Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Cidera


__ADS_3

Setelah beberapa saat, Anna datang lagi dengan kotak P3K dan duduk di samping Ryan di tempat tidur. Kemudian Anna membersihkan luka Ryan. Ryan memperhatikan Anna yang sedang membersihkan lukanya.


"Dia benar-benar cekatan dalam hal itu. Sial.. Kenapa aku lupa kalau dia adalah seorang mahasiswa kedokteran? " Batin Ryan. Iya dengan sabar menunggu sampai Anna selesai.


"Kenapa kamu melakukan itu Ryan? " Anna bertanya pada Ryan sambil meletakkan tangannya di dahi untuk memeriksa suhu tubuh Ryan.


"Kau peduli padaku? " Ryan bertanya pada Anna. Anna yang balas menatap Ryan kemudian membuang muka.


"Bukankah seharusnya? " Anna bertanya dengan suara pelan dan Ryan tersenyum karena apa yang Anna katakan.


"Tentu saja harus" Ryan meraih pinggang Anna dan mencium keningnya. Anna menatap Ryan dan menghela nafas.


"Apakah ini pernah terjadi sebelumnya? " Anna bertanya pada Ryan sambil mengusap tangan Ryan dengan lembut.


"Dua kali" Ryan tidak ingin berbohong pada Anna. Jadi dia mengatakan yang sebenarnya. Ryan membenamkan wajahnya di leher Anna dan menciumnya saat Anna memeluk Ryan kembali.


"Mengapa dia begitu kecil? " Batin Ryan. "Apakah kamu pernah pergi ke dokter? " Anna melontarkan pertanyaan itu kepada Ryan, tetapi Ryan dapat dengan jelas merasakan bahwa Anna sudah tahu jawabannya. Ryan membelai rambut Anna yang halus dan menghela napas dalam-dalam saat Anna meletakkan dagunya di bahu Ryan.


"Kau tahu apa namanya kan? " Anna dengan lembut menepuk punggung Ryan dan mencium bahunya. Anna benar-benar tahu bagaimana merawat pasien.


"Tidak" Ryan benar-benar tidak tahu apa namanya karena dia tidak pernah mengatakan apa pun, kepada siapa pun tentang hal itu. Dan Ryan tidak pernah peduli tentang apa pun. Dia hanya meminum obat setelah memeriksakan dirinya.


"Itu disebut self-injury disorder Ryan. Itu bukan sesuatu yang baik" Anna kembali mencium bahu Ryan dan berbicara. Hati Ryan penuh dengan cinta dan kasih sayang untuk Anna. Karena dia benar-benar tahu bagaimana membasuh rasa sakit Ryan.


"Ayo besok kita pergi kedokter" Anna menarik dirinya dari pelukan Ryan dan menatap lelaki didepannya. Ryan memperhatikannya sebentar dan mengangguk. Karena tidak mungkin Ryan bisa menentang kata-kata Anna.


"Setelah mendapatkan surat nikah kita, kita akan pergi" Ryan tersenyum pada Anna. Dan Anna pun mengangguk. Ryan tersenyum pada Anna dan menempelkan bibirnya ke bibir cherry Anna. Anna tetap tenang untuk beberapa saat, kemudian dia membalas ciuman Ryan dan melingkarkan tangannya di leher Ryan.


"Kita akan memiliki begitu banyak kesulitan nantinya Anna, tapi aku tidak peduli dengan apapun. Asal kita tetap bersama menghadapinya, semuanya baik-baik saja" Ryan melepaskan ciuman dan berbicara. Terlihat mata Anna yang basah. Anna mengangguk pada Ryan, dan Ryan kembali menciumnya lagi. Perlahan-lahan Ryan membaringkan Anna di tempat tidur dan naik ke atasnya, mereka mulai bersenang-senang.

__ADS_1


Ryan tidak ingin membuat Anna kelelahan. Jadi dia tidak melakukannya lebih dari dua ronde. Anna sudah tertidur bahkan sebelum Ryan menyelesaikannya. Ryan bangkit dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi karena tubuhnya berkeringat. Ketika Ryan memasuki kamar mandi, dia ingat bahwa Anna menyuruhnya untuk tidak membiarkan tangannya basah. Setelah mandi Ryan keluar dari kamar mandi dengan handuk basah dan dia menyeka tubuh Anna dengan handuk itu. Ryan naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Anna. Iya melihat wajah Anna yang tertidur, sangat indah.


Ryan ingin tidur tapi tidak bisa karena tulisan tangan kecil Erza dan semua yang dia katakan menghantuinya. Perlahan dia pejamkan matanya untuk tidur, karena Ryan sudah tidak tidur selama dua hari.


~Rulianna~


Anna bangun di pagi hari dan melihat Ryan tidur nyenyak di sampingnya. Anna memeriksa suhu tubuh Rya dan memperhatikan wajahnya yang tertidur sebentar. Tiba-tiba Anna teringat bagaimana dia melihat Ryan tadi malam. Mata merah dan rambut berantakan. Hati Anna menegang saat melihat bekas cakaran di punggungnya dan luka yang berdarah. Perlahan Anna membelai wajah Ryan dan mencium dahinya. Iya turun dari tempat tidur setelah Anna menutupinya dengan selimut. Anna mengambil kaos Ryan di lantai dan memakainya.


Anna keluar kamar dan berjalan menuju kamar Erza karena Anna ingin memeriksa Ezra. Anna melihat putranya sedang tidur nyenyak. Dia menghela nafas dan pergi ke kamar mandi lalu mencuci muka. Anna segera pergi ke dapur dan mulai membuat sesuatu untuk dimakan. Dengan cepat memasak bubur ayam dan melihat waktu sudah pukul enam pagi hari.


"Kenapa aku bangun sepagi ini... Urgh" Gumam Anna.


"MOMMY DADDY" Tiba-tiba Anna mendengar teriakan Ezra. Dia segera berlari ke kamarnya dan melihat Ezra menangis.


"Ya Tuhan... Mommy ada di sini sayang" Anna segera menghampiri dan memeluk Ezra erat-erat. Anna mencium kepala Ezra dan menepuk punggung Ezra untuk menenangkannya.


"Di mana ini mom? " Ezra bertanya dengan suaranya yang serak dan Anna tersenyum. Tidak heran mengapa Ezra begitu takut. Anna mencium pipi Ezra dan mengangkatnya lalu membawa keluar dari kamar.


"Aku lapar mom" Ezra menatapku Anna dengan mata bulat yang cerah lalucemberut.


"Mommy sudah buatkan sarapan buat kamu tapi sebelum kita makan biar mommy memandikan kamu sayang" Kata Anna sambil mengangguk. Dia membawa Ezra ke kamar mandi dan membantunya menggosok gigi lalu menyiramnya dengan air hangat. Syukurlah Erza punya sikat gigi cadangan yang tidak dia pakai.


"Di mana daddy, mom? " Ezra bertanya pada Anna setelah dia selesai memandikannya.


"Daddy sedang tidur sayang. Akan mommy bangunkan nanti, oke" Anna membawa Ezra keluar dari kamar mandi dan pergi ke sofa, lalu menurunkan di atasnya.


"Tunggu di sini, mommy akan mengambil sarapan" Anna pergi ke dapur dan membawa semangkuk bubur untuk Ezra lalu duduk di sampingnya.


"Mommy aaa" Begitu Anna duduk di samping Ezra, dia membuka mulutnya. Anna memberi Ezra makan semangkuk bubur dan menyalakan TV untuk dia tonton. Lalu dia pergi untuk membangunkan Ryan dan melihat Ryan masih tidur.

__ADS_1


"Urghh pria ini" Gumam Anna.


"Ryan... Bangun" Anna duduk di tempat tidur dan menepuk bahu Ryan. Dia menghela nafas karena Ryan bahkan tidak bergerak sama sekalk.


"Ryan, bangun. Kamu sudah cukup tidurnya" Anna mencubit pipi Ryan, Ryan pun perlahan membuka matanya. Anna tersenyum pada Ryan dan menepuk pipinya lalu beranjak bangun dari tempat tidur.


"Ryan... Apa yang... Mmphh" Sebelum Anna bisa berdiri, Ryan menarik pinggang Anna dan membalikkan tubuhnya. Ryan menempatkan dirinya di atas tubuh Anna dan tanpa peringatan dia mencium Anna. Anna mencoba mendorong Ryan menjauh tapi tidak bisa. Ryan menyelipkan tangannya di bawah kaos Anna dan menggerakkan jari-jarinya menyusuri kaki Anna. Ryan mendorong lidahnya ke dalam mulut Anna dan memperdalam ciumannya.


“Ah...” Tiba-tiba Ryan meremas bukit kembar dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya menyentuh kaki Anna.


"Jangan bilang dia akan melakukannya lagi..." Batin Anna. Ryan perlahan mengangkat kaos itu dan menempelkan dirinya ke tubuh bagian bawah Anna.


"Apakah dia gila, Ezra sudah bangun" Batin Anna.


"Ryan.... Berhenti... Ezra... Sudah bangun" Anna akhirnya berhasil mengucapkan kata-katanya saat Ryan akan melakukan apa yang dia butuhkan. Ryan berhenti dan menatap Anna. Anna menghela nafas lega karena Ryan berhenti.


"Jangan mesum Ryan... Bangun" Anna mendorong Ryan menjauh dan bangkit dari tempat tidur. Anna menatap Ryan lagi dan melihat dia menjilati bibirnya sementara matanya menjelajahi seluruh tubuh Anna.


"Mandilah dan ayo sarapan, sudah siap" Anna mengerutkan kening pada Ryan dan meninggalkan ruangan tanpa melihat ke arahnya. Tak lama kemudian Ryan keluar dan dia hanya memakai celana karena Anna memakai kaosnya.


"Daddy... Selamat pagi" Ezra melompat turun dari sofa dan berlari ke arah Ryan sambil mengangkat tangannya. Ryan tersenyum dan mengangkat Ezra lalu mencium keningnya. "Selamat pagi jagoan kecil daddy" Begitu Ryan mengatakan itu, Ezra mulai tertawa. Ezra sangat imut.


"Daddy, Apa yang terjadi padamu? " Tiba-tiba Ezra bertanya sambil menyentuh bekas cakaran Ryan di pundaknya.


"Tidak ada sayang. Apakah kamu sudah sarapan? " Ryan menatap Anna dan berbicara. Anna menghela nafas dan mengalihkan pandangan dari mata Ryan, karena bagaimanapun juga, dia harus menemui dokter hari ini.


"Ya, mommy memberiku makan. Daddy, makanlah, makanan mommy enak sekali" Ezra mencium pipi Ryan dan tersenyum.


"Baiklah daddy akan makan sekarang. Anna kita harus segera pergi" Ryan mencium kening Ezra dan menatap Anna sambil berbicara. Anna mengangguk pada Ryan dan menunduk karena merasa malu.

__ADS_1


"Apakah aku akan menikah dengan pria ini. Ryan Sanskara William. Pria terkaya di negeri ini" Batin Anna. Sekali lagi Anna menatap Ryan dan melihat Ryan sedang menatapnya sambil tersenyum.


__ADS_2