
"Benarkah? " Tanya Anna pelan.
"Berita Itu benar? Dia telah pergi" Jawab Chris sangat pelan.
"Apa? " Anna memperhatikan wajah Chris sebentar dan mendapati wajahnya dipenuhi dengan kesedihan dan luka.
"Jadi itu benar?" Anna kembali bertanya pada Chris saat dia menatap Anna dan mengangguk. Rasanya seperti seseorang menikam jantung Anna dengan seribu belati tajam. Itu bukan orang lain, tapi itu Ryan. Tanpa meminta apa pun dari Chris, Anna langsung berbalik dan pergi. Anna berjalan keluar dari rumah sakit sambil menyeka air matanya.
"Aku... tidak tahu bagaimana aku akan hidup tanpa dia sekarang? Sakit, sangat menyakitkan untuk percaya bahwa dia tidak akan datang padaku lagi" Ucap Anna di tengah isak tangisnya. Kenangan menari-nari ke dalam pikirannya bersamaan dengan rasa sakit yang luar biasa. Pertemuan pertama mereka sangat buruk, tetapi itu tidak menghalangi Anna dan Ryan untuk bisa bersama. Ryan menyakiti Anna, dia datang ke hidup Anna juga dengan paksa. Sekarang semuanya hilang.
Anna masuk ke mobil dan menyandarkan kepalanya di jendela. Anna melihat ke luar jendela, tapi pikirannya dipenuhi dengan senyum Ryan hari itu sebelum dia masuk ke mobil jeep. Anna melihat cincin di jarinya. Dan Anna merasa hatinya tercabik-cabik dengan mengingat semua barang yang Ryan pakaikan untuknya. termasuk semua ingatan tentang suaminya.
"Mengapa ini terjadi padaku? " Anna tidak bisa membiarkan kenangan Ryan terus berada pikirannya. Senyumnya, caranya menggoda Anna, caranya memeluk Anna dan cara dia menghabiskan waktunya bersama Anna. Anna mencengkeram bajunya begitu erat. Matanya terasa panas dan basah tiba-tiba air mata keluar. Anna belum siap untuk melepaskan Ryan. Mereka bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menghabiskan hidup mereka bersama selama lebih dari tiga tahun.
"Apa ini? Aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak pergi. Aku sudah memberitahunya tapi dia tetap memilih pergi. Aku benci... Aku benci bajingan yang datang dan membawanya bersama mereka. Mengapa mereka tidak mati saja tanpa membiarkan Ryan-ku mati? Raylie baru berusia dua tahun dan dia sangat kecil. Dia bahkan tidak akan mengingat ayahnya ketika dia dewasa. Aku bilang ke Ryan... kenapa dia meninggalkanku seperti ini? Bagaimana aku akan menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa ayah mereka tidak lagi di sini bersama kita? Tidak.. Dia akan datang seperti yang dia janjikan padaku" Anna tak sanggup lagi berkata. Hanya bergumam dalam hati dengan air mata yang berderai.
__ADS_1
Anna pulang, dan begitu masuk rumah dia melihat ayah Ryan yang sedang menggendong Ryalie. Saat dia melihat ayah mertuanya, Anna tidak bisa memaksakan air matanya untuk tidak menetes. Ayah menurunkan Raylie lalu melihat kearah Anna. Anna pun cepat-cepat berjalan ke arahnya dan memeluknya dengan terisak. Ayah menepuk punggung Anna dan mencium puncak kepalanya. Dia adalah ayah untuk Anna juga.
"Ryan... Aku... Aku..." Anna mendongak ke arah ayah mertuanya dan berhasil mengucapkan beberapa patah kata. Terlihat mata ayahnya yang memerah. Anna melihat rasa sakit di mata ayah mertuanya dan dia seperti kehilangan segalanya di dunia ini. Dia pernah mengatakan jika setelah mengetahui kematian ibu Ryan, dia hidup karena Ryan, tetapi sekarang Ryan juga pergi. Anna tidak tahu apa yang akan ayahnya lakukan.
"Jadilah Rulianna yang kuat. Aku akan memberikan semuanya untukmu. Ketika Ezra berusia delapan belas tahun, kamu bisa menyerahkan semuanya padanya. Ryan memintaku melakukan ini sebelum dia pergi" Ucap ayah Reishan. Anna mencengkeram kemeja ayah mertuanya dan menangis.
"Apakah Ryan benar-benar mengatakan hal itu sebelum dia pergi?" Batin Anna.
"Aku tidak ingin apa-apa... Tolong ayah... aku hanya ingin dia kembali.. Apa gunanya barang-barang ini jika dia tidak ada di sini bersamaku dan anak-anakku? Tolong... Ayah... Aku ingin dia kembali" Pinta Anna yang terdengar menyayat hati.
"Mengapa ini terjadi? Tidak... Aku ingin Ryanku kembali. Bagaimana aku akan hidup tanpa dia? " Gumam Anna lirih.
"Ayah punya beberapa hal yang harus diselesaikan jadi dia bilang dia tidak akan bisa pulang dalam waktu dekat. Kamu tidak keberatan kan Ezra? " Anna mengkhianati perasaan dan hatinya sendiri saat dia berbohong pada putranya. Ezra memperhatikan Anna lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Aku tidak keberatan. Lagi pula, daddy akan kembali" Dengan itu, Ezra meraih tangan Raylie dan berlari ke taman.
__ADS_1
"Kamu harus mengatakan yang sebenarnya kepada mereka" Ucap ayah Reishan. Anna menatap ayah Ryan dan mengangguk.
"Tapi mereka terlalu kecil untuk semua kebenarannya ini. Aku akan memberitahu mereka ketika mereka dewasa" Anna berkata dengan rasa sakit yang berdenyut di dalam dadanya. Dia tidak pernah menyangka dan dia juga tidak pernah siap untuk hal semacam ini.
"Ryan kenapa kamu membuatku tidak berdaya? Kamu begitu kejam dan egois" Batin Anna.
"Aku memintanya untuk tetap tinggal bersamaku dan tidak pergi, tetapi dia pergi tanpa mempedulikan kata-kataku. Aku selalu takut, ayah. Aku tidak tidur nyenyak selama tiga bulan ini, tetapi lihat sekarang apa yang aku dapatkan setelah semuanya" Anna ingin melepaskan rasa sakit di dalam hatinya.
"Jika dia mendengarkan kata-kataku, tidak ada yang akan terjadi" Gumam Anna.
"Ketika Ryan berusia dua puluh tahun, dia pergi untuk sebuah misi dan itu sama seperti ini. Pasukan Ryan adalah yang terbaik untuk semua misi itu. Itu sebabnya mereka ingin Ryan dan Chris kembali. Aku tahu ini sangat berat Rulianna. Tapi kamu harus kuat menanggung segalanya untuk anak-anakmu. Tidak peduli apa dia akan selalu ada di hatimu" Anna mengatupkan bibirnya dan terdiam. beberapa kemudian dia mengangguk pada ayahnya.
"Ryan akan selalu tetap di hatiku. Seperti yang ayah katakan aku akan kuat, tapi bagaimana...? " Gumam Anna.
"Jika kamu mau, kamu bisa pergi bersama ayah ke rumah William dan tinggal di sana" Ayah berkata. Anna menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada ayah Reishan.
__ADS_1
"Aku akan tetap tinggal di sini. Aku tinggal bersamanya di sini jadi aku akan tetap tinggal di sini sampai aku mati" Anna tersenyum pada ayahnya dan berkata. Anna kembali mengingat masa lalu yang indah yang dia miliki di rumah ini bersama Ryan.
“Ayah, bisakah ayah menjaga mereka sebentar? Aku hanya ingin sendiri” Ayah Reishan mengangguk pada Anna. Dia perlahan berjalan ke atas dan memasuki kamar lalu mengunci pintu. Anna duduk di tempat tidur dan mencoba memaksakan emosiku untuk tidak memuncak. Kemudian Anna melihat ponsel yang dua orang itu berikan kepadanya. Anna berdiri dari tempat tidur dan berjalan ke arahnya. Anna mengambil ponsel itu dan menyalakannya. Hatinya merasakan sakit saat melihat gambar yang Ryan gunakan sebagai wallpapernya. Itu adalah foto yang Anna kirimkan pada suaminya hari itu ketika dia menelepon dirinya. Kepalanya mulai merasakan sakit dan rasanya kepala Ana ingin meledak. Tanpa peduli tentang apa pun, Anna memeriksa riwayat panggilannya. Begitu banyak panggilan gagal ke nomornya dan nomor telepon yang Ryan tinggalkan di sini. Kemudian Anna memeriksa pesannya dan menemukan lebih dari seratus pesan tidak terkirim.