
"Apa yang terjadi di sini?" Seorang lelaki datang dan bertanya. Anna menoleh kebelakang dan melihat yang datang adalah Ayah Ryan. Dia terlihat sedang menatap Mark dengan wajah yang terkejut. Perlahan Dia berjalan ke arah Anna dan yang lain dan menatap mereka semua.
"Reishan, tolong aku... Ayahmu akan mengirim aku ke militer Selatan sebagai pelacur" Ayah Ryan tersentak ketika mendengar ibunya berbicara. Iya terdiam sebentar dan terlihat memikirkan sesuatu setelah itu ia mulai berbicara.
"Bu, Apa yang kamu lakukan sehingga membuatnya marah. Ayah tidak mungkin bertindak seperti itu tanpa ada sebabnya. Dia bukan orang yang bertindak tanpa memikirkan sesuatu" Ayah Ryan berkata dengan tenang lalu menatap kearah Mak Dan Tersenyum.
"Aku tidak melakukan apa-apa" Jawab nenek Grace sambil menatap kearah Ryan dan Anna.
"Ayah... Itu dia... Dia yang telah membunuh ibu" Ryan Berkata sambil menatap ke arah ayahnya. Ayah Ryan dengan cepat menoleh ke arah Ryan dan dalam beberapa saat ia kembali menatap ke ibunya.
"Apakah itu benar? " Ayah Ryan bertanya dengan suara bergetar. Pembawaannya memang sangat tenang, namun dapat dilihat dengan jelas bahwa tangannya bergetar di saat dia mengatakan itu.
"Aku bertanya sekali lagi. Apakah benar kamu membunuh Tariana? " Ucap Ayah Ryan dengan berteriak. Anna tersentak saat mendengar suara mertuanya itu. Iya langsung melingkarkan lengannya di tubuh Ryan sambil menatapnya. Ryan pun balik menatap Anna sambil membelai rambutnya dengan lembut dan tersenyum.Pria di keluarga William benar-benar menakutkan. Tidak heran mengapa banyak yang mengatakan mereka adalah pria-pria yang tenang. Namun di saat mereka kehilangan keterangannya, maka akan menjadi sebuah bencana. Mereka Semua terlihat sama, ayah, Ryan dan kakeknya. Anna menghela nafas lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rian karena merasa mengantuk. Tiba-tiba iya ingin minum segelas jus anggur.
" Ryan, Bolehkah aku meminta satu gelas jus anggur lagi? " Anna bertanya kepada Ryan. Dan pada saat yang sama dia tersenyum dan mengangguk.
"Jadi bener kamu yang membunuhnya. kenapa? Dia sedang hamil dan kamu membunuh adik Ryan" Ucap Ayah Ryan. Anna memandang kearah mertuanya, terlihat ayah Reishan yang sedang menangis. Air mata terus mengalir dari sudut matanya. Hati Ana merasa kebas memandang semua ini. Karena Ayah Reishan adalah lelaki yang baik dan penuh perhatian.
"Reishn, dia tidak sederajat dengan kamu. Kenapa kamu tidak bisa mengerti. Dia hanyalah putri seorang kepala pelayan di keluarga Holland. Bagaimana kamu bisa mencintainya seperti itu" Nenek Ryan berusaha berkata dan menjelaskan kepada putranya.
"Apa yang salah dengan itu semua... dia cantik dia baik dan dia memiliki semua yang seharusnya dimiliki oleh seorang wanita. Dia melahirkan Ryan dengan sempurna. Lihat Ryan. Apakah kamu menemukan satu hal buruk saja dalam dirinya? " Ayah Reishan berkata namun tatapannya terlihat kosong.
__ADS_1
"Kamu kan juga seorang ibu. Tariana itu sedang hamil. Mungkin dia hanyalah anak pelayan, namun dia berpendidikan. Lihatlah Bagaimana keluarga Holland memperlakukan dia. Keluarga Holland tidak pernah membeda-bedakan. mereka memberikan pendidikan yang sama seperti yang mereka berikan kepada Nolan" Ayah Reishn berkata dengan nada putus asa.
"Ayah memang benar, kamu seharusnya pergi dan menetap di militer Selatan" Ayah Raisan Berkata sambil menatap ke arah nenek Grace dan mengerutkan keningnya. Nenek Grace pun menutup wajahnya dan mulai menangis. Dengan perlahan dia berjalan mendekati Ayah Reishan dan ingin menyentuhnya, namun dengan cepat Ayah Raisan mengelak dan menatap nenek Grace dengan tatapan dingin.
"Aku ibumu Reishan. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan ini?" Nenek Grace berkata sambil terisak. Namun Ayah Reishan tak menjawab apa-apa, sorot matanya dipenuhi dengan kebencian.
"Kamu bukan Ibuku lagi" Setelah itu Reishan melangkah pergi dan masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan nenek Grace di sana. Wanita seperti itu memang pantas mendapatkannya. Anna yang memandang itu bergidik ngeri. Iya tidak berani membayangkan jika nenek Grace benar-benar dikirim kesana. Sangat berbahaya.
"Ryan, sangat berbahaya jika kamu benar-benar mengirimnya kesana. Kamu tahu itu kan? Hanya saja..." Ucapan Anna tergantung dan berhenti. Iya tidak jadi melanjutkan kata-katanya dan Ryang langsung menggeleng.
"Tidak Anna. Dia harus menderita untuk membayar semua apa yang pernah dia lakukan. Suami dan anaknya saja setuju dengan itu. Aku tidak bisa melupakan kenyataan yang sebenarnya bahwa dia adalah wanita yang telah membunuh ibu dan adikku yang belum lahir. Aku tidak menyangka jika seorang wanita akan bertindak sekejam itu. Dia sudah menyakiti 2 wanita yang sangat penting bagiku. Dia harus menderita" Ryan berkata sambil berdiri dari sofa dan membawa Ana menuju ke dapur untuk mengambil jus anggur.
"Tuan muda, jika anda mengizinkan, saya akan membawakan ini untuk Nona muda" Bibi berkata kepada Ryan.
"gak usah repot-repot bibi" Ucap Anna. Dan Bibi pun tersenyum kepada Anna dan Ryan.
"Bibi tolong jagakan istriku sebentar, aku ingin menemui ayah, aku akan segera kembali" Ucap Ryan. Bibi pun mengangguk dan tersenyum kepadanya.
"Nona muda mari saya tunjukkan kan taman di luar rumah" Ucap bibi sambil membawa Anna keluar rumah. Dan saat sudah berada di luar rumah, Anna melihat Mark yang sedang naik mobil.
"Kamu mau pulang? " Anna bertanya kepada kakaknya dan di saat yang sama Mark menatap Anna sambil tersenyum.
__ADS_1
"Iya, aku mau ke kantor sekarang. Kamu nanti pulang sama Ryan saja" Ucap Mark sambil membelai wajah adiknya dengan lembut. Anna pun mengangguk kepadanya dan di saat yang sama mark naik ke mobil.
~Ryan~
"Ayah..." Ryan masuk ke kamar ayahnya, ia merasa kasihan terhadap ayahnya. Iya ingin melihat ayahnya yang sedang terluka. Ryan melihat ayahnya yang sedang duduk di sofa sambil memandangi foto mendiang Tariana. Ryan pun perlahan mendekatinya dan berhenti di belakang sofa di mana ayahnya duduk. Ryan merasakan perih di hatinya disaat dia melihat senyum ibunya. Ibunya benar-benar cantik. Jika misalnya adik Ryan masih ada saat ini, Ryan yakin dia akan sangat mirip dengan ibunya. Ryan tidak dapat menjabarkan rasa sakit di dalam hatinya, karena itu benar-benar menyakitkan. Ryan sama sekali belum pernah melihat ibunya. Kalaupun kalian pernah melihat ibunya, Iya yakin pasti tidak akan pernah mengingat apa-apa karena di saat itu Rian masih sangat kecil.
"Aku tidak percaya nenekmu melakukan ini padanya" Ucap Ayah sambil menatap kearah Ryan. Matanya berkaca-kaca, Riyan tahu ayahnya menahan air mata itu agar tidak menetes.
"Dia Ibu kandungku, bagaimana dia bisa melakukan itu" Ayah Ryan menghela nafas panjang, terdengar suaranya yang sangat sedih. Iya kembali menatap foto itu lagi.
"Dia sedang hamil Ryan... Aku... Aku merasa tidak sanggup menahan rasa sakit karena kehilangan dia dan anak yang sedang dikandungnya. Dia pernah berkata ingin ikut dengan ayah, namun ayah melarangnya. Karena Ayah berfikir di sini dia akan aman dan baik-baik saja di saat aku tidak ada di sampingnya. Tapi Siapa yang menyangka jika ini semua akan terjadi" Ayah Ryan berkata dengan suara yang menyayat hati. Ryan yang mendengar cerita ayahnya merasakan matanya semakin panas. Iya mengerti air matanya memaksa untuk menetes.
"Aku aku bahkan tidak bisa menikahinya. Bahkan untuk sekedar memakaikan cincin yang pernah kubeli di jarinya" Ayah Ryan menutupi wajahnya dengan Kedua telapak tangannya sambil bercerita.
"Ayah jangan terus larut dalam kesedihan" Ryan berkata dengan pelan sambil menepuk bahu ayahnya.
"Bagaimana ayah bisa bertemu dengan ibu?" Ryan bertanya kepada ayahnya. Dan disaat yang sama ayahnya menatap Ryan dan tersenyum. Sebenarnya tidak ingin menyakiti ayahnya dengan mengingatkan tentang masa lalu. Namun Ia juga ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi di antara mereka.
"Dia adalah teman Nolan. Namun ternyata ayah salah sangka, ayah mengira jika ibumu adalah pacar Nolan" Ayah Ryan mulai bercerita sambil tersenyum.
"aku merasa iri kepada Nolan karena Tariana sangat cantik dan aku juga menyukainya. Di suatu waktu, aku melihat Nolan mencium Miara. Dan disaat itu juga darah Ayah mendidih karena marah. Ayah mengira jika Nolan berselingkuh. Ayah memukul Nolan. Hingga suatu ketika, ayah menemukan kebenaran jika Tariana adalah temannya saja. Ayah melakukan berbagai cara agar ibumu menjadi milik ayah. namun Ibumu adalah wanita yang sulit ditaklukan" Ayah Ryan bercerita sambil tersenyum.
__ADS_1