
"Ryan... Ayah akan mengajak Ezra sama ayah dulu? " Ayah Ryan bertanya. Ryan mengangguk pada ayahnya sambil menyerahkan Ezra.
"Aku akan menjemputnyanya nanti malam" Setelah itu ayah pergi bersama Ezra.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit" Anna meraih tangan suaminya dan berkata. Tiba-tiba Ryan meraih pinggang Anna dan membawanya kedalam kamar presidential suite.
"Ryan, apa yang kamu lakukan? " sebelum Anna menyelesaikan ucapannya, Ryan membawanya ke kamar dan mendorong Anna ke tempat tidur.
"Apa-apaan ini... Jangan bilang dia akan melakukannya sekarang" Gumam Anna.
"Hentikan idiot" Anna berteriak tapi Ryan tetap tidak berhenti. Yang Ryan lakukan adalah melepas baju dan jasnya. Lalu membungkuk dan mencium Anna.
"Kenapa kamu seperti ini? " Tanya Anna. Namun Ryan tidak peduli.
"Ryan... Apa yang akan kamu lakukan sekarang. Kita akan pergi ke rumah sakit" Anna mengingatkan Ryan, karena dia tahu bahwa Ryan tidak ingin bertemu dokter atau pergi ke rumah sakit.
"Oke" Ryan membuka ritsleting rok Anna dan melepaskan dari tubuhnya.
"Dasar Orang cabul" Ucap Anna. Ryan membuka ikat pinggangnya dan membuka ritsleting celananya sendiri dan melepasnya. Selanjutnya, Dia membenamkan wajahnya di leher Anna dan mulai melakukan apa yang dia inginkan.
Anna melingkarkan tangannya di tubuh Ryan dan merilekskan tubuhnya.
"Anna Maafkan aku ya? " Ucap Ryan saat telah selesai dengan aktivitasnya. Anna memukulnya karena apa yang Ryan lakukan. Anna memohon pada Ryan untuk berhenti tapi dia tidak melakukannya.
"Pergi Ryan. Kamu brengsek mesum" Anna kembali memukul Ryan karena amarah yang dia rasakan.
"Berapa kali kamu melakukannya, hampir tiga jam" Gumam Anna.
"Aku kehilangan kendali Anna. Maafkan aku. Tolong" Ryan memeluk Anna begitu erat lalu meletakkan dagunya di bahu Anna. Anna hanya bisa menghela nafas dan mengangguk pada Ryan tanpa ingin berdebat. Karena Anna sudah menikah dengan Ryan dan dia harus menghadapi hal seperti ini nantinya.
"Oke" kata Anna sambil memeluk Ryan. Setelah itu Ryan membawa Anna ke kamar mandi dan menempatkannya di bathup yang diisi dengan air hangat.
__ADS_1
"panggil aku kalau sudah selesai" Ryan mencium kening Anna dan keluar dari kamar mandi. Anna segera mandi dan memanggil Ryan ketika sudah selesai. Ryan datang dengan membawa handuk dan mengangkat Anna keluar dari kamar mandi. Anna memperhatikan Ryan karena memperlakukannya dengan lembut.
"Benar-benar pria yang baik dengan sikapnya yang lembut, tapi dia seperti binatang buas jika di tempat tidur" Batin Anna.
Setelah semuanya selesai, Ryan dan Anna keluar dari hotel. Tiba-tiba pandangan mereka melihat seorang wanita. Natasha. Anna bahkan tidak bisa berjalan dengan baik karena Ryan. Anna jelas bisa melihat Natasha sedang menatap kakinya, Natasha melihat tubuh Anna dan pandangannya berhenti di leher Anna. Natasha memperhatikan leher Anna lalu menunjukkan wajah penuh kebencian. Dia tiba-tiba berjalan ke arah Ryan dan Anna.
"Ryan... aku menunggumu. Bisakah aku berbicara denganmu tentang sesuatu yang penting? Maksudku tanpa dia" Natasha menatap Anna dan kembali lagi menatap Ryan. "Istriku lelah karenaku, Jadi aku harus membawanya pulang. Satu lagi. Aku tidak ingin bicara denganmu" Ryan berkata sambil berlalu dengan Anna. Anna menoleh ke belakang dan melihat wajah Natasha yang dipenuhi dengan kecemburuan dan kebencian. Dia menyeringai pada Natasha dan membuang muka.
"Apakah kamu masih mau ke rumah sakit? " Anna menatap Ryan yang tersenyum jahat ke arah Anna.
"Aku tahu kamu sengaja melakukannya Ryan. tapi tidak apa-apa, kita pergi dan jika aku tidak bisa berjalan kamu gendong aku" kata Anna sambil memalingkan muka dari Ryan. Mereka memasuki mobil. Seorang sopir yang sudah menunggu untuk mengantarkan mereka ke rumah sakit.
Ketika mereka tiba dirumah sakit, Ryan segera turun dari mobil dan berlari ke sisi Anna lalu membuka pintu.
"Ryan..." Anna keluar dari mobil dan melingkarkan tangannya di lengan Ryan sambil menatapnya.
"Mm?" Ryan menjawab sambil mencium kening Anna dan tersenyum.
"Oke" Kata Ryan. Mereka memasuki rumah sakit dan pergi ke dokter pribadi keluarga William. Dia adalah spesialis penyakit dalam semacam ini.
"Tuan William, lama tidak bertemu" saat Anna dan Ryan memasuki ruangan dokter, dokter berdiri dari kursi dan berbicara sambil tersenyum.
"Ini? " Pandangan dokter itu tertuju pada Anna dengan tatapan ingin tahu.
"Dia istriku" ucap Ryan singkat sambil duduk di kursi.
"Senang bertemu denganmu Nona William. Silakan duduk" Dokter dengan ramah tersenyum dan menyapa Anna. Dia duduk di kursi di sebelah Ryan dan tersenyum pada dokter itu.
"Jadi Tuan William dan Nona William, anda kesini untuk apa? " TaNya dokter itu. Anna menatap Ryan dan melihat Ryan sedang menatapnya juga. Anna meletakkan tangannya di paha Ryan lalu menepuknya dan mengangguk.
"Dokter... Dia memiliki gangguan melukai diri sendiri" Anna berbicara dengan suara pelan. Anna merasakan Ryan meremas tangannya. Anna melihat ke arah dokter yang sedang menatap Ryan.
__ADS_1
"Kapan itu terjadi Nona William? " Tanya dokter. Anna tidak tahu. Tapi entah mengapa dia merasa khawatir. Dia tidak ingin kehilangan Ryan atau melihat sesuatu terjadi pada suaminya.
“Kemarin malam aku melihat Ryan sedang melukai tangannya dengan gunting” Mau tak mau Anna berkata dengan gemetaran, iya teringat semalam. Tangan Ryan berlumuran darah.
"Baiklah. Tuan William, mengapa Anda tidak menjelaskan apa yang Anda rasakan dan kapan itu terjadi pertama kali? " Ucap Dokter. Anna menatap Ryan dan melihat keraguan di wajahnya.
"Ryan" Kata Anna perlahan sambil menarik napas dalam-dalam lalu mengangguk pada Ryan.
"Pertama kali ketika saya berusia tujuh belas tahun. Saat itu aku sedang sedih. Kedua kalinya saya tidak tahu apa yang terjadi dan kali ini benar-benar berbeda" Hati Anna sakit karena hal ini. Karena tidak ada yang tahu sisi lain diri Ryan.
"Oke tunjukkan lukamu" kata Dokter dan Anna membuka kancing baju Ryan dan membiarkan dokter memeriksanya. Bekas cakaran dan luka di tangan Ryan. Setelah dokter selesai, Anna membantu Ryan memakai bajunya lagi.
“Baiklah tuan William. Aku akan memberimu obat. Jangan khawatir" Anna menghela nafas lega ketika mendengar kata-kata dokter itu. Setelah beberapa saat, mereka berdiri untuk pergi.
"Nona William. Bisakah saya berbicara dengan anda? " Anna menatap Ryan. Ryan pun mengangguk lalu meninggalkan ruangan. Ini adalah hal yang paling menakutkan dalam hidup Anna. Anna sangat membencinya karena dokter Erza juga berbicara dengannya secara pribadi.
"Perhatikan dia lebih dari apapun dan pastikan tidak ada kesempatan untuknya melakukan ini lagi, karena kali ini luka di tangannya agak dalam. Aku yakin lain kali hal itu akan menjadi bunuh diri" Seluruh tubuh Anna bergetar hebat.
"Apa... Bunuh diri... Jika hal seperti itu terjadi padanya, apa yang akan terjadi pada Ezra dan aku. Kita tidak bisa hidup tanpanya. Anna tahu Ryan tidak bahagia seperti yang dilihat orang sejak kecil" Mata Anna tiba-tiba basah saat mendengar kata-kata dokter itu. Dia berusaha membendung air matanya agar tidak menetes, lalu mengangguk pada dokter.
"Baiklah Nona William. Hubungi aku jika ada apa-apa. Tuan William punya nomor pribadi saya" Anna tersenyum pada dokter dan mengangguk lau meninggalkan ruangan.
Saat keluar dari ruangan dokter, Anna melihat Ryan yang sedang melihat aquarium besar di rumah sakit.
"Ryan Ayo pergi" Anna menghampiri Ryan dan melingkarkan tangan di lengan Ryan. Ryan menatapnya dan tersenyum. Hati Anna terasa sakit karena takut. Anna tahu jika dirinya sudah jatuh cinta pada Ryan. Dan dia tidak ingin kehilangan suaminya.
"Rulianna, apakah ada yang ingin kamu beli? " Ryan bertanya pada Anna saat mereka keluar dari rumah sakit. Anna mengangguk pada Ryan dan tersenyum.
"Ya. Kita mampir ke supermarket" Ryan memperhatikan Anna sebentar dan mencium kepalanya sambil mengangguk. Pikiran Anna teringat dengan apa yang dikatakan dokter, Anna tidak bisa diri untuk melupakannya. Anna bisa melupakan ucapan dokter ketika dia menatap Ryan yang sedang duduk disampingnya. Sangat tampan.
"Orang seperti ini haruskah meninggal dengan cepat? " Batin Anna. Tiba-tiba air matanya hampir menetes. Anna cepat-cepat memalingkan muka dari Ryan.
__ADS_1
"Selama aku bisa membuatnya bahagia bersamaku, tidak akan terjadi apa-apa padanya" Batin Anna menyemangati dirinya sendiri.