
"Ryan, boleh aku keluar hari ini. Maksudku sendirian. Aku ingin bertemu Amelia, ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengannya" Tanya Anna kepada Ryan saat suaminya masuk kedalam kamar dan memeluk putranya dengan erat.
"Ada apa? Jangan pergi sendirian Anna" Ryan menjawab dengan nada khawatir.
"Tidak akan terjadi apa-apa padaku Ryan. Jangan khawatir. Aku hanya akan menemui Amelia. Mungkin satu atau dua jam saja" Anna tersenyum dan berjalan ke arah suaminya lalu memeluknya dengan erat.
"Oke... Hubungi aku sebelum kamu pergi. Aku akan pergi ke kantor dulu" Jawab Ryan, Anna mengangguk dan mencium pipi Ryan.
Setelah Ryan pergi, Anna menghubungi Amelia.
"Amelia, kamu jadi pergi hari ini? " Tanya Anna saat panggilan sudah tersambung. Anna bertanya pada Amelia. Jauh di lubuk hati Anna, dia tidak ingin Amelia pergi. Tapi Anna juga merasa marah pada bajingan itu, Chris.
"Iya, bisakah kita bertemu di samping taman? " Anna mendengar suara sendu sahabatnya itu.
"Oke, aku akan datang sekarang juga" Jawab Anna. Iya segera berganti pakaian dengan rok dan baju tanpa lengan. Anna mengambil ponselnya dan satu kartu ATM pribadinya lalu turun ke bawah.
"Mommy mau kemana? " Terdengar suara Ezra bertanya, iya berlari ke arah Anna dan memeluk kakinya.
"Mommy akan keluar sebentar. Ezra dirumah saja dan bermainlah bersama winsy, oke" Anna berkata sambil mencium pipi anaknya yang sedang tersenyum manis.
"Pak Herman, tolong jaga dia ya, aku mau keluar sebentar" Ucap Anna kepada kepala pelayan itu. Paman Herman tersenyum lalu mengangguk. Setelah itu Anna bergegas keluar rumah dan meninggalkan Ezra. Iya segera pergi ke taman yang disebutkan oleh Amelia. Dan ternyata Amelia sudah berada disana.
"Hai Amelia" Anna menyapa sahabatnya. Amelia tersenyum dan menatap Anna.
"Bagaimana? Apa kamu baik-baik saja? " Tanya Anna kepada Amelia. Amelia hanya tersenyum dan mengagguk kepada Anna.
"Chris memintaku menunggunya malam ini, dia bilang dia ingin mengajakku makan malam" Ucap Amelia. Dia menggigit bibir bawahnya, dan air mata pun membasahi kedua pipinya.
__ADS_1
"Amelia, jika kamu tinggal bersama Chris itu akan sangat baik. Aku tidak pernah mendengar Chris mengajak wanita untuk berkencan. Aku merasa jika dia peduli dan serus kepadamu" Anna mencoba menjelaskan kepada Amelia tentang apa yang dia ketahui, namun sahabatnya itu menjawab dengan menggelengkan kepala dan menyeka air matanya.
"Anna, kamu tahukan jika kita tidak mungkin bersama, dia memili banyak wanita dimana-mana. Bahkan dimalam itu saja dia menerima panggilan dari seorang wanita. Aku tidak ingin Anna. Aku belum siap terluka karena cinta" Amelia menjawab dengan derai air matanya. Anna menggelengkan kepalanya dan menghela nafas panjang.
""Baiklah kalau begitu. Tapi dia akan menunggumu kan malam ini? " Tanya Anna dan Amelia terus menatap dirinya lalu mengangguk.
"Ketika dia sudah datang nanti malam dan bertanya padamu, katakan padanya jika kamu akan pergi dan kamu tidak bisa memberitahunya kemana kamu akan pergi" Anna terus memperhatikan sahabatnya yang mengagguk.
"Amelia ambil ini" Anna memberikan sebuah kartu ATM kepada Amelia. Anna tahu bagaimana rasanya tinggal sendiri dan bahkan melakukan semuanya sendirian.
"Tidak. Apa kam gila. Aku tidak bisa menerima ini" Amelia menatap Anna dengan wajah terkejut dan menggelengkan kepala dengan senyum yang dipaksakan.
"Amelia ambil ini, kamu akan membutuhkan uang suatu saat nanti. Lagipula ini adalah uang tabunganku sendiri, dan jika aku membutuhkan uang aku bisa meminta kepada Ryan. Jadi tolongn ambil ini" Anna meraih tangan Amelia dan meletakkan kartu itu diatasnya. Amelia terlihat ragu-ragu namun akhirnya iya mengangguk pada Anna.
"Baiklah, hubungi aku dan ceritakan semuanya kepadaku" Anna tersenyum sambil memandang Amelia. Iya tak ingin merindukan Amelia seperti beberapa tahun yang lalu. Dan Anna juga tak ingin persahabatan mereka terputus.
"Datanglah ke kantorku" Ucap Ryan. Belum sempat Anna berkata sepatah kata, Ryan sudah mengkahiri panggilannya.
'Apa yang terjadi/ " Gumam Anna sambil menghela nafas panjang. Iya mencari taksi lal pergi menuju kantor Ryan. Saat Anna sudah sampai kantor Ryan, semua orang menyambutnya dengan senyuman hangat dan ramah.
"Selamat pagi nyonya William, ini pertama kalinya anda datang kesini" Ucap seorang wanita parh baya sambil tersenyum. Anna membalasnya dengan menganggukkan kepala.
"Ya, ini memang yang pertama kalinya. Dimana ruangan Ryan? " Tanya Anna. Dan dengan cepat wanita paruh baya itu membawa Anna menju ke sebuah lift.
"Ini adalah lift pribadi presdir nyonya, anda bisa menggunakannya" Jawabnya.
"Terimakasih" Ucap Anna, dan wanita itupun mengangguk dan tersenyum. Anna memasuki lift tersebut dan menuju ke ruangan Ryan.
__ADS_1
Saat Anna memasuki ruangan Ryan, iya melihat ruangan Ryan adalah ruangan termewah yang pernah iya lihat. Dia perlahan masuk dan melihat jika Chris juga berada disana.
"Oh, Anna disini" Ucap Chris. Iya tersenyum dan menatap Anna. Tiba-tiba Anna merasa bersalah karena membantu Amelia untuk meninggalkan Chris. Anna dengan terpaksa tersenyum dan mengangguk padanya. Chris pun memperhatikan Anna sebentar lalu berdiri.
"Aku tidak akan mengganggumu Ryan" Ucap Chris lalu berjalan keluar ruangan. Anna lalu menatap suaminya yang sedang melihat dirinya tanpa tersenyum.
"Kenapa kamu menatapnya? " Tanya Ryan. Anna mengerutkan keningnya dan berjalan ke arah Ryan lalu duduk di depan suaminya.
"Ryan, aku teringat Amelia saat aku melihat Chris, itu saja" jawab Anna. Ryan bangkit dari kursinya dan menghampiri istrinya. Anna menatap suaminya dan tersenyum saat Ryan membelai wajahnya.
"Mengapa kamu sangat cantik? " Ucap Ryan. Anna tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya.
"Mengapa kamu mendadak menjadi gila seperti ini. Memintaku datang kesini hanya untuk membicarakan hal-hal yang tidak berguna seperti ini" Ucap Anna.
"Oh iya Ryan, kenapa kam menyuruhku untuk datang kesini? " Tanya Anna. Iya bangkit dari kursi dan bertanya kepada suaminya. Namun Ryan malah memeluk erat dirinya.
"Hanya ingin melihatmu istri tersayangku, ayo kita pulang sebentar" Jawab Ryan. Anna terkejut mendengar jawaban Ryan. Iya terdiam untuk beberapa saat.
"Apa kamu tidak punya pekerjaan? "Anna bertanya pada Ryan, Ryan hanya menggeleng dan tersenyum dengan manisnya kepada Anna. Anna menghela nafas dan mencium kedua pipi Ryan. Anna tahu dirinya tidak akan bisa menentang kata-kata suaminya.
__ADS_1