
Seminggu telah berlalu dan besok adalah hari ulang tahun Ezra. Nenek ingin mengadakan pesta tetapi Ezra tidak mau. Ezra terus bertanya apakah dia bisa menghabiskan hari ulang tahunnya bersama mommynya. Sedangkan Ryan sedang dalam kekacauan karena dia belum bisa menemukan Anna. Sakit setiap kali Ezra bertanya tentang Anna.
"Di mana dia pergi. Tidak di apartemennya dan tidak di mana pun. Sial... Bagaimana aku akan menemukannya sebelum besok? " Ryan bergumam sendiri. Lalu iya mendengar teleponnya berdering.
"Bicaralah" Ryan menjawab panggilan itu dan berkata kepada Chris sambil terkekeh.
"Aku menemukan Zeni" Kata Chris, Ryan cepat-cepat bangkit dari kursi kebesarannya dan mengambil jasnya lalu beranjak pergi.
"Dimana dia? " Ryan bertanya pada Chris saat berjalan meninggalkan kantor.
"Dia ada di basement rumahku" Begitu Chris berbicara, Ryan menutup telepon dan langsung mengendarai mobilnya ke rumah Chris dan saat sudah sampai, iya melihat Chris sudah menunggunya.
"Dia takut padamu" Ucap Chris.
"Pasti dia tahu apa yang terjadi saat itu" Jawab Ryan. Setelah itu Ryan pergi dengan Chris dan menuju ke ruang bawah tanah dan melihat bibi Zeni diikat ke kursi.
"Tuan muda" Bibi Zeni berbicara kepada Ryan segera setelah dia melihat Ryan. Ryan mendekat dan berdiri di depan bibi Zeni sebentar. Lalu duduk di sofa disusul Chris yang duduk di sebelahnya.
"Sudah empat tahun bibi Zeni" Ryan berbicara dengan suara sarkastik dan wajah bibi Zeni menjadi pucat. Dia terlihat menjadi tua. "Urghh... Aku tidak bisa menyakitinya karena dia sudah tua dan dia merawatku ketika aku masih kecil" Batin Ryan.
"Bibi Zeni, Kamu merawatku ketika aku masih kecil jadi aku tidak akan menyakitimu. Tolong beri tahu aku apa yang terjadi empat tahun lalu" Ryan hanya bertanya pada bibi Zeni, dan terlihat matanya menjadi basah.
"Tidak mau mengatakan padaku, hmmm? " Ryan kembali bertanya pada bibi Zeni sambil menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak bisa tuan muda, maafkan saya. Nyonya besar akan membunuhku" Kata bibi Zeni sambil menangis.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Kamu punya cucu perempuan, kan? " Ryan bertanya pada bibi Zeni saat Chris memberinya sebatang rokok. Ryan menyalakannya dan mengisapnya. Dia memperhatikan bibi Zeni saat dia menggelengkan kepalanya dengan tatapan tidak percaya.
"Akan kuberitahu, tuan muda tapi aku minta maaf. Aku hanya melakukan apa yang diminta nyonya besar" Kata bibi Zeni sambil terisak. "Berbicaralah" Ryan menyandarkan punggungnya ke sofa dan menatap langit-langit. Dia mengisap rokok lagi, dan tanpa alasan, Ryan merasa takut. Dia takut mendengar apa yang akan di katakan bibi Zeni. Ryan memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam dan menenangkan diri.
"Nyonya besar berbohong kepada tuan muda. Dia berbohong kepada tuan muda tentang Rulianna" Tiba-tiba kengerian menguasai Ryan ketika aku mendengar nama itu. Detak jantungnya meningkat dengan rasa sakit yang luar biasa.
"Ruliana... Jangan bilang dia adalah kakak Erza" Batin Ryan.
"Rulianna... Namanya Rulianna? " Chris bertanya pada bibi Zeni dengan suara terkejut dan Ryan tahu Chris juga memikirkan hal yang sama dengannya.
"Ya" Kata bibi Zeni. Ryan membuka mata dan menatap wanita yang duduk di depannya dan dia terlihat ketakutan.
"Bicaralah. Jangan berhenti" Kata Ryan dan bibi Zeni mengangguk.
"Nyonya besar meminta saya untuk mencari tahu mengapa Rulianna membutuhkan uang, jadi saya bertanya kepada Rulianna dan dia berkata bahwa saudara laki-lakinya yang berusia tujuh tahun sedang menderita kanker paru-paru dan dia harus segera dioperasi tetapi Anna tidak punya uang untuk itu. Anna bahkan mengatakan dia memutuskan untuk menjual tubuhnya karena dia ingin menyelamatkan nyawa adiknya" Bibi Zeni terus bercerita.
"Setelah hari itu, saat tuan muda menghabiskan malam bersamanya. Dia meminta uangnya tetapi nyonya besar tidak memberinya dengan jumlah yang penuh dan dia memberi Rulianna setengah dari uangnya. Segera setelah Anna mendapat uang dia pergi ke rumah sakit dan saya juga pergi bersamanya tetapi rumah sakit menolak untuk melakukan operasi tanpa pembayaran lunas, jadi Rulianna memohon saya untuk bertanya kepada nyonya besar apakah dia bisa mendapatkan setengah dari uang itu tetapi nyonya besar menolaknya. Kemudian dia bertanya apakah dia bisa berbicara dengan Anda tuan muda. Aku harus menolaknya karena nyonya besar tidak ingin Anna berbicara atau melihat tuan muda" Bibi Zeni menatap Ryan dengan mata berkaca-kaca dan dia tidak merasa kasihan pada bibi Zeni karena hatinya sudah berdarah karena apa yang dia lakukan pada Anna. Rasa sakit yang Ryan rasakan adalah sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Bibi Zeni memperhatikan Ryan sebentar dan melanjutkan bercerita.
"Rulianna bilang dia akan menunggu tuan muda dan bertanya masalah uang. Jadi dia menunggu tuan setiap malam. Setelah Anna hamil, dia pikir tuan akan datang menemuinya dan bayinya, jadi dia menunggu setiap hari. Kadang-kadang saya melihat Anna menatap ke luar jendela dan membelai perutnya sambil berkata kepada bayi dalam kandungannya bahwa 'ayahmu akan segera datang dan paman kecilmu harus segera dioperasi' Maafkan aku tuan muda" Bibi Zeni mulai terisak keras saat berbicara. Ryan hanya tidak merasakan apa-apa karena rasa sakit di hatinya.
"Lanjutkan" Ryan mendapati suaranya pecah dan serak.
"Tanya Rulianna kepada saya kapan tuan muda akan kembali tetapi saya selalu memarahinya ketika dia menanyakan itu. Rulianna hanya mengangguk dan tidak bertanya lagi. Kemudian dia melahirkan tuan muda kecil dan setelah dia melahirkan bayinya, dia pingsan. Dia bangun keesokan harinya dan saya memberinya uang. Kemudian Rulinna bertanya kepada saya apakah dia bisa melihat bayi itu untuk terakhir kalinya tetapi saya menolak karena nyonya besar memperingatkan saya. Lalu saya mendengar dari nyonya besar bahwa adiknya meninggal saat Anna melahirkan seorang tuan muda kecil. Sekali lagi Rulianna datang hari itu di malam hari ke mansion Crystal setelah pemakaman saudara laki-lakinya dan dia melemparkan uang ke nyonya besar dan meminta untuk mengembalikan bayinya. Rulianna berteriak dan bertingkah seperti wanita gila. Dia bahkan mengancam nyonya besar dengan mengatakan bahwa dia akan menghancurkan segalanya jika dia tidak bisa mendapatkan bayinya kembali tetapi nyonya besar meminta penjaga untuk mengusirnya dari rumah sebelum tuan muda datang, sehingga Rulianna pergi dan tidak pernah kembali lagi" "Jadi begitu. Itulah yang sebenarnya terjadi? " Ryan memaksakan air matanya kembali karena dia tidak ingin menangis di depan orang-orang ini.
"Nama Adiknya? " Tanya Ryan pada bibi Zeni. tapi Ryan sudah tahu jawabannya.
__ADS_1
"Erza Taradevandra" Jawab bibi Zeni. Ryan memejamkan mata dan mengangguk. Jadi itu sebabnya Anna dan Erza memiliki kemiripan yang sama. Jadi dia adalah saudara perempuan Erza yang Ryan cari selama ini selama empat tahun. Tidak heran Anna berkata bahwa dia membenci Ryan dan keluarganya dan meminta Ryan untuk mengembalikan Ezra padanya. "Bagaimana aku harus menanggung rasa sakit ini? Itu semua salahku. Kenapa aku tidak menanyakan namanya saja hari itu mengapa dia menjual dirinya kepadaku. Persetan... Aku harus menemukan semuanya. Mengapa saya mendengarkan nenek? " Batin Ryan.
"Mengapa nenek melakukan itu? " Ryan bertanya lagi pada bibi Zeni karena Ryan tidak pernah berharap neneknya menjadi sekejam ini. Dia wanita jahat.
"Nyonya besar bilang dia tidak ingin melihat masa lalu terulang lagi dan saya pikir nyonya Besar tahu lebih banyak tentang Anna dan keluarganya" Jawab bibi Zeni.
"Mengulangi masa lalu? Apa-apaan itu. Lebih tahu banyak tentang Rulianna. Kamu tahu tentang itu? " Ryan bertanya pada bibi Zeni saat itu, dia ragu-ragu untuk beberapa saat.
"Saya tidak tahu, tuan muda" bibi Zeni berbicara dan Ryan jelas tahu dia berbohong tetapi Ryan tidak ingin bertanya pada bibi lagi karena bagaimanapun dia akan menemukan semuanya.
"Chris... Lepaskan dia! " Setelah itu Ryan meninggalkan ruang bawah tanah dan pergi ke bar di rumah Chris. Setelah beberapa waktu Chris datang meraih kursi dan duduk di samping Ryan. Chris memperhatikan Ryan sebentar dan berbicara.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan? " Chris bertanya pada Ryan sambil menuangkan vodka ke dalam gelasnya.
"Gak tau" Jawab Ryan karena dia merasa benar-benar tidak punya ide. Ryan tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf kepada Rulianna dan bagaimana menanyakan bagaimana dia hidup selama bertahun-tahun setelah melahirkan Ezra.
"Ingatkah aku pernah memberitahumu bahwa kamu pasti akan kehilangan hal terpenting dalam hidupmu karena nenek? " Ucap Chris.
"Ya, kamu mengatakan itu dan aku yang bodoh karena tidak mendengarkannya.
"Apakah kamu akan menghabiskan semua vodka ini? " Chris bertanya sambil meraih botol vodka dari tangan Ryan.
"Persetan Chris, kau menyebalkan" Teriak Ryan padanya dan meraih botol itu lagi.
"Ini rumahku" Chris menghela nafas dan memberitahu Ryan.
__ADS_1