
Anna mendengar telepon berdering, dengan segera Anna menjawab telepon itu, Iya menjawab panggilan dengan meletakkan ponsel di telinganya dengan tangan gemetar.
"Halo nyonya, tim kami telah menemukan tubuh tuan muda, tetapi saya minta maaf karena harus memberi tahu Anda, bahwa anda tidak akan dapat melihatnya, karena tubuhnya tidak lagi dapat dikenali. Semoga Anda mengerti" Seluruh tubuh Anna tiba-tiba mati rasa. Dan semua harapan Anna menguap. 'Seandainya Ryan masih hidup' memudar karena kata-kata yang dia dengar dari seberang telepon. Anna tidak punya kekuatan untuk berbicara atau melakukan apapun. Dia hanya diam di tempat sambil mendengarkan anggota militer itu berbicara.
"Jadi dia benar-benar pergi? Apakah akhir dari semuanya? " Tanpa mengatakan atau melakukan apa pun, Anna langsung menutup telepon. Dia berdiri dari sofa dan berlari ke atas.
"Marianna..." Anna mendengar suara Gwen tapi dia tidak peduli. Dia segera masuk ke kamar dan mengunci pintu. Setelah itu, tak lama kemudian, Anna mendengar Gwen mengetuk pintu tetapi dia tetap diam, tubuhnya terasa lemas dan tak bisa berbuat apa-apa.
Akhirnya, setelah beberapa saat, Gwen menyerah dan berhenti mengetuk pintu. Anna kehilangan kesadarannya. Dia sangat ingat cara Ryan balas menatapnya dan tersenyum saat akan berangkat. Senyum Itu sangat indah.
"Apakah itu senyumnya yang terakhir kali? Jika aku tahu itu adalah yang terakhir kalinya, aku tidak akan membiarkan dia pergi... Aku benci kamu karena meninggalkan aku dan anak-anak Ryan. Aku membencimu..." Teriak Anna. Kemarahan tiba-tiba menguasai Anna. Dia melangkah ke kamar mandi dan mengambil pisau cukur suaminya lalu mengeluarkan siletnya.
"Jika kamu pergi aku juga ikut" Tanpa memikirkan apapun Anna mengiris pergelangan tangannya dalam-dalam dan melihat darah yang mengalir dari pergelangan tangannya sendiri. Sesaat kemudian Anna pindah ke pergelangan tangan yang satunya. Dan pada saat yang sama, tubuh Anna mati rasa dengan matanya yang terasa berat.
"Apa yang kamu lakukan Rulianna? Apakah kamu akan meninggalkan anak-anakku?" Mata Anna terbelalak saat mendengar suara Ryan.
"Dia di sini? " Gumam Anna. Dia melihat sekeliling untuk memastikan semuanya, tetapi Ryantidak terlihat.
__ADS_1
"Jadi itu hanya ilusi...? " Lalu tiba-tiba Anna tersadar kembali.
"Apa.. apa yang aku lakukan? Aku tidak boleh mati... Aku harus tetap kuat dan menjaga Ezra dan Raylie. Tidak..." Ucap Anna panik saat seluruh kesadarannya kembali. Seluruh tubuhnya menjadi mati rasa. Dan dengan cepat Anna menekan pergelangan tangannya untuk menghentikan darah yang mengalir keluar. Dia dengan cepat berlari keluar dari kamar mandi.
Lalu dia mengambil baju Ryan dan melingkarkannya di pergelangan tangan. Anna segera membuka kunci pintu dan berlari keluar.
"Aku harus hidup untuk anak-anakku, bahkan jika Ryan meninggalkan kami, aku tidak akan meninggalkan mereka" Gumam Anna sambil menuruni tangga dengan sisa tenaga yang ada.
"Bawa aku ke rumah sakit" Kata Anna. Saat dia melihat Mark yang sudah masuk ke dalam rumah. Mark dengan cepat menatap Anna dengan wajah terkejut. Kemudian Mark dengan cepat berjalan ke arah Anna, mengangkat adiknya lalu berlari ke mobil. Air mata mengalir dari mata Anna. Iya menghadap ke leher Mark dan memejamkan mata.
"Ryan.. Maaf.. Aku tidak bermaksud melakukan itu.. Maafkan aku" Seketika itu pula penglihatan Anna menjadi gelap.
"KAMU MELAKUKAN APA YANG AKU BILANG JANGAN KAMU LAKUKAN" Teriakan penuh kemarahan Ryan membuat mata Anna terbuka. Anna mengambil nafas dalam-dalam dan melihat sekeliling. Anna melihat dirinya ada di kamar rumah sakit. Anna menghela nafas dan melihat tangannya yang dibalut perban. Dia tetap memperhatikan tangannya sendiri untuk beberapa saat. Tiba-tiba terdengar pintu terbuka. Mark masuk bersama Gwen. Tubuh Anna semakin ketakutan saat dia melihat wajah Mark yang marah. Anna menggigit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangan dari kakaknya.
"Jadi sekarang kamu bahagia? " Ucap Mark. Anna mendengar suara kakaknya tapi dia tidak menolehkan kepalanya untuk melihat Mark karena wajahnya sangat menakutkan. Anna merasa Mark akan memukul dirinya.
"Kamu bahkan berani memotong pergelangan tanganmu tanpa memikirkan anakmu sendiri?" Ucap Mark marah. Anna hanya diam tanpa berbicara. Karena hal itu akan membuat kakaknya semakin marah.
__ADS_1
"Silakan mati" Dia melemparkan pisau yang tajam ke tempat tidur Anna dan berkata tanpa nada emosi.
"Mark... Tolong hentikan. Jangan mempersulit dia" Aku mendengar tangisan Gwen yang sedang menatap Mark. Air mata Anna keluar saat melihatnya.
"Maaf, aku baru saja kehilangan akal sehatku dan ingin pergi bersama Ryan" Kata Anna dan tiba-tiba mata Mark menjadi merah. Dia memperhatikan Anna sebentar lalu berjalan keluar ruangan. Gwen mendekat dan memeluk Anna sambil menyeka air matanya.
"Aku memberi tahu anak-anak bahwa tanganmu tidak sengaja terpotong saat kamu memotong sayuran, jadi beri tahu mereka seperti itu juga" Anna mengangguk pada Gwen dan pada saat yang sama Ezra dan Raylie menerobos masuk ke kamar. Mata Raylie berlinang air mata dan dia menggigit bibirnya. Anna menatap Ezra dan mendapati dia mengerutkan kening. Ezra sangat mirip dengan ayahnya.
"Kemarilah" kata Anna melambaikan tangan. Raylie dengan cepat berlari ke arahnya dan menyeka air matanya menggunakan baju rumah sakit Anna. Putri kecil Anna sangat imut.
"Bu, tanganmu benar-benar terpotong karena kecelakaan?" Ezra mendatangi Anna dan bertanya. Anna pun mengangguk pada putranya dan tersenyum. Tapi Anna tahu Ezra tidak percaya padanya. Bocah kecil yang lucu dan bodoh itu sudah lama pergi dan dia sekarang sudah berumur 7 tahun. Dia telah menjadi dewasa dan cerdas. Sikapnya semakin mirip dengan Ryan dari hari ke hari. Dia dengan baik mewarisi seringai Ryan dan auranya mendominasi Ryan.
"Mommy harus berhati-hati lain kali. Jangan sakiti dirimu sendiri" Ezra datang dan mencium pipi Anna. Anna hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan keras untuk mencegah air mata yang akan menetes.
"Aku tidak akan melakukannya lagi" Anna tersenyum pada putranya dan membelai rambutnya. Ezra pun terkikik dan meraih tangan Raylie. Kemudian keduanya menunggu sebentar setelah meninggalkan kamar rumah sakit.
"Bagaimana aku berpikir untuk meninggalkan anak-anakku yang manis? aku tidak akan melakukannya lagi" Gumam Anna dalam hati.
__ADS_1
"Istirahatlah. Kata dokter kamu bisa pulang besok" Anna mengangguk pada Gwen dan melihatnya berjalan keluar dari kamar. Dia menghela nafas dan berbaring di tempat tidur. Dia mengingat mimpi yang baru saja menghampirinya.
"Apakah Ryan benar-benar kecewa padaku? Tidak benar? Itu hanya mimpi dan Ryan tidak akan pernah meneriakiku seperti itu" Batin Anna. Perlahan Anna memejamkan kembali matanya karena lelah, lelah dengan semuanya. Sangat sulit untuk percaya bahwa Ryan telah pergi meninggalkan mereka. Tapi sekarang Anna harus menerima takdir dan menjadi wanita yang lebih kuat untuk anak-anaknya.