Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Wanita Murahan


__ADS_3

Anna merasakan ciuman Ryan berubah menjadi ciuman yang penuh gairah. Dia dengan cepat meletakkan tangannya di dada Ryan dan sedikit mendorong Ryan menjauh.


"Kenapa selalu seperti ini? " Anna menatap Ryan dan menghela nafas saat Ryan mencium keningnya. Kemudian Ryan melingkarkan lengannya di pinggang lalu menarik Anna supaya lebih dekat dengannya. Pandangan Anna tertuju pada tamu undangan yang hadir di sana dan melihat mereka tersenyum kearahnya.


"Selamat Tuan William dan Nona William" Jantung Anna berdegup kencang saat mendengar bagaimana orang tersebut menyapanya. Nona William. Anna menggigit bibirnya dan menatap Ryan yang sedang tersenyum pada pasangan paruh baya yang baru saja datang dan mengucapkan selamat.


"Anna, ini Tuan Addison dan Nyonya Addison" kata Ryan. Anna tersenyum pada mereka. Tiba-tiba nyonya Addison memeluk Anna.


"Sangat cantik, tidak heran mengapa Ryan anak kami ingin menikah dengan buru-buru" Anna tersipu karena apa yang Nyonya Addison katakan.


"Mom... Bolehkah aku pergi kesana? " Ezra berlari ke arah Anna dan mengarahkan jarinya ke laut.


"Kamu tidak bisa pergi sendiri sayang. Minta tante Amelia untuk menemanimu" kata Anna sambil membelai rambut Ezra. Ezra mengangguk dan berlari ke arah Amelia.


"Jadi kamu menikah dengan ibu Ezra? " Tuan Addison berbicara sambil menepuk bahu Ryan. Ryan mengangguk pada tuan Addison dan beralih menatap Anna.


"Dia pernah bicara empat mata denganku, jika dia hanya akan menikahi ibu kandung Ezra" Annan terkejut dengan apa yang dia dengar. "Apakah dia benar-benar mengatakan itu? Saya percaya Ryan" Tanya Anna.


"Kamu sangat beruntung menjadi istrinya" Anna tersenyum pada Bu Addison yang berbicara dengan senyum lebar di wajahnya. Anna mengangguk padanya. Lalu Ryan pamit untuk pergi menemui tamu yang lain.


Setelah sekian lama akhirnya Anna bisa duduk di kursi. Dia merasa sangat lelah. Dia melihat ke arah laut. Terlihat Chris dan Amelia bermain dengan Ezra. Saat Anna melihat mereka bermain, iya merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Orang tersebut tiba-tiba memeluk Anna sambil mencium lehernya.


"Ryan jangan..." Anna mencubit tangan Ryan dan berkata dengan suara pelan, Ryanpun terkekeh.


"Anna kau sangat cantik, aku merasa ingin melakukannya di sini" Ucap Rya.


"Apa-apaan kamu ini. Apakah kamu gila? " Setelah berkata, Anna segera berdiri dari kursi dan terlihat Ryan menyeringai padanya.


"Ryan jangan mesum" kata Anna, dan Ryan mengangguk. Ryan menarik Anna ke arahnya sambil mencium keningnya. Tiba-tiba mereka mendengar suara penuh amarah seseorang.


"RYAN... Beraninya kamu? " Anna melihat ke belakang dan terlihat nenek Ryan. Detak jantung Anna meningkat karena rasa amarah saat melihat neneknya.


"Wanita jahat yang menyebabkan kematian saudaraku" Batin Anna. Dia melihat wajah nenek Grace yang penuh amarah. Sesaat kemudian tatapan mata Anna tertuju pada wanita di belakangnya, Natasha.

__ADS_1


"Kamu berani menikahi wanita murahan ini daripada Natasha. Bagaimana bisa Ryan, Bukankah aku nenekmu? " Nenek berteriak pada Ryan dengan air mata menetes karena marah.


"Murahan... Ha.. Kenapa kamu tidak melihat dirimu sendiri nek. Dan jika nenek tidak bisa melihat siapa yang murahan, nenek bisa melihat wanita di belakangmu" Ryan menyeringai pada nenek dan berkata sambil melingkarkan lengannya di pinggang Anna.


"Rulianna... Itu semua ini salahmu. Kamu membuatnya seperti itu" Tiba-tiba pandangan nenek tertuju pada Anna dan berkata dengan nada emosi. Anna memperhatikannya sebentar dan menatap Natasha yang menatap dirinya dengan kebencian yang luar biasa.


"Jadi apa? Aku membuatnya seperti itu. Bukankah saya pernah memperingatkan Anda hari itu, Anda akan membayar untuk apa yang Anda lakukan padaku dan saudaraku? Anda bahkan membawa anak saya pergi dan mengusir saya dari rumah sambil mengatakan, orang-orang miskin seperti kami harus mati. Kamu bahkan mengancamku untuk meninggalkan kota ini dengan menggunakan nama Ryan"


"Aku benci kamu... Anda menghancurkan semua yang saya miliki dalam hidup saya. Anda jelas tahu mengapa saya setuju dengan permintaan anda dan itu semua karena saudara saya, namun Anda tidak memberikanku uang untuk menyelamatkannya. Dia meninggal sebelum waktunya... Karena kamu, iya semua karena kamu" Mata Anna berlinang saat mengingat apa yang terjadi empat tahun lalu.


"Mengancam... Nenek apa itu benar? " Suara Ryan terdengar marah dan Anna melihat wanita di depannya menatap dirinya dengan wajah pucat.


"Dua pria datang hari itu, dan mereka mengancamku dengan menggunakan teman-teman Erza dirumah sakit, mereka berkata jika aku tidak pergi, mereka akan membunuh anak-anak itu dan itu adalah perintah tuan muda" Anna berbicara sambil tersenyum pada neneknya.


"Apa? Menggunakan anak-anak kecil itu? " Anna mendengar teriakan Ryan. Namun Anna segera meraih tangannya sebelum Ryan melakukan sesuatu yang gila.


"Mom... Kenapa daddy marah? " Ezra tiba-tiba datang dan bertanya sambil menatap Ryan dan dirinya. Anna segera mengangkatnya. Kemudian Chris dan Amelia datang.


"Chris... Kamu juga bagian dari semua ini. Kamu juga seperti orang tua sialanmu itu" Ucap nenek. Anna melihat wajah Chris yang ditutupi dengan rasa sakit karena apa yang neneknya katakan.


"Apakah wanita tua ini menyakitinya juga? " Batin Anna.


"Persetan" Tiba-tiba Ryan berbicara dengan nada tenang dan menatap Chris.


"Ryan apa kamu baru saja berbicara dengan nenekmu seperti itu karena wanita murahan dan teman bajinganmu ini? " Ryan memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Anna tahu Ryan sedang mengendalikan amarahnya.


"Nenek. Rulianna adalah istriku dan Chris adalah teman sekaligus sepupuku, bukan bajingan, oke... Jangan membuatku bertingkah seperti binatang buas di depan putra dan istriku. Ini peringatan terakhir dan aku tidak keberatan melakukan sesuatu yang buruk terhadapmu. Camkan ini dalam ingatanmu. Kamu telah menyinggung seseorang yang berstatus tinggi dan percayalah ketika dia mengetahui apa yang telah nenek lakukan pada wanita ini, nenek hanya akan mati sia-sia. Lebih baik sekarang pergilah dari sini"


"Chris ayo pergi" Ryan meraih pinggang Anna dan pergi. Anna berbalik dan menatap wajah nenek Ryan yang dipenuhi ketakutan dan sesuatu yang aneh.


"Apa yang baru saja dia katakan? Menyinggung Seseorang dengan status tinggi dan tentang aku... Apa maksudnya? " Anna memikirkan kata-kata Ryan barusan.


"Daddy... Jangan marah ya? " Tiba-tiba Ezra berbicara sambil menyentuh wajah Ryan. Anna melihat mata Ryan yang melembut saat dia melihat Ezra. Ryan kembali menatap Anna dan menghela nafas.

__ADS_1


"Maafkan aku Anna" ucap Ryan sambil tersenyum dengan wajah penuh luka. Anna mengangguk pada Ryan dan tersenyum karena Anna tidak ingin Ryan merasakan sesuatu yang buruk.


"Tidak apa-apa" Anna berkata sambil mencium pipi Ryan. Ryan balas mencium kening Anna dan tersenyum.


"Kita tunggu di sini sebentar terus pulang ya? " Ryan bertanya pada Anna dan Anna mengangguk sebagai jawaban.


Setelah menyapa dan berbicara dengan tamu sebentar, mereka memutuskan untuk pulang.


"Anna kamu mau ganti baju? " Ryan bertanya pada Anna dan Annapun mengangguk. Ryan benar-benar mengerti bahwa istrinya tidak nyaman setelah semuanya yang terjadi.


"Baiklah ayo pergi sekarang" Ryan membawa Anna ke sebuah kamar presidential suite dan meminta Anna untuk berganti pakaian di sana. Anna pergi ke kamar dan melihat tas di tempat tidur. Dengan cepat iya membukanya dan mengambil baju yang nyaman untuk digunakan. Anna masuk ke kamar mandi, setelah membersihkan diri, Iya langsung mengenakan pakaian. Sebuah dress pendek tanpa lengan. Saat Anna keluar dari kamar mandi, dia melihat Ryan dan Ezra yang sudah menunggu di luar dan Ezra sedang makan es krim.


"Mommy cantik banget" teriak Ezra sambil memakan es krimnya. Ryan menatap Anna dan tersenyum.


"Ryan.. kau ingat apa yang kukatakan kemarin? " Anna meraih lengan Ryan dan bertanya. Ryan menatapnya dengan tatapan bingung. Mungkin saja dia tidak ingat.


"Kita harus pergi ke dokter" Anna berkata sambil melihat Ryan yang menatapnya dengan tatapan ragu-ragu, sesaat kemudian Ryan mengangguk.


"Anna... aku pulang ya" Tiba-tiba Amelia datang dan langsung memeluk Anna.


"kamu pergi... aku bahkan tidak bisa menghabiskan waktu bersamamu karena hal-hal ini" Kata Anna.


"Aku akan datang menemuimu lagi" Jawab Amelia.


"Aku benar-benar ingin berbicara denganmu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada ayahmu dan tentang semuannya" Gumam Amelia. Amelia melepaskan pelukannya dan mengangguk pada Anna sambil tersenyum. "Selamat tinggal sayang" Amelia tersenyum pada Ezra sambil berkata.


"Selamat tinggal tante" Ezra cekikikan dipangkuan Ryan. Tiba-tiba Anna melihat Chris yang baru saja datang sambil menatap Amelia.


"Amelia pasti tidak akan bisa lepas dari orang ini" Batin Anna.


"Chris, kenapa kamu tidak mengantarkannya pulang? " Ucap Ryan. Anna melihat Ryan yang baru saja berbicara. Pria ini jelas membantu sepupunya. Chris menyeringai pada Ryan dan mengangguk.


"Tentu saja aku akan mengantarkannya. Bagaimana kita bisa membiarkannya pergi sendiri" Dengan itu, Chris mendekat dan meraih pinggang Amelia lalu pergi bersamanya. Amelia kembali menatap Anna dengan wajah menyebalkan. Anna hanya bisa menghela nafas, karena kedua pria ini selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan.

__ADS_1


__ADS_2