Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Ezra Mengetahui Ibunya


__ADS_3

"Peri" Kata Ryan pada Ezra sambil menganggukkan kepala.


"Ya seperti peri daddy, mommy seperti peri. Sangat cantik" Ucap Ezra polos. Dia masih terlalu kecil dan selalu berbicara apa adanya.


"Ini bayi peri" Ezra berkata sambil menunjuk dirinya sendiri. Ryan menatap anaknya lalu dia tersenyum.


"Ya peri. mommy seperti peri. Mommy memiliki mata berwarna abu-abu dan rambut panjang berwarna cokelat muda. Tidak seperti aku dan daddy" Ezra terus bercerita.


"Apa? " Batin Ryan, Detak jantungnya meningkat. "Bagaimana dia tahu. Dia belum pernah melihatnya dan bahkan tidak tahu seperti apa wajahnya" Ryan bergumam pelan karena terkejut.


"Apa, kapan kamu melihatnya? " Suara nenek dengan nada tinggi menggema di ruang makan sedangkan Ezra dengan cepat membenamkan wajahnya ke tubuh Ryan. Dia duduk di pangkuan Ryan karena takut pada nenek. Tiba-tiba kemarahan menguasai Ryan ketika dia melihat perilaku nenek. 


"Beraninya nenek menakuti anakku tanpa alasan? "Ucap Ryan.


"Bu. Jangan berteriak. Dia anak kecil" Kata ayah Ryan dengan wajah marah. Nenek menunduk dan menarik napas dalam-dalam. 


"Ezra sayang, beri tahu nenek di mana kamu melihatnya? " Ucap nenek dengan suara rendah.


"Mengapa nenek begitu gelisah setelah apa yang dikatakan Ezra? " Ryan berkata dalam hati. Selama beberapa tahun terakhir pikiran Ryan dipenuhi dengan keraguan kepada nenek dan dia memaksa dirinya untuk menghapus semua keraguan itu. 


"Aku tidak bisa. Aku hanya akan memberitahu daddy dan kakek" Kata Ezra sambil melompat turun dari pangkuan Ryan lalu berlari ke kakeknya. Kemudian dia naik ke pangkuan kakek dan tersenyum cerah. Ryan melihat mata ayahnya melembut saat melihat senyum cucunya. 


"Dia tidak seperti nenek buyut. Mommy cantik dan nenek buyut jelek" Begitu Ezra mengatakan itu. Ezra menatap nenek dan melihat kebencian di matanya. Nenek mengerutkan kening pada Ezra. Ini bukan sesuatu yang bisa Ryan abaikan.  Sudah tiga tahun. Ryan menghela nafas dan memberikan piring yang berisi makanan Ezra kepada ayah dan ayah Ryan mulai menyuapi Ezra. Setelah sarapan Ryan berdiri untuk pergi. 


"Daddy" Ryan mendengar suara anaknya. Ryan melihat kebawah untuk menatap Ezra, saat itu Ezra sudah menatap Ryan sambil mengangkat tangannya. Ryan tahu Ezra ingin Ryan menjemputnya. Ryan tersenyum dan mengangkatnya dalam gendongan, Ezra mencium pipi daddinya. 


"Daddy akan membawa mommy kesinikan? " Ryan tiba-tiba mematung ketika mendengar apa yang di katakan Ezra.


"Bawa mommy pulang.Bagaimana mungkin. Aku bahkan tidak tahu di mana dia" Ucap Ryan dalam hati.


"Ezra... Bagaimana kamu bisa melihat mommy? " Ryan bertanya karena dia masih belum paham bagaimana Ezra tahu seperti apa ibunya. 


"Dalam mimpiku. Dia seperti peri yang sangat cantik, daddy. Dia mengenakan rok putih yang panjang dengan gambar bunga. Mommy bahkan menelepon aku dad. Mommy bilang mommy akan datang untuk membawaku bersamanya. Tapi daddy akan ikut dengan kami kan? " Ucap Ezra yang berada dalam gendongan Ryan.

__ADS_1


"Apa... Bagaimana caranya. Bawa Ezra bersamanya? " Pikiran Ryan berkecamuk. Tiba-tiba hati Ryan diliputi rasa takut kehilangan Ezra.


"Bagaimana jika dia kembali dan mencoba mengambi Anakku. Tidak, itu tidak akan pernah terjadi. Wanita seperti itu tidak pantas menjadi ibu dari anakku" Batin Ryan.


"Baiklah sayang. Daddy juga ingin melihat ibumu. Jadilah anak yang baik dan tidur lebih awal malam ini karena daddy akan terlambat pulang malam ini. Oke! " Ucap Ryan mengelus kepala Ezra. Ryan harus menghadiri beberapa pertemuan bisnis dengan klien jadi dia pasti akan terlambat pulang malam ini.


"Oke daddy" Lihat, Ezra kesal lagi. Jika Ryan pulang larut Ezra pasti kesal.


"Daddy akan membawakan cokelat untuk anak laki-laki daddy" Ryan mencium kening Ezra dan Ezrapun mulai terkikik. Entah kenapa dia suka sekali makan coklat. Padahal Ryan tidak menyukainya. Mungkin Ezra sama seperti ibunya. Setelah berhasil membujuk Ezra, Ryan menurunkannya.


"Aku mencintaimu daddy" teriak Ezra sambil menutup telinga Ryan dengan tangan mungilnya. Huh anak ini. Setelah itu. Ryan pergi ke kantor. 


Ketika Ryan memasuki kantor saya, Dia melihat Chris yang sedang duduk di sofa. 


"Apa yang kamu lakukan di sini? " Ryan bertanya pada Chris, saat itu dia juga menatap Ryan dan berdiri. 


"Ryan... Ada sesuatu yang kutemukan tentang kakak anak laki-laki itu" Ucap Chris. Hati Ryan menegang mengingat Erza. 


"Dia adalah seorang mahasiswa di Universitas XXXX, tetapi aku tidak dapat menemukan informasi apa pun tentang dia, karena seseorang telah menghapus setiap detail informasi dari database mereka" Ucap Chris memberi tahu.


"Kenapa begitu. Dan siapa yang ingin menyembunyikan identitasnya. Dan bagaimana dengan orang yang mengancam dokter itu. Sudah tiga tahun, dan aku tidak dapat menemukan mereka. Sial... Aku tahu seseorang melakukan ini, tetapi mengapa. Aku selalu mencoba untuk mencari tahu, tapi aku tidak tahu alasan mengapa mereka melakukannya pada Erza dan saudara perempuannya. Mereka  tidak bersalah" Ryan berkata.


"Tidak... tapi aku pikir mereka telah mengancam saudara perempuannya juga.  Seorang lelaki paruh baya berkata bahwa dia melihat dua pria bertopeng meninggalkan rumah Erza pada hari pemakaman Erza dan dia juga berkata bahwa dia yakin bahwa saudara perempuannya ada di rumah malam itu" Jelas Chris.


"Itukah sebabnya dia pergi. Aku bahkan tidak dapat menemukannya" Chris lanjut berbicara.


"Baiklah terus selidiki. Aku ingin menemukannya" Kata Ryan, lalu Chris mengangguk dan meninggalkan kantor. Ryan sangat penasaran. Erza punya sesuatu untuknya dan saudara perempuannya,


"Tapi apa itu? " Gumam Ryan bertanya pada diri sendiri sambil melihat waktu, dan sudah pukul 06.30 malam. Ryan harus menemui klien pukul tujuh malam nanti, jadi tanpa meminta David untuk ikut dengannya, Ryan pergi sendiri. 


Ketika Ryan memasuki hotel, Ryan melihat Lidia. Ryan sangat membencinya. 


"Hei Ryan" Sapa Lidia, Dia datang pada Ryan dengan tersenyum cerah tapi Ryan malah merasa jijik. Ryan tidak ingin berbicara dengan Lidia, jadi dia pergi tanpa menatapnya. 

__ADS_1


"Ryan. aku berbicara denganmu" Ucap Lidia, Ryan mendengar suara Lidia lagi tapi tidak ingin melihatnya.  


"Ryan, percayalah aku akan membuatmu menikah denganku" Ucap Lidia.


"Ha... Menikah dengannya? " Batin Ryan malas menanggapi. Dia benar-benar ingin tertawa. Ryan ingin mengatakan sesuatu pada Lidia, tapi dia tidak ingin berbicara dengan seorang pelacur. Ketika Ryan datang untuk bertemu kliennya, Ryan membahas segala sesuatu tentang proyek baru. Ryan melihat jam dan sekarang sudah jam 10 malam. Ryan memutuskan untuk menelepon ayahnya dan menanyakan apakah Ezra sudah tidur. 


"Halo ayah, apakah Ezra sudah tidur? " Ryan langsung berbicara saat ayahnya menjawab panggilan. 


"Iya. Sudah tidur" Ucap Ayah Ryan sambil terkekeh dan aku pun tersenyum. 


"Aku akan pulang sebentar lagi" Kata Ryan dan setelahnya iya menutup telepon. Ryan bergegas untuk pergi, namun saat akan berjalan, dia melihat sosok yang dia kenal, tetapi tidak bisa melihat dengan jelas. Ryan pun menyusul ke arah orang tersebut tetapi tidak ada seorang pun di sana. 


"Mungkin hanya halusinasiku" Ryan menghela nafas. Disaat yang sama, seorang pelayan datang dan memberi Ryan segelas anggur. Ryan dengan senang hati mengambilnya karena dia merasa lelah. Setelah Ryan meminumnya, dia merasa pusing. 


"Kenapa ini, tenggorokanku menjadi kering dan tubuhku menjadi panas. Sial... Aku dijebak" Gumam Ryan dengan nada geram. Ryan segera pergi ke kamar pribadi milik keluarga William di hotel ini dan membuka pintu. Ryan pergi ke kamar kecil dan mandi dengan air dingin tetapi itu tidak meringankan apa pun. Ryan tidak bisa menahan diri. Dia menginginkan seorang wanita. Tiba-tiba, pikirannya dipenuhi dengan wanita yang pernah dimilikinya tiga tahun lalu.  "Sial... aku masih belum bisa melupakannya" Ryan mengumpat. Setelah Ryan mengingat Anna, tubuhnya menjadi lebih panas.


"Dia adalah wanita pertama yang kumiliki, dan setelahnya, aku tidak memiliki wanita lain karena merasa jijik. Apa dia benar-benar menggunakan mantranya padaku" Ryan semakin merasakan panas pada tubuhnya. Dia tidak bisa menahan diri. Tiba-tiba Ryan teringat Lidia dan apa yang dia katakan. 


"Urghh... Aku akan membuatnya membayar semua ini" Ryan merasa kesal.


"Aku tidak bisa, urghhh. Sial aku ingin seorang wanita" Ryan mengambil ponselnya dan menghubungi Chris. 


"Ya Ryan" Ryan mendengar suara Chris saat panggilan sudah tersambung. 


"Kirimkan aku seorang wanita. Aku di jebak dengan obat perangsang" Kata Ryan dengan napas beratnya. 


"Apa? " Sebelum Chris sempat bertanya, Ryan menutup telepon. Pandangannya perlahan menjadi gelap. 


"Persetan... Aku ingin melepaskan hasratku" Ucap Ryan sambil bangkit dari tempat tidur sambil berjalan menuju pintu. Ryan mendengar seorang wanita datang dengan suara terengah-engah. Begitu cepat Chris mengirim seorang wanita. Ryan langsung membuka pintu dan menyeret wanita itu ke dalam kamarnya.  Penglihatan Ryan kabur tapi kenapa wanita ini mirip dengan Anna. Dia terlihat seperti wanita yang selalu ingin Ryan miliki. Ryan menekannya ke dinding dan menciumnya. Ryan kehilangan kesadarannya saat dia mendengar wanita ini mengerang. Ryan merobek pakaiannya dan ketika Ryan menyentuhnya, Ryan merasa dia terlalu seksi.


"Sial dia di rangsang juga. Apakah Chris memberikan obat perangsang pada wanita ini? " Ryan bergumam. Tanpa peduli Ryan mengangkatnya dan membawanya ke tempat tidur. Saat Ryan berjalan wanita itu mencium leher Ryan.


TBC

__ADS_1


__ADS_2