Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Kenapa Adik belum juga lahir


__ADS_3

Setelah menghabiskan dua mangkuk ramen, Anna memperhatikan Rian.


"Mengapa dia makan seperti ini, dia akan menjadi wanita gemuk" Batin Ryan.


"Jangan makan seperti itu, kamu akan menjadi wanita yang gemuk" Ucap Ryan menasehati istrinya. Setelah Ryan mengatakan itu, Anna hanya mengerutkan kening kepada suaminya.


"Apa yang salah kenapa? Kamu tidak akan meninggalkan ku hanya karena aku gemuk kan? " Anna bertanya sambil mengerutkan dahinya.


"Kenapa wanita ini sangat manis?" Gumam Ryan.


"Aku... Aku tidak akan meninggalkanmu meskipun bentuk tubuh seperti tong. Tapi aku lebih menyukai pinggang ramping mu" Ryan menjawab. Dan Ryan pun menghela nafas dalam karena Anna yang tertawa sangat keras.


"Kenapa kamu tertawa. Jangan tertawa keras-keras semua orang memandang ke arah kita" Ryan Berkata sambil memperhatikan sekelilingnya. Setelah mengatakan itu Anna langsung menghentikan tertawanya. Dan dia tersenyum dengan sangat manis. Ryan memperhatikan senyum itu dan dia juga ikut tersenyum. Yang mana senyum itu membuat dunia Ryan terasa berwarna.


"Apa yang kamu pikirkan? tanya Rian saat melihat istrinya sedang memikirkan sesuatu.


"Belikan sesuatu untuk Ezra dan myles" Jawab Anna sambil memelototi suaminya.


"Ah iya kenapa aku bisa melupakan putra ku sendiri dan si Mark kecil itu" Gumam Ryan pelan.


"Jangan bilang kamu melupakannya Ryan?" tanya Anna. Ryan pun hanya menutup bibirnya dan langsung berdiri tanpa menjawab Anna.

__ADS_1


"Sial... Kamu benar-benar melupakannya. Brengsek" Anna Berkata sambil mencubit lengan Ryan dengan keras. Ryan pun merasakan sakit sambil meringis. Tanya berkata lagi Anna pergi meninggalkan Ryan tanpa menunggungnya.


"Kenapa dia begitu galak?" Tanya Ryan pada diri sendiri. Iya Pun memperhatikan Anna dari pintu kaca restoran, terlihat Anna yang memasuki mobil. Memastikan istrinya berada di mobil dia menghirup nafas lega, karena Ryan tidak akan membiarkan istrinya pergi sendirian. Iya pun segera membelikan ramen untuk Myles dan Ezra. Setelah itu ia pun iya keluar dari restoran dan menyusul Anna masuk ke dalam mobil. Setelah sampai di rumah mark, Ryan segera menurunkan Ana. Dan setelah memberitahu Ryanpun pergi ke kantor.


"Begitu Ryan memasuki ruangan kantor, Iya melihat Chris yang sudah ada disana dan duduk di sofa. Penampilannya terlihat sangat berantakan. Ryan pun menertawakannya dengan sangat keras. Ryan mendengar Chris mengutuknya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Ryan pada Chris dan Chris pun menatap kepada sepupunya dengan senyuman yang lain. Sepertinya dia merasakan lelah dengan satu hal. Entah apa itu.


"Aku tidak tahu Rian Apa yang harus aku lakukan. Lelaki kecil di dalam perut Amelia selalu bergerak dan itu membuatnya berteriak kesakitan. Apakah Ruliana juga pernah mengalami hal seperti itu?" Chris bertanya kepada Ryan dengan tatapan khawatir. Namun Ryan merasa ingin mengejek sepupunya nya dan menertawakannya.


"Putriku tidak seperti bocahmu Chris. Dia anak yang baik dan juga cantik, jadi dia tidak pernah menyakiti Anna" jawab Ryan sambil memperhatikan Chris.


"Haruskah aku membawanya ke dokter?" Tanya Chris dengan ekspresi khawatir. Chris benar-benar merasa takut. Chris benar-benar peduli kepada Amelia dan anaknya. Ryan merasa sangat bahagia karena sepupunya itu telah melepaskan masa lalunya yang buruk dan mempedulikan Amelia serta anaknya. Dia sangat mencintai keduanya.


"Tidak perlu... Hal itu juga sering terjadi pada Ruliana. Tapi aku mengira akan sangat menyakitkan jika bayi itu sering bergerak" Ryan menjawab dan menatap kearah Kris Kris pun mengangguk dan tersenyum kepada Ryan sambil menepuk bahunya.


"Jadi bagaimana dengan semuanya?" Chris bertanya kepada Ryan. Ryan pun yang mengerti arah pembicaraan Chris. It's merasakan sesak di dadanya. Ryan belum bisa melupakan apa yang telah neneknya lakukan kepada ibu dan istrinya. Neneknya Ryan benar-benar menghancurkan masa kecil Mariana atau Ruliana.


"Dia dikirim ke militer Selatan sebagai pelacur. Kakek melakukan itu semua karena merasa sakit hati setelah tahu apa yang dilakukan nenek di belakangnya" Chris menatap kearah Ryan dengan tatapan terkejut. Dan Ryan pun tersenyum dengan terpaksa. Baik Ryan maupun Kris tahu bagaimana kehidupan wanita di militer Selatan. Tempat itu benar-benar seperti neraka. Hal yang diingat Ryan dan Cris saat pertama kali pergi ke sana adalah melihat seorang wanita diperkosa oleh 3 orang pria. Wanita itu pun menangis dan berteriak kesakitan dan memohon untuk dilepaskan. Sungguh menyakitkan untuk percaya ketika wanita itu itu mendapat siksaan seperti itu. Namun setelah Ryan dan chris mengetahui alasan mengapa wanita itu ada di sana, iya membiarkannya dan meninggalkannya. Dia telah membunuh putrinya yang berusia 3 tahun. Hal itu terjadi setelah dia melihat seorang pria memperkosa putrinya sendiri dan lulu menjualnya. Wanita itu memang pantas mendapatkannya.


" Kamu Ingatkan apa yang terjadi saat pertama kali kita pergi ke militer Selatan?" Chris bertanya sambil menatap Ryan dan Ryan pun mengangguk padanya.

__ADS_1


"Wanita itu pun juga pantas mendapatkannya Begitu juga dengan nenek. Dia harus merasakan sakit dan penderitaan karena dia menyakiti banyak orang. Termasuk putranya sendiri" Ryan menutup bibirnya dan mengangguk setuju kepada Chris. Chris pun juga mengangguk. Setelah itu mereka mengerjakan pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan.


Waktu berlalu dengan begitu cepat. Dan saat ini Anna telah hamil besar dan tinggal menunggu waktu untuk lahiran. Sebulan yang lalu Amelia melahirkan Chris Junior. Chris adalah pria yang sangat berbahagia di atas segalanya.


"Daddy, Aku tidak sabar" tiba-tiba ia mendengar suara Ezra yang perlahan mendekatinya. Ryan menatap ke arah putranya yang sedang memeluk kakinya dengan mata berkaca-kaca.


"Ezra Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Ryan bertanya kepada putranya sambil mengangkat dan mencium keningnya setelah itu Ezra pun melingkarkan lengan kecilnya di leher Ryan.


"Kenapa adek kecil sangat lama. Kenapa dia tidak juga keluar?" Ryan ingin tertawa karena mendengar apa yang dikatakan oleh putranya. Mungkin Ezra menangis karena adiknya belum juga lahir.


"Dia akan segera lahir. Tunggu saja" Ryan berkata kepada putranya dan Ezra pun mengangguk dengan penuh keraguan. Ryan pun segera menghapus air mata dipipi Ezra dan menciumnya.


" Oh iya Bukannya kamu membelikan hadiah untuk adikmu?" Ryan masih ingat disaat Ezra membelikan hadiah untuk adiknya yang belum lahir. Kelak dia akan menjadi seorang kakak yang sangat menyayangi dan memperhatikan adiknya.


"Iya daddy, aku menjadi tidak sabar sekarang" Ezra Berkata sambil menyandarkan kepalanya di bahu Brian lalu dia memainkan kerah baju daddynya.


"Daddy akan memberitahu mommy untuk menyuruh adik kecilmu segera lahir oke" setelah Ryan mengatakan itu Ezra menatapnya. Bibirnya menarik garis lengkung menjadi sebuah senyuman. Ryan menatapnya karena senyum itu sangat indah. Dia mengingatkan kepada Erza. Ezra pun mengangguk dan tersenyum kepada Ryan sambil mencium pipi daddy-nya. Ryan berfikir akan sangat bagus jika seandainya Erza tinggal di sini bersamanya."


" oke... Jadi daddy harus memberitahu mommy" Ezra Berkata sambil tersenyum. senyum itu membuat hati Ryan dipenuhi dengan cinta.


"Lebih baik kamu bersiap-siap dan segera berangkat ke sekolah tuan muda kecil" Mendengar itu, Ezra memajukan bibirnya dan mengangguk. Ezra sangat benci jika harus berangkat sekolah. Sebelum berangkat sekolah iya selalu menangis. Namun hal lain yang membuatnya bersemangat ke sekolah adalah mengetahui jika myles juga bersekolah di tempat yang sama.

__ADS_1


__ADS_2