
"Apa mommy menjauhi daddy karena marah? " Tanya Ezra.
"Iya, daddy membuat mommy marah" Jawab Ryan sambil mencium dahi Ezra dan menghela nafas.
"Kenapa? Daddy tidak boleh membuat mommy marah, karena adik kecil juga akan marah. Kamu daddy yang bodoh" Ryan melihat orang dewasa yang masih kecil di pangkuannya dan sedang menguliahinya. Ryan yakin dirinya tidak secerdas ini ketika masih kecil.
"Oke ini memang salah daddy. Daddy akan berhati-hati lain kali" Ryan tersenyum pada putranya dan menepuk kepala Ezra yang sedang cekikikan di pangkuannya. Ryan berdiri dan menggendong Ezra ke ruang makan. Ketika dia masuk, dia melihat Anna sedang menatap ke luar jendela dan dia terlihat tenggelam dalam pemikiran yang mendalam. Ryan menurunkan Ezra, putranya itu menatap dirinya dengan anggukan pengertian. Kemudian Ezra berlari keluar dari ruang makan.
"Anakku memang yang paling cerdas" Gumam Ryan. Setelah Ezra pergi, Ryan perlahan berjalan mendekati Anna, namun istrinya itu tidak mendengarnya sama sekali. Anna tersentak saat Ryan memeluknya dari belakang. Anna menunggu beberapa saat dan mencoba melepaskan tangan Ryan darinya, Tapi Ryan tidak membiarkan Anna mendorongnya.
"Lepaskan Ryan" Akhirnya Anna berbicara.
"Tidak" Ryan berkata sambil membenamkan wajahnya di leher Anna. Anna menghela nafas dalam-dalam dan mencoba mendorong Ryan. Tapi Anna hanya membuang-buang tenaganya.
"Aku mencintaimu Rulianna. Aku sangat mencintaimu. Maaf aku tidak bisa mengatakannya, tapi aku sangat mencintaimu sejak pertama kali melihatmu" Ryan mencium leher Anna dan berbicara sambil membelai perutnya.
"Anna mengandung anakku. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai wanita lain selain dia" Batin Ryan. Tiba-tiba Ryan merasakan sesuatu yang menetes di tangannya. Ryan tahu itu air mata Anna.
"Aku membuatnya menangis lagi" Batin Ryan menyesal. Dia membalikkan Anna ke arahnya dan mencium keningnya. Tapi Anna mendorong Ryan untuk menjauh lagi.
"Bagaimana kamu bisa mencintai dua wanita pada waktu yang sama Ryan? Dan jangan berbohong padaku" Ucap Anna.
"Tuhan, bagaimana aku akan menyelesaikan masalah ini sekarang? Aku tahu dia pergi menemui Natasha sialan itu, tapi aku tidak pernah berpikir ini akibatnya bisa seburuk ini" Batin Ryan.
"Rulianna, percayalah padaku. Aku hanya mencintaimu, dan tentang Marianna, aku akan memberitahumu tapi tidak sekarang. Aku hanya tidak ingin kehilanganmu" Ryan menghela nafas dan menjelaskan, tapi Anna hanya menggelengkan kepalanya.
"Tidak perlu menjelaskan Ryan. Masalahnya aku hanyalah pengganti dan wanita yang benar-benar kamu cintai adalah Marianna. Dia sudah lama pergi tapi kamu masih mencintainya" Kata Anna.
"Mengapa wanita ini begitu keras kepala? Tidak bisakah dia mendengarkanku? Wanita yang rumit" Ryan berkata dalam hati dan mendesah frustasi.
"Anna..." Bahkan sebelum Ryan sempat mengatakan apa yang ingin dia katakan, Anna pergi. Ryan mengusap dahinya dan melihat ke arah Anna pergi.
__ADS_1
Saat mereka sedang makan malam, Anna bahkan tidak melihat ke arah suaminya. Dia hanya memakan makanannya sambil menyuapi Ezra. Ryan memperhatikan wajah Anna yang cantik saat marah seperti ini. Ryan ingat ketika Anna masih kecil. Dia selalu marah ketika melihat Ryan di rumahnya.
"Sial... dia mengabaikanku dan itu sangat sulit bagiku untuk tetap bertahan tanpa perhatiannya" Ryan memikirkan cara untuk menarik perhatian istrinya. Ryan mengetuk meja dengan keras dan memperhatikan Anna. Tapi tetap Anna tidak melihat ke arahnya.
"Tidak, aku tidak akan menyerah" Batin Ryan. Ryan minum seteguk air dan mulai terbatuk.
"Tuan muda apakah anda baik-baik saja?" Tanya pak Herman.
"Apakah aku menginginkan perhatiannya? " Batin Ryan. Dia memelototi pak Herman yang berbicara dan sedang tersenyum kearahnya.
"Kenapa Anna tidak bisa melihat e arahku? Apa dia tidak peduli padaku? " Gumma Ryan dalam hati.
"Anna, kepalaku sakit. Rasanya mau meledak. Tolong pijatkan" Ryan berkata pada istrinya tetapi tidak mendapatkan respon apa-apa. Ryan menatap Ezra yang sedang menatapnya dengan tatapan kecewa. Ryan mengerutkan kening pada putranya dan batuk lagi.
"Perutku juga sakit. Aghh. tapi kepalaku lebih sakit dari ini" Ryan berbicara dengan suara penuh rasa sakit namun Anna tetap memakan makanannya tanpa menatap suaminya.
"Seseorang, tolong bantu aku sebelum aku mati. Aku tidak boleh mati sebelum melihat putri kecilku" kata Ryan dengan suara putus asa serta memperhatikan Anna. Ryan melihat bibir istrinya yang sedikit melengkung ke atas.
"Rulianna jangan biarkan aku mati. Tolong... sakit" kata Ryan lagi. Akhirnya Anna menatapnya dan mengerutkan kening. Ryan tersenyum cerah pada istrinya, karena Anna akhirnya menatapnya dan Ryan merasa bahagia.
"Bisakah kamu tutup mulutmu dan makan makananmu? " Ucap Anna ketus.
"Dia marah. Apa aku gagal lagi? Sial, bagaimana aku akan membujuk wanita ini? Dia sangat sulit untuk dihadapi" Batin Ryan.
"Oh, ya" Ryan melihat ke piringnya dan mulai memakan makanannya sebelum Anna bertindak seperti orang gila dan memukulnya.
Ryan menatap Ezra dan melihat dia tertawa tanpa mengeluarkan suara. Ryan merasa ingin memukul pantatnya dan melemparkanya. Tapi dia adalah putra yang tampan yang sangat Ryan cintai.
Setelah makan malam Anna pergi dengan Ezra pergi ke kamarnya. Anna akan memandikan putranya. Ryanpun menunggu sampai Anna keluar dari kamar Ezra. Terlihat Anna masuk ke kamar utama.
"Bagus... Dia akan tetap tidur denganku" Gumam Ryan dengan tersenyum. Dia segera masuk kekamar. Setelah Ryan mauk, sebuah bantal melayang mengenai wajahnya.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh tidur di sini. Pergilah" Anna menatap Ryan dan berkata.
"Apa? Tidak tidur disini? Mengapa... Aku tidak bisa tidur tanpamu dan kamu tahu itu" Ucap Ryan. Namun Anna tak peduli.
"Anna aku tidak bisa tidur tanpamu" Ryan melangkah ke arah Istrinya dan berkata dengan memelas. Anna memperhatikan suaminya sebentar lalu membuang muka.
"Kamu bisa tidur tanpaku Ryan, satu-satunya hal yang membuatmu tidak bisa tidur adalah dadaku" Ucap Anna sinis. Kata-katanya membuat Ryan terdiam.
"Dia benar, aku ingin merasakan bukit kembarnya sebelum tidur karena itu sangat lembut dan nyaman" Batin Ryan lagi.
"Aku mau keduanya, oke? Aku ingin memelukmu juga saat tidur" Ryan tersenyum dengan terpaksa pada Anna. Anna pun melemparkan bantal lain ke arahnya. Ryan segera menangkapnya sebelum bantal itu mengenai wajahnya.
"Anna, kita akan tidur bersama oke? Kamu bisa memukulku jika kamu mau" Ryan tidak ingin tidur tanpa istrinya.
"Kenapa ini terjadi padaku? " Desah Ryan.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi" Anna berjalan menuju pintu. Tapi sebelum Anna benar-benar keluar kamar, suara Ryan membuat Anna berhenti.
"Baiklah nona muda, aku akan pergi" Ryan tersenyum pada istrinya dan mencium keningnya sebelum meninggalkan kamar.
"Itu semua salahku dan tidak mungkin aku akan memberitahunya bahwa dia adalah Marianna, jadi lebih baik jika aku membiarkannya tenang dulu" Gumam Ryan.
"Apakah mommy masih marah daddy?" Tanya Ezra saat Ryan memasuki kamar anaknya, Ryan mendengar tawanya. Dia menghela nafas dan mengangguk pada putranya saat dia tertawa keras.
"Kamu... bocah" Ryan berjalan menuju tempat tidur Ezra dan mulai menggelitik pinggang putranya.
“Daddy, maaf. Berhentilah.. hahaha” Ryan pun ikut tertawa karena tawa Ezra.
"Anak ini benar-benar sesuatu" Batin Ryan.
"Tidur" Ryan mencium kening Ezra dan memeluknya untuk tidur.
__ADS_1
"Sial... aku sudah merindukannya" Batin Ryan. Iyapun perlahan memejamkan matanya untuk tidur.