Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Teman Masa Lalu


__ADS_3

"Mengapa bajingan itu melihatmu? Apakah kamu mengenalnya? " Anna mendengar suara kesal Ryan di telinganya. Dia menatap Suaminya yang sedang menatap Dean dengan tatapanya yang tajam.


"Iya, aku mengenalnya" Tidak ada yang Anna sembunyikan dari Ryan. Karena dirinya tidak melakukan kesalahan sehingga tidak ada alasan untuk takut dan tidak memberitahu suaminya.


“90 juta. Kalung itu milikmu Tuan Fallon" Dean Fallon. Iya berdiri dari kursinya dan berjalan menuju panggung. Tiba-tiba Ryan mengencangkan cengkeraman pinggang Anna dan merapatkan ke tubuhnya.


"Apa yang terjadi padanya? " Batin Anna.


"Tuan Fallon, Anda bisa mendapatkan kalung itu dari Nyonya William sekarang" Dean mendatangi Anna dan berdiri di depannya. Lalu dia mencoba melepas kalung itu dari leher Anna.


"Tuan Fallon, jaga tanganmu untuk dirimu sendiri. Aku yang akan melepasnya" Ryan menyeringai pada Dean dan melepas kalung itu dari leher Anna lalu memberikannya kepada Dean.


"Oh, kupikir aku bisa mendapatkan kalung dan wanita ini" Ucap Dean. Sontak Hati Ryan mendidih saat mendengar apa yang Dean katakan.


"Apa yang dia maksud dengan ucapannya itu? " Batin Anna.


"Terima kasih atas dukungannya, tetapi wanita ini hanya untukku" Ryan memperhatikan Dean sebentar dan berkata dengan suara sarkastik. Seketika Anna melihat wajah Dean yang berubah menjadi gelap karena emoasi.


"Ayo pergi Anna" Ryan membawa Anna turun dari panggung dan pergi ke meja yang sebelumnya mereka duduki. Ryan membantu istrinya untuk duduk di kursi.


"Aku akan kesini sebentar lagi" Setelah itu Ryan pergi.


"Apa-apaan sih. Kenapa dia marah? Apa karena Dean menatapku dengan ucapannya yang bodoh? Urghh aku tidak mengerti" Batin Anna saat Ryan beranjak pergi.


"Dia marah Rulianna. Kejar dan awasi dia" Anna mendengar suara Chris. Anna mengangguk lalu meninggalkan ballroom.


Ketika Anna keluar dari ballroom, dia melihat jika kapal sudah berada di tengah laut. Anna juga melihat Ryan yang sedang merokok dan menatap ke laut sambil meletakkan sikunya di konter kapal. Anna perlahan berjalan ke arahnya. Anna tahu jika sebenarnya Ryan mendengar langkah kakinya. Tapi mengabaikannya. Anna menghela nafas dan mengambil rokok dari tangan Ryan lalu melemparkannya ke laut dan berdiri di samping suaminya. Anna merasakan udara yangsangat dingin karena angin berhembus.

__ADS_1


"Bukankah aku memintamu untuk tidak merokok? " Anna menatap suaminya dan bertanya. Ryan menatap dirinya dengan wajah datar tanpa emosi.


"Apa yang salah, sehingga kamu tiba-tiba begini? " Tanya Anna. Ryan memperhatikan Anna sebentar lalu melepas jasnya dan mengenakan pada Anna. Ryan marah, tapi tetaplah seorang lelaki yang perhatian. Anna tersenyum karena pemikiran itu dan memejamkan mata untuk merasakan kehangatan dan aroma tubuh Ryan. Anna sangat suka aroma tubuh suaminya. Iya melingkarkan tangan di lengan Ryan dan menatap suaminya yang terlihat masih marah.


"Kenapa kamu marah Rian? " Anna mencium pipi Ryan dan bertanya. Tiba-tiba Ryan mengangkat Anna dan mencoba melemparkannya ke laut.


"RYAN... APA... AHH... JANGAN" Anna ketakutan karena apa yang Ryan lakukan. Jantung Anna mulai berdegup kencang karena takut jatuh ke laut. Dia memeluk Ryan erat dan membenamkan wajahnya di leher suaminya. "Jika aku jatuh, aku juga akan menyeretmu bersamaku" Teriak Anna didalam ketakutannya.


"Kenapa kamu begitu takut, Anna? Percayalah aku akan melemparkanmu ke kolam suatu hari nanti" Anna mendengar tawa Ryan. Namun dia tetap tidak melepaskan leher Ryan. Anna tidak mempercayai Ryan dengan keadaan suaminya yang masih emosi.


"Turunkan aku bodoh" teriak Anna lagi, dan tiba-tiba Ryan melepaskan cengkeramannya pada Anna.


"Tidak... apa dia serius? Apa salahku hingga kamu membuatku takut seperti ini? "Anna berteriak. Akhirnya Ryan menurunkan Anna sambil tertawa. Anna menghela nafas lega. Iya merasa takut dengan semua tindakan bodoh Ryan.


"Ada apa denganmu Ryan? Apa kau gila? " Anna bertanya pada Ryan dengan Ryan yang menarik dan menekan Anna ke meja lalu mencium lehernya.


"Apa... Masih kecil... Apa kamu ini gila? " Anna menghela nafas dan memeluk Ryan kembali.


"Ryan kenapa kamu marah? " Anna mengelus punggung suaminya dan bertanya. Ryan berhenti mencium leher Anna dan menatap istrinya dengan tatapan tajam.


"Apakah kamu berselingkuh dengannya? " Tanya Ryan.


"Apa yang kamu bicarakan Ryan? Tidak... Aku tidak pernah berselingkuh dengannya atau dengan pria lain" Anna mendorong Ryan menjauh karena hatinya terasa marah dan sedih.


"Apakah kamu percaya padaku? " Tanya Anna.


"Lalu kenapa dia memintamu menjadi wanitanya? " Anna menatap Ryan dan menghela nafas dalam-dalam.

__ADS_1


"Ryan, aku tidak punya alasan untuk berbohong padamu. Ya, dia memang pernah mengatakan itu, tapi aku menolaknya dan hanya itu, tidak lebih" Ryan tersenyum pada Anna dan mengangguk.


"Dia mencoba melakukan sesuatu padamu kan? Aku akan membuatnya membayar untuk semua hal itu" Jawab Ryan.


"Ryan... Apa yang akan kamu lakukan? Dan bagaimana kamu bisa tahu?" Anna bertanya pada Ryan saat Ryan kembali menempelkan dirinnya ke tubuh Anna.


"Tidak mungkin aku akan membiarkan hidup seorang pria yang mencoba menyentuh milikku dan kamu hanya milikku" Ucap Ryan sambil mencium Anna. Anna bahkan tidak punya waktu untuk menolak ciuman itu karena tindakan Ryan yang tiba-tiba. Ryan berhenti mencium Anna dan menoleh ke belakang. Anna mengikuti pandangan suaminya dan melihat ke belakang. Terlihat Dean yang sedang menatap mereka.


"Tuan Fallon.. Tidak baik melihatku yang sedang mencium istriku" Anna melihat Ryan menyeringai pada Dean saat dia berbicara. Anna menghela nafas dan meraih tangan Ryan sebelum suaminya kehilangan kewarasannya.


"Maafkan saya Tuan William. Rulianna hanya untukmu" Dean memandang Ryan dan tersenyum. Dia berjalan ke arah Anna dan memberikan kalung yang baru saja dia beli dari pelelangan.


"Aku minta maaf atas apa yang terjadi waktu itu" Anna melihat tangan Dean yang memegang kalung itu, kemudian kembali menatapnya lagi. "Ryan, aku ingin masuk ke dalam" Anna menatap Ryan dan berkata karena hatinya sangat terluka.


Anna pikir Dean adalah teman yang baik, tetapi dia mencoba memperkosa Anna. Dan bahkan dia mengatakan kepada semua orang jika Anna merayunya. Tidak mungkin Anna melupakan itu dan tidak mungkin pula dirinya akan memaafkan Dean.


"Dia bukan seseorang yang bisa kamu sentuh, jadi kamu lebih baik menjauh" Ryan menyambar pinggang Anna dan berjalan melewati Dean setelah memperingatkan dan menepuk bahunya.


"Rulianna aku mencintaimu. Kumohon. Aku memang salah" Hati Anna menegang saat mengingat bagaimana mereka menghabiskan waktu dengan kebahagiaan sebagai teman. Anna, Dean dan Mila. Tapi keduanya menyakiti Anna tanpa alasan.


"Dean lupakan masa lalu. Kita bukan lagi orang yang sama seperti dulu. Kamu dan Mila, kalian sama-sama menyakitiku tanpa alasan" Anna berhenti dan melihat kembali pada Dean, lalu berkata karena Anna sudah tidak ingin mendengarkan Dean berbicara apapun. Dean benar-benar menyakiti Anna, dengan menghina Anna di depan teman-temannya. Anna menatap Ryan saat suaminya itu membawa dirinya masuk.


"Kamu mau istirahat?" Ryan bertanya pada Anna sambil membelai wajah istrinya. Anna mengangguk pada suaminya dan tersenyum. Ryan membawa Anna ke salah satu ruangan di tempat yang berbeda. Anna duduk di atas tempat tidur dan mulai melepas jepit rambut di kepalanya. Anna menatap Ryan yang sudah melepas bajunya dengan membelakangi Anna. Anna bisa melihat bagian belakang tubuh Ryan. Bahu dan lengannya yang kuat.


"Kenapa aku sangat menyukai tubuhnya? " Batin Anna. Dia mengalihkan pandangan dari Ryan dan menghela nafas. Anna melepaskan tali rambutnya dan menarik napas dalam-dalam. "Huuh... akhirnya..." Anna melepas high heelsnya dan berdiri untuk melepas gaun. "Bisakah kamu melakukannya sendiri, istriku? " Anna mendengar suara mesum Ryan. Saat menoleh ke belakang, Anna melihat Ryan yang memegang segelas anggur, sementara matanya menelusuri tubuh Anna. Ryan kembali meminum anggur hingga mulutnya penuh, setelah habis diteguk, Ryan menjilat bibirnya.


"Ryan jangan mesum" Anna menghela nafas dan membuang muka dari Ryan. Tiba-tiba Ryan mendekat ke arah Anna dan meletakkan gelas anggur di atas nakas. Iya melingkarkan tangannya di pinggang Anna dan mulai mencium tulang selangka Anna. Ryan dengan perlahan melepaskan gaun itu dari tubuh Anna. Anna menghela napas dalam-dalam karena rasanya begitu nyaman tanpa gaun itu.

__ADS_1


"Anna jangan pernah memotong rambutmu. Aku ingin melihatnya ketika sudah selututmu" Ryan berbicara sambil mencium leher Anna. Annapun memejamkan mata dan mengangguk pada Ryan. Ryan mendorong istrinya ke tempat tidur dan naik ke atas tubuh Anna. Ryan menempelkan bibirnya ke bibir Anna. Sementara tangannya sudah berada di tempat favoritnya. Di dua bukit kembar Anna.


__ADS_2