Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Bajingan


__ADS_3

"Bajingan..." Mark tidak bisa mengungkapkan rasa sakit yang dia rasakan. Adiknya meninggal saat baru berusia tujuh tahun.


"Dia dibunuh. Aku yakin pembunuh itu adalah orang yang sama yang menyuruh untuk menculik Marianna dan dia waktu itu. Dan dia adalah bajingan yang membunuh ayah. Aku masih... Aku masih belum bisa menemukannya"


"Sudah bertahun-tahun kejadian itu, namun aku masih belum bisa mengungkap siapa pelakunya. Kenapa juga dia membiarkanku hidup. Semuanya masih menjadi misteri" Mark melihat jam yang sudah hampir pukul enam sore. Dia bangkit dari kursi dan mengambil jasnya sebelum keluar dari kantor. Mark tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena semua kejadian ini. Dia masuk ke mobil dan mengemudi untuk pulang.


Begitu Mark sudah sampai, iya akan memasuki rumah. Dia melihat Marianna yang sedang duduk di sebuah kursi sambil memandangi taman. Dia bahkan tidak menyadari suara mobil Mark. Sepertinya Marianna sedang berpikir keras.


"Apakah dia ingat sesuatu? " Gumam Mark. Dia turun dari mobil dan melihat Gwen berdiri di depan pintu dengan senyum yang terlihat khawatir. Mark mengangguk pada istrinya dan berjalan mendekati Marianna.


"Marianna" panggil Mark dengan suara pelan. Marianna menatap ke arah Mark. Dia perlahan berdiri dari kursi dan tersenyum pada Mark.


"Aku tidak ingat apa-apa, tapi aku merasa jika cinta yang kumiliki untukmu masih di sini bersamaku" Air mata mengalir dari mata Anna. Hati Mark terasa kebas. Dia memaksa air matanya untuk tidak mengalir, Mark mengangguk pada adiknya dan menarik Anna ke pelukannya.


"Dia telah dewasa, dia tinggi, cantik, seperti yang selalu ayahku inginkan, ada satu perbedaan yang terjadi padanya, dia bukan gadis keras kepala lagi yang biasa menggertak dan selalu berantem denganku dan Gwen" Batin Mark. Dia membendung air mata yang hampir tumpah kembali.


"Aku selalu mencintaimu putri kecil, aku tidak pernah berhenti mencarimu dan adik kita. Aku menemukan semuanya, dan sudah dia tidak ada di sini bersama kita. Maafkan aku" Ucap Mark sambil memeluk Anna dan membelai rambutnya. Mark merasa bajunya basah karena air mata Anna.


“Jika kita saling mengenal, Erza pasti masih hidup” Anna berkata dengan suara serak. Mark  merasakan sesak di dadanya.


"Jadi namanya Erza. Kami bahkan tidak punya waktu untuk memilih nama untuknya" Batin Mark.

__ADS_1


"Ayo masuk ke dalam" Mark masuk ke dalam bersama adiknya dengan kebahagiaan sekaligus rasa sakit. Dia senang karena Marianna baik-baik saja tetapi sulit untuk percaya bahwa adik laki-lakinya telah tiada.


Saat sedang makan malam, Mark memperhatikan cara Marianna memakan makanan yang dibuat Gwen.


"Sangat enak, bisakah kamu membuatkan ini lagi untukku?" Anna bertanya sambil menyendokkan satu sendok penuh sup.


"Ya" Gwen mengangguk pada Anna dan tersenyum. Lalu pandangan Mark tertuju pada Myles. Putranya itu selalu diam sejak dirinya pulang. Saat dia menatap putranya, Myles juga balas menatapnya. Myles mengarahkan matanya ke arah Gwen.


"Apa-apaan itu. Apa yang terjadi dengannya? " Batin Mark.


"Myles?" Mark mengangkat alisnya dan berbicara dengan putranya. Namun, Myles dengan cepat melihat ke arah Gwen dan menunduk ke piringnya lagi dan melanjutkan makannya.


"Apa yang terjadi? Dia tidak pernah bertindak seperti ini sebelumnya" Batin Mark.


"Sudah hampir jam sembilan, tapi Ryan belum muncul. Aku tidak percaya Ryan akan menyerah begitu saja. Dia pasti akan datang" Gumam Mark.


Rulianna


Setelah makan malam Anna pergi ke kamarnya dan berbaring di tempat tidur. Hatinya terasa sakit sejak melihat foto-foto di album itu. Ryan juga ada di sana bersama Chris.


"Bagaimana aku bisa lupa apa yang terjadi padaku? Tapi hal yang paling menyakitkan, mengapa Ryan tidak memberi tahuku tentang apa pun. Aku tahu Ryan mengetahui tentang semuanya" Anna memejamkan mata dan mengingat ibu dan ayahnya. Ibunya adalah seorang wanita cantik. Rambutnya berwarna sama dengan Anna dan Erza. Ayahnya, dia sangat mirip dengan Mark, sangat tampan.

__ADS_1


Anna ingin tidur, tapi tidak bisa karena semua kejadian itu melintas di kepalanya. Terutama Ezra. Anna tidak pernah tahu kebenaran yang terjadi sesungguhnya, Ezra pasti sangat sedih, karena saat dia membutuhkan bantuan, Anna tidak ada disampingnya. Ryan, Anna tidak tahu apa yang dia lakukan. Air mata Anna keluar saat mengingat wajah suaminya. Dia benar-benar memperlakukannya dengan buruk minggu lalu, tetapi itu semua salahnya sendiri. Ryan bisa saja memberitahu Anna yang sebenarnya. Tiba-tiba Anna mendengar ketukan pelan dari jendela. Perasaan takut pun mulai menyelimutinya. Anna sangat takut sehingga dia  ingin menelepon Mark namun diurungkan niatnya itu. Perlahan Anna bangkit dari tempat tidur dan melihat ke jendela. Dia tersentak saat melihat seorang pria yang mengenakan pakaian hitam dengan topi baseball hitam. Anna tidak bisa melihat wajahnya, jadi dia perlahan mundur beberapa langkah sampai pintu, tapi sebelum Anna membuka pintu dan berlari keluar, pria dijedela itu menatapnya dengan mata merahnya. Anna tercengang dan menatapnya sebentar. Hatinya dipenuhi dengan kebahagiaan dan kesedihan saat melihatnya siapa pria itu. Anna cepat-cepat berjalan menuju jendela dan membuka jendela lalu membiarkan pria masuk ke kamarnya. Begitu dia masuk, dia memeluk Anna begitu erat dan Anna pun membalas pelukannya.


"Ryan..." Anna menatap suaminya saat Ryan melepas topinya dan tersenyum pada Anna. Anna benar-benar sangat merindukan suaminya.


"Aku di sini" Dengan itu Ryan menempelkan bibirnya ke bibir Anna. Dia mengerang saat Ryan mendorong lidahnya ke dalam mulut Anna. Karena sudah seminggu terakhir kali Dia mencium Ryan. Setelah Ryan puas, dia menarik diri dan menatap Anna sambil menyeka air mata di wajah Anna.


"Jadi aku kira sekarang kamu tahu siapa Marianna" Ryan menghela nafas dan menatap istrinya. Tiba-tiba Anna merasa bersalah. Tapi di sisi lain, dia merasa marah. Anna menampar suaminya pelan. Ryan menatap Anna dan mengangkat alisnya, dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Pembohong" kata Anna. Ryan menyeringai dan menciumnya lagi. Tapi Anna merasa takut pada Mark. Jika Mark tahu bahwa Ryan ada di kamarnya, Mark akan menjadi gila. Namun Anna tidak peduli karena dia sangat merindukan prianya. Jadi Anna melingkarkan tangannya di leher Ryan dan menciumnya kembali, sementara satu tangan Ryan membelai perut Anba. Tiba-tiba ciuman Ryan ditarik dengan sangat kuat dan Anna pun yang sama aku mendengar sebuah suara. 


"Ha.. aku tahu kamu akan datang. Bajingan" Mark yang menyeret kemeja Ryan untuk menjauh dari Anna. 


"Kapan dia datang? Aku bahkan tidak mendengar suara pintu terbuka" Batin Anna. Dia melihat Ryan yang tersenyum padanya. Tiba-tiba Ryan mengedipkan mata pada Anna dengan tatapan yang menyenangkan. 


"Bagaimana dia bisa melakukan itu? " Batin Anna, Mark menyeret Ryan keluar dari kamar dan melemparkan Ryan ke dinding. Mark mulai memukul Ryan tepat di wajahnya.Hati Anna bergetar hebat dan dia dengan cepat melangkah ke arah mereka. 


"Bajingan kamu... Masih berani datang juga... Bajingan"Anna mendengar suara kemarahan Mark, dan sekali lagi dia meninju Ryan di wajahnya. Darah segar mengalir keluar dari mulut Ryan. Tapi mata Ryan masih menatap pada mata Anna. 


"Tidak... Aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya..." Gumam Anna.


"Tolong hentikan. Tolong. Jangan pukul dia" Anna segera meraih lengan Mark sebelum dia kembali meninju Ryan untuk ketiga kalinya.

__ADS_1


"Rulianna, menjauhlah"Anna mendengar Ryan berteriak. Dan disaat yang sama, matanya memerah. 


"Rulianna? Heh. Bajingan, dia Marianna. Nona muda dari keluarga Holland yang kau sembunyikan dariku" teriak Mark. Anna menatap mata Mark. Dia melihat Mark Ryan yang seperti predator yang mencoba untuk mendapatkan mangsanya. 


__ADS_2