
"A... Siapa kamu? " Anna bertanya. Dia tidak ingin berpikir.
"Tidak... tidak mungkin... Bagaimana mungkin. Mungkin pria ini adalah teman pria itu" Anna memaksakan diri untuk berpikir seperti itu karena takut jika pria di depannya ini adalah ayah dari anaknya
"Bagaimana menurutmu... Hmm? " Ryan menyeringai pada Anna. Anna tidak mengerti.
"Lepaskan aku" Kata Anna sambil mencoba mendorong Ryan menjauh tapi Anna bahkan tidak bisa menggerakkannya.
"Apakah dia patung atau apa? " Batin Anna.
"Melupakanmu kenapa sesulit itu, menerima kebenaran dari tiga tahun lalu? " Kenapa dia selalu mengingatkan ini? " Ucap Anna dalam hati karena takut.
"Apa hubungannya denganmu? " Anna bertanya padanya karena marah.
"Tentu saja aku ada hubungannya dengan itu" Ryan terdengar menakutkan. Tentu saja dia menakutkan, karena dia Ryan William. Anna memalingkan wajahnya dari Ryan, tapi Ryan kembali memaksa Anna untuk menatapnya. "Siapa kamu? p" tanya Anna lagi menyembunyikan rasa takut pada Ryan.
"Tentu saja pria yang sudah membeli keperawananmu" Setelah itu Ryan mencium Anna.
"Apa? " Hati Anna sakit saat pikirannya teringat apa yang terjadi tiga tahun lalu dan bagaimana Anna menunggunya. Tanpa sadar air mata menggenang di mata Anna.
"Jadi ini dia. Pria yang membuatku kehilangan orang terpenting dalam hidupku. Pria yang paling aku benci selama tiga tahun ini. Bajingan... Binatang tak berperasaan" Kesal Anna dalam hati. Ryan berhenti mencium Anna dan menatapnya. Mata Ryan berubah saat dia melihat wajah Anna.
"Jadi itu kamu? " Anna bertanya lagi pada Ryan. Dia meletakkan tangannya di wajah Anna dan mulai membelai wajah Anna. Kebencian selama tiga tahun menyeruak kembali. Anna menampar wajah Ryan dengan keras lagi. "Bajingan... Kembalikan anakku, dasar pembunuh. Aku membencimu. Aku membenci seluruh keluargamu yang terkutuk" Anna mencengkeram baju Ryan dan bertanya. Air mata mengalir dari mata Anna saat dia mengingat Erza dan bayinya. Saat itu semua salah orang ini. Dia tidak datang dan Anna menunggunya.
"Apa. Aku seorang pembunuh. Lalu bagaimana denganmu. Kau yang membunuh dan bukan aku" Ryan menekan Anna ke dinding dengan erat dan berbicara.
"aku seorang pembunuh. Aku bukan pembunuh... Itu kamu... Aku menunggu..." Anna tidak bisa menahan tangisnya. Rasa sakit yang dia sembunyikan selama tiga tahun. Anna kehilangan adik dan anaknya. Bukankah itu semua karena pria ini.
__ADS_1
"Apa? " Ryan bertanya sambil memegang dagu Anna lagi. Anna mengaduh sakit.
"Kembalikan anakku. Kau berhutang dua nyawa padaku" Anna menatap lurus ke mata Ryan dan berbicara.
"Aku berutang dua nyawa padamu, Ha... Kaulah yang membunuhnya. Kau tidak membayar uang untuk operasinya" Setelah itu Ryan melemparkan Anna ke sofa dan naik ke atasnya. Ryan bahkan tahu apa yang terjadi pada adik Anna.
"Apakah ini semua salahku? " Fikir Anna.
"Bukankah itu semua karenamu? " Anna bertanya pada Ryan lalu Ryan tersenyum pada Anna lagi.
"Karena aku Hah... Bukan karena aku, itu terjadi karena kamu" Jawab Ryan.
"Apa yang dia bicarakan. Bajingan gila" Anna mengumpat.
"Aku tidak peduli Ryan... Kembalikan anakku atau aku akan membawanya bersamaku. Monster sepertimu tidak pantas menjadi ayahnya" Anna mendorong Ryan dan bangkit dari sofa, tetapi tangan Anna ditangkap oleh Ryan lagi.
"Ryan Sanskara William. Monster. Binatang buas yang tak berperasaan dan pembunuh" Anna menyeringai pada Ryan dan menepis tangan Ryan dari lengannya lalu berbalik untuk pergi, tapi sebelum Anna pergi, Ryan menangkap pinggang Anna dan melemparkannya ke tempat tidur.
"Haaa... Akan kutunjukkan apa yang bisa dilakukan binatang tak berperasaan ini... Hmm? " Ryan menyeringai pada Anna sambil membuka kancing kemejanya.
"Apa yang akan dia lakukan? " Anna sangat takut saat Ryan melepas bajunya dan naik ke tempat tidur. Urghh tubuhnya... Anna bahkan tidak bisa berpaling dari tubuhnya.
"Apa... Apa yang kamu lakukan? " Tanya Anna dengan suara gemetar. Anna benar-benar takut pada pria ini.
"Apa yang aku lakukan. Aku akan menidurimu di sini dan menunjukkan betapa tidak berperasaannya aku" Jawab Ryan.
"Tidak... Kamu tidak akan memperkosaku kan? " Pikiran Anna kacau dan dia sangat takut. Ryan naik ke atas tubuh Anna saat dia menarik jubah mandi dari tubuh Anna.
__ADS_1
"Tidak... Lepaskan aku" Anna meronta karena tidak ingin.
"Kenapa aku begitu menyedihkan? " Anna merasa sangat kasihan pada dirinya sendiri saat melihat wajah Ryan yang emosi.
"Tolong... Jangan lakukan ini... Kamu tidak bisa melakukan ini" Anna mendapati dirinya menangis saat Ryan melepas celananya.
"Maafkan aku meneriakimu... Tolong... Jangan" Anna meronta dan mencoba melepaskan diri tapi Anna tidak bisa melawan Ryan, tubuhnya berotot dan sangat kuat.
"Kenapa... Apakah kamu takut sekarang. Tapi kamu begitu berani beberapa menit yang lalu" Senyum jahat Ryan tidak pernah pudar saat dia menatap Anna.
Mengapa pria ini seperti ini. Dia tampan dan memiliki segalanya tapi kenapa dia tidak bisa bersikap baik? " Batin Anna sambil menangis.
"Ahhhh..." Rasa sakit menjalari tubuh bagian bawah Anna saat Ryan menusukkan benda panjang dan keras ke dalam tubuh Anna. Tanpa mempedulikan tangisan Anna, Ryan mulai bergerak. Ryan mulai mencium bibir Anna tapi Anna segera menghindarinya. Anna tahu dia membuat Ryan marah lagi. Ryan memaksa Anna untuk menatapnya dan menyeringai. Air mata tidak pernah berhenti keluar dari mata Anna. Bukan hanya karena rasa sakit fisik yang Ryan berikan pada Anna, tetapi juga rasa sakit dan patah hati yang Ryan sebabkan pada Anna tiga tahun lalu. Anna mencengkeram selimut begitu erat karena tidak ingin menyentuh pria ini.
"Aku benci kamu... aku benci kamu karena memperkosaku, aku benci kamu karena kamu mengambil anakku dariku, aku benci kamu karena membuatku kehilangan hal terpenting yang aku miliki. Aku benci kamu karena mengancamku dengan menggunakan anak-anak kecil itu. Aku benci kamu untuk semua yang kamu sebabkan padaku. Ryan William. Aku benci kamu" Anna berbicara sambil menangis dan memejamkan mata. "Bajingan, aku tidak akan pernah memaafkanmu" Ucap Anna marah.
"Apa katamu... Mengancammu? " Ryan berkata. Namun Anna tidak ingin berbicara atau menatap Ryan. Anna diam tanpa berbicara dengan Ryan.
"Jawab aku..." ucap Ryan lagi. Anna membuka mata dan menatapnya tapi tidak ingin berbicara. Anna menatap matanya. Anaknya memiliki mata biru yang sama dengan Ryan dan rambut campuran coklat tua dan hitam yang sama juga.
"Aku bicara sialan jawab aku" Ryan marah. "Orang gila" Ana berteriak sambil mengalihkan pandangan dari mata Ryan dan memalingkan wajahnya. Anna mendengar Ryan tertawa. "Baiklah... Kalau kamu tidak mau berbicara padaku... Aku akan membuatmu berteriak" Lalu Ryan mempercepat gerakannya. Anna menggigit bibir bawahnya karena dia tidak ingin membuat suara apapun dan itu terlalu menyakitkan. Anna tahu Ryan sengaja menyakitinya. Hentakannnya menjadi lebih keras dan lebih cepat saat Ryan membenamkan wajahnya di leher Anna.
"Stamina macam apa yang dimiliki pria ini. Dia bahkan tidak lelah setelah melakukannya sepanjang malam dan sekali lagi dia melakukannya seperti tidak ada lelahnya, dasar Orang cabul" Gumam Anna. Tiba-tiba Anna mendengar suara seperti ada yang patah, dan setelah mendengarkan dengan baik, suara itu berasal dari tempat tidur.
"Sial... Bahkan jika ranjang ini patah, aku tidak akan berhenti menidurimu. Aku menunggumu selama tiga tahun" Kata Ryan sambil mulai mencium dan mengulum bukit kembar Anna. Anna memejamkan mata dan membiarkan Ryan melakukan apa yang dia inginkan.
"Bagaimanapun aku akan membawa anakku kembali bersamaku" Anna menghela nafas dan memutuskan untuk tidur karena Anna ingin melupakan rasa sakit yang Ryan berikan padanya saat ini.
__ADS_1