
Akhirnya Ryan memarkir mobil di sebuah tempat parkir hotel dan keluar dari mobil. Kemudian dia datang ke sisi Anna dan membuka pintu. Anna segera turun dari mobil bersama Ezra. Setelah Anna turun dari mobil, Ryan mengambil Ezra dari Anna dan melingkarkan lengannya yang satunya di pinggang Anna.
“Mommy, daddy kuat sekali. Lihat! ” Anna menatap Ezra yang baru saja mulai menggerakan tubuhnya naik turun di lengan Ryan. Anna tersenyum pada putranya dan menepuk kepalanya pelan.
"Mommymu tahu betapa kuatnya daddy lebih dari siapa pun" Anna membeku dengan kata-kata Ryan yang tak karuan.
"Ryan" Anna menatap Ryan yang sudah menatap Anna sambil menyeringai.
"Daddy bagaimana? " Ezra melingkarkan lengannya di leher Ryan dan bertanya dengan suara penuh rasa ingin tahu.
"Daddy membuktikannya di ranjang. Kamu akan mengerti di masa depan dan kamu juga harus kuat seperti daddy, oke? " Hati Anna dipenuhi dengan amarah dan rasa malu karena kata-kata ayah tak berakhlak itu.
"Beraninya dia mengatakan hal seperti itu kepada putranya sendiri yang masih berusia empat tahun? " Batin Anna.
"Ezra tidak tahu apa arti sebenarnya, tetapi apakah pria ini tidak punya otak? " Batin Anna lagi sambil menatap tajam ke arah Ryan.
"Ryan... Hentikan kan! " Anna melihat ke arah Ryan, iya melihat Ryan yang tersenyum manis. Karena Anna ingin menahan amarahnya agar dia tidak emosi didepan anaknya.
"Iya daddy. Aku akan kuat dan aku akan membuktikannya di tempat tidur" Jawab Ezra dengan begitu polosnya. Anna menggigit bibir bawahnya dan menutup mata karena dia tidak ingin memukul idiot ini di depan umum. Anna melingkarkan tangannya di pinggang Ryan dan mencubitnya dengan keras karena marah. "Aduh... Anna. Ada apa? " Ryan berteriak karena dia tidak mengira Anna akan mencubitnya. Anna menatap Ryan dan tersenyum lagi.
"Kupikir kau begitu kuat seperti yang kau katakan" Aku mengejek Ryan dan membuang muka.
__ADS_1
"Benarkah... Aku akan membuatmu meneriakkan namaku malam ini" Ryan terkekeh di telinga Anna dan perlahan menggerakkan tangannya ke atas tubuh Anna, dan berhenti sambil meletakkan telapak tangannya di dada kanan Anna. Ryan meremasnya kecil dan mencium leher Anna. Hati Anna bergetar hebat karena Ezra juga ada di sini. Dan pria ini dengan tidak tahu malunya.
"Kurasa kau masih ingat hari itu Rulianna? " Dengan itu Ryan kembali menggerakkan tangannya ke pinggang Anna.
"Bagaimana aku bisa melupakan hari itu. Bajingan... Aku masih ingat staminanya yang tinggi dan kekuatannya yang hampir bisa merobohkan ranjang juga" Batin Anna mengingat hari itu. Dia memalingkan muka dari Ryan karena tidak ingin berdebat dan tidak mungkin Anna bisa menang.
Mereka masuk ke hotel dan Anna menghela nafas karena kekuasaan orang ini. Ini pertama kalinya Anna berada dalam situasi seperti ini. Setelah mereka memasuki hotel, semua orang menghentikan pekerjaan mereka dan menatap Ryan, Anna dan Ezra. Anna merasa gugup dan dia tidak ingin merasa seperti ini. Anna memperhatikan para wanita dengan status tinggi menatap Ryan sambil tersipu.
"Tidak bisakah mereka melihat bahwa Ryan sedang menggendong putranya? " Batin Anna. Dia merasa marah karena tatapan yang para wanita itu berikan pada Ryan. Kemudian setelah beberapa saat, mata mereka tertuju pada Anna dengan ekspresi penasaran dan terkejut. Anna cepat-cepat membuang muka karena itu hanya mengganggu penglihatan mereka.
"Tuan William..." Seorang lelaki tua berlari ke arah mereka dan berbicara sambil berkeringat. Lalu dia menatap Anna dan tersenyum paksa. "Apakah dia takut akan sesuatu? " Fikir Anna. "Mr. William, kami tidak tahu bahwa anda akan datang malam ini" Pria itu berbicara dengan nada meminta maaf sambil menyembunyikan ketakutannya.
"Apa dia hanya takut pada Ryan? " Batin Anna lagi.
"Apa... Bagaimana dia bisa berbicara dengan orang seperti itu? " Anna berkata dalam hati karena takut ada yang mendengar. Begitu Ryan mengatakan itu, lelaki tua itu menatap Anna dengan wajah terkejut.
"Istri? " Batin lelaki tua itu.
"Ayo pergi" Ryan menarik Anna lebih dekat dengannya dan mencium kening Anna. Anna bisa dengan jelas merasakan tatapan semua orang tertuju pada mereka. Anna menggigit bibir bawahnya dan menunduk sambil mengangguk. Kemudian Ryan membawa Anna dan Ezra ke lift.
"Kenapa aku melihat semua pria menatapmu? Aku tidak suka hal itu" Tiba-tiba Anna mendengar suara Ryan dan dia mendongak ke arah Ryan, Telihat Ryan sedang menatap Anna dengan ekspresi aneh. Anna menghela nafas dan menjauh dari Ryan.
__ADS_1
"Iya mom. Mereka ngeliatin mommy. Aku juga nggak suka" Anna cemberut sambil membenamkan wajahnya di leher Ryan. "Baiklah sayang. Mommy minta maaf ya" Kata Anna sambil membelai rambut Ezra dan dia dengan cepat menatap Anna dan tersenyum. "Kamu tidak perlu meminta maaf. Lain kali aku akan mencongkel mata mereka jika mereka melihatmu lagi" Anna menatap Ryan dan menghela nafas. Pria ini benar-benar seperti iblis.
"Ryan. jangan seperti itu oke? " Anna melingkarkan tangannya di lengan Ryan dan berkata. Anna tidak ingin melihat Ryan membunuh pria seperti waktu itu lagi. Dan Anna tahu kata-kata yang Ryan ucapkan bisa dengan mudah berubah menjadi tindakan. "Mengapa? " Ryan bertanya pada Anna dengan matanya yang cerah. Terlihat Sangat tampan.
"Jadilah lelaki yang baik dan membantu orang. Jangan perlakukan mereka seolah-olah mereka tidak berguna. Setiap orang memiliki kesulitannya masing-masing Ryan. Pahamilah. Caramu berbicara dengan orang tua itu sangat buruk. Dia lebih tua darimu dan kamu harus belajar untuk menghormatinya, bahkan jika dia pelayan hotel ini sementara kamu pemiliknya. Jangan kasar" Anna tersenyum padanya saat dia menatapku dengan wajah aneh.
"Sayang sini sama mommy. Daddy sudah cukup lelah menggendongmu" Anna tersenyum pada Ryan dan mengambil Ezra dari gendongan Ryan. Kemudian pintu lift terbuka dan Anna melangkah keluar, tapi Ryan masih di dalamnya sambil menatap dirinya.
"Apa yang salah dengannya? " Batin Anna.
"Ryan... Ayo" Kata Anna sambil tersenyum pada Ryan, dan Ryan pun mengangguk lalu melangkah. Ryan melingkarkan lengannya di pinggang Anna dan mencium dahi Anna. Jantung Anna mulai berdebar kencang. Ketika mereka mendatangi ke meja yang sudah disiapkan, Ryan menarik kursi untuk Anna dan mengambil Ezra dari Anna, lalu Ryan meletakkan Ezra di kursi di samping Anna. Ryanpun duduk di depan Anna.
"Daddy, aku ingin makanan yang kamu belikan untukku beberapa hari yang lalu" Anna menatap Ezra yang sedang tersenyum bahagia. "Baiklah. Apa yang kamu suka Anna? " Ryan menatap Anna dan bertanya sambil tersenyum. "Huuh... Kenapa dia sangat tampan? " Batin Anna.
"Spaghetti pedas" Anna balas tersenyum pada Ryan. Ryan mengangkat alisnya.
"Hanya itu? Ada begitu banyak makanan enak di sini. Kenapa spaghetti? " Tanya Ryan. Hati Anna diliputi rasa sakit saat dia mengingat makanan kesukaan Erza. Dulunya Anna tidak suka makanan pedas, tapi dia kecanduan makanan favorit Erza setelah Anna kehilangan Adiknya.
"Aku suka makanan pedas dan itu favoritku" Kata Anna sambil memaksakan air mata dan suaranya yang pecah kembali. Dia tidak ingin membuat Ryan tidak nyaman karena kesedihannya. Ryan memperhatikan Anna sebentar dan mengangguk ketika dua pelayan masuk.
"Anna? " Anna mendengar suara seorang gadis dan, dia segera melihat ke dua pelayan yang masuk. Anna tidak sengaja tersenyum saat melihat seorang gadis cantik di depannya. "Amelia..." Ucap Anna.
__ADS_1
"Anna... Aku... aku mencarimu kemana-mana" Anna segera bangkit dari kursi dan memeluk Amelia. Sahabat Anna yang dia rindukan selama lebih dari enam tahun.