Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Jadilah Wanitaku


__ADS_3

Sebelum Anna pergi, Ryan menangkap pergelangan tangannya lagi dan menarik Anna ke arahnya. Anna tidak ingin melihat Ryan karena Ryan hanyalah seorang bajingan.


"Jadilah wanitaku. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan" Anna menoleh ke arah Ryan begitu mendengar kata-katanya. "Menjadi wanitanmu... Bukankah kamu baru saja berbicara kepadaku seolah-olah aku adalah seorang pelacur. Apakah kamu ingin seorang pelacur menjadi istrimu? " Ucap Anna.


"Bukankah kamu menganggapku sebagai pelacur? " Anna bertanya sekali lagi pada Ryan sambil menghela nafas.


"Jadilah wanitaku dan aku tidak peduli berapa banyak pria yang tidur denganmu" Anna memejamkan mata dan meremas tangan Ryan. "Jika kamu pikir aku tidur dengan banyak pria, mengapa kamu ingin aku menjadi wanitamu? " Anna hanya bertanya pada Ryan. Anna tahu mata Ryan tertuju padanya, tetapi Anna tidak peduli karena pria ini adalah orang yang mengambil semua barang berharga dari Anna.


"Aku bilang aku akan memberikan semua yang kamu inginkan" Ryan meraih pinggang Anna dan berkata di telinganya. Anna menatap Ryan dan tersenyum.


"Semua yang aku inginkan? " Anna bertanya pada Ryan sambil meletakkan satu tangannya di dada Ryan. Anna tahu Ryan senang dengan tindakan Anna. Bibirnya melengkung ke atas membentuk seulas tersenyum.


"Ya" Ryan berbicara sambil menatap mata Anna. Pria ini sangat tampan dan Anna merasa senang karena anaknya sangat mirip dengannya. Dan Anna yakin jia anakknya kelak juga akan menjadi pria yang tampan dan kuat di masa depan.


"Aku ingin hak asuh penuh atas anakku dan aku ingin dia memanggilku ibu" Anna berbicara sambil tersenyum karena itulah yang dia inginkan. Ya hanya itu saja. Anna ingin anaknya kembali dan membawanya bersamanya. Anna menatap wajah Ryan dan terlihat senyum Ryan yang memudar.


"Kita tidak akan bertemu lagi Tuan William. Lebih baik Anda membayar hutang dengan menjadikan anakku pria terpelajar dan pria yang menghormati wanita di masa depan" Setelah berkata seperti itu, Anna mendorong Ryan menjauh lalu berbalik untuk pergi.


"Apakah dia berpikir bahwa aku menginginkan uang atau rumah besar atau mungkin kehidupan mewah? " Anna menertawakan dirinya sendiri karena dia tidur dengan Ryan lebih dari sekali.


"Apakah dia hanya berpikir dia bisa membeli semua yang dia inginkan dengan menggunakan kekuasaan dan uangnya. Aku tidak peduli tentang uang dan kekuasaannya. Bagaimana aku bisa menjalani kehidupan yang baik setelah aku kehilangan semua yang kumiliki. Dia tidak akan pernah mengerti kondisiku tiga tahun lalu. Dia memang kaya dan bisa melakukan apapun yang dia mau dengan uangnya tapi bagaimana dengan aku dan saudaraku yang meninggal? " pikir Anna sambil terus berjalan.


"Anna... Ini dia" Anna mendengar suara Mila dan dia teringat hal apa yang sudah Mila lakukan kepadanya. Anna tertawa dingin dan menatapnya.


"Hey" Anna hanya mengatakan itu karena Anna tidak ingin Mila tahu bahwa Anna sudah tahu apa yang dia lakukan di belakangnya.


"Pulang? " Mila bertanya kepada Anna dengan senyum palsu dan matanya menelusuri tubuh Anna.

__ADS_1


"Ya" jawab Anna.


"Aku melihatmu dengan Ryan William beberapa menit yang lalu" Mila berkata sambil menatap Anna dengan tatapan penuh kebencian. Anna merasa takut karena dia tidak ingin Mila mengetahui apapun yang terjadi antara dirinya dan Ryan.


"Aku tidak sengaja menabraknya dan meminta maaf. Aku pikir itu yang kamu lihat" Anna berbicara sambil tersenyum karena tidak ingin Mila ragu.


"Oh... Seperti itu. Aku hanya berpikir dia tertarik padamu karena kecantikanmu seperti yang dilakukan Dean" Anna bisa merasakan kebencian pada cara berbicaranya.


"Kenapa aku tidak tahu sifat aslinya sebelumnya. Aku bahkan tidak melakukan kesalahan padanya tapi dia membenciku dan aku tidak tahu kenapa" Batin Anna.


"Aku pergi. Selamat malam" Setelah itu Anna berbalik untuk pergi.


"Anna. Maukah kamu menunggu di sini atau kamu akan kembali. Kamu tahu, kamu sudah memiliki pekerjaan di sini di perusahaan ini dan nyonya Laura sudah memberimu izin untuk datang ke acara malam ini jadi aku pikir kamu harus menunggu di sini" Mila berkata sambil tersenyum tetapi Anna tidak bisa mempercayai Mila lagi karena apa yang dia lakukan. Jadi Anna hanya memaksakan diri untuk tersenyum pada Mila.


"Tidak. Aku akan kembali akhir pekan depan" Anna berkata dan pergi tanpa menunggu jawaban Mila. Anna langsung pergi ke apartemennya dan mandi. Anna berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata untuk tidur, tetapi dia tidak bisa tidur karena pikirannya dipenuhi dengan wajah Ezra. Begitu manis dan tampan, senyumnya. Anna tersenyum tanpa sengaja saat mengingat betapa indahnya senyuman Ezra. Anna menghela napas dalam-dalam karena dia akan meninggalkan anaknya lagi, dan kali ini Anna tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Anna akan kembali setelah ulang tahun kematian keempat Erza. Ezra akan berusia empat tahun minggu depan dan Anna sangat bahagia untuk itu. Anna hanya berdoa agar putranya tidak seperti ayahnya. Anna menghela nafas saat mengingat ayah dari anaknya.


“Rulianna sudah seminggu” Hati Anna diliputi rasa jijik saat menatap pria di depannya. "Bagaimana... Bagaimana kamu masuk? " Anna bertanya padanya dengan suara gemetar. "Temanmu memberiku kuncinya" Pria itu terkekeh dan melihat tubuh Ana. Anna segera menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Mila, ****** itu" Gumam Anna.


"Keluar dari rumahku sebelum aku memanggil polisi" teriak Anna pada pria tersebut.


"Kamu pikir aku akan pergi setelah kamu memukul kepalaku dengan botol kaca sialan itu? " Jawab Pria tua itu. Anna melihat orang tua di depannya dan Anna tidak keberatan memukulnya lagi karena dia mencoba memperkosa Anna hari itu. Anna segera turun dari tempat tidur dan mencoba lari keluar dari kamar. Tapi sebelum itu dia menarik rambut Anna.


"Berani lari ******... Aku akan menidurimu hari ini. Temanmu mengambil uang dariku dan mengatakan kepadaku bahwa aku dapat memilikimu sebagai balasannya" Pria itu menampar wajah Anna dan air mata keluar dari matanya karena rasa sakit.


"Mila... Apa dia benar-benar melakukan itu? " Anna bertanya pada diri sendiri karena dia selalu menganggap Mila sebagai sahabatnya.

__ADS_1


"Lepaskan aku. Kumohon..." Anna menangis karena tak berdaya.


"Aku tidak akan melepaskanmu sampai aku puas denganmu" Pria itu mendorong Anna ke lemari dan kepalanya membentur pintu kayu dengan keras. Air mata menggenang di mata Anna karena rasa sakit.


"Tolong bantu aku" Teriak Anna.


"Hahahha... kau berdarah ******. Sama seperti aku berdarah hari itu" Pria itu tertawa keras dan menghampiri Anna sambil meraih tangan Anna. Anna merasa pusing karena rasa sakit tetapi dia memaksakan diri untuk kuat dan melarikan diri. Pria itu mulai mencium leher Anna.


"Tolooong... Toloongg" Teriak Anna sambil mencoba mendorong pria itu menjauh.


"Tidak ada seorang pun di sini yang akan datang untuk membantumu" Anna menangis tersedu-sedu.


"Apakah pria ini akan memperkosaku sekarang? " Batin Anna sambil menangis.


"Lepaskan aku bajingan..." Teriak Anna lagi tapi pria itu melempar Anna ke tempat tidur. Dia berusia hampir lima puluhan tapi masih cabul.


"Berani Sentuh aku sekali lagi aku akan membunuhmu" teriak Anna pada pria itu, tapi tanpa peduli pria itu mulai merobek baju Anna. Anna tidak membiarkannya tetapi pria merobek blus yang Anna kenakan.


"Tidak... Tolong... Seseorang tolong aku" Anna teris berteriak. Dia berjuang untuk membebaskan diri tetapi pria tua itu tidak membiarkan Anna lepas. Anna tidak akan menyerah karena dia tidak akan pernah membiarkan binatang tua ini menikmati tubuh Anna dan Anna pasti akan mati sebelum itu. Tiba-tiba, beban di tubuh Anna menghilang dan pada saat yang sama Anna mendengar suara seseorang menangis karena kesakitan. Anna cepat-cepat menutupi tubuhnya dengan selimut dan menatap Ryan yang baru saja memukuli pria itu. Jadi Ryan adalah pria yang sudah menyelamatkan Anna.


"Bagaimana dia bisa menemukan apartemenku? " Pikir Anna.


"Bajingan, berani sekali kamu menyentuh milikku. Aku akan memotong jarimu sekarang" Ryan berteriak dan memukuli pria itu dan aku bisa dengan jelas melihat wajahnya yang marah.


"Tuan muda... Tolong... Selamatkan hidupku... aku tidak tahu dia milikmu" Anna melihat pria tua itu berbicara dengan rasa sakitnya. Wajahnya berlumuran darah dan Ryan masih memukulinya.


"Tunggu... Apakah dia akan membunuh orang ini... Tidak" Gumam Anna.

__ADS_1


"Dia ibu dari anakku, sialan" Dengan itu Ryan mematahkan lengan pria itu dan pria itu menangis karena kesakitan.


__ADS_2