Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Dia Telah Pergi


__ADS_3

Akhirnya satu bulan lagi berlalu dan sudah tiga bulan sejak Ryan kepergian. Tiga bulan itu benar-benar seperti neraka bagi Anna. Malam tanpa tidur, menangis dan merindukan suaminya adalah hal yang selalu Anna dapatkan. Akhirnya Anna akan mengucapkan selamat tinggal pada semua hal buruk itu karena Ryan akan segera datang. Saat dia sedang duduk di bangku taman, Anna melihat Ezra bermain dengan Raylie dan tanpa sengaja dia tersenyum karena Ezra adalah kakak yang perhatian dan penyayang. Sejak Raylie lahir, Ezra mulai bertingkah seperti kakak yang sangat menyayangi adiknya lebih dari apapun. Dia bahkan tidak membiarkan adiknya jatuh. Anna sangat berterima kasih kepada Ezra karena dia membuat tugasnya lebih mudah, yaitu merawat Raylie.


"Nyonya, ada tamu" Anna mendengar suara paman Herman. Dan saat Anna melihat ke arahnya, tapi ekspresinya terlihat sebagai sesuatu yang aneh menurut Anna.


"Aku akan menemui mereka sekarang" Anna tersenyum pada kepala pelayannya dan berdiri lalu berjalan ke dalam rumah. Sesaat kemudian darah Anna terasa membeku ketika dia melihat dua pria di depan pintu. Dia perlahan berjalan ke arah mereka tapi matanya mencari-cari orang lain.


"Nyonya" Mereka menyapa Anna sambil melepas topi tentara yang mereka kenakan. Tiba-tiba hati Anna merasakan sesuatu yang tidak enak. Dia ingin bertanya di mana Ryan, tetapi dia hanya bisa diam karena dia ingin mereka berbicara terlebih dahulu.


"Nyonya, kami di sini untuk menyampaikan sebuah pesan kepada Anda" Salah satu dari mereka berbicara sambil menatap mata Anna. Matanya tajam dan tidak ada kehangatan. Tidak seperti Ryan.


"Tuan... Tertembak di dadanya. Kami kehilangan dia" Ucapnya sambil menundukkan kepala.


"apa? " Ketakutan mengambil alih hati Anna dan seluruh tubuhnya mulai bergidik ngeri mendengar apa yang dia katakan.


"Dia tidak berbicara tentang Ryan kan? " Gumam Anna lirih.


"Ryan...? Di mana.. Dia...? " Anna berkata dengan suara bergetar. Dan bahkan bahkan dia tidak bisa berbicara dengan benar.


"Tertembak di dadanya? Tidak mungkin.. Itu bukan Ryanku" Ucap Anna dalam hati. Karena tenggorokannya terasa tercekat.


"Kami kehilangan tuan, nyonya. Tuan membawa ini bersamanya di kamp kami" Seluruh dunia Anna serasa runtuh bersama setiap harapan dan impiannya. Tenggorokannya mulai terasa sakit karena Anna memaksakan tangisnya kembali. Anna melihat telepon yang lelaki itu berikan kepadanya dan dengan perlahan mengangkat tangan Anna gemetar saat mengambilnya. Anna melihat ponsel itu dan tanpa sadar air matanya jatuh di layar ponsel yang di pegangnya. Anna menggigit bibirnya begitu keras dan menatap dua pria di depannya.


"Kapan? " Anna bertanya. Dia tidak percaya pada kenyataan itu. Anna tidak percaya pada mereka. Ryan akan kembali seperti yang dia janjikan pada dirinya.

__ADS_1


"Kemarin malam" Ucap seseorang didepannya


"Kemarin malam? " Anna menyeka air matanya dan melihat telepon di tangannya. Dia mencoba menyalakannya tapi tidak juga menyala. Anna tahu jika ponsel itu mati karena baterainya lemah.


"Hey... Dia bilang dia akan kembali. Dia sudah berjanji" Anna berkata kepada mereka. Dan mereka hanya melihat ke bawah dan menundukkan kepala.


"Apakah dia benar-benar pergi? Tidak akan kembali? " Gumam Anna lirih. Hatinya terasa tersayat-sayat.


"Jadi di mana tubuhnya? " Anna akhirnya berhasil bertanya tetapi dia tidak akan mempercayai mereka sampai dirinya melihat tubuh Ryan.


"Dia jatuh dari tebing. Tuan sedang memimpin kita ketika hal ini terjadi. Orang-orang kita akan membawa tubuhnya hari ini" Jawab salah satu anggota milliter tersebut.


"Mengapa ini semua terjadi? Bukankah aku memintanya untuk tidak pergi? Mengapa Ryan tidak mendengarkanku? Bagaimana dia bisa pergi dengan cara seperti itu?" Gumam Anna dalam hati. Dua memejamkan mata dan menutupi wajahnya dengan telapak tangan dan mulai terisak.


"Mommy... apakah kamu menangis? " Anna mendengar suara Ezra dan dia segera menghapus air mata dan menatapnya. Ezra menatapnya dengan tatapan bingung. Sedangkan dia memegang tangan kecil Raylie.


"Jangan menangis Mommy" Ucap Ezra.


Bagaimana aku akan bisa tinggal sendiri tanpa menangis. setelah aku tahu bahwa suamiku telah pergi?" Isak Anna.


"Ryan.. kamu bajingan. Kamu berbohong" Ucap Anna. Dia merasa marah pada suaminya karena apa yang pernah Ryan katakan.


"Nyonya, kami akan memberi tahu Anda ketika mereka tiba di sini dengan tubuh Tuan. Maaf atas semua kehilangan ini. Kami pergi" Kata mereka sambil berbalik untuk pergi.

__ADS_1


"Tunggu.. Dimana Chris?" Anna bertanya kepada mereka, dan mereka melihat ke arah anna.


"Dia terluka. Sekarang berada di rumah sakit" Setelah itu mereka pergi.


"Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi? Apakah aku seberuntung itu? " Gumam Anna.


"Mereka bilang ayah sudah pergi" kata Anna pelan. Anna tidak tahu apakah Ezra bisa memahaminya atau tidak, tetapi Anna tidak tahu bagaimana memberi tahu mereka bahwa ayah mereka tidak akan pernah datang lagi. Anna tidak kuat... Anna tidak bisa membuat mereka menangis juga. Anna belum siap untuk melepaskannya.


"Bagaimana dia bisa meninggalkanku begitu saja? " Anna tak sanggup berkata dengan bibirnya, dia hanya mampu berkata dalam hati dengan air mata yang terus mengalir.


"Di mana? " Ezra bertanya pada Anna. Anna hanya bisa menggelengkan kepalaku. Anna tidak bisa memberitahu mereka...


"Bagaimana caranya? Mereka hanyalah anak kecil" Batin Anna. Dia menatap Raylie dan mendapati dia menatap Anna dengan mata polosnya. Raylie bingung dan dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi dan sesuatu telah terjadi pada ayahnya.


"Jauh. Ezra... Jaga Raylie sebentar ya sayang? Mommy akan keluar sebentar. Mommy akan segera datang" Anna mencium kedua dahi mereka dan mereka mengangguk pada mommynya sambil tersenyum.


Anna masuk ke kamar dan dengan cepat berganti pakaian dan meletakkan telepon di tangannya untuk mengisi daya. Setelah itu dia berjalan keluar dari ruangan. Anna ingin mengkonfirmasi berita ini. Anna tidak akan percaya. Ryan pria yang kuat dan dia tidak akan pergi seperti itu. Dia bahkan mengetahui bahwa anak dan istrinya sedang menunggunya. Anna meninggalkan rumah dan meminta sopir untuk membawanya ke rumah sakit. Anna tahu di rumah sakit mana Chris menginap, jadi Anna segera pergi ke sana.


Saat Anna memasuki bangsal, dia melihat Amelia yang sedang menatap Chris sambil menyeka air matanya. Anna menunggu sebentar, namun sesaat kemudian Amelia melihatku. Dia tersenyum pada Anna dan Anna pun menghampirinya. Dia melihat ke arah Chris. Dia terluka dan tubuhnya ditutupi perban. Wajahnya tanpa emosi dan raut wajahnya membuat hatiku berdebar.


"Chris, dimana dia? " tanya Anna saat mata Chris menatap padanya. Dia mengatupkan rahangnya dan matanya menjadi merah.


"Kenapa dia menatapku seperti ini?" Batin Anna.

__ADS_1


"Jangan menatapku seperti itu, katakan saja padaku. Di mana Ryan? Kenapa dia tidak ada di sini bersamamu? " Anna bertanya kepada Chris. Chris hanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya dariku.


"Dia sudah pergi" Jawab Chris pelan.


__ADS_2