
Sebuah getaran menjalari tubuh Anna saat mendengar suara Ryan yang marah. Anna terpaksa tersenyum pada suaminya dan bangkit dari tempat tidur, tapi dengan segera Anna ditarik kembali ke tempat tidur dengan lengan yang kuat.
"Bicaralah" Ryan meraih dagu Anna dan mengangkat wajah Anna untuk menatapnya. Anna menggigit bibir bawahnya dan memperhatikan matanya yang penuh amarah untuk beberapa saat sebelum tersenyum padanya.
"Tidak sengaja terkena pisau saat memotong sayuran, sekarang sudah sembuh" Anna mengangkat satu tangannya dan membelai wajah Ryan. Dia bersikap tenang tetapi di dalam lubuk hatinya iya menggigil ketakutan.
"Hai.. Kapan kamu belajar berbohong padaku ya? Apakah aku bodoh? Kamu jelas memotong pergelangan tanganmu Rulianna" Teriak Ryan.
"Kenapa? Kenapa kamu meneriakiku? " Tiba-tiba hati Anna merasakan perasaan pahit dan dia memalingkan muka dari Ryan. Matanya tiba-tiba menjadi basah.
"Lepaskan" Anna mendorong suaminya dan bangkit dari tempat tidur tapi sekali lagi Ryan menarik pinggang Anna lalu menariknya ke pelukan.
"Kenapa kau memotong pergelangan tanganmu sayang? Katakan padaku" Ryan mencium kening Anna dan bertanya dengan suara lembut.
"Aku... Aku.. Tidak tahan. Aku tidak tahan dengan rasa sakit karena kehilanganmu. Kupikir aku kehilanganmu jadi aku kehilangan kewarasanku" Anna jujur mengatakan yang sebenarnya. Jika dia berbohong pada suaminya lagi, itu akan menjadi masalah baru lagi.
"Ryan... Jangan marah padaku... Kumohon. Aku tidak bermaksud meninggalkan mereka. Aku hanya tidak tahu apa yang harus aku lakukan... Maafkan aku. Jangan kecewa denganku, oke? Aku mencintaimu. Aku... Aku belum siap untuk melepaskan" Anna tidak ingin Ryan terlalu memikirkan dirinya seperti itu, jadi dia menjelaskan pada suaminya sambil membendung air matanya. Anna memperhatikan wajah suaminya dan mendapati sorot matanya yang menahan rasa sakit yang tak tertahankan.
"Apakah aku mengecewakannya? " Batin Anna.
__ADS_1
"Maaf..." Anna kembali meminta maaf dan mencium pipi Ryan. Begitu selesai mencium pipi suaminya, Ryan memeluk Anna dengan begitu erat dan membenamkan wajahnya di leher Anna.
"Apakah kamu sangat mencintaiku? " mencium lembut di leher Anna dan bertanya dengan berbisik di telinganya. Anna merasakan hembusan nafas Ryan yang panas dan tiba-tiba dia merasa merinding. Tanpa menjawab Anna mendorong Ryan menjauh.
"Aku sedang membuat kue untuk Ezra. Aku kebawah dulu. Tapi Aku belum selesai denganmu karena menyakitiku" Anna menatap Ryan dan menggigit dagunya sambil mengarahkan jari ke arahnya. Alhasil Anna mendapatkan senyuman menarik dari suaminya yang bisa membuatnya merona. Anna berdiri dan berlari keluar ruangan sebelum dia kehilangan akal sehatnya. Anna turun dan memasuki dapur. Saat itu juga dia melihat Raylie berlari ke arahnya dengan senyum yang cerah. Sungguh gadis yang manis.
"Mommy" Raylie mendekat pada Anna dan menatap dirinya. Annapun tersenyum pada putrinya dan menepuk kepalanya.
"Bolehkah aku ke kamarmu dan melihat daddy?" Ucap Raylie dengan wajah cemberut pada mommynya. Anna tersenyum dan mengangguk padanya karena dia tahu betapa putrinya ini merindukan daddynya dan bagaimana dia selalu menangis mencari Ryan.
"Pergilah... Mungkin daddy sedang mandi sekarang" Raylie mengangguk pada Anna dengan senyum lebar dan berlari keluar dari dapur. Anna mulai membuat kue lagi setelah tertunda, dan setelah beberapa saat, Ezra datang dan melihat aktivitas Anna seperti biasa. Dia selalu menunngu sampai mommynya menyelesaikan tugasnya. Setelah beberapa saat, akhirnya anna menyelesaikan adonan itu dan memasukkannya ke dalam oven lalu keluar dari dapur bersama Ezra. Saat dia memasuki ruang tamu, dia melihat Ryan yang sedang menggendong Raylie. Ryan benar-benar menjadi budak putrinya sendiri.
"Apa-apaan ini? Mereka tidak bisa seperti itu" Gumam Anna.
"Ryan... letakkan mereka di bawah Ryan. Kamu tidak bisa melakukannya. Lukamu Ini belum sembuh. Ezra, turun" Kata Anna saat mengingat luka itu. Ryan menatap dirinya dan menyeringai.
"Jangan iri pada mereka. Kamu bisa menaikiku di malam hari, oke? Aku milikmu seutuhnya" Ucap Ryan. Anna melihat wajah suaminya. Terlihat Ryan yangmengedipkan mata padanya. Anna merasa ingin meninju wajah suaminya tanpa peduli jika dia kembali setelah tujuh bulan. Tidak peduli apa yang terjadi, mulut dan sikap mesumnya masih ada di sini bersamanya.
"Brengsek... lebih baik kamu tidur dengan salah satu dari mereka malam ini" Anna berbalik dan pergi sambil meninggalkan mereka. Dia membiarkan Ryan dan anak-anaknya melakukan apa pun yang mereka inginkan. Anna tidak peduli bahkan jika Ezra dan Raylie melompat ke tubuh suaminya. Itu semua karena rasa kesalnya. Anna pergi ke kamar dan mengambil ponselnya untuk menelpon ayah Ryan sambil duduk di tempat tidur.
__ADS_1
"Ayah" kata Anna saat ayah Reishan menjawab panggilan itu.
"Ryan sudah kembali. Dia pulang beberapa jam yang lalu. Datanglah kemari dan temui dia" Ayah hanya terdiam beberapa saat dan akhirnya berkata iya. Anna mengucapkan selamat tinggal pada ayah mertuanya dan menutup telepon.
Anna sangat senang karena akhirnya Ryan kembali. Tidak heran mengapa dia merasa jika Ryan masih hidup. Ryan benar-benar masih hidup. Dia tidak meninggalkan Anna. Anna bisa merasakannya karena Ryan telah berjanji padanya. Anna tersadar kembali ke akal sehatnya ketika dia mendengar ponselnyanya berdering lagi. Dia melihat id penelepon dan ternyata adalah Mark.
"Mari, kamu datang malam ini kan? " Mark bertanya. Annapun kembali teringat jika hari ini adalah pesta ulang tahun Milisha.
"Ya, aku akan datang dan aku sudah bersama teman baikmu sekarang" kata Anna sambil melihat kembali ke arah Ryan yang baru saja memasuki ruangan dengan keringat bercucuran ditubuhnya.
"Siapa? " Mark bertanya pada Anna dengan nada penasaran, Anna pun memberikan ponselnya ke Ryan,
"Kamu mungkin kakaknya tapi bukan berarti kamu bisa menelepon istriku setiap saat" Ryan berbicara dengan suara serius dan Anna tersenyum karena cara suaminya berbicara. Anna tidak bisa mendengar apa yang Mark katakan tapi Ryan terlihat menyeringai.
"Kami akan datang" katanya dan menutup telepon.
"Rulianna, kemarilah. Biarkan aku memelukmu" Ryan merentangkan tangannya dan menghampiri Anna.
"Tidak... kamu berkeringat" Anna segera bangkit dari tempat tidur dan mencoba melarikan diri tetapi Ryan menangkapnya dan menarik Anna ke kamar mandi dengan senyum mesum.
__ADS_1
"Si brengsek ini" Ucap Anna. Namun iya tersenyum karena sudah lama iya menunggu suaminya. Akhirnya setelah berjuang melewati masa sulit, Anna kini merasa masa-masa buruk itu telah pergi. Iya benar-benar rapuh saat Ryan tak ada disampingnya. Berulang kali mencoba melupaja semuanya, Namun sia-sia. Tapi kini Ryan sudah kembali. Mengembalikan separuh jiwa Anna yang telah hilang.