
Ryan pergi selama lima bulan. Hatinya gelisah karena minggu depan bayinya akan lahir dan Ryan harus berada di sana. Dan yang terpenting Ryan ingin melihat Erza. Ryan memintanya untuk menunggu. Ryan sedang duduk di ranjangnya, tetapi iya merasa takut.
"Aku harus kembali sebelum aku menyesali sesuatu. Mengapa aku merasa seperti ini. Sial" Ucap Ryan sambil menjambak pelan tambutnya sendiri.
"Kenapa aku bertingkah seperti ini? " Batin Ryan
"Kenapa kamu terlihat kesal? " Ryan mendengar suara ayahnya yang berjalan memasuki kamarnya.
"Aku tidak tahu ayah. Aku takut" Ryan jujur. Ryan benar-benar takut untuk sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui penyebabnya.
"Aku juga takut saat itu. Jangan khawatir semuanya akan baik-baik saja" Ayah menepuk pundak Ryan dan menghela nafas.
"Itu bukan tentang bayiku ayah. Tapi seseorang yang aku lihat sekali" Ryan membenamkan wajahnya ke telapak tangan sambil berbicara. "Siapa? " Ryan melihat ayahnya dan terlihat ayah penasaran.
"Seorang nak kecil. Namanya Erza" Kata Ryan. Dia melihat wajah terkejut ayah. Ya, ayah Ryan sudah pasti terkejut karena Ryan tidak pernah peduli dengan orang lain sebelumnya. Ayah tidak banyak bertanya tentang Erza, hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian Ryan mendengar telepon ayah berdering. Ayah menjawab telepon mendengarkan ucapan nenek dan menatapku.
"Nenekmu sedang menelepon" Ayah memberikan ponselnya kepada Ryan.
"Dia melahirkan. Sekarang sudah di rumah sakit" Ucap nenek dari seberang telepon. Detak jantung Ryan memburu, Dia menatap ayahnya. Ayah tersenyum dan mengangguk.
"Apakah dia baik-baik saja. Bagaimana dia? " Ryan bertanya tentang Anna karena Ryan ingin tahu karena dia ibu dari bayinya.
"Kamu tidak usah peduli padanya, Ryan. Dia akan melahirkan putramu dalam beberapa menit lagi" Nenek berkata.
"Apakah nenek tidak punya hati. Mengapa dia bertingkah seperti ini. Aku tidak mengerti" Batin Ryan. "Aku akan datang" Kata Ryan sambil menutup telepon karena merasa marah pada nenek.
"Ayah, aku ingin pergi. Apakah ayah mau ikut denganku? " Ryan bertanya kepada ayahnya karena ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Tidak. Kamu pergi dulu saja. Aku akan datang minggu depan untuk melihat cucuku" Ayah benar-benar menjadi seorang kakek. Ryan tersenyum. Ayahnya masih berusia sekitar empat puluhan tetapi tidak ada yang tahu itu karena dia masih tampan dan terlihat masih muda. Ryan mengangguk pada ayahnya dan pergi. Dia bahkan tidak membawa barang-barangnya, hanya mengambil jaket lalu memakainya. Detak jantung Ryan begitu cepat. Ryan datang ke bandara tempat jet pribadinya dan naik. Ryan duduk sambil memejamkan mata. Ryan tahu perjalanan ini akan memakan waktu beberapa jam. Ryan merasa tidak sabar.
"Aku ingin melihat wanita itu dan bayiku" Saat Ryan memejamkan mata, senyum kecil Erza dan suaranya melintas di fikirannya dan hal tersebut membuat Ryan tersenyum tanpa sengaja. Ryan tidak tahu mengapa dia memikirkan Erza sampai seperti. Mungkin karena Erza memiliki kemiripan dengan wanita yang menarik perhatiannya.
__ADS_1
Ryan Tiba saat sudah menjelang fajar. Dia langsung pergi ke rumah sakit dan berjalan menuju bangsal Anna, karena Ryan tahu Anna berada di bangsal terbaik di rumah sakit ini. Ryan adalah pemilik rumah sakit ini dan tidak ada yang berani berbicara saat dia berjalan menuju bangsal Anna. Saat Ryan memasuki bangsal rumah sakit, Ryan melihat Anna tidur nyenyak. Dia tersenyum saat melihat Anna.
"Sangat cantik. Kenapa aku begitu terobsesi dengan wanita ini. Dia benar-benar mengingatkanku pada anak kecil itu" Gumam Ryan dengan perlahan berjalan menuju tempat tidur Anna dan memperhatikan wajahnya yang tertidur. Sangat cantik. Wajahnya ditutupi dengan rambutnya sendiri. Ryan dengan lembut menyibakkan rambut dari wajah Anna, iya takut membangunkannya.
"Terima kasih" Ryan perlahan mencondongkan tubuh ke arah Anna untuk mencium bibir dan dahinya. Dia benar-benar melahirkan anakku. Dia mungkin melakukan ini karena cintanya pada kekasihnya, tetapi Ryan harus berterima kasih padanya karena telah melahirkan anaknya. Tidak mudah melahirkan bayi dan harus merasakan sakit, jadi Ryan akan selalu berterima kasih pada Anna.
"APA SIH YANG KAMU LAKUKAN? " Tiba-tiba Ryan mendengar suara marah neneknya.
"Apa yang dia lakukan di sini pada jam ini? " Batin Ryan, dia segera mendekati neneknya.
"Nenek... Aku" Ryan mencoba berbicara dengan nenek tapi nenek menggelengkan kepala dengan wajah marahnya.
"Diam! Keluar. SEKARANG! " Setelah berbicara seperti itu nenek berbalik dan pergi.
"Apa masalahnya? " Gumam Ryan sambil menatap wajah cantik yang tertidur itu untuk terakhir kalinya dan meninggalkan bangsal. Ryan menemui nenek di kamar pribadi milik kami di rumah sakit ini.
"Kamu langsung menemuinya setelah kamu datang kerumah sakit ini, bukannya menjenguk bayimu. APA ITU RYAN? " Tiba-tiba amarah menguasai Ryan saat nenek berteriak padanya. Ryan bertanya pada dirinya sendiri. Apa yang aku lakukan salah.
"Kenapa aku tidak bisa melihat ibunya. Apa ada masalah dengan itu. Kau melarangku bertemu dengannya selama sembilan bulan. Dia sedang mengandung bayiku. Aku adalah pria yang menidurinya dan membuatnya hamil jadi mengapa aku tidak boleh melihatnya... Kenapa? " Ryan balas membentak neneknya karena marah. Ryan tahu seharusnya tidak berbicara dengan nenek seperti itu, tapi kenapa nenek meneriaki Ryan hanya karena dia melihat wanita yang melahirkan anaknya. Hati Ryan berfikir yang negatif.
"Aku manusia nek. Dan aku juga punya perasaan dan keinginan. Apakah nenek tahu betapa aku ingin merasakan aktivitas bayiku di dalam perutnya. Aku ingin menyentuh dan aku ingin merasakan gerakannya tapi aku tidak bisa mendapatkan apapun karenamu. Itu semua karena nenek" Ryan menatap neneknya saat itu mata nenek basah.
"Persetan... Kenapa aku berteriak padanya? " Ryan berkata dalam hati.
"Ryan kamu meneriaki nenek karena wanita yang tidak pernah kamu kenal sebelumnya? " Nenek berbicara perlahan dan itu membuat hati Ryan sakit.
"Maafkan aku nenek. Maafkan aku karena membentakmu. Aku... Aku hanya sedih karena aku tidak bisa melihatnya selama kehamilannya" Ryan menghela nafas dan melangkah mendekat kepada nenek. Ryan memeluk dan mencium pipinya, tapi nenek berbeda dan Ryan bisa melihat dengan jelas sikapnya.
"Tidak apa-apa Ryan jangan berteriak pada nenek lagi" Nenek menepuk pundak Ryan lalu berkata. Ryan mengangguk dan melepaskannya. "Jadi di mana dia? " Tanya Ryan dengan penasaran. Apakah dia mirip denganku atau ibunya. Ryan benar-benar penasaran.
"Dia sangat mirip denganmu Ryan. Mata dan rambutnya sama sepertimu" Nenek menyeka air matanya dan tersenyum padaku.
__ADS_1
"Betulkah. Seperti aku. Aku ingin melihatnya" Kata Ryan. Kemudian nenek membawa Ryan ke kamar dan menunjukkan anak laki-laki. Dia tidur seperti ibunya. Ryan berjalan ke arahnya dan berlutut di lantai. Ryan tidak ingin membangunkannya. Ryan menggerakkan jari-jarinya dengan lembut menyentuh kulit anaknya yang halus. Ryan melihat pipinya, mirip dengan Ibunya.
"Hei jagoan kecil, Daddy ada di sini" Bisik Ryan, Dia merasa sangat senang.
"Ryan, pulanglah dan istirahatlah. Aku akan membawa bayi itu ke mansion Crystal. Kamu datanglah ke sana nanti" Nenek berbicara dan Ryan bangkit lalu menatapnya. Ryan berfikir mengapa nenek ingin membawa anaknya ke mansion Crystal. Apakah karena ibunya tinggal di sana selama ini.
"Nenek, Kenapa ke sana. Kita bisa membawa pulang bayinya kan? " Tanya Ryan sambil menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Aku akan membawanya ke sana dan kamu pergilah sekarang! " Setelah itu nenek meninggalkan ruangan. Ryan memutuskan untuk pergi dan tidur yang nyenyak.
Ryan bangun di sore hari dan bersiap-siap untuk pergi ke mansion Crystal. Saat baru bangun iya menerima telepon dari Chris. Ryan menjawab telepon dan menunggu sampai Chris berbicara.
"Halo Daddy" Ucap Chris. Bajingan ini benar-benar gila. Dia bahkan berbicara dengan suara seperti anak kecil.
"Apa-apaan Chris? " Ryan berteriak karena Ryan merasa muak dengan lelucon bodohnya.
"Kenapa. Bukankah kemarin kamu sudah menjadi seorang ayah? " Chris terus memprovokasi Ryan. Ryan memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara dengannya.
"Ya tapi aku tidak menjadi ayahmu. Bajingan" Kata Ryan sambil tertawa.
"Anyway, Congrats bro" Kata Chris, Ryan benar-benar merasakan kebahagiaan dalam dirinya karena telah menjadi seorang ayah. Ryan bahkan tidak percaya dengan statusnya sekarang.
"Dan sebaiknya kau datang ke perusahaan sialanmu dan mengurus pekerjaanmu karena aku akan pergi" Setelah itu Chris menutup telepon.
"Beraninya dia menutup teleponku. Aku akan membuat dia menderita" Kesal Ryan. Akhirnya Ryan memutuskan untuk pergi ke kantor dan memeriksa semuanya. Setelah Ryan menyelesaikan pekerjaannya, Ryan pergi ke rumah sakit karena dia ingin bertemu dengan Erza. Sudah tujuh bulan Ryan tidak bisa pergi dan bertemu dengan Erza. Ryan membelikan kue untuk Erza dan beberapa mainan karena dialah yang memberi selamat terlebih dahulu kepada Ryan jadi Ryan ingin merayakan kelahiran bayinya bersama Erza. Saat Ryan memasuki rumah sakit, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, hari mulai gelap tanda hujan akan turun. Ryan langsung pergi ke tempat pertama kali melihat Erza dan ternyata tidak ada seorang pun di sana. Perasaan Ryan tidak nyaman tidak tahu mengapa. Ryan terus mencarinya ke mana-mana dan tidak dapat menemukan Erza dan bahkan tidak melihat teman-teman. Jadi Ryan pergi ke pusat informasi dan bertanya pada seorang perawat.
"Di mana anak laki-laki bernama Erza? " Ryan bertanya pada seorang perawat dan terlihat ekspresi terkejut dari perawat itu. Pipi perawat tersebut mulai memerah.
"Sial, inilah mengapa aku membenci wanita" Batin Ryan.
"Aku menanyakan sesuatu padamu. Bicaralah! " Ryan merasa marah karena wanita ini. Perawat tersebut tersentak saat Ryan berbicara dengan nada marah.
__ADS_1