
Anna memperhatikan putranya dan kemudian melihat ke tempat yang ditunjukkan Ezra. Dia menggigit bibir bawahnya dan berfikir. Ryan tersenyum karena reaksi Anna dengan wajah yang memerah.
"Tidak ada apa-apa sayang. mungkin daddymu berkeringat" Anna tertawa terbahak-bahak dan berkata sambil mengambil Ezra dari Ryan.
“Benarkah daddy? ” Ezra bertanya-tanya dengan wajah bingung pada Ryan. Ezra tersenyum pada daddynya dan mencium pipi Anna.
"Ayo... mommy akan memandikan kamu pangeran kecil" Anna membawa Ezra keluar dari kamar dan Ryan menghela nafas lega. Setelah itu, Ryan segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri. Ryan harus pergi ke kantor tetapi rasanya sangat berat .
"Bukan aku tinggal di rumah ini bersama istri dan anakku? Rasanya ngga bisa jauh-jauh dari mereka" Gumam Ryan. Karena sudah terlalu lama dikamar mandi, iya pun keluar. Ryan perlahan berjalan menuju lemari dan mengambil jas lalu memakainya. Sesaat kemudian Anna masuk ke kamar. Ryan memperhatikan kecantikan istrinya sambil membayangkan bagaimana caranya tetap kekantor sambil terus bersamanya.
“Kamu mau ke kantor? ” Anna datang dan bertanya sambil memperbaiki kerah baju Ryan. Ryan meraihkan pinggang Anna dan mengangguk.
"Jam berapa pulangnya? " Anna melingkarkan tangannya di leher Ryan sambil bertanya. Ryan merasa tidak ingin pergi ke kantor.
"Sekitar jam enam atau tujuh malam" Anna tersenyum dan mengangguk. Ryan melihat bibir Anna dan tiba-tiba ingin menciumnya. Sehingga Ryan mendorong Anna ke dinding dan menciumnya. Dia mendorong lidahnya ke dalam mulut Anna dan memperdalam ciumannya. Ryan mendengar suara cecapan mereka dan Ryan tersenyum dengan bibir yang masih menempel. Entah mengapa, Ryan sangat suka mencium wanita ini.
"Cukup" Anna mendorong Ryan menjauh dengan nafas terengah-engah. Terlihat muka Anna yang merah karena dirinya.
" Ryan... sarapanlah dan minum obatmu" Ucap Anna sambil berbicara dan mengalihkan pandangan dari mata Ryan.
"Kenapa kamu harus berpaling? " ucap Ryan. Anna hanya menjawab dengan senyuman.
"Aku akan minum nanti" Ryan mencium kening Anna dan tersenyum. Anna mengangguk dengan ekspresi bahagia. Lalu mereka keluar kamar untuk sarapan.
"Anna, aku akan meminta seseorang untuk membawakanmu pakaian dan semua yang kamu minta. Tetaplah di rumah dan jangan keluar sendiri. Jika kamu ingin keluar ada sopir di sini. Pergilah dengannya, jangan sendirian" Tutur Ryan.
"Ryan Aku bukan anak kecil ya. Aku bisa menjaga diriku sendiri " Anna berbicara sambil tersenyum. Sedangkan Ryan bisa menghela nafas.
"Bagaimana aku akan memberitahunya kalau aku sedang menyembunyikannya dari kakaknya" batin Ryan.
"Ya tapi tidak baik sendirian. Jadi menurutlah padaku. Oke" Ryan menatap wajah Anna dan dia mengangguk. Ryan bernafas lega karena Anna bukanlah gadis yang keras kepala seperti dulu.
__ADS_1
Setelah sarapan dan menyuapi Ezra, Ryan berdiri untuk berangkat. Namun Anna meraih tangannya. Ryan berbalik badan. Ia meminum obat yang berada ditangan Anna, lalu mencium kening istrinya serta dahi Ezra juga sebelum meninggalkan rumah. Mau tak mau Ryan melihat kembali istri dan anaknya. Karena mereka segalanya bagi Ryan. Ryan benar-benar tidak ingin jauh dari mereka.
Saat memasuki mobil, Ryan mengeluarkan ponsel lalu memeriksanya. Dia melihat Chris telah mengirim pesan. Ryan membukanya. Ryan memejamkan mata begitu melihat apa yang dikirimkan oleh Chris. Itu nomor Ryan yang dulu. Ryan merasakan sesuatu yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Entah apa itu. Ketika Ryan teringat masa kecil Anna. Hingga hari itu Anna memiliki dua nomor yang diingatnya, dan satu-satunya adalah milik Ryan.
"Mengapa aku melewatkan ini? Sial..." Gumam Ryan.
-Rulianna-
Sudah hampir sebulan Anna menikah dengan Ryan. Dia benar-benar memperlakukan Anna dan tidak membiarkan Anna merasakan sesuatu yang buruk atau tidak nyaman. Hari demi hari Anna semakin jatuh cinta dan sekarang tidak ada cara untuk melupakan atau meninggalkan Ryan. Anna tidak pernah berpikir seperti itu. Yang Anna rasakan adalah semakin hari iya semakin mencintai Ryan. Ryan tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintai Anna. Dan Anna juga tidak pernah mengatakannya, tetapi cara Ryan berkata dan memperlakukan Anna, menunjukkan semua yang ada dalam hatinya. Ryan memberi Anna rumah dan Anna tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata rumah yang Ryan beli untuk mereka tinggali. Dinding depan rumah itu terbuat dari kaca dan siapapun dapat melihat seluruh taman dan kolam saat melihat keluar dari lantai atas. Sebuah rumah yang mewah.
"Apa yang telah aku lakukan. Sehingga telah membuatku mendapatkan kehidupan seperti ini? " Anna bertanya pada diri sendiri karena Anna merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Tiba-tiba Anna mendengar sebuah panggilan di ponselnya.
"Halo" Anna menjawab panggilan itu dan mendengar suara Ryan diseberang telepon.
"Anna, kita harus menghadiri gala amal malam ini. Aku akan mengirimimu gaun. Bersiaplah dan tunggulah. Aku akan datang menjemputmu jam tujuh" Ucap Ryan.
"Baik... Ezra bersama kita kan? " Tanya Anna karena Ryan tidak menyebut Ezra.
"Oke" kata Anna sambil menutup panggilan, namun sebelum panggilan itu berakhir, terdengar suara ciuman. Begitu panggilan berakhir, Anna keluar dan melihat Ezra sedang bermain dengan anak anjing yang dibelikan Ryan beberapa jam yang lalu.
"Ezra" Anna memanggilnya. Ezra langsung berdiri dari duduknya dilantai dan berlari ke arah Anna.
"Daddy sama mommy mau pergi keluar malam ini. Kakek akan datang sebentar lagi, kamu sama kakek dulu ya? " Anna berkata, Ezra langsung melompat-lompat.
"Kakek akan datang" Ezra sangat senang mendengar itu, karena sudah lama iya tidak bersama dengan kakeknya. Dan pada saat yang sama, ayah datang dengan seorang wanita muda.
"Siapa itu? " Batin Anna
"Rulianna, dia akan membantumu bersiap-siap. Ini sudah jam lima, bersiaplah" ayah tersenyum dan berkata.
"Baik ayah" Anna mengangguk dan masuk ke dalam rumah bersama gadis itu.
__ADS_1
"Nyonya mandilah dan saya akan membantu anda memakai ini" Anna menatap gadis itu dan yang tersenyum denganmelihat ekspresi malu-malu.
"Oke, tunggulah disini" Anna memintanya untuk menunggu di kamar. Lalu iya sendiri masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah selesai Anna keluar dari kamar mandi.
"Nyonya mari kita mulai" Dengan itu gadis itu mendekat dan membuka tas yang dibawanya dan kemudian mengeluarkan satu kotak besar. Gadis itu mengeluarkan sebuah gaun dan datang ke arah Anna. Gaun warna peach dengan mutiara perak. Sangat Cantik.
"Apakah Ryan yang memilih ini? " Anna bertanya dan dia pun mengangguk.
" Mr William telah memesan semua tempat kami, dan semua gaun di sana disesuaikan hanya untuk Anda Nyonya" Ucap gadis itu.
"Tunggu... apa? " Anna kembali bertanya. Iya berfikir jika Ryan benar-benar membuang-buang uangnya.Gadis itu tersenyum lalu membantu Anna memakai gaun itu, dan akhirnya selesai. Anna berjalan menuju cermin dan melihat dirinya sendiri.
"Aku benar-benar cantik kan?" Batin AAnna
"Anda cantik sekali nyonya" Gadis itu tersenyum dan mendekat kepada Anna lalu memperbaiki rok gaun itu. Gaun itu memiliki warna peach asimetris yang berkaitan dengan satu bahu bagian atas gaun itu, sedangkan ukurannya sangat pas ditubuh Anna. Bagian atas dihiasi dengan mutiara berwarna perak. Roknya sangat berat karena terdapat payet mutiara hitam dan perak juga.
"Berapa harganya? " Batin Anna.
"Nyonya... Mari kita tata rambutnya" Anna mengangguk dan duduk di depan cermin. “Haruskah saya merubah gaya rambut yang lain nyonya? ” Gadis itubertanya kepada Anna dengan suara dan wajah yang cerah. Anna melihatnya dari cermin dan tersenyum.
“Apa pun yang kamu anggap paling baik” Begitu Anna mengatakannya. Gadis di belakangnya menatap wajah terkejut dan kemudian mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia dengan cepat merubah gaya rambut dengan konde dibagian agak atas. Lalu memasangkan beberapa jepit rambut mutiara. Dia juga membiarkan beberapa rambut jatuh ke bahu.
"cantik kan? " Tanya Anna sambil tertawa . Gadis itu mengangguk dan mengambil satu set riasan.
"Saya pernah mendengar bahwa istri Tuan William sangat cantik, tapi ini pertama kali saya melihat nyonya sangat cantik dari perkiraanku dan nyonya sangat baik hati" Anna tersenyum dan mengangguk. Gadis itu mengoleskan lipstik warna nude dibibir Anna. Setelahnya, Anna sudah selesai memakai heels dan berdiri dari kursi.
"Nyonya ini kalung anda? " Dia memberikan sebuah kalung besar yang penuh dengan berlian. Anna menghela nafas.
"Tidak. Aku memakai kalung dan anting-anting ini saja. Tidak perlu barang-barang ini" Dia melihat kalung dan anting-anting Anna sebelum mengangguk setuju.
"Aku tidak akan melepaskan kalung, cincin, dan anting-anting ini, apa pun yang terjadi karena Ryan-lah yang memakaikanku barang-barang ini" Gumam Anna.
__ADS_1