
"Ryan benar-benar gila" Batin Anna. Dia memperhatikan Ryan saat sarapan. Hatinya tidak bisa menyangkal fakta bahwa Ryan itu memang tampan, tapi dia adalah bajingan yang memaksa Anna melakukan sesuatu. Lalu pandangan Anna tertuju pada teman Ryan. Chris William. Bukan hanya teman tapi juga sepupu Ryan. Playboy akut. Laki-laki keluarga William benar-benar tampan, tapi Anna merasa ingin memukul mereka berdua. Anna kembali menatap Ryan yang sedang menyuapi Ezra. Dia bahkan tidak memakai bajunya. Anna ingin berpaling dari tubuh Ryan tapi tidak bisa, karena Ryan memiliki tubuh seperti dewa, bahu yang kuat, serta dada six pack-nya. Urghh Anna tiba-tiba teringat bagaimana mereka berhubungan malam itu. Ryan bisa meremukkan tubuh Anna dengan kekuatannya. Pria ini benar-benar memiliki stamina dalam urusan ranjang, tetapi malam itu terasa luar biasa bersamanya.
"Tunggu... Apa yang aku pikirkan. Urghh tidak.. Hentikan Anna... Dia brengsek, jangan lupakan itu. Kenyataan bahwa Ryan adalah Orang cabul" Anna berkata dalam hati sambil terus menatap Ryan.
Ryan jelas tahu cara membuat Anna tetap tinggal bersamanya dan Ezra. Anna merasa senang karena Ryan membiarkan Anna menghabiskan waktu bersama putranya, tetapi setiap kali Anna ingat Erza. Dia merasa tidak bisa. Anna menatap Ryan, lalu dia teringat bagaimana dirinya menunggu Ryan empat tahun lalu. Ryan bahkan punya nyali untuk datang ke makam adik Anna. Anna masih tidak bisa melupakan hal itu dan tidak akan melupakan apa yang hilang karena orang ini.
"Mama suka papa? " Anna kembali kepada kesadarannya ketika dia mendengar suara anak laki-lakinya.
"Tunggu... Apa yang baru saja Ezra tanyakan? " Batin Anna. Dia menatap Ezra dan melihat putranya menatapnya dan Ryan pun juga menatapnya.
"Mommy... Tidak. Mommy hanya menyukaimu" Anna tersenyum paksa sambil menggigit bibir bawahnya keras-keras. "Berhentilah mempermalukan dirimu Anna" Batin Anna.
"Tapi daddy menyukaimu mommy. Apakah aku benarkan itu daddy? " Ezra memandang Ryan dan bertanya dengan matanya yang besar dan cerah. Begitu manis dan tampan.
"Tentu saja daddy menyukai mommymu" Anna menatap Ryan yang tersenyum padanya.
"Dengar kan mom, daddy menyukaimu, jadi mommy harus seperti daddy juga" Ezra berkata.
"Apa... Kenapa mommy harus menyukainya? " Balas Anna.
"Mommy juga menyukai daddymu Ezra. Tidakkah kau lihat nommy selalu menatap daddy? " Chris tiba-tiba berkata.
"Apa-apaan kamu ini? " Anna menatap pria yang baru saja berbicara. Chris William. "Benarkah kamu sedang melihatku. Makanya aku ngerasa ada yang ngeliatin aku dari tadi" Ryan tersenyum manis pada Anna dan berkata.
__ADS_1
"Bajingan" Batin Anna.
"Bagus, mom, aku menyukai ini" Ezra terkikik menanggapi ucapan Ryan lalu tersenyum. Anna melihat senyum Ezra dan merasa dirinya teringat adiknya, karena Erza juga memiliki hal yang sama saat tersenyum seperti Ezra. Tanpa berdebat dengan ketiga pria ini, Anna mengangguk dan melanjutkan makan.
Anna menghabiskan lebih dari tiga jam dengan Ezra sambil berpelukan dan tertawa, dan akhirnya Ezra tertidur. Anna memeluk Ezra dan mencium keningnya sambil memejamkan mata. Mau tak mau Anna memikirkan Erza. Anna bersenang-senang dengan Ezra tetapi dia tidak bisa melupakan Erza, bahkan untuk sedetik pun. Perlahan Anna bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon di kamar Ezra. Anna dapat dengan jelas melihat seluruh pemandangan dari sana dan cuaca semakin dingin karena musim dingin akan segera tiba. Anna menghela nafas dan menyilangkan kedua tangan di dadanya untuk mengurangi rasa dingin, lalu menatap melihat ke langit. "Bagaimana aku harus pergi, aku tidak bisa melepaskan Ezra dan meninggalkannya. Aku sangat menyanyanginya, tetapi aku tidak bisa tinggal di sini juga, dan Ryan membuat segalanya menjadi sulit. Aku ingin meninggalkannya tapi aku tidak bisa. Sebagian hatiku sudah tertarik padanya dan aku tidak bisa mengkhianati diriku sendiri. Tapi setiap kali aku ingat Erza, aku ingin lari dari Ryan" Anna menghela napas dalam-dalam dan memutuskan untuk meninggalkan mereka. "Karena aku tidak termasuk dalam kehidupan mereka. Aku hanya rahim sewaan dan kehadiranku hanya akan menyebabkan lebih banyak masalah bagi mereka. Tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka berdua, Ryan telah melakukan hal yang salah padaku, tapi aku tidak bisa meninggalkan dia dan anakku juga" Netra cantik Anna dipenuhi air mata dan dia menahannya tanpa membiarkannya mengalir.
"Anna" Anna mendengar suara Ryan di belakangnya, dan pada saat yang sama Ryan melingkarkan lengannya di pinggang anna dan memeluknya dari belakang lalu Ryan membenamkan wajahnya leher Anna. Anna tidak ingin mendorong Ryan supaya pergi, jadi dia tetap diam.
"Memikirkan bagaimana cara meninggalkan kami? " Ucap Ryan. Anna terdiam membeku saat mendengar apa yang Ryan katakan.
"Bagaimana dia bisa tahu itu? " Batin Anna.
"Aku hanya menebaknya dan kurasa aku benar" Ryan menghela napas dalam-dalam di leher Anna dan mencium lehernya.
"Bisakah? " Anna kembali mendengar suara Ryan. Dan Ryan membalikkan tubuh Anna untuk menghadapnya. Anna mendongak ke arah Ryan dan melihat dia sedang menatap Anna.
"Bagaimana aku bisa tinggal di sini Ryan. Katakan padaku. Aku tidak bisa melupakan semua yang terjadi saat bersamamu. Aku tidak bisa..." Anna mencengkeram kemeja yang tergantung longgar di tubuh Ryan dan bertanya padanya. Anna tidak bisa menahan air matanya karena dia ingat betapa tidak berdaya dirinya empat tahun yang lalu. Anna tidak punya siapa-siapa dan dia kehilangan saudara laki-laki dan anaknya yang dilahirkan.
"Aku tidak pernah tahu Rulianna. Maaf" Ucap Ryan pelan.
"Apa... Dia tidak pernah tahu. Apa dia baru saja mengatakan maaf? " Batin Anna.
"Kamu minta maaf untuk apa? " Anna bertanya kepada Ryan dan mengalihkan pandangan dari matanya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu Erza adalah saudaramu dan aku dibohongi. Maaf" Anna tidak bisa memahami ucapan Ryan.
"Mengapa... Aku tidak mengerti apa yang kamu katakan" Anna kembali menatap Ryan dan berbicara.
"Anna, dengarkan aku, Apakah ada sesuatu yang ditinggalkan Erza untukku. Dia bilang dia punya sesuatu untukku yang kamu bawa" Ucap Ryan kepada Anna. Seluruh tubuh Anna terdiam membeku.
"Apa yang baru saja dia katakan. Bagaimana dia bisa tahu? " Batin Anna. Pandangannya kabur saat menatap Ryan.
"Jangan bilang pria yang dimaksud Erza adalah dia" Batin Anna.
"Apakah itu kamu? " Tanya Anna pada Ryan dan Ryan mengangguk dan menghapus air mata Anna.
"Bagaimana... Bagaimana kamu mengenalnya. Dia menunggumu" Anna memukul dada Ryan dengan terisak. Anna mengontrol suaranya agar tidak terlalu kencang karena Ezra masih tidur.
"Aku kehilangan dia karena kamu Ryan. Karena seluruh keluargamu. Aku tidur denganmu karena aku ingin melihatnya hidup sebagai anak yang sehat dan kuat dan bukan demi uang kotor keluargamu" Kata Anna, iya melihat mata Ryan memerah.
"Itu bukan salahku Rulianna. Aku tidak tahu semua ini. Aku diberitahu begitu banyak hal yang tidak sesuai tentang kamu, Aku percaya apa yang aku dengar, seperti orang bodoh dan aku banyak kehilangan hal-hal yang penting"
"Maaf. Tolong... Jangan tinggalkan aku lagi. Jangan tinggalkan Ezra. Aku... Aku akan menikahimu dan secara sah menjadikanmu istriku dan ibu Ezra. Kita akan tetap bersama, ya? " Ryan mencium kening Anna dan menyeka air matanta.
"Aku akan memberimu segalanya Rulianna. Kamu hanya perlu tinggal bersamaku dan Ezra" Anna menatap mata merah Ryan dan menghela nafas sambil meletakkan dahinya di dada Ryan.
"Mari kita menjadi keluarga, oke? " Ryan mencium kepala Anna dan memeluknya begitu erat. Anna tidak bisa mengerti apa pun yang Ryan katakan padanya. Emosi melonjak ke dalam diri Anna ketika dia mendengar kata-kata Ryan.
__ADS_1
"Bagaimana aku harus percaya padanya? " Anna berkata dalam hati. Dia menatap Ryan lagi sambil menghela nafas.