Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Teman Lama


__ADS_3

Sebelum nenek itu bisa menyentuh Ryan, Anna dengan cepat menampar tangannya. Tanpa alasan yang jelas, Anna merasa sangat marah dan tidak ingin wanita jahat ini menyentuh Ryan. Itu semua karena apa yang dia lakukan, berbohong kepada Ryan tentang dirinya di masa lalu. Jadi Anna sangat membencinya. Dan wanita tua ini juga adalah alasan kematian Erza.


"Rulianna, kamu pikir aku akan membiarkan kamu menjadi istri Ryan selamanya? Tidak, aku akan membuatnya menikahi wanita lain di depan matamu. Kamu hanya wanita murahan tanpa status yang baik. Kamu menikahinya karena uangnya" Wanita tua itu berbicara dengan suara penuh kebencian. Tiba-tiba hati Anna merasakan sakit karena apa yang di katakan tentangnya.


"Apakah semua orang berpikir bahwa aku menikahinya karena uang? Tidak... Aku tidak ingin uang, yang kuinginkan hanyalah anakku" Tegas Anna dengan jelas.


"Kalau dia menikah denganku karena uang, bagaimana pendapatmu tentang wanita yang akan kau nikahkan ini? Bukankah dia menginginkan uang? Atau apakah dia ingin menjadi Nyonya William? Istri Ryan William. Status yang baik" Ryan berkata sambil membelai pinggang Anna. Anna tahu Ryan mencoba membuat dirinya santai.


"Aku tidak akan pernah melepaskannya sampai aku mati. Jangan mencoba cara apapun nenek, karena konsekuensinya akan sangat berbahaya. Dia milikku dari dulu. Dia akan selalu menjadi istriku dan tidak ada wanita yang bisa menggantikannya. Jangan muncul di depanku dan merusak hariku, aku sangat membencinya. Dan jangan pernah mengusik kehidupanku lagi" Ryan mencium kening Anna dan membawa istrinya pergi dari hadapan mereka semua.


"Anna... Tolong... dia menyebalkan" Anna menoleh ke belakang dan melihat Amelia yang datang padanya dengan tatapan kesal. Anna juga melihat Chris mengikuti Amelia.


"Apa yang terjadi? " Tanya Anna sambil menghela nafas.


"Dia mengejarku selama sebulan penuh Anna, Dia bilang dia ingin aku menjadi pacarnya. Dia bahkan memaksaku untuk datang ke sini bersamanya" Amelia menghela nafas dan berkata tanpa peduli dengan Chris yang baru saja datang mendekat ke arah mereka.


"Betulkah? Aku belum pernah mendengar Chris William mengejar seorang wanita. Mungkin Ryan benar" Batin Anna serasa tak percaya.


"Amelia, Kenapa? Jangan bilang begitu. Aku menyukaimu, jadi sekarang aku mau tanya, apa masalahnya?" Chris melingkarkan lengannya di pinggang Amelia dan berkata.


"Entahlah, kalian ini... Ryan, katakan padanya untuk tidak mengganggu Amelia" Anna berkata sambil menatap Ryan. Anna memperhatikan Anna sebentar dan tersenyum manis.


"Oh iya... Kenapa aku lupa dia juga mendukung Chris? " Anna menghela napas dalam-dalam dengan menatap suaminya.


"Ayo pergi, acara sudah akan di mulai" Ryan membawa Anna ke meja yang dikhususkan untuk keluarga William. Dia menarik kursi untuk Anna dan membantu istrinya memperbaiki gaunnya untuk duduk di kursi. Kemudian Chris dan Amelia juga datang dan duduk bersama mereka berdua. Setelah beberapa waktu, nenek Ryan datang seorang lelaki tua. Anna pikir itu adalah kakek Ryan. Anna menatap Ryan saat mereka bergabung dengan meja itu. Ryan tersenyum pada Anna dan mencium keningnya.


"Sial. Aku lupa... Anna, pakai ini" Ryan mengeluarkan kalung dari sakunya dan memakaikannya di leher Anna. Anna menyentuhnya dan melihat jika kalung itu dirancang dengan sebuah berlian biru berbentuk bunga, tapi Anna tidak menyukainya karena terlalu besar.

__ADS_1


"Ryan, apa ini? " Anna bertanya padanya sambil menghela nafas.


"Kamu harus naik ke panggung denganku memakai kalung ini. Kita akan menunjukkan kalung itu di pelelangan kali ini, dan menyumbangkan uangnya untuk rumah sakit" Hati Anna menegang saat mendengar kata rumah sakit. Anna menatap Ryan dan mengangguk sambil tersenyum.


"Chris, bukankah kamu harus menyuruhnya memakai gelang itu? " Anna menatap Chris yang baru saja mengatupkan bibirnya. Lalu mengambil sebuah gelang berlian dengan permata zamrud. Chris memakaikannya dan mencium pipi Amelia. Anna dengan jelas bisa melihat wajah memerah Amelia, tapi dia menyembunyikannya dengan baik.


"Cepat atau lambat Amelia akan jatuh cinta pada pria ini" Batin Anna tersenyum. Tiba-tiba Anna merasa seseorang sedang menatap dirinya. Dia menatap wanita di depannya yang menatap menatap dirinya dengan tatapan sulit diartikan.


"Ryan... apa kabar? Dia sangat cantik" Anna menatap pria tua yang baru saja berbicara.


"Aku baik-baik saja kakek. Ya istriku memang cantik" tebakan Anna benar jika itu adalah kakeknya Ryan. Dia menatap Anna dan tersenyum. Anna juga membalas senyumannya.


"Pulanglah untuk makan malam jika kamu sedang tidak sibuk Ryan. Aku sudah lama tidak bertemu Ezra. Ajaklah dia bersamamu juga" Kakek berbicara dengan Ryan dengan mata yang tertuju pada Anna sambil tersenyum. Anna hanya tersenyum padanya tanpa ada tanggapan.


"Bagaimana kamu bisa meminta wanita murahan ini untuk datang ke rumah kita? " Tiba-tiba nenek Ryan berkata dengan sinis. Anna menatap nenek Ryan. Dia tidak mengerti mengapa nenek Ryan sangat membencinya. "Grace... jaga mulutmu" Kakek Ryan menatapnya dan berkata dengan nada marah. Kakek memalingkan muka dari nenek Grace.


"Mengapa kamu sangat membenciku? seharusnya bukan kamu yang menaruh rasa benci, tapi aku... Aku seharusnya membencimu karena semua hal yang sudah kamu lakukan padaku" tanya Anna pada nenek Ryan karena sudah lama Anna selalu ingin menanyakan ini padanya.


"Rulianna, aku membencimu karena kamu mengingatkanku pada dua wanita yang paling aku benci di dunia ini, dan wanita-wanita itu benar-benar merebut apa yang sangat kucintai, termasuk kamu" Jawab nenek Grace.


"Apa...? " Anna tersenyum menanggapi ucapan nenek Ryan. Jika kemarahannya bisa membakar seseorang, Anna yakin dirinya pasti sudah hangus karena amarahnya.


"GRACE... Tutup mulutmu. Jangan membuatku memarahimu di sini" Anna mendengar suara marah kakek Ryan.


"Maafkan kata-katanya cucu menantuku" Anna mengangguk pada kakek Ryan dengan tersenyum paksa lalu menatap Ryan. Dia memperhatikan Anna sebentar, lalu membelai wajah istrinya dengan penuh senyuman. Hal itu membuat Anna tenang.


"Chris, bagaimana hidupmu? Apakah ini kekasihmu? " Anna menatap Chris yang mengangguk sambil tersenyum lalu menatap Amelia.

__ADS_1


"Bagus, kamu harus segera menikah dan punya anak sebelum aku mati" Kakek Ryan tersenyum pada Chris, senyuman dengan penuh rasa bersalah.


"Apa itu ? " Batin Anna. Tak lama, acara pelelangan dimulai. Anna merasa sudah sangat mengantuk.


"Aku ngantuk" kata Anna pada Ryan. Ryan menatap Anna sambil tersenyum dan menepuk pundaknya. Anna melingkarkan tangan di lengan Ryan dan meletakkan kepalanya di bahu Ryan dan mulai memejamkan mata.


"Marianna..." Mata Anna tiba-tiba terbelalak saat mendengar bayangan suara di pikirannya sendiri.


"Apa itu tadi... terdengar seperti suara anak laki-laki" Anna menggelengkan kepalanya lalu menatap Ryan yang sedang memperhatikan tahapan acara.


Anna mendengar nama Ryan disebut dari atas panggung. Dia mengangkat kepalanya dan melihat.


"Ayo kesana" Ajak Ryan. Ryan berdiri dari kursi dan mengulurkan tangannya kepada Anna. Anna meraih tangan Ryan lalu berdiri. Mereka menuju ke atas panggung. Tiba-tiba semua orang mulai berbisik. Anna sangat membenci hal seperti ini.


"Selamat malam Tuan William dan Nyonya William" Pria yang menjadi MC itu tersenyum cerah pada mereka. Ryan mengangguk padanya sambil melingkarkan lengannya di pinggang Anna dan menarik istrinya supaya lebih dekat padanya.


"Hari ini Tuan William ikut pelelangan dengan harga termahal. Sebuah kalung berlian indah yang dikenakan Nyonya William saat ini" Semua mata tertuju pada leher Anna.


"Dengan harga mulai dari lima puluh juta rupiah" Ucap MC tersebut.


"Apa? lima puluh juta rupiah? Urghh. Sungguh sebuah kalung yang mahal" Batin Anna. Iya merasa ini menarik dan ingin melihat siapa yang akan membeli kalung itu.


"55 juta" Tiba-tiba seseorang berkata. Anna menatap pria yang baru saja berbicara.


"Apa? Dean? Apa yang dia lakukan di sini? " Batin Anna.


"60 juta" Pria lain berbicara. Anna memandangnya, terlihat dia bersama seorang wanita dan Anna dengan jelas dapat melihat wanita itu merona.

__ADS_1


"Sungguh wanita yang beruntung" Batin Anna sambil tersenyum.


"70 juta" Anna menatap Dean yang ternyata dia sedang menatap dirinya. Matanya tak pernah lepas dari Anna. Anna benci saat Dean menatapnya seperti itu. Ketika Anna melihatnya, dia teringat masa lalu bagaimana dirinya menderita. Dean adalah satu-satunya orang yang membantu Anna. Tetapi sebagai imbalannya Dean ingin Anna berhubungan dengan dirinya. Anna menolaknya, lagi dan lagi. Sehingga hal itu membuat Dean mencoba memperkosa Anna. Tapi sebuah keberuntungan berpihak pada Anna. Saat itu, ibu Dean membantu Anna untuk melarikan diri dari sana. Anna menghela nafas dan membuang muka dari Dean, karena yang Anna rasakan saat menatap Dean adalah rasa jijik.


__ADS_2