Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Kembalilah Marianna


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu, dan Anna tidak juga mau melihat atau berbicara dengan Ryan. Satu-satunya hal yang Anna biarkan untuk Ryan lakukan adalah menyentuh perutnya. Ryan senang karena Anna membiarkan dirinya merasakan pergerakan putri kecilnya. Setiap hari ketika Ryan pulang kerja, dia membelikan istrinya bunga. Anna selalu menerima dengan senyum kecil di wajahnya. Hal itu sudah cukup untukl Ryan. Anna tidak bisa bersikap tidak berperasaan terhadap Ryan. Sebenarnya dia selalu memperhatikan Ryan setiap hari tanpa menunjukkan kepada suaminya, tapi Anna tetap masih marah.


"Daddy, aku ingin pergi ke kantor bersamamu hari ini" Ezra mendekati dan memeluk kaki Ryan. Ryan menunduk dan membelai rambut putranya.


"Mommy akan sendirian jika kamu pergi dengan daddy" Ryan memperbaiki bajunya dan mengangkat putranya dalam gendongan.


"Aku sudah tanya sama mommy, mommy bilang aku boleh pergi" Ryan menghela nafas dan membawa Ezra keluar dari kamar. Iya melihat Anna yang sedang mengepang rambutnya sambil melihat anak anjing yang Ryan belikan untuk Ezra.


"Winsy, kemarilah" Ryan melihat istrinya bermain dengan anak anjing itu dan dia seperti anak kecil.


"Anna, tidak apa-apakah jika aku mengajak Ezra bersamaku?" Ryan bertanya pada istrinya. Anna menatap Ryan dan mengangguk sambil tersenyum. Senyum itu membuat detak jantung Ryan menjadi tidak karuan. Sudah seminggu sejak Anna marah, baru hari ini Ryan melihat istrinya tersenyum seperti ini.


"Baiklah kalau begitu, aku pergi" Ryan mendekati istrinya dan mencium dahinya. Anna menatap Ryan dan mengangguk.


"Aku menunggu" Kata Anna sambil mencium pipi Ryan. Ryan pun tersenyum pada istrinya dan meninggalkan rumah bersama Ezra. Ryan tidak tahu apa yang difikirkan Anna. Tapi dia merasa aneh saja dengan sikap istrinya. Ryan menepis pikiran itu lalu pergi ke kantor.


- Rulianna -


Setelah Ryan dan Ezra pergi, Anna pergi ke kamar karena merasa lelah dan mengantuk. Dia tidak tahu berapa jam dirinya tidur, tapi, tiba-tiba dia dibangunkan oleh ledakan keras.


"Apa itu? " Batin Anna. Dia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke bawah. Saat Anna turun, hal pertama yang dia lihat adalah seorang pria hampir menekan pelatuk pistol di dahi pak Herman.


"Pak Herman berlutut, apa yang terjadi? " Gumam Anna sambil berjalan menuruni tangga.


"Di mana dia? Kamu tahu apa yang ku maksud" Tiba-tiba lelaki itu berteriak dan hampir menarik pelatuknya lagi.


"Tidak... lepaskan dia" Anna tidak menyangka jika dirinya akan berteriak secara tiba-tiba. Tubuhnya bergetar hebat dan tanpa sengaja tangannya menutupi perut. Anna tidak ingin terjadi sesuatu pada bayinya. Ryan juga tidak ada di sini. Mata Anna berkaca-kaca karena tidak berdaya.

__ADS_1


"Nona muda masuk" Pak Herman berbicara, tapi Anna hanya menggelengkan kepalanya dan berjalan ke arah dua lelaki itu. Anna melihat pria yang menodongkan pistol ke pak Herman dan melihat matanya berkaca-kaca saat dia menatap Anna. Laki-laki itu sangat tampan, matanya abu-abu dan rambutnya coklat tua. Dia sangat familiar.


"Tunggu, kenapa dia terlihat seperti Erza? " Batin Anna. Tiba-tiba air mata bergulir membasahi pipi saat lelaki itu melepaskan pistol dari dahi pak Herman dan berjalan ke arah Anna. Tanpa sengaja Anna mundur beberapa langkah.


"Putri kecil, kemarilah, ke sini, datanglah ke kakak" Lelaki itu merentangkan tangannya dan tersenyum pada Anna.


"Tunggu, suaranya terdengar familiar. Aku pernah mendengar suara ini sebelumnya. Ugh... kepalaku sakit" Batin Anna sambil memegangi kepala.


"Kakak laki-laki? " Anna berusaha untuk mengingat. Laki-laki itu mendekat lalu memeluk Anna erat.


"Aromanya, sangat familiar tapi aku tidak mengenal pria ini. Bagaimana aku bisa membiarkan dia memelukku" Batin Anna. Sehingga dengan cepat Anna mendorongnya menjauh.


"Jangan sentuh aku... a... siapa kamu?" Lelaki itu menatap Anna dengan tatapan yang sangat terluka. Lalu matanya jatuh ke perut Anna, Tiba-tiba tatapan yang terlihat lembut itu berubah menjadi dingin.


"Marianna, ini aku. Mark. apa kamu tidak ingat beruang Mark mu... Itu aku" Ucap lelaki itu.


"Aku tidak mengenalmu. Tolong pergilah sekarang atau aku akan menelepon suamiku" Anna memperingatkan lelaki di depannya untuk segera pergi.


"Marianna, ikutlah denganku. Bajingan itu tidak pantas untukmu" Mark meraih tangan Anna dan memeluknya erat.


"Kamu salah paham. Namaku Rulianna. Maaf. Silakan pergi" Anna mencoba untuk mendorong Mark menjauh tapi tidak bisa karena kekuatannya.


"Rulianna? Heh. Begitu, kamu tidak ingat" Mark mencium kening Anna dan membelai rambutnya dengan senyum yang terlihat menyakitkan.


"Tuan Holland, tolong lepaskan nona muda." Pak Herman berbicara dan mencoba membela Anna.


"Beri tahu tuan mudamu bahwa aku mengambil milikku" Mark berkata dengan suara tegas yang dipenuhi dengan kebencian.

__ADS_1


"Biarkan aku pergi. Aku bukan milikmu. Aku punya suami dan anak. Tolong lepaskan aku." Air mata Anna mengalir karena dia tidak tahu siapa pria ini, dan mengapa dia ada di sini. Serta kata-katanya membuat Anna takut.


"Marianna, kamu harus pulang bersamaku. Ini bukan rumahmu. Kamu tinggal bersama pria yang menyebabkan segalanya. Kenapa kamu bisa menjadi anggota keluarga William... Kami jelas kalah. Semuanya terjadi karena mereka" Mark berkata dengan suara putus asa dan Anna tidak tahu bagaimana harus bereaksi.


"Mengapa aku merasa ingin mendengarkan pria ini? " Batin Anna.


"Marianna. Jadilah gadis yang baik dan dengarkan kakakmu" Anna mendongak ke arah Mark dan melihat matanya tajam dan dingin. Mark membawa Anna keluar rumah mengabaikan kata-kata Anna dan pak Herman.


Mark membuka pintu mobilnya dan mendorongnya dengan paksa. Anna duduk di kursi penumpang. Setelah itu Mark menutup pintu dan menguncinya setelah memasang sabuk pengaman untuk Anna. Kemudian Mark kembali masuk ke rumah dan kembali setelah beberapa menit.


"Ke mana kamu akan membawaku?" Anna bertanya kepada Mark saat dia masuk ke mobil. Mark menatap Anna dan menghela nafas sambil membelai wajahnya. Anna tidak menghindari sentuhannya karena terasa sangat familiar.


"Ke rumah. Di mana kamu tinggal bertahun-tahun yang lalu" Setelah itu Mark menyalakan mobil dan pergi.


Setelah beberapa waktu saat, mereka tiba di sebuah rumah besar. Jantung Anna mulai berdegup dengan kencang karena pemandangan di depannya. Kesedihan tiba-tiba muncul di benaknya, tetapi Anna tidak tahu mengapa. Dia melihat ke sebuah taman besar dan banyak bunga-bunga.


"Cantiknya" Gumam Anna tanpa sengaja.


"Ingat sesuatu?" Mark menghentikan mobil di halaman rumah. Dan meminta Anna untuk untuk mengingat semuanya. Anna menghela nafas dan menggelengkan kepala.


"Seperti ada sesuatu di kepalaku tapi aku tidak bisa mengingatnya" Ucap Anna.


"Tidak apa-apa kamu akan segera mengingatnya tuan putri" Mark tersenyum dan mencium kening Anna.


Ketika mereka turun dari mobil, Anna melihat seorang lelaki tua yang tersenyum lembut kepadanya. Anna dan Mark berjalan ke arahnya, lalu Mark menarik Anna kedalam pelukannya.


"Lihat siapa yang kembali" Mark terkekeh dan mencium kening Anna. Anna merasa bingung dan tidak tahu satupun dari mereka.

__ADS_1


"Bibi, aku tahu daddy akan membawamu pulang. Lihatlah, aku sedang menunggumu" Seorang anak laki-laki berlari ke arah Anna dan berhenti beberapa cm darinya.


__ADS_2