-katanya dan menciumnya. Anna merasa kehilangan kendali karena ciuman panas yang mereka lakukan. Ryan menggerakkan tangannya menyentuh kaki Anna yang terbuka. Kulitnya begitu halus.


Setelah beberapa saat, Ryan mengangkat Anna dan berjalan menuju meja wastafel dan meletakkannya di atasnya. Ryan menempatkan dirinya di antara kedua kaki Anna.


"Ryan" Anna kembali mencoba berbicara tapi Ryan menciumnya dan tidak membiarkan Anna berbicara. Kemudian Annq melingkarkan tangannya di leher Ryan dan membalas ciumanku. Ryan semakin sulit mengendalikan diri sekarang. Dia merasakan jari-jari Anna menelusuri rambut Ryan dan itu terasa sangat nyaman. Ryan melepaskan bibirnya dan pindah mencium leher Anna. Anna perlahan melingkarkan kakinya di pinggang Ryan dan memiringkan kepalanya ke belakang. Hal itu membuat Ryan lebih mudah untuk mencium leher dan tulang selangkanya. Ryan kehilangan kendalinya karena sentuhan Anna dan tubuhnya yang menggoda. Anna memindahkan ciumannya ke dada Anna. Dia melepas tali gaunnya sedikit dan mulai mencium.


"Persetan... Aku tidak bisa" Ryan segera membuka ikat pinggangnya dan mengangkat gaun Anna, tetapi Anna dengan cepat menghentikan Ryan.


"Di mana Ezra? " Tanya Anna.


"Sial... Urgh... Kenapa aku melupakan anak kecilku? " Batin Ryan. Ryan memperbaiki gaun Anna dan mengikat ikat pinggangnya. Ryan mengangkat Anna dari meja dan menurukannya. Setelah itu Ryan pergi bersama Anna untuk menemui Ezra.


Saat mereka memasuki area bermain, pemandangan yang Ryan lihat mengejutkan. Ryan memperhatikan ekspresi Ezra saat dia memukuli bocah itu.


"Apa yang membuatnya menjadi semarah ini. Apa tangannya tidak sakit. Jangan bilang dia akan menjadi seperti saya, memukuli orang dan membunuh tanpa berpikir dua kali" Batin Ryan. Sedangkan Anna dengan cepat berlari ke arah Ezra dan mengangkatnya.


"Ketika aku menyebut namaku kepadanya, dia berkata aku tidak punya mommy dan tertawa" Ketika Ryan sudah mendekat ke mereka, Ryan mendengar suara Ezra yang penuh luka. Suaranya membuat hati Ryan sakit. Anna menatap Ryan dengan tatapan sangat terluka. Ryan tidak tahu harus berkata apa atau melakukan apa.

__ADS_1


"Lihat, Dia mommyku" Ezra lagi-lagi berteriak pada anak itu. Bocah ini benar-benar seperti Ryan. Ezra mengalahkan sesuatu. Ini pertama kalinya Ryan melihat Ezra seperti ini. Dia berjalan ke arah anak laki-laki yang dipukuli Ezra dan membantunya berdiri. Ryan menghela nafas saat melihat memar di wajah bocah itu. Bagaimana Ezra bisa memukulnya sebanyak ini.


"Di mana orang tuamu sayang? " Anna bertanya dan tatapan anak laki-laki itu terlihat sangat kagum padanya. Anak itu menatap Anna dengan wajah kaget dan aneh.


"Jangan bilang dia juga tertarik dengan kecantikan Anna" Batin Ryan.


"Bicaralah" Ryan menatap Ezra yang berada di pelukan Anna tapi wajahnya terlihat menahan amarah.


"Sial... Anakku juga sepertiku" Batin Ryan.


"Tante... Sangat cantik. Kamu sangat mirip dengannya. Apakah kamu..." Tiba-tiba rasa takut menjalari tubuh Ryan ketika dia mendengar apa yang anak itu katakan.


"Terlihat seperti dia. Apakah dia tahu lebih banyak tentang Anna. Wajahnya dengan jelas menunjukkan bahwa dia mengenal seseorang seperti Anna" Batin Ryan. Kemudian seorang wanita paruh baya datang dan memanggilnya.


"Tuan muda kecil" Ryan melihat wanita yang baru saja datang dan dia mengenali wanita itu. "Bukankah dia pelayan paling tepercaya dari keluarga Holland? " Gumam Ryan pelan.


"Jadi anak ini... Anak Mark Holland" Hati Ryan bergetar hebat karena Ryan mengenal mereka. Ryan tahu tentang saudara perempuan dan saudara laki-laki Mark yang hilang. Hati Ryan sakit saat mengingat gadis itu.


"Ryan. Kamu menyebalkan. Pergi" Ryan masih bisa mendengar suara kekanak-kanakan gadis kecil itu di dalam kepalanya saat dia mendorong Ryan ke kolam ketika mereka masih kecil.


"Tapi kenapa aku tidak bisa mengingat wajahnya. Tapi dia... Dia mirip dengan Anna" Seluruh tubuh Ryan diselimuti ketakutan. Lalu Ryan melihat wanita yang berdiri di sampingnya dan kemudian anak laki-laki yang baru saja pergi tapi anak itu tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang.


"Tante sampai jumpa" Anak itu tersenyum pada Anna dan pergi.


"Tidak... Itu tidak mungkin. Namanya Marianna Holland. Mariana..." Ryan tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


__ADS_2