Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Posesif


__ADS_3

Setelah selesai dengan semuanya, Anna turun ke bawah sambil meraih ponselnya. Anna melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 06.45 malam.


"Mommy... Mommy sangat cantik, seperti peri. Sangat cantik" Ezra berlari kearah Anna lalu memegang gaun bagian bawahnya sambil tertawa pelan. Ezra bertingkah seperti seorang anak gadis.


"Sangat cantik Rulianna" ucap ayah Ryan yang menatap menantunya dengan sebuah senyuman. Namun senyuman itu seperti menyimpan suatu kesedihan.


"Apakah dia ingat dengan ibunnya Ryan. Tariana..." Batin Anna sambil tersenyum kepada ayah mertuanya. Ayah Ryan mengangguk lalu beranjak menaiki tangga menuju lantai 2. Anna memandang kepergian ayah mertuanya dengan nanar, iya bisa merasakan kesedihan luar biasa yang sedang ayah Reishan rasakan. Ayah hanya diam dan diam. Cukup hanya tersenyum kepada semuanya, hal itu akan mampu menutupi penderitaannya. Ayah Reishan hidup, tapi Anna bisa merasakan jika kehidupan ayah mertuanya itu sangat hampa. Anna menghela nafas berat lalu mengelus kepada putranya.


"Mommy nanti harus terus bersama daddy dan jangan pernah sendirian" Ucap Ezra. Anna tersenyum lalu mencubit pipi putranya dengan gemas.


"Kenapa harus begitu sayang? " Tanya Anna. Iya melihat wajah putranya yang memerah. Sangat lucu.


"Seseorang akan menculik mommy" Jawab Ezra. Anna tertawa mendengar jawaban dari buah hatinya itu.


"Baiklah, mommy akan selalu bersama dengan daddy" Jawab Anna sambil mencium kening Ezra. Ezra menggangguk mendengar jawaban mommynya.


Tak lama setelah itu, terdengar deru mobil memasuki halaman, disusul Ryan yang masuk ke dalam rumah.


"Daddy sudah kembali" Ucap Ezra pelan lalu berlari kearah Ryan sambil mengangkat kedua tangannya meminta gendong.


"Kemarilah pembuat onar daddy yang luar biasa ini" Ryan dengan cepat mengangkat Ezra dan langsung melemparkannya ke udara. Anna sangat benci melihat pemandangan seperti ini karena dirinya takut. Namun berbeda dengan Ezra, iya terlihat sangat bahagia dengan tindakan daddynya. Anna memperhatikan dua lelaki didepannya itu. Terlihat Ezra membisikkan sesatu ke telinga Ryan. Ryan yang mendengar itu langsung menatap Anna dan menyeringai padanya.


"Cepat makan dan tidur lebih awal ya sayang" Anna berkata sambil melangkah mendekat ke arah mereka. Iya mencium pipi Ezra. Ezra pn mengangguk kepada Anna sambil tersenyum.


"Aku sayang mommy, aku sayang daddy" Ezra mencium pipi kedua orang tuanya dengan bergantian sambil tertawa. Anna merasa sangat mencintai anaknya karena Ezra sangat imut dan menggemaskan. Tiba-tiba ayah turun dari lantai 2 dan tersenyum melihat kebahagiaan putranya.


"Ayah... Kabari aku segera jika ada apa-apa" Ucap Ryan kepada ayah Reishan. Ayah pun mengangguk dan tersenyum. Ryan menatap Anna dengan senyuman sambil menurunkan Ezra. Kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Anna lalu berjalan keluar rumah. Seorang sopir membukakan pintu mobil dan mereka berdua masuk. Setelah sampi didalam mobil, Ryan menutup jendela yang memisahkan kursi depan dan belakang. Lalu menempelkan bibirnya ke bibir Anna tanpa aba-aba.


"Anna, kau sangat cantik. Rasanya aku tidak ingin pergi dan hanya ingin bersamamu disini saja" Ucap Ryan sambil mencium leher dan tulang selangka Anna. Sedangkan Anna mencengkeram kemeja Ryan dengan erat dan mengigit bibir bawahnya agar tidak mendesah.


"Ryan... Hentikan" Anna mencoba mendorong Ryan.

__ADS_1


"Ryan hentikan... Jangan membuatku memukulmu disini" Anna memperingatkan Ryan, karena Ryan akan sangat mudah kehilangan kendali hanya dengan menyentuh istrinya. Karena sudah berapa banyak pakaian yang Ryan sobek selama sebulan terakhir dengan tidak terkendali nafsunya.


"Ah..." Tanpa sengaja sebuah erangan lolos dari mulut Anna saat Ryan meletakkan kedua tangannya di dada Anna.


"Mmhhh... Ryan stoop" Anna memaksakan diri untuk tidak mengerang karena sentuhan suaminya. Ryan tersenyum sebelum iya mencium Anna kembali. Saetelahnya iya mengakhiri tindakannya lal memperbaiki baju Anna yang berantakan karena ulahnya.


"Dasar mesum" Batin Anna karena tak ingin sopir didepannya mendengar. Iya menatap Ryan dengan tatapan marah.


"Anna maafkan aku ya" Ucap Ryan. Saat mendengar kata-kata Ryan, kemarahan Anna semakin menjadi. Iya mengepalkan tangannya lalu memukul paha Ryan dengan keras.


"Kamu hanya tahu bagaimana meminta maaf setelah tindakan mesummu itu" Anna berkata dengan ketus. Namun Ryan malah tertawa saat mendengar istrinya marah.


"Apakah kamu tidak membawa lipstik? " Bisik Ryan dengan suara serak di telinga Anna sambil tertawa pelan. Anna memejamkan mata menahan emosinya lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Aku tidak membawanya lagi, kamu bagaimana sih kan hilang lipstik aku" Ucap Anna lagi.


"Oke... Maafkan aku ya" Anna tidak memandang ataupu menjawab Ryan Dia hanya memandang keluar jendela


"Kamu pantas pergi ke sana seperti ini, brengsek" Batin Anna menahan tawanya. Sesaatt kemudian mereka berhenti ditempat tujuan, begitu keluar darimobil, Anna melihat pelabuhan di depannya.


"Apa kita akan naik kapal? " Anna bertanya sambil melingkarkan lengannya di tangan kekar Ryan. Ryan mengangguk sambil tersenyum lalu mencium kening Anna lagi.


"Yang itu" Ryan mengarahkan jarinya kesuatu tempat. Anna mengikuti arah yang ditunjuk oleh suaminya.


"Benarkah ? Kapal apa itu, besar sekali" Gumam Anna. Anna berjalan kearah kapal itu bersama Ryan Tiba-tiba, pandangan Anna tertuju pada para wartawan.


"Jangan khawatir, mereka tidak akan mengambil foto kita" Ucap Ryan, Anna langsung mendongak ke atas menatap suaminya.


"Dia benar-benar seorang pria yang tampan dan bijaksana.


Setelah itu, Anna dan Ryan memasuki kapal dengan sebuah karpet merah yang terbentang. TIdak ada kebisingan ataupun para wartawan yang mengambil foto mereka berdua. Mereka hanya melihat kearah Anna dan Ryan, seolah olah mereka melihat sesuatu yang sangat mengagumkan. Saat mereka mulai memasuki kapal, Anna melihat pria dan wanita. Semua berasal dari keluarga yang kaya raya. Anna merasa gugup karena aura yang terpancar dari mereka semua. Semuanya bukanlah orang sembarangan.

__ADS_1


"Anna, lihatlah... tidak ada yang bisa menandingi kecantikanmu. Istriku benar-benar cantik luar biasa" Tiba-tiba berkata. Namun pandangannya tertuju pada dada Anna.


"Dasar mesum...Ryan, jadilah lelaki yang terhormat" Bisik Anna saat tahu arah pandangan Ryan. Iya tak sengaja tersenyum saat Ryan mengangguk dengan ekspresi yang lucu. Saat Anna melihat disekeliling ballrom, iya melihat Chris yang sedang menekan seorang wanita ke dinding lalu menciumnya.


"Dasar brengsek" Batin Anna.


"Ryan, lihatlah sepupumu yang baik itu" Ucap Anna sambil menolah ke arah Chris.


" Bukankah itu sahabatmu yang sedang di ciumnya? " Ryan balik bertanya kepada istrinya. Lalu Anna dengan cepat menoleh kearah Chris. Setelah memperhatikan dengan detail, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Ryan. Iya melihat Amelia yang sedang memukul-mukul dada Chris.


"Pasti dia dipaksa lagi. Kalian berdua memang mesum" Ucap Anna. Ryan terkekeh mendengar ucapan Anna.


"Aku mencium istriku, dan Chris mencium wanita yang akan dia nikahi. Jadi kami adalah pria yang baik dengan kualitas yang bagus. Ucap Ryan. Dia menarik pinggang Anna agar lebih dekat dengannya.


"Haloo nenek" Ucap Ryan dengan suara sarkastiknya. Tak lama kemudian, Natasha datang dengan sepasang pria dan wanita paruh baya yang ikut bergabung dengan nenek Ryan.


"Ryan, temuilah orang tua Natasha" Ucap nenek Ryan.


"Untuk apa aku menemui mereka, kita bukan saudara juga bukan kerabat kerja" Jawab Ryan. Anna merasa ingin tertawa mendengar apa yang dikatakan suaminya. Iya menatap kearah orang-orang itu, terlihat wajah mereka yang memucat.


"Pokoknya kamu harus segera menikah dengan Natasha" Ucap nenek Ryan lagi.


"Sial... Beraninya dia tidak menghargaiku sebagai sebagai istri Ryan. Dan malah menganggapku sampah. Dasar wanita tua jahat" Batin Anna menahan emosinya.


"Sayangnya aku tidak tertarik untuk memiliki 2 istri. Aku sudah memiliki seorang istri yang sangat cantik sebagai istri terbaikku. Mengapa aku harus melirik wanita rendahan" Ryan berkata dengan percaya diri. Anna mendengar ucapan Ryan dengan tersenyum. Selanjutnya iya menatap Natasha yang memandang dirinya dengan penuh kebencian.


"Beraninya kamu Ryan" Nenek Ryan mulai tersulut emosi. Dia mengangkat tangannya untuk menamar Ryan. Tiba-tiba Anna merasa sikap posesifnya muncul. Iya berjalan ke depan Ryan


"Hanya aku yang boleh menyentuh dan menamparnya. kamu jangan sekali-kali menyentuh Ryan dengan tangan kotormu itu. Jika kamu menyentuhnya, itu berarti dia harus mandi lagi. Jadi menjauhlah dari suamiku" Anna berkata dengan penuh penekanan. Iya tidak merasa takut terhadap neneknya Ryan


 

__ADS_1


 


__ADS_2