Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Dia Milikku


__ADS_3

Setelah Ryan tiba di tempat Anna, dia turun dari mobil dan berlari menuju lift. Ryan menekan tombol tiga kali dan ternyata rusak.


"Apa-apaan wanita ini. Bagaimana dia bisa tinggal di sini. Urghh wanita bodoh" Gumam Ryan, Dengan itu dia berlari menuju tangga dan dengan cepat pergi ke lantai tiga.


"Tunggu... Nomor apartemennya enam kan? " Ingat Ryan. Saat Ryan sampai di depan pintu apartemen Anna. Ryan melihat pintu sedikit terbuka. Tiba-tiba Ryan mendengar tangisan seorang wanita dan hati Ryan menegang ketika mengetahui bahwa itu adalah suara Anna. Ryan masuk ke dalam apartemen dan mendengar suara Anna yang membuat Ryan kehilangan kewarasannya.


"Sentuh aku sekali lagi aku akan membunuhmu" Ucap Anna mengancam kepada pria diatas tubuhnya.


"Sial... Siapa yang berani menyentuh wanitaku? " Gumam Ryan sambil berjalan. Ryan Kemudian terdengar tawa seorang pria dan suara pakaian yang robek. Hati Ryan menggeram kesal saat dia menuju ruangan tempat suara itu berasal. Ryan mendorong pintu dan melihat sesuatu yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Dan pada saat yang sama Ryan ingin membunuh. Ya, Ryan ingin membunuh siapapun yang berani menyetuh miliknya. Ryan berjalan ke arah pria yang menindih Anna di bawah tubuhnya dan terlihat Anna yang berjuang melepaskan diri. Ryan menarik rambut pria itu dan melepaskan tubuh Anna darinya.


"Bajingan... Bukankah ini kepala departemen manajemen di perusahaanku? " Gumam Ryan saat tahu siapa lelaki itu. Ryan mendorongnya ke dinding dan mulai memukulnya dengan brutal. Ryan memukulnya dengan seluruh kekuatan, Dan Ryan mendengar lelaki itu merintih kesakitan tetapi Ryan tidak peduli karena pikirannya sangat ingat bagaimana Anna berjuang untuk melepaskan diri.


"Bajingan tua sialan" Ucap Ryan sambil melayangkan tinjunya.


"Kau berani menyentuh milikku. Aku akan memotong jarimu sekarang" Teriak Ryan pada lelaki itu dengan marah. Darah Ryan mendidih karena marah.


"Tuan muda... kumohon... Selamatkan hidupku.. aku tidak tahu dia milikmu" Lelaki tua itu menangis saat berbicara.


"Dia ibu dari anakku sialan" Teriak Ryan lalu mematahkan tangan pria itu. Ryan merasa senang karena pria itu menangis kesakitan tetapi Ryan tidak puas hanya dengan itu. Karena lelaki tua itu harus membayar dengan nyawanya karena berani menyentuh wanita yang Ryan sukai dan cintai. Ryan mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya ke dahi pria itu tapi sebelum Ryan bisa menarik pelatuknya, Ryan mendengar suara Anna yang mendekat kepadanya.


"Jangan... Jangan bunuh dia" Dengan itu Anna meraih tangan Ryan dan menatap dengan wajah cantiknya. Ryan ingin mendengarkannya, tetapi dia melihat darah di dahi Anna membuatnya berubah pikiran.


"Tidak... Aku akan membunuhnya karena dia berani menyentuh milikku" Seringai muncul di wajah Ryan karena memikirkan bajingan tua ini sekarat dan dengan pemikiran indah itu Ryan menembak dia di dahinya.


Ryan memperhatikan tubuh yang tak bernyawa dihadapannya, dan untuk sementara waktu seringai di wajah Ryan tidak pudar. Ryan merasakan tatapan seseorang padanya. Dia menatap wanita yang sedang menatap dirinya dengan wajah terkejut.

__ADS_1


"Urghh... Setelah sekian lama akhirnya aku berhasil membawanya ke apartemenku" Batin Ryan. Sambil duduk di dalam mobil, Ryan memperhatikan setiap gerakan Anna. Anna takut pada Ryan. Tapi disisi lain, Anna tahu Ryan tidak akan menyakitinya. Anna menyeka darah di dahinya dan menghela nafas sambil melihat ke luar jendela. Anna hanya berusaha tenang dan diam tapi sangat menawan. Ryan juga mengusap tangannya karena tidak ingin Ezra melihat darah. Ryan mengirim pesan kepada Chris dan berkata untuk membereskan semuanya sebelum kami datang, karena Ryan tidak ingin memengaruhi apa pun dalam hidupnya dan tidak ingin mempersulit Hidupnya.


"Daddy kamu kembali" Ryan mendengar suara Ezra dan pada saat yang sama dia melihat wanita yang ada di sampingnya. Ryan bisa merasakan ketidakpercayaan di matanya. Dia ingin melihat anaknya kan.


"Mommy juga ada di sini" Ryan melihat mata Anna basah dengan senyum yang menawan.


"Sial... Dia tetap cantik meski sedang menangis" Kemudian Ryan melihat anaknya yang merona.


"Urgh... Apakah dia seorang gadis. Mengapa wajahnya memerah? " Batin Ryan. Setelah Anna pergi ke kamar mandi, Ryan juga pergi mandi. Ryan berganti celana dan kemeja. Saat Ryan keluar dari kamar dan mengambil kotak P3K, Ryan melihat Ezra yang sedang menjulurkan kepalanya ke kamar yang dimasuki mommynya. Ryan perlahan berjalan ke arah Ezra dan membungkuk.


"Ezra" Kata Ryan di telinga Ezra. Ezrapun melompat dan terlihat takut.


"Hahaha puff" Ryan tertawa ketika Ezra melihatnya dengan wajah tidak percaya.


"Seorang pria tidak akan pernah mengintip ke sebuah ruangan di mana seorang wanita sedang mandi dan mengganti pakaian" Ryan menatap Ezra dan berbicara. Wajah Ezra berubah menjadi merah dan berpaling dari Ryan. Ryan memaksakan diri untuk menahan tawanya. Ryan seharusnya tidak memperlakukan anaknya seperti ini, tetapi dia tidak bisa berhenti tertawa.


"Tapi dia mommyku, jadi aku bisa melihat dan aku anaknya, daddy. Dia milikku jadi dia tidak akan menyalahkanku karena melihatnya kan? " Ucap Ezra.


"Haaa... Dia miliknya. Fikiran macam apa yang ada di otak anak ini" Batin Ryan tak percaya dengan apa yang dikatakan anaknya.


"Sayang. Mommy milik daddy, oke. Tapi mommy akan selalu bersamamu" Ryan membelai rambut Ezra dan berbicara. Ezra menatap Ryan dengan tatapan serius dan mulai tertawa.


"Tapi Daddy sudah memberikannya padaku" Ucap Ezra.


"Benarkah yang kudengar ini. Sungguh jenius. Dia benar-benar tahu bagaimana membuatku tidak bisa berkata-kata. Mengapa aku merasa anak ini akan menjadi saingan cintaku? " Gumam Ryan dalam hati.

__ADS_1


"Tidak. Kamu pergi kekamarmu dan tunggu mommy Oke" Ryan berkata pada Ezra, Ezra pun mengangguk lalu pergi. Ryan masuk ke kamar dan menunggu Anna. Anna keluar setelah beberapa menit.


"Sial... Kenapa wanita ini begitu cantik? " Perhatian Ryan tertuju pada Anna yang baru keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi dan itu membuat Ryan dengan jelas bisa melihat tulang selangkanya yang terbuka. Tetesan air meluncur turun melalui lehernya karena rambutnya yang basah. Ryan merasa akan kehilangan kendali atas dirinya, tetapi dia juga tidak ingin berpaling. Ryan menatap wajah Anna dan melihat ekspresi terkejut. Ryan tahu Anna pasti bertanya-tanya kapan dia mandi.


"Dasar Wanita bodoh, kenapa cemberut" Gumam Ryan lirih. Anna datang dan duduk di samping Ryan. Ryanpun mulai mengobati luka di dahi Anna. Begitu Ryan selesai, Anna langsung bangun dan pergi tanpa menatap Ryan.


"Kenapa kamu terburu-buru? " Ryan menangkap pergelangan tangan Anna dan menarik ke arahnya lagi.


"Sial... dia baru saja menggunakan lotion tubuhku. Urgh... Dia bau sepertiku. Tapi itu sangat cocok untuknya" Ryan tersenyum pada Anna dan Anna pun balas menatap Ryan.


"Aku ingin bertemu dengannya" Anna memalingkan muka dan berkata dengan suara lirih. Ryan tahu Anna ingin melihat Ezra tapi sebelum itu Ryan ingin Anna menghabiskan waktu bersamanya.


"Urghh... Dia milikku" Batin Ryan.


"Aku melakukan apa yang kamu katakan jadi inilah saatnya kamu untuk menjadi wanitaku" Kata Ryan sambil mulai mencium leher Anna. Begitu halus dan harum.


"Belum. Bagaimana hak asuhnya? " Anna mendorong Ryan menjauh lalu berdiri.


"Kau tahu. Kau tidak akan pernah bisa membuangku dari hidup Ezra" Ryan bangkit dan menarik Anna ke arahnya lalu mencium Anna kembali.


"Urgh... Menciumnya terasa seperti surga. Mengapa wanita ini begitu manis? " Batin Ryan. Dia meletakkan tangannya kembali di kepala Anna dan memperdalam ciuman. Ryan segera mendorong lidahnya ke mulut Anna. "Uuuggrrhh" Suara Ryan pelan.


"Daddg" Ryan mendengar suara marah Ezra dan pada saat yang sama wanita yang baru saja dia cium mendorongnya menjauh.


"Sial... Anak ini menyebalkan" Kesal Ryan dalam hati. Ryam menatap pemuda kecil yang sedang menatapnya dengan wajah marah. Ryan benar-benar tidak bisa menahan nafas karena dia. Ryan mengatakan kepadanya bahwa dirinya telah mencium mommynya dan mendapat tatapan marah dari mommynya. Anna menggendong Ezra dan meninggalkan ruangan tanpa peduli tentang Ryan.

__ADS_1


__ADS_2