
"Apakah ini benar Grace?" Kakek bertanya sambil menatap kearah Anna dan Ryan lalu menggelengkan kepalanya.
"Hmmm... Masih menyangkal juga" Batin Anna.
"Dia bukan putri dari keluarga Holland. Bagaimana mungkin kamu bisa mengatakan hal gila seperti itu. Mark akan bertindak menjadi lebih gila jika dia tahu kamu mengatakan hal omong kosong seperti ini" Nenek Ryan berkata sambil mengerutkan kening kepada Ryan.
" Mark tidak akan menjadi gila, dia bisa saja membunuhmu karena apa yang telah kamu lakukan terhadap keluarganya" Batin Ryan.
"Baiklah, kalau begitu kita tunggu sebentar lagi" Ucap Ryan sambil menyandarkan punggungnya di sofa.
"Bibi, Apakah kamu punya anggur?" Ryan berteriak kepada wanita tua yang tadi menyambutnya. Kemudian wanita tua itu mendatangi Ryan sambil bertanya.
"Apa tuan muda? " Tanyanya.
"Apakah kamu punya anggur? "Ryan mengulangi pertanyaannya lagi.
" istriku ingin makan anggur" Ryan berkata lagi.
"Ada tuan muda. Biar saya ambilkan dulu" wanita itupun berjalan kearah dapur untuk mengambil anggur.
"Kakek sudah bertahun-tahun lamanya aku tidak datang kesini" Ucap Mark yang baru saja datang dan memasuki rumah. Kakek terlihat terkejut dengan kedatangan Mark. Namun sesaat kemudian ekspresi wajahnya berubah dan ia pun tersenyum.
"Mark, akhirnya kamu datang juga" Kakek berdiri dan langsung memeluk Mark. Setelah itu mereka pun duduk. Anna sekilas melirik kearah nenek Grace. Terlihat keringat mulai menetes dari dahinya.
"Sekarang dia mulai takut" Batin Anna.
"Lihatlah kakek cucumu telah menikahi saudara perempuanku tanpa memberitahuku. Hukuman apa yang akan kakek berikan kepadanya atas hal itu?" Mark menggoda sambil tersenyum kepada Anna dan kakek.
__ADS_1
"Jadi ini Nona muda kami yang keras kepala itu ya. Kamu benar-benar berubah" Kakek Berkata sambil menatap ke arah Anna.
"Aku keras kepala? tidak! Aku tidak keras kepala" jawab Anna Sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tidak...? Bagaimana menurutmu Ryan?" Kakek bertanya kepada Ryan dan Ryan pun mengangguk sebagai jawaban nya.
"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu Ryan" ucap Anna sambil menepuk bahu Ryan pelan.
" kakek, Mengapa kakek tidak membantuku untuk menemukan kebenaran tentang penculikan Mariana dan adik laki-lakiku. Aku yakin istrimu tahu tentang hal itu" Mark berkata sambil menatap ke arah nenek Grace.
"Aku tidak mengerti apa yang kamu bicarakan. dan tidak mungkin wanita ini adalah saudara perempuanmu" Nenek Grace berkata sambil memalingkan muka dari arah Anna dan Mark.
"Mengapa dia masih menyangkal bahwa aku adalah saudara perempuannya" Batin Anna sambil menatap tajam ke arah nenek.
"Anda bisa berbohong. Namun hasil tes DNA tidak akan pernah membohongi kami. Dia memiliki darah yang sama seperti Aku dan ayahku. Bagaimana mungkin Anda masih ingin mengelak atas apa yang pernah anda lakukan terhadap keluarga kami" Suara mark terdengar serak saat dia mengatakan itu.
" Grace... Cepat katakan semua kebenaran yang telah kamu sembunyikan selama ini. Kurasa mereka tidak berbohong dengan apa yang mereka katakan" tiba-tiba Kakak Rian berteriak. dan hal tersebut membuat nenek Grace tersentak. Tiba-tiba Dia meneteskan air mata. Dia menghirup nafas dalam-dalam setelah itu menatap kearah Ryan Anna dan Mark.
"Kamu membantu mereka, kenapa?" Suara kakek Ryan menjadi lebih keras, dia memukul sebuah meja yang berada di depannya. Sangat mirip dengan Ryan ketika marah.
"Aku membenci mereka itu semua karena kamu" Nenek Grace balik berteriak sambil menatap kearah kakek.
"Karena aku? Hal apa yang sudah pernah aku lakukan sehingga membuatmu melakukan itu semua? " Rahang kakek terlihat mengeras karena emosi. Dan wanita tua itu memang pantas mendapatkan semuanya karena apa yang pernah dilakukan.
"Kamu pikir aku tidak tahu kamu masih mencintainya. Dan kamu terus saja dan selalu Mencintainya. bahkan Di saat dia mencintai laki-laki lain, kamu masih tetap Mencintainya. Jadi Hal itu membuat aku membenci keluarga Holland sialan ini, dan itu semua adalah salahmu"
"Bahkan kamu masih menyimpan fotonya di ruang kerja mu. Kamu tidak memikirkan Bagaimana denganku. Aku ini istrimu bukan wanita yang sudah mati itu. Sudah lebih dari 30 tahun, dan kamu masih tetap mencintainya" Nenek Grace berkata dengan nada kesal.
__ADS_1
"Siapa yang mereka bicarakan. Seorang wanita?" batin Anna.
"Grace... Tutup mulutmu!" Kakek berkata dengan sorot mata dipenuhi amarah.
"Kenapa Kakak bisa semarah ini" batin Ryan.
"Aku membenci keluarga ini" Kata nenek Grace sambil memelototi Anna dan mark.
"Grace, Jangan berbohong" Bentak kakek. Terlihat mata nenek Grace yang memerah di saat dia menatap kakek.
"Aku tidak mengerti, Mengapa kamu masih mencintainya bahkan Di saat dia telah meninggalkanmu" nenek Grace berkata dan tidak mau mengalah. Kakek pun menunduk dengan ekspresi wajah yang sangat sedih sambil menghela nafas panjang.
"Dia tidak pernah meninggalkanku, Dia menderita kanker paru-paru jadi dia harus pergi untuk selama-lamanya" Kakek berbicara dengan suara pelan dan menghela nafas.
"Lihatlah... Kamu masih mencintainya. kamu selalu memperlakukanku dengan baik tapi kamu tidak pernah mencintaiku. Dan kamu hanya mencintai wanita yang sudah mati itu" Nenek Grace Berkata sambil menyeka air mata yang menetes di pipinya.
"Ya aku memang Mencintainya. Lalu kenapa? dan kamu jangan pernah mencoba melarikan diri dari apa yang pernah kamu lakukan. Kamu adalah seorang wanita yang jahat, bahkan disaat kamu masih kecil. Kamu pikir aku tidak tahu bahwa kamu membius Clara setelah itu membuatnya tidur dengan pria lain" Kakek berkata dengan geram.
"Carla... siapa itu?" Tanya Anna.
"Carla... Kakak dari kakekku?" Marc bertanya dengan bingung ia menatap kakek. dan Kakek pun mengangguk.
"Iya" jawab kakek. Anna pun menatap mereka dengan bingung. Dia bahkan tidak bisa mengingat siapa keluarganya. Terutama wanita yang bernama Clara itu.
"kamu mengetahuinya...Bagaimana mungkin" Nenek Grace bertanya dengan suara dan tubuh yang gemetar.
"Tentu saja aku mengetahuinya. Karena Clara tidak pernah berselingkuh dan aku mengenal Clara lebih dari siapapun. Dia meninggalkanku karena kamu dan karena semua hal buruk yang kamu lakukan kepadanya. Kamu menjebaknya dengan mengirimnya ke sebuah kamar setelah kamu membiusnya. Setelah itu kamu masuk ke dalam kamarku. Beruntung aku tidak membunuhmu karena saat itu kamu sedang mengandung reishan"
__ADS_1
"Lihat Rian nenekmu ini, aku juga membencinya sama sepertimu, tapi aku tidak menunjukkan selama bertahun-tahun ini" Ucap kakek Ryan dengan kata penuh kebencian. Perlahan air mata menetes dari sudut mata nenek Grace ketika dia mendengar apa yang suaminya katakan.
"Dia memang pantas mendapatkan itu atas semua perbuatan buruk yang pernah dia lakukan terhadap semua orang" Batin Anna sambil menatap nenek Grace.