Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Sup Ayam dan Jagung Manis


__ADS_3

"Tidak bisakah aku melihat Ryan? " Anna bertanya pada Gwen, tiba-tiba ekspresinya berubah. Gwen menatap Anna sebentar dan menghela nafas.


"Aku tidak tahu Mari, Mark sangat marah setelah mengetahui bahwa Ryan menyembunyikanmu. Dan satu yang yang membuat Mark emosi, dia telah menjadikanmu istrinya" Anna menggigit bibir dan menggelengkan kepalanya, karena Anna tidak bisa hidul tanpa suaminya.


"Aku ingin bertemu dengan Ryan. Aku memperlakukannya dengan buruk selama seminggu ini, karena aku tidak tahu Marianna itu adalah aku" Hati Anna terasa sesak karena dia mengabaikan suaminya minggu lalu. Anna bahkan mengusir suaminya dari kamar.


"Aku bisa mengerti Mari, tapi kakakmu adalah seseorang yang tidak bisa kita campuri urusannya. Dia bukan pria lembut seperti beberapa tahun yang lalu" Gwen dengan lembut meraih tangan Anna dan berkata dengan ekspresi wajah yang khawatir.


"Baiklah, aku tidak ingin melihat Ryan. Aku hanya ingin melihat anakku" Anna mengatakan lagi, tapi Gwen menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Anna.


"Tolong tenanglah dan tunggu sebentar saja. aku akan mencoba melakukan sesuatu" kata Gwen. Anna mengangguk pada wanita di depannya karena dia tidak bisa melakukan apa-aa.


"Istirahatlah sekarang. Katakan padaku apa yang ingin kamu makan. Aku akan membuat apa pun yang kamu suka" Gwen tersenyum dan mencubit pipi Anna dengan lembut dan Anna hanya tersenyum padanya.


"Apa saja" Gwen mengangguk pada Anna dan meninggalkan ruangan. Anna menghela napas dan berjalan di sekitar ruangan dan membuka lemari kecil berwarna merah muda. Anna melihat album foto, lalu meraih dan mengeluarkannya. Emosi Anna meluap, dan tidak diketahui apa penyebabnya. Anna perlahan membukanya album foto itu.


- Mark -


Mark tidak ingin berteriak pada adiknya begitu sudah menemukannya dan membawanya pulang. Mark menghela nafas dan pergi ke kantor lalu ambruk di sofa.


"Dia belum mengetahui apa yang terjadi padanya di masa lalu dan di mana adikku? " Darah Mark mulai mendidih lagi saat iya mengingat Ryan.


"Bajingan... Pantas saja mengapa dia tidak membiarkanku melihat istrinya hari itu. Tentu saja, karena dia menikahi adikku. Aku akan membuatnya membayar untuk apa yang dia lakukan" Gumam Mark.


"Tuan... Kita sudah menemukan semuanya" Mark melihat orang suruhannya dan mengangguk. Dia mendekat berdiri di depan Mark, lelaki itu menatap Mark dengan tatapan khawatir.

__ADS_1


"Bicaralah" Mark tidak sabar. Mark tidak bisa menunggu dan dia ingin tahu secepat mungkin. Tapi dalam hatinya merasa takut.


"Nona muda adalah seorang yang menyewakan rahimnya kepada Ryan Sanskara William. Dia telah menjual dirinya kepada keluarga William karena dia ingin menyelamatkan nyawa tuan muda kecil. Tuan muda kecil menderita kanker paru-paru. Dia sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu karena seseorang memerintahkan untuk membunuhnya. Dan Grace telah membantu mereka untuk membunuh tuan muda kecil. Nona muda tidak tahu apa-apa. Ryan William telah membunuh orang yang sengaja memberikan obat yang salah kepada tuan muda kecil" Ucap orang yang berdiri didepan Mark.


"Meninggal? Saudaraku? Dan saudara perempuanku telah menjual tubuhnya untuk menyelamatkan adiknya? " Mark bertanya kembali karena merasa tidak percaya. Iya merasakan nyeri berdenyut di dalam dadanya. Mark merasa tidak sanggup dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Aku bahkan tidak bisa melihatnya tumbuh dewasa. Aku tidak tahu penampilannya seperti apa. Dia masih kecil. Aku bahkan tidak bisa mencintainya dan memberikan segalanya untuknya" Gumam Mark lirih. Iya merasa air matanya berusaha keluar dari pelupuk matanya. Tapi Mark memaksakan diri untuk tidak menangis.


"Grace adalah nenek Ryan?" Tanya Mark dan lelaki didepannya mengangguk.


"Tuan, Ryan.. dia telah membunuh beberapa pria yang terlibat dengan kematian tuan muda kecil. Saya mendengar ketika Ryan mengetahui tentang kematian tuan muda kecil, dia menjadi gila dan menembak dokter yang merawat anak kecil itu di tempat" Hati Mark terasa dingin dengan perasaan yang tidak menentu.


"Ryan... Apakah dia peduli? Semua ini terjadi karena keluarganya. Bajingan sialan" Ucap Mark.


"Baiklah, kamu pergilah dan cari tahu tentang hubungan yang dimiliki Grace dengan orang-orang yang membunuh adikku" kata Mark sambil bangkit dari sofa dan berjalan menuju mejanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan. Kemudian iya mendengar ponselnya berdering. Saat melihat id penelepon, terlihat nama Gwen.


"Daddy, ini aku... aku harus memberitahumu sebuah rahasia" Hati Mark menghangat saat mendengar suara anaknya. Mark terkekeh saat dia mengatakan dia memiliki rahasia untuk diceritakan. Anak ini benar-benar punya banyak rahasia untuk diberitahukan kepada daddynya. Mark ingin tahu apakah dia kembali memukul seseorang secara diam-diam.


"Hmm. Daddy mendengarkan" kata Mark saat dia mendengar anaknya menarik napas dalam-dalam.


"Daddy aku mendengar mommy dan tante membicarakan sesuatu" Ucap Myles.


"Apa? Apakah dia menguping orang dewasa berbicara? Anak ini" Batin Mark.


"Bukankah daddy mengajarimu, bahwa anak-anak tidak boleh mendengarkan ketika orang dewasa berbicara?" Mark bertanya pada anaknya dengan nada serius. Dan Mark mendengar putranya menghela nafas.

__ADS_1


"Daddy, tunggu. Aku tidak melakukannya dan ini benar-benar penting bagimu" Myles berkata lagi.


"Apa yang ingin dikatakan bocah ini sekarang? Apakah dia sedang melakukan sesuatu yang bisa membuat mommynya marah? " Batin Mark lagi. Tiba-tiba Mark mendengar suara Gwen.


"Apa yang kamu lakukan sayang?" Mark kembali mendengar suara indah Gwen dan hatinya dipenuhi cinta. Tidak peduli berapa tahun dirinya menghabiskan waktu dengan wanitanya ini. Setiap hari cinta Mark pada Gwen tumbuh begitu saja.


"Berbicara dengan Daddy. Mommy berbicaralah dengannya. Aku mau ketemu tante" Mark mendengar Myles berkata dengan nada kesal. Diapun tersenyum. Myles benar-benar kesal karena dia tidak bisa menceritakan rahasianya kepada daddynya.


"Hei, kamu baik-baik saja?" Setelah Mark mendengar suara Gwen, dia menghela nafas.


"Hmm..." Mark duduk kursi sambil melihat foto yang tergantung di dinding di kantornya.


"Mark, jangan berteriak pada Marianna lagi? Dia sedang hamil. Kita tidak boleh membuatnya sedih" Gwen berbicara dengan nada khawatir. Sebenarnya Mark tidak setuju, tetapi dia harus menuruti isteinya karena Marianna sedang hamil. Hal yang paling sulit untuk Mark percaya adalah Marianna hamil anak Ryan.


"Baiklah" kata Mark sambil mengingat sesuatu.


"Ryan pasti akan datang hari ini ketika dia menemukan Marianna bersamaku. Baguslah aku mengikat kepala pelayan itu sehingga dia tidak akan bisa segera menghubungi Ryan.


"Pulanglah lebih awal dan kamu ingin makan malam dengan apa?" Gwen bertanya pada suaminya.


"Apa pun yang disukai Marianna" Mark menghela napas dalam-dalam dan berkata.


"Aku bertanya pada Mary, dia mengatakan mah makan apa saja" Marianna tidak ingat apa-apa dan tentu saja dia tidak ingat betapa sukanya dia saat Gwen membuat sup ayam dan jagung manis.


"Kamu ingat dia suka sup ayam dan jagung manis yang kamu buat?" tanya Mark. Dia mendengar istrinya tertawa pelan di seberang telepon.

__ADS_1


"Ya, aku akan membuatnya. Aku tutup teleponnya. Love you sayang" dengan itu Gwen menutup telepon tanpa membiarkan Mark mengatakan apa-apa.


__ADS_2