
"Aa... Anu... Nenek Ryan menyebutkan nama itu" Anna ingin memberitahu ayah Ryan apa yang nenek Ryan katakan kepadanya hari itu, tetapi Anna memutuskan untuk tidak memberi tahu.
"Apa yang dia katakan? " Anna menatap ayah Ryan dan melihat matanya yang aneh.
"Saya tidak ingat banyak. Dia hanya menyebutkan nama" Anna berbicara dan menatap ayah Ryan. Pria itu mengangguk dan membuang muka. Anna menghela napas lega. "Makan siang telah siap" Anna berbicara dan ayah Ryan menatap Anna lalu mengangguk.
"Mommy, aku lapar" Ezra menghampiri Anna sambil mengelus perutnya. Anna tersenyum dan mengangguk.
"Ayo pergi dan mengisi perutmu" Anna mengangkat Ezra dalam gendongannya dan meninggalkan ruang tamu.
Sore hari setelah merayakan ulang tahun Ezra, ayah Ryan pergi karena katanya ada urusan penting.
"Mommy, bersiaplah. Kita akan keluar" Ezra naik ke sofa dan mulai melompat-lompat di atasnya sambil tersenyum.
“Mommy, pakai gaun yang cantik ya. Nanti biar mommu jadi seperti peri” Anna tersenyum dan mengangguk pada Ezra karena dia selalu menggunakan kata ini untuk memanggil dirinya.
"Ezra ayo, biarkan daddy memandikanmu" Dengan itu Ryan datang dan menggendong Ezra. Anna menatap ayah dan anak itu. Mereka terlihat sangat mirip.
"Anna, pakai sesuatu yang membuatmu lebih cantik" Ryan mendekat dan berbisik serak di telinga Anna. Mau tak mau Anna tersipu karena cara Ryan mengatakan itu. Anna masuk ke kamar yang biasa dia tempati dan mandi di kamar mandi. Setelah Anna selesai mandi, dia keluar dari kamar mandi dan pergi ke ruang ganti di mana dia menyimpan pakaian yang dikirim Ryan untuknnya. Anna secara acak memilih gaun dan memakainya karena pakaian yang dikirim Ryan kepadanya semuanya dengan merek mahal, indah dan elegan. Anna memilih rok sutra panjang dengan corak bunga campuran putih dan kuning muda dengan tali. Kaki kanan Anna terbuka karena desain rok dari gaun itu. Yang dipakai Anna adalah gaun yang sangat indah. Anna menghela nafas dan menyisir rambut serta membiarkannya menggantung di bahunya dengan bebas. Anna memakai sandal flatnya dan keluar dari kamar.
"Wow... Mommy... Mommy cantik sekali seperti peri" Anna tersenyum pada Ezra yang sedang duduk di sofa sambil bermain dengan tali sepatunya. Anna berjalan ke arah Ezra dan duduk di sampingnya sambil mengikat tali sepatu Ezra yang terlepas. Setelah itu Anna menatap anaknya.
"Ya Tuhan... Anak ini benar-benar sesuatu. Begitu manis dan tampan" Batin Anna. Iya menatap putranya yang mengenakan kemeja warna hitam yang serasi dengan celana denim dan rambutnya disisir ke belakang. Anna Suka banget dengan gaya Ezra.
"Anak mommy memang sangat tampan" Anna mencium kening Ezra dan berkata, Ezra pun menatap Anna sambil tertawa bahagia sambil menunjukkan gigi putih mutiaranya.
"Daddy menyuruhku memakainya" Anna mengangguk pada putranya dan tersenyum.
"Mommy. Kamu sangat cantik. Aku sangat mencintaimu" Ucap Ezra lalu mencium pipi Anna dan tersenyum.
"Mommy sangat mencintaimu" Anna balas mencium pipi Ezra dan mencubit hidung kecilnya. Anna tidak percaya anaknya selucu ini. Iya tidak peduli apa Ryan benar-benar telah membesarkan anaknya sebagai anak yang baik dan penurut.
__ADS_1
"Daddy... Daddy terlambat" Teriak Ezra saat Ryan datang dari arah dapur.
"Bukankah kamu meminta daddy untuk membawakan jus apel untukmu? " Ryan mengerutkan kening pada Ezra, Ezrapun langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya dan cekikikan.
"Urghh... dia sangat manis" Gumam Anna memndangi anaknya.
"Terima kasih daddy" Kata Ezra saat Ryan memberikan gelas jus apel padanya. Lalu Anna melihat Ryan dan hatinya tak bisa berdusta, Ryan sangat tampan. Dia mengenakan trench coat hitam dan t-shirt high neck warna hitam juga yang serasi dengan celana hitam.
"Kenapa dia selalu memakai warna hitam. Ngomong-ngomong dia sangat tampan dan bahkan aku tidak bisa mempercayai bahwa dia adalah ayah dari seorang anak laki-laki berusia empat tahun itu. Tetapi Ryan memang benar ayah dari putraku" Anna berkata dalam hati sambil terus menatap Ryan. Dia merasakan perasaan cemburu disaat dia berpikir bagaimana Ryan nanti akan menarik perhatian wanita.
"Apa aku begitu tampan? " Anna mendengar suara Ryan di telinganya.
"Kapan dia membungkuk lebih dekat denganku? Urghh aku bahkan tidak melihatnya berjalan mendekatiku" Batin Anna.
"Eemmm" Dengan itu Anna bangkit dari sofa. "Kamu terlihat sangat cantik Rulianna" Ryan menarik pinggang Anna dan tertawa di telinga sambil mencium leher Anna. Anna segera menatap Ezra dan melihat dia masih meminum jus apelnya sambil memejamkan mata.
"Menjauhlah. Jangan sentuh aku" Anna mendorong Ryan menjauh dan memperingatkannya karena pria ini bisa dengan mudah kehilangan kendali. "Dasar mesum" Ucap Anna.
"Tunggu... Apa yang baru saja dia katakan? " Gumam Anna. Anna segera menoleh ke arah Ryan dan melihat Ryan tersenyum pada Anna.
"Apa kau tidak mengerti apa yang kukatakan? " Ryan bertanya pada Anna sambil melihat kedada.
"Brengsek mesum" Anna memukul dada Ryan dan berkata dengan marah Anna pergi mendekat ke Ezra. Ezra sudah melihat ke arah Ryan dan Anna sambil tersipu.
"Kenapa anak ini merona? " Batin Anna saat menatap putranya.
"Mommy sangat cantik dan daddy sangat tampan. Aku menyukai kalian berdua" Ezra tersenyum cerah pada orangtuanya dan berbicara dengan suara imutnya yang dipenuhi dengan kebahagiaan.
"Ayo... Ayo tuan muda kecil" Dengan itu Ryan berjalan ke arah Ezra dan mengangkatnya dan membawanya ke satu lengannya. Kemudian Ryan meraih tangan Anna dan mengaitkan lengannya yang satunya di pinggang lalu mencium kening Anna. Tiba-tiba detak jantung Anna meningkat karena apa yang Ryan lakukan. "Dia benar-benar tahu bagaimana meluluhkan hati seorang wanita" Batin Anna.
"Ezra kamu mau duduk santai sendiri dibelakang atau duduk sama mommy? " Saat mereka telah sampai di tempat parkir, Ryan bertanya pada Ezra.
__ADS_1
"Dengan mommy" Dengan itu Ryan menurunkan Ezra dan menatap Anna.
"Mobil mana yang kamu pilih, biar aku kendarai. Aku punya empat mobil di sini" Ucap Ryan.
"Apa... Empat... Dan dia bilang di sini. Jadi itu berarti dia memiliki lebih banyak lagi? " Batin Anna. Ya, Ryan punya empat mobil yang sangat mahal.
"Yang termurah" Anna melihat ke empat mobil di depannya dan berbicara. Kemudian Ryan menatap Anna sebentar dan tertawa.
"Oke my lady" Setelah itu Ryan masuk ke dalam mobil.
"BMW... Itu yg paling murah disini... Urgh..." Anna menghela nafas karena baru tahu jika Ryan sangat kaya.
"Masuk" Ryan berbicara sambil menyalakan mobil. Anna mengangguk dan membuka pintu kursi penumpang dan memasukkan Ezra ke dalam, dan ketika Anna akan menutup pintu, Ryan melayangkan protes.
"Apa yang kamu lakukan Anna" Ucap Ryan dari kursi kemudi.
"Apakah aku menjijikkan bagimu, mengapa kamu tidak duduk di sampingku?" Ryan berbicara lagi.
"Apa yang dia bicarakan? " Batin Anna. Dia benar-benar tidak ingin berdebat dengan Ryan.
"Tidak" Dengan satu kata itu, Anna lalu masuk ke kursi penumpang dan duduk sambil meletakkan Ezra di pangkuannya. Ryan langsung mengemudikan mobil.
“Hanya wanitaku yang bisa duduk di sampingku” Anna menatap Ryan yang baru saja berbicara sambil tersenyum padanya. Anna menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangan dari Ryan.
"Mom, mommy tidak memakai benda-benda yang digunakan wanita untuk wajah mereka? " Tanya Ezra pada Anna.
"Dandan? " Anna bertanya pada Ezra saat dia menatap Anna sebentar dan mengangguk. "Tidak. Mommy tidak suka hal-hal seperti itu dan mommy juga tidak punya" Anna mencium kepala Ezra dan memeluknya erat-erat.
"Daddy akan membelikannya untuk mommy? " Ezra berkata sambil menatap Ryan.
"Tidak. Mommymu sudah sangat cantik tanpa hal-hal palsu itu" Ryan berbicara sambil melihat ke jalan dan bahkan tidak menoleh ke arah Anna dan Ezra. Anna bisa merasakan detak jantungnya berdetak menjadi begitu cepat.
__ADS_1
"Urgh... Apa aku jatuh cinta padanya? " Batin Anna.