
"Tapi kamu harus tetap memberi tahu aku Ryan, aku melakukan segalanya untuk Erza. Kamu tahu Erza itu lebih dari siapa pun. Kenapa, kenapa kamu lakukan ini?" Tangisan Anna membuat hati Ryan sesak.
"Rulianna maafkan aku" Akhirnya Ryan menemukan cara untuk meminta maaf. Dia tahu dirinya salah karena menyembunyikan semua dari istrinya, tapi Ryan melakukan semuanya hanya karena dia tidak ingin menyakiti Anna lebih parah lagi.
"Baiklah" Anna mengangguk pada Ryan lalu pergi.
"Masalah lain datang lagi. Sial... semuanya karena Mark" Batin Ryan.
"Kamu membuatnya kesal dan bersedih lagi disaat dia hamil, lebih baik kamu berdoa agar tidak sampai terjadi apa-apa pada anak dan istriku karena emosinya" kata Ryan tenang dan berdiri. Tanpa peduli dengan Mark, Ryan pergi ke kamar Anna. Terlihat istrinya sedang berbaring di tempat tidur sambil melihat ke langit-langit.
"Anna" Ryan perlahan berjalan ke arah istrinya, Anna menatapnya dan menghela nafas. Ryan segera naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Anna sambil membelai rambutnya.
"Apa yang terjadi padanya?" Anna bertanya pada Ryan sambil menahan air matanya.
"Tidak ada gunanya menyembunyikan kebenaran saat ini" Batin Ryan.
"Menurut penyelidikanku, seseorang telah merencanakan sesuatu, dan Erza dibunuh" Ryan mencium dahi istrinya dan berkata.
"Kenapa, dan siapa orang itu? Erza tidak pernah melakukan kesalahan pada siapa pun" Anna membenamkan wajahnya di dada Ryan dan terisak.
"Mungkin orang yang sama yang menculik kalian berdua bertahun-tahun yang lalu" Jawab Ryan. Anna tidak mengatakan apa-apa dan terus menangis.
"Jangan menangis, tidurlah sekarang" Ryan memeluk istrinya supaya tenang dan segera tidur. Perlahan, napas Anna terdengar tenang. Ternyata dia sudah tidur.
Setelah Anna tertidur, Ryan bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Ryan pergi ke taman dirumah ini dan melihat sekeliling. Dia mengingat semua yang terjadi di masa lalu.
"Apa yang kamu lakukan?" Ryan mendengar suara Mark, diapun berbalik untuk melihatnya. Mark menatap dirinya sambil mengangkat alisnya. Ryan menghela nafas dan memalingkan muka dari Mark karena tidak ingin berkelahi lagi.
"Tidak ada" kata Ryan sambil duduk di kursi.
"Bagaimana Marianna bisa menjadi rahim sewaanmu?" Mark bertanya dan Ryan kembali menatapnya.
__ADS_1
"Tidak ada gunanya berbohong" Fikir Ryan.
"Nenek menemukannya dan aku melakukan apa yang diminta nenek" kata Ryan singkat. Dia melihat rahang Mark yang mengeras. Ryan dapat memahami rasa sakit di dalam hati Mark karena dia mencintai dan menyayangi saudaranya. Karena setelah kehilangan orang tuany, Mark adalah pengganti mereka. Mark terus mencari keberadaan Anna dan Erza seperti orang gila.
"Tidak bisakah kamu menemukan dari nenek apa yang terjadi saat itu?" Tiba-tiba Mark bertanya.
"Aku sudah mencoba selama bertahun-tahun tetapi tidak mendapatkan apa-apa"
"Sebelum aku pergi ke kamp militer, aku bertanya tentang hal itu kepada nenek, tetapi hal yang nenek katakan adalah 'aku tidak tahu dan dia tidak melakukan apa-apa'. Tapi aku tahu nenek menyembunyikan sesuatu" kata Ryan saat Mark duduk di sebelahnya.
"Tidak ada bukti yang ditemukan tentang apa pun karena semua orang sudah terbunuh terkait dengan masalah ini. Terutama pembunuhan ayah" Mark berkata dengan pelan. Ryan bisa dengan jelas mendengar suaranya yang pecah. Tentu saja, Mark patah hati karena keluarganya hancur dalam sekejap.
"Satu orang tersisa, mungkin dia tahu sesuatu. Pria itu adalah salah satu pria yang menculik Rulianna dan Erza" Ryan memandang Mark dan berkata.
"Di mana?" Mark bertanya pada Mark dengan suara penuh ketidaksabaran. Ryan pun menghela nafas dan menjelaskan apa yang Chris temukan dan katakan padanya hari itu.
"Kita akan bisa mengetahui segalanya jika kita menangkapnya" Ucap Ryan lagi. Mark menghela nafas panjang dan menatapnya.
"Aku pergi besok" Kata Mark.
"Apa-apaan kamu ini... Mark, kamu tahu, terlalu berbahaya untuk pergi sendiri dan menemukan pria itu... Kita tahu bahwa mereka tidak semudah itu" Ryan menghela nafas dan memberitahu Mark.
"Siapa bilang aku akan pergi sendiri? Kamu harus pergi denganku Ryan. Kamu menikahi saudara perempuanku dan dengan terpaksa kamu menjadi saudara iparku, jadi lebih baik kamu ikut denganku" Jawab Mark sambil menatap Ryan.
"Terpaksa menjadi saudara iparnya? Apa-apaan? " Batin Ryan tidak membenarkan kata Mark.
"Aku tidak menjadi adik iparmu dengan terpaksa. Aku selalu begitu sejak dulu, karena om dan tante sudah menjodohkanku, dan satu lagi, Rulianna adalah milikku" Ryan berkata sambil memalingkan muka dari wajah Mark yang menyebalkan. Ryan merasa benar-benar kesal.
"Kita akan pergi besok dan bawalah putramu ke sini. Biarkan dia tinggal bersama Marianna sampai kita kembali. Dan satu lagi, lebih baik kamu pergi dan tidur di kamar tamu jangan berani menyentuhnya" Mark berdiri dari kursi dan mengerutkan kening ke arah Ryan.
"Aku tidur dengannya. Dia sudah hamil, apa lagi yang harus aku sentuh?" Ryan menyeringai pada Mark dan berdiri dari kursi. Dia melihat wajah Mark dengan ekspresi sangat marah. Sehingga sebelum Mark bisa bereaksi, Ryan berjalan melewatinya.
__ADS_1
"Aku akan menjemput Ezra sekarang" kata Ryan sambil berjalan keluar dari halaman rumah Mark dan masuk ke mobilnya.
Setelah Ryan telah sampai dirumahnya, dia pergi ke kamar Ezra dan mengambil beberapa setelan untuk putranya lalu mengemasnya. Setelah selesai, Ryan menulis catatan kecil untuk paman Herman dan meletakkannya di atas meja di kamar Ezra. Ryan melihat ke arah Ezra. Terlihat putranya sedang tidur nyenyak. Jadi tanpa membangunkannya, Ryan membawanya ke mobil dan menempatkannya di kursi belakang dengan pelan lalu mengemudi menuju ke rumah Mark.
Ketika Ryan memasuki halaman, dia melihat Mark masih ada di sana.
"Dia sedang tidur?" Mark bertanya pada Ryan saat Ryan membawa Ezra keluar dari mobil. Ryan pun mengangguk pada Mark, terlihat Mark mendekat dan membelai pipi Ezra.
"Aku melihat dia sama seperti Erza. Keduanya mirip" Mark berbicara dengan nada terluka dan bahagia.
"Aku akan tidur. Minta Chris untuk ikut dengan kita besok" Ucap Mark. Ryan mengangguk pada saudara iparnya dan membawa Ezra ke kamar Anna lalu menidurkan putranya di sebelah Anna. Begitu Ryan meletakkan Ezra di tempat tidur, dia berguling ke pelukan Anna.
"Anak ini" Batin Ryan sambil tersenyum.
- Rulianna -
Anna bangun di pagi hari dan merasa seseorang memeluk dirinya. Anna berfikir jika itu adalah Ryan. Anna pun membuka mata dan memandangi tangan kecil itu, tapi yang mengejutkan Anna, itu bukan Ryan, melainkan pangeran kecilnya.
"Kapan dia datang? " Gumam Anna. Dia duduk dan menatap Ezra yang sedang tidur nyenyak. Dia tidak ingin membangunkan putranya, jadi Anna perlahan bangun dari tempat tidur.
"Mommy" langkah Anna terhenti saat mendengar suara putranya yang terdengar masih mengantuk.
"Mommy ada di sini sayang, tidurlah lagi" Anna mencium kening putranya dan kembali membenarkan selimutnya.
"MOMMY KAMU DISINI" Tiba-tiba Ezra berkata dengan suara lantang setelah membuka matanya. Anna tersenyum dan mencium pipi putranya.
"Ya, mommy ada di sini" Jawab Anna. Ezra mengangguk pada Anna. Dan pada saat yang sama Ryan masuk ke kamar.
"Daddy, kamu di sini" Ezra tersenyum cerah pada Ryan dan mengangkat tangannya. Ryan berjalan menuju tempat tidur dan mengangkat putranya.
"Ezra kamu tinggal di sini dulu bersama mommy selama beberapa hari ya. Daddy harus pergi untuk mengurus bisnis" Ucap Ryan. Anna menatap Ryan dan hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman karena kata-kata suaminya barusan.
__ADS_1
"Mau kemana? Bisnis apa?" Anna bertanya pada Ryan saat Ryan juga menatap dirinya dan tersenyum.