
"Ryan... aku tidak mengerti" Anna menggigit bibir bawahnya dan berkata sambil mengalihkan pandangan dari mata Ryan. Fikirannya terasa kacau dan berantakan karena segalanya yang terjadi.
"Aku menyuruhmu untuk bersamaku dan jangan pergi. Ezra membutuhkan ibunya" Ryan berkata sambil memandang Anna yang memalingkan mukanya. Ya, Anna bisa dengan jelas merasakannya, karena cara Ryan memeluk tubuh Anna dan cara dia mengatakan dia sangat mencintai Anna.
"Baiklah" Anna mengangguk pada Ryan, lalu Ryan menempelkan bibirnya ke bibir Anna. Tanpa sengaja Anna melingkarkan tangannya di leher Ryan dan berdiri dengan berjinjit karena Ryan begitu tinggi. Ryan terkekeh karena tindakan Anna. Dan itu membuat Anna mencubit lehernya. Lalu ciuman mereka menjadi bergairah saat Ryan mendorong lidahnya ke dalam mulut Anna.
"Mom" Anna mendengar suara serak Ezra. Dia segera mendorong Ryan pergi dan menemui Ezra.
"Hai sayang. Mommy disini" Anna mencium kening dan pipi Ezra.
"Daddy juga ada di sini" Ezra tersenyum pada Ryan dan tertawa kecil di tubuh Anna. Lalu dia melingkarkan lengan kecilnya di pinggang Anna.
"Mama kurus banget. Mama harus makan lebih banyak" Ucap Ezra sambil menyembunyikan wajahnya di perut Anna. Anna tertawa dan menepuk kepala Anaknya.
"Mama akan makan lebih banyak lagi sayang" Kata Anna sambil mencium rambut Ezra.
"Daddy akan membuat mommymu gemuk Ezra" Ryan tiba-tiba menyahut.
"Tunggu... Apa yang baru saja dia katakan" Batin Anna. Anna menatap Ryan dan melihat Ryan menatap dirinya sambil menjilat bibirnya. Ryan menatap Anna dan tersenyum.
"Bajingan sesat" Batin Anna lagi. Karena iya tak ingin Ezra mendengarnya.
"Bagaimana caranya? " Ezra dengan cepat menjulurkan kepalanya dan bertanya sambil tersenyum.
"Daddy punya cara untuk melakukannya. Kamu akan mengerti ketika kamu menjadi seorang pria" Jawab Ryan.
"Beraninya dia... Sungguh ayah yang hebat" Anna semakin geram dengan kelakuan Ryan.
"RYAN... Hentikan. Jangan katakan hal bodoh. Idiot" Kata Anna sambil melemparkan bantal ke arah Ryan.
"Kamu ini gila" Ucap Anna. Kemudian mereka mendengar suara bel dan Ryan memandang ke arah Anna dan Ezra sebentar dan meninggalkan ruangan. Ryan menunggu bersama Ezra sebentar di kamar. Anna menggendong Ezra dan meninggalkan kamar karena Ryan tidak datang ke kamar lagi. Dan Anna juga tidak tahu siapa yang datang. Ketika Anna keluar dari kamar Ezra, Ryan memasuki ruang tamu dan melihat Ryan sedang berbicara serius dengan ayahnya. Anna pikir Chris idiot itu sudah pergi.
"Kakek..." Begitu Ezra melihat ayah Ryan, dia berteriak.
"Hai boy yang sedang berulang tahun" Sapa ayah Ryan sambil tersenyum pada Ezra. Anna menurunkan Ezra, lalu dia berlari ke arah kakeknya dan melompat ke pangkuannya. Anna tersenyum karena kelucuan anaknya. Kemudian Anna perhatikan Ryan sedang melihatnya, Anna menatap Ryan sebentar dan membuang muka, karena itu adalah hal yang sangat sulit bagi Anna untuk menatap mata Ryan.
__ADS_1
"Kakek, Daddy membawa mommy kembali sebagai hadiah ulang tahunku" Hati Anna menegang saat mendengar suara Ezra yang bahagia.
"Hadiah ulang tahunnya? " Anna menatap Ryan yang masih menatapnya. Dan Anna tidak mengerti apa yang ada di pikiran Ryan. Dia menghela nafas dan mengalihkan pandangan dari Ryan.
"Rulianna, kamu akan tinggal di sini bersama mereka kan? " Tanya ayah Ryan. Anna menatap ayah Ryan yang tersenyum padanya.
"Bagaimana aku harus mengatakannya pada ayah Ryan" Anna merasa bingung, dia juga tersenyum pada Ayah Ryan dan mengangguk.
"Aku akan membuat makan siang dulu" Anna berjata dan langsung pergi ke dapur dan mulai membuat makan siang.
Beberapa saat kemudian Ezra masuk dan memeluk kaki Anna.
"Hai sayang" Anna tersenyum pada Ezra dan membelai rambutnya.
"Daddy bilang kita akan keluar untuk makan malam" Ucap Ezra dengan senyum bahagianya.
"Keluar? " Tanya Anna. Ezra sangat senang mengatakan itu, bahwa dia bahkan tersenyum dengan sangat manis.
"Mommy ikut kami kan. Karena setiap kali aku keluar hanya bersama daddy dan kakek. Aku merindukanmu mom" Ucap Ezra dengan nada sedih. Anna memaksakan air matanya kembali karena apa yang Ezra katakan.
"Bagaimana aku bisa mengabaikan permintaannya. Aku merindukannya selama empat tahun" Batin Anna.
"Aku akan memberitahu daddy" Dengan itu Ezra berlari keluar dari dapur. Anna menghela nafas.
"Apakah aku benar-benar akan tinggal bersama mereka. Aku tidak tahu masalah seperti apa yang akan menimpaku di kemudian hari" Batin Anna memikirkan keputusannya. Setelah Anna selesai membuat makan siang, dia keluar dari dapur. Dan ketika hendak berjalan menuju kamar Ezra, seseorang menarik pinggangnya dan mendorongku ke dinding.
"Ryan... Bodoh... Apa yang sedang kamu lakukan? " Tanya Anna sambil mencoba mendorong Ryan menjauh.
"Hanya ingin menyentuh dan menciummu" Jawab Ryan dengan entengnya. Dengan itu Ryan menekan tubuhnya ke tubuh Anna.
"Kenapa pria ini sangat menyebalkan?" Batin Anna.
"Apa yang membuatmu berpikir bahwa kamu bisa menyentuhku dan menciumku setiap kali kamu mau? " Anna memukul dada Ryan dan bertanya. Namun iya hanya mendapatkan tawa dari Ryan sebagai jawaban.
"Kenapa aku tidak bisa menyentuh ibu dari anakku. Lahirkan lagi seorang anak perempuan kecil untukku... Hmm! " Ucap Ryan.
__ADS_1
"A... Apa... Kamu ini adalah orang gila" Jawab Anna.
"Putri kecil... Urghh" Anna melengos. Dia merasa malu karena kata-kata Ryan. Tetapi anna juga menginginkan seorang anak perempuan.
"Tapi tidak. Lagi-lagi anak dengan Ryan William. Tidak mungkin" Fikir Anna.
"Kau gila Ryan" Dengan itu Anna mendorong Ryan menjauh.
"Lalu kenapa wajahmu memerah? " Anna merasa ingin memukul Ryan karena tawanya. Saat itu Ryan mencium bibir Anna dan menarik Anna untuk lebih mendekat lagi padanya. Anna membiarkan Ryan menciumnya karena tidak mungkin dia bisa mendorongnya menjauh.
Dan akhirnya Ryan berhenti.
"Brengsek" Anna memutuskan untuk pergi karena tidak mungkin dia bisa menang melawan kebodohan Ryan, kata-kata dan tindakannya..
"Rulianna menikahlah denganku, oke? " Ucap Ryan tiba-tiba
"Apa... Bagaimana kamu bisa meminta seorang wanita untuk dinikahi seperti ini. Puuffftt, hahahahhaa" Tiba-tiba Anna tidak bisa menahan tawanya karena cara Ryan menanyakannya.
"Tuan William, mengapa Anda tidak menanyakannya dengan cara yang baik dan sopan. Tidak ada wanita yang akan setuju untuk menikah dengan Anda jika cara anda menanyakannya seperti itu" Anna tersenyum dan menatap wajah Ryan danmelihat bagaimana wajahnya menjadi gelap. "Hahaha" Tawa Anna sekali lagi.
"Bagaimana... Aku tidak tahu" Anna menertawakan Ryan dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu cari tahu" Dengan itu Anna meninggalkan Ryan di sana dan pergi mencari Ezra. Emosi Anna menguap saat dia melihat Ezra sedang bermain dengan robot yang dibelikan untuknya. Lalu mata Anna tertuju pada ayah Ryan yang sedang melihat ke luar jendela.
"Kenapa dia terlihat sangat sedih? " Batin Anna. "Permisi Tuan" Anna perlahan berjalan ke arah ayah Ryan dan duduk di sampingnya dan berbicara. Ayah Ryan menatap Anna dan tersenyum. Dia tidak memiliki mata biru seperti Ryan, mungkin Ryan mewarisi dari ibunya.
"Bagaimana kabarmu, nona muda? " Ayah Ryan terkekeh dan berbicara saat Anna tersenyum. "Baik" Jawab Anna sambil melihat keluar jendela.
"Ezra selalu membicarakanmu selama tiga minggu terakhir" Kata Ayah Ryan sambil menatap Anna. Anna tersenyum dan melihat ke arah Ezra. Terlihat Ezra begitu sibuk dengan robotnya.
"Kamu mengingatkanku pada seseorang yang aku kenal Rulianna" Tiba-tiba Ayah Ryan berbicara. Kata-kata ini sangat akrab di telinga Anna. Nenek Ryan juga mengatakan ini pada Anna. Anna menatap pria disampingnya.
“Tariana? ” Tanya Anna. Ayah Ryan menatapnya dengan wajah kaget.
"Jadi aku benar? " Tanya Anna lagi.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kok kamu tau? " Tanya ayah Ryan pada Anna dengan mata berkaca-kaca.
Apakah Tariana itu ibundanya Ryan? " Hati Anna dipenuhi rasa ngeri karena teringat apa yang dikatakan nenek Ryan kepadanya hari itu.