
Tiba-tiba Anna bertanya dengan wajah khawatir. Dia menyentuh pinggang Ryan. Ryan melihat wajah Anna dengan tatapan takut sambil membelai pinggang Ryan. Anna dengan segera bangkit dan membalikan Ryan untuk melihat bekas luka itu.
“Kapan kamu tertembak? ” Anna bertanya pada Ryan sambil membelai lembut bekas lukanya. Ryan berbalik dan meraihnya pinggang Anna, lalu membaringkan di sampingnya. Iya menarik Anna agar lebih dekat dengannya
"Katakan padaku" Anna kembali bertanya pada Ryan dengan suara tidak sabar. Ryan mencium keningnya dan tersenyum.
“Saat aku berumur dua puluh tahun” Jawab Ryan. Anna menatap suaminya dengan wajah khawatir.
“Apa yang terjadi? ” Ryan melihat ekspresi imut Anna, dan mendengar dia terisak.
"Aku pergi ke kamp militer ketika berusia delapan belas tahun dan aku tinggal di sana selama hampir lima tahun"
"Suatu hari kami harus pergi karena sebuah misi dan aku tertembak karena kebodohan Chris" Ryan meletakkan tangannya di wajah Anna dan membelai pipinya dengan lembut.
"Kenapa? Tidak ada perang di negara ini" Anna menatap Ryan dengan wajah penasaran sambil memeluk pinggang Ryan.
" Ya, memang tidak ada perang, tapi ada begitu banyak misi rahasia Anna, dan laki-laki di keluarga kami dulu harus pergi ke kamp kamp militer sepertiku" Anna memperhatikan Ryan dengan hati-hati dan meletakkan tangannya di wajah Ryan.
"Bahkan Ezra harus pergi nanti saat dia berusia delapan belas tahun" Tiba-tiba ekspresi Anna berubah, wajahnya diselimuti ketakutan.
"Tidak ada yang akan terjadi padanya , percayalah. Aku pikir tidak dia akan mendapatkan bekas luka sepertiku. Dia jenius " kata Ryan. Anna merasakan lega dan tersenyum.
"Tentu saja dia tidak boleh bodoh sepertimu. Dia harus jenius seperti mommynya" Anna berbicara dengan nada bangga sambil mengangkat dagunya.
" Benarkah? Aku bodoh? " Tanya Ryan sambil mencubit pipi Anna. Dia mengangguk dan mulai tertawa pelan. Ryan tersenyum pada Anna dan mencium tangannya saat Anna menyentuh wajahnya lagi. Ryan merasa sikap posesifnya timbul. Dan sekaligus bahagia saat melihat cincin di tangan Anna.
"Dia milikku dan tidak ada yang bisa mengubah fakta itu" Batin Ryan.
"Ryan... apakah kamu harus pergi ke sana lagi suatu saat nanti? " Tiba-tiba Anna beringsut mendekat ke arah Ryan.
“Pergi ke mana? ” Ryan melingkarkan tangannya ke pinggang Anna, lalu menekan tubuhnya sambil bertanya.
__ADS_1
"Ke kamp militer" Ryan memperhatikan wajah Anna dan ternyata dia jelas tidak menyukai jika pertanyaannya itu jadi kenyataan.
“Tidak...” Ryan tersenyum dan mencium kening Anna. Anna mengangguk dengan lega. Ryan menatap bibir Anna sebentar menempelkan bibirnya pada bibir Anna.
"Mesum.." Ucap Anna sambil memeluk erat dan membalas ciuman Ryan. Ryanpun tertawa karena apa yang Anna katakan. Ryan bisa dengan jelas merasakan bukit kembar Anna menempel di dadanya. Ryan mencoba menggoda Anna merayunya tapi dia tidak membiarkan dirinya kehilangan kendali karena sudah cukup Ryan melakukannya hari ini, dan Anna sangat lelah karena dirinya.
" Ahh... Ryan " Anna memukul tangan Ryan karena menoba memasukkan ke dalam baju Anna. Tanpa mempedulikan pukulan Anna, Ryan mencium dengan penuh gairah sambil menyentuh dada Anna.
"Kenapa kamu tidak memakai bra? " Ryan bertanya pada Anna yang mengatupkan bibir dan menatap Ryan.
“Aku memang tidak memakainya saat tidur” Ryan tertawa saat Anna mengatakan itu. Dia berbicara sambil melihat dada Ryan.
"Bagus. Jangan pakai terus ya" Dengan itu Ryan menindih Anna di bawah tubuhnya dan membuka dua kancing paling atas.
"Ryan... apa kamu tidak cukup untuk hari ini? Jangan bertingkah seperti orang mesum" teriak Anna saat Ryan mulai menyentuhnya .
"Aku tidak mau berhubungan. Aku hanya ingin menyentuh ini. Sangat indah dan lembut aku sangat suka" ucap Ryan sambil meremas lembut Dada Anna dengan lembut.
“Ugh... Nyaman dan empuk sekali” Ryan memejamkan mata saat merasakannya. Terasa sangat nyaman.
"Aduh... Apakah kamu baru saja menamparku? " Tanya Ryan. Dia membuka mata dan menatap Anna yang sedang menatapnya sambil mengangkat alisnya.
"Aku suamimu. Jadi tidak masalah mesum ke istri sendiri" Ryan berkata sambil mencium dada Anna dan mulai menjilati putingnya. "Istriku sangat lembut dan sangat cantik" Ryan semakin menggoda Anna dan mendapatkan tamparan lagi dari Anna. Ryan mengangkat kepalanya dan melihat wajah Anna yang memerah. Serta mendapati Anna masih menatap dirinya. Ryan segera mengecup bibir Anna dan kembali bergerak.
"Ahh... bodoh" Anna mencubit Ryan di bahunya dan berteriak. Tanpa peduli, Ryan melakukan apa yang dia inginkan dan akhirnya Anna mengelus rambut Ryan dengan jemarinya. "Urghh... Ini hal yang menyenangkan" Batim Ryan.
Setelah beberapa saat, akhirnya Ryan berhasil memaksakan diri untuk berhenti dan membiarkan Anna tidur. Ryan memendam keinginannya, Iya berhenti ketika melihat Anna. Ryan tersenyum karena melihat anna tidur tetapi tangannya masih berada di rambutnya. Ryan kembali mengancingkan kemeja Anna dan bersandar di sampingnya sambil memeluk tubuh mungil Anna yang seperti boneka. Lalu menyusul istrinya terlelap.
"Selamat Malam Istriku" Ryan mencium kening Anna dan memejamkan mata untuk tidur, karena menghabiskan waktu bersama Anna benar-benar menenangkan pikirannya.
Ryan bangun di pagi hari karena seseorang menyentuh bulu matanya. Ryan mengabaikannya dan melanjutkan tidur, tapi tidak bisa karena hal itu membuat dia tersenyum secara tidak sengaja. Ryan menangkap tangan yang menyentuh bulu matanya.
__ADS_1
“Biarkan aku tidur mmm” Ryan membuka mata dan menatap Anna yang sedang memperhatikan wajahnya yang tertidur. Kemudian Anna tersenyum dan menggelengkan kepalanya sambil mencium pipi Ryan.
"Oke, kalau begitu ayo kita senam pagi" Ryan membalikkan tubuh Anna dan menindih lalu mencium lehernya.
"Ryan... berhenti. Aku harus melihat Ezra" Annq mencoba mendorong Ryan, tetapi Ryan tidak membiarkan itu. Ryan mencium Anna dan aku melepas baju di tubuh Anna. Lalu melepas celananya sendiri. Ryan mulai melakukan apa yang dia nantikan sejak semalam.
Ryan melakukannya sebanyak dua ronde. Namun dia merasa tidak ada puasnya. Iya ingin melakukan lebih.
"Daddy, mommy, bolehkah aku masuk? ” Ryan menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara Ezra dari luar kamar.
"Sial... Kapan dia bangun? " Batin Ryan kesal.
"Turun Ryan... Ezra sudah bangun" Anna mendorong Ryan menjauh lalu bangkit. Lalu dengan cepat meraih kemeja yang berserakan dilantai dan memakainya. Iya berlari ke kamar mandi.
"Urgh... Kenapa Ezra bangun sepagi ini? Sial.. aku belum selesai lagi" Gumam Ryan. Dia memakai celananya dan beranjak untuk membuka pintu. Setelah Ryan membuka pintu, dia melihat Ezra yang sedang duduk di lantai sambil bersandar di dinding. Rasa bersalah menghampirinya karena apa yang dia lihat.
"Daddy, selamat pagi" Ezra dengan cepat melihat ke arah Ryan dan berkata. Ryan tersenyum pada putranya dan menggendongnya. Iya membawa Ezra ke kamar.
"Selamat pagi tuan muda kecilku" Ryan mencium kening Ezra yang melingkarkan lengan kecilnya melingkari leher Ryan dan membalas mencium wajah daddynya.
"Mommy dimana? " tanya Ezra pada Ryan sambil menidurkannya di tempat tidur. Ryan duduk di samping Ezra dan membelai rambutnya.
"Mommy sedang mandi" Ezra mengangguk, Ryan mulai berbaring juga ditempat tidur lalu menatap putranya dan mulai menggelitiknya. Ezra tertawa keras, sangat mirip dengan Anna.
"Daddy... berhenti" Ezra tertawa disela air matanya yang menetes. Akhirnya Ryan berhenti. Namun tiba-tiba Ezra menyentuh tempat tidur dan menatap Daddynya.
"Daddy kenapa spreinya basah? " Ryan melihat ke tempat Ezra menyentuh dan dengan cepat meraih tangannya. Ryan membawa Ezra ke pangkuannya dan mencium keningnya. Beruntung Anna keluar dari kamar mandi dan tersenyum cerah pada Ezra.
"Selamat pagi mommy" Ezra tersenyum malu pada Anna yang dia datang dan mencium keningnya. Rambut basah Anna menutupi bahu Ryan saat dia membungkuk untuk mencium Ezra. Detak jantung Ryan berpacu lebih cepat karena kecantikan Anna.
"Selamat pagi sayang" Jawab Anna.
__ADS_1
"Urghh kenapa dia tidak memanggilku sayang? Dia hanya memanggil Ezra dengan sebutan itu" Batin Ryan.
“Mommy, kenapa spreinya basah? ” Tiba-tiba Ezra bertanya sambil menunjukkan tempat yang basah di ranjang.