Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Tante


__ADS_3

Anna memperhatikan wajah Natasha yang terlihat gelap karena kebencian, Anna merasa bahagia karena ekspresi wajahnya. Anna benar-benar tidak seperti ini sebelumnya. Setelah kematian Ezra, Anna benar-benar menjadi sedikit tidak berperasaan. Dan Anna pikir dirinya telah mewarisi sikap buruk Ryan.


"Kamu pelacur. Berani bicara seperti itu padaku. Apakah kamu tahu siapa aku. Ryan itu milikku, dan kamu dengan anak bajinganmu yang sangat menyebalkan itu" Darah Anna mendidih karena marah ketika mendengar apa yang Natasha katakan.


"Bajingan... Anakku Ha? " Anna mengangkat tangannya dan menampar wajah Natasha dengan sekuat tenaganya. Natasha terkejut dengan apa yang Anna lakukan.


"Bajingan itu kamu. Anakku bukan bajingan dan dia punya ayah ibu. Jika kamu berani menyebut anakku dengan sebutan itu lagi aku akan memenggal kepalamu. Pria itu tahu mana yang pelacur" Anna merasa tidak percaya dia mengucapkan kata-kata seperti itu untuk menyalahkan Natasha dan Anna bahkan mengancamnya. Anna sangat marah karena bagaimana Natasha memanggil anaknya. Anna tidak bisa mengendalikan amarah yang tiba-tiba memuncak di dalam dirinya. Anna melihat mata Natasha yang mulai basah dan Anna juga memandang pada bibirnya yang berdarah.


"Kamu pantas mendapatkannya" Ucap Anna. Lalu Natasha tiba-tiba melihat ke belakang Anna dengan tatapan penuh harap menyedihkan. Dan pada saat yang sama Anna merasakan lengan seseorang melingkari pinggangnya. Anna tahu itu Ryan.


"Ryan... Siapa dia. Dia bahkan menamparku. Wanita murahan" Natasha segera berbicara setelah Ryan datang.


"Apakah wanita ini menyakitimu? " Ryan bertanya pada Anna sambil mencium keningnya. Anna terkejut dengan tindakan Ryan. Tapi Anna perlahan menatap Ryan dan menggelengkan kepala.


"Dia yang memukulku Ryan. Kenapa kamu memeluknya. Ini aku yang akan kamu nikahi dan bukan dia dan aku yang terluka bukan wanita ini" Lagi-lagi Anna merasa marah karena kata-kata Natasha.


"Benarkah. Dia memukulmu? " Dengan berbicara seperti itu Ryan meraih tangan Anna lalu mencium tangan Anna.


"Apa yang pria ini lakukan? " Batin Anna.


"Jangan kotori tanganmu lagi bidadariku, itu adalah hal yang membuat hatiku sakit" Anna menatap Ryan lagi.


"Apakah dia baru saja minum sesuatu? " Batin Anna. Sekali lagi Anna ingin tertawa.


"Kurasa kamu mendengar apa yang dikatakan wanitaku padamu Natasha. Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku akan menikahi wanita sepertimu. Persetan tentang kehidupan kita, sebelum aku memenggal kepalamu seperti yang dia katakan" Kata Ryan.


"Tunggu... Apakah dia mendengar semua yang kukatakan? " Batin Anna, dia menggigit bibir bawahnya dan memalingkan muka dari Ryan. Setelahnya Ryan dengan lembut meraih dagu Anna dan membuat Anna menatapnya. Ryan menempelkan bibirnya ke bibir Anna sambil memeluk pinggang Anna erat-erat. Anna menatap Natasha dengan melirik, dan melihat Natasha mengepalkan tinjunya dengan penuh kebencian dan air matanya mengalir membasahi lipinya. Anna melingkari leher Ryan dan menariknya lebih dekat dengan, saat ciuman mereka menjadi panas dan penuh gairah. Ryan tiba-tiba mendorong Anna ke dinding di dekatnya dan semakin memperdalam ciuman itu.


"Tidak... Orang ini kehilangan kendali" Batin Anna.

__ADS_1


"Mmm... Cukup... Ryan" Akhirnya Anna berhasil mendorong Ryan menjauh, tapi air liur mereka terhubung seperti garis tipis di mulut Anna dan Ryan.


"Kamu akan menyesali Ryan Sanskara William dan Rulianna Taradevi. Aku akan memastikannya" Dengan perasaan penuh amarah, Natasha berbalik dan pergi. Anna menghela napas dalam-dalam dan melihat sosok Natasha yang menghilang. Anna merasa takut.


"Bagaimana jika dia mencoba menyakiti Ezra... Tidak, itu tidak mungkin... Ryan ada di sini jadi aku tidak perlu khawatir tentang apa pun" Batin Anna.


"Siapa sangka mama dari anakku sebiadab ini" Ucap Ryan. Tiba-tiba Anna menoleh ke arah Ryan yang baru saja menjilat bibirnya sambil menatap bibir Anna.


"Aku pergi" Anna berbalik untuk pergi tetapi Ryan menarik tangan Anna dan menyeretnya ke kamar kecil.


"Apa yang kamu lakukan Ryan... Ini toilet wanita. Dasar mesum" Anna memukul bahu Ryan, tetapi Ryan bahkan tidak peduli sama sekali dengan pukulan Anna. Ryan mendorong Anna ke dinding dan mengunci pintu.


"Bukankah kamu mengatakan pada Natasha bahwa aku adalah laki-lakimu. Mengapa kamu memukulku sekarang? " Anna menatap Ryan dan melihat Ryan sedang tersenyum padanya.


"Apakah dia mendengar semua yang aku katakan? " Batin Anna.


"Apakah kamu mendengar semuanya? " Anna bertanya sambil mengalihkan pandangan dari mata Ryan.


"Ingat, bahwa tidak peduli dengan apa pun. Kamu adalah satu-satunya wanitaku dan aku satu-satunya priamu" Kata Ryan serak tapi kata-kata dan nada bicaranya penuh dengan keseriusan. Anna mengangguk pada Ryan dengan tanpa sadar.


"Ayo kita ambil akta nikah kita besok" Ucap Ryan Selanjutnya Ryan mencium Anna lagi.


"Apa... Akta nikah? " Batin Anna.


"Mmphh... Ryan... Tunggu" Anna mencoba menghentikan Ryan dan bertanya apa yang Ryan katakan. Tapi Ryan tidak membiarkan hal itu terjadi dan dia tidak berhenti mencium Anna. Anna melingkarkan tangannnya di leher Ryan. Ryan mulai terkekeh dan tangannya bergerilya bebas melalui kaki Anna yang terbuka. Ryan sedikit mengangkat kaki Anna dan melilitkan ke tubuhnya. Anna dengan jelas tahu Ryan kehilangan kendali. "Tiba-tiba Ryan mengangkat Anna dan berjalan menuju meja wastafel sambil meletakkan Anna di atasnya. "Ryan" Anna mencoba berbicara lagi tapi Ryan kembali menghentikan Anna dengan menciumnya. Anna mencium Ryan kembali dengan memejamkan mata dan setelah beberapa saat, ciuman Ryan pindah ke leher dan tulang selangka lalu ke dada Anna. Anna mengelus rambut halus Ryan dengan jemarinya, dan itu terasa sangat menyenangkan. Anna merasakan tali gaunnya jatuh dengan ciumannya Ryan di tulang selangka Anna. Anna melingkarkan kakinya di pinggang Ryan, dan Ryan menekan bibirnya. Tangan Ryan meraba-raba sekujur tubuh Anna, lalu dia mulai membuka ikat pinggangnya.


Mata Anna terbuka dan dia tiba-tiba teringat anaknya saat Ryan mengangkat gaun Anna. Anna segera meraih tangan Ryan sebelum melepas pakaianku.


"Di mana Ezra? " Anna menatap Ryan dan bertanya. Matanya yang sudah dipenuhi dengan nafsu berubah menjadi mata yang dipenuhi cinta seperti saat Anna menyebutkan Ezra.

__ADS_1


"Dia bermain di area anak-anak" Anna mencium pipi Ryan dan mengangguk.


"Ayo pergi. Dia menunggu" Kata Anna saat Ryan mencium keningnya dan tersenyum. Ryan memperbaiki gaun Anna dan mengikat sabuknya, lalu mengangkat Anna dari meja wastafel dan menurunkannya. Setelah itu mereka keluar dari toilet dan berjalan menuju area bermain anak-anak. Begitu mereka memasuki ruang bermain, mereka melihat Ezra yang sedang memukuli seorang anak kecil. "Apa yang terjadi... Ezra sayang. Hentikan sayang" Anna segera berlari ke arah Ezra dan menghentikan putranya lalu mengangkat Ezra dari atas tubuh bocah itu.


"Kenapa kamu memukulnya sayang? " Anna mencium kening Ezra dan bertanya.


"Saat aku menyebut namaku padanya, dia bilang aku tidak punya ibu dan tertawa" Hati Anna menegang saat mendengar suara Ezra yang terdengar patah. Anna menatap Ryan yang baru saja mendekat padanya dan dia menekan bibirnya menjadi garis lurus dan menatap Noel. "Lihat, Dia mommyku" Ezra berteriak pada bocah itu lagi. Ezra juga memiliki darah Ryan di dalam dirinya jadi tidak heran dia bertingkah seperti ini. Ryan datang dan mengangkat bocah itu. Dia menghela nafas sambil menatap wajah anak itu..


"Benarkah... Tanda biru... Ya Tuhan..." Batin Anna.


"Di mana orang tuamu sayang? " Tanya Anna pada bocah itu. Dia menatap Anna dengan wajah aneh dan terkejut.


"Apa yang dia pikirkan? " Batin Anna.


"Bicaralah" Ana mendengar suara marah Ezra lagi.


"Apa yang terjadi dengan anakku yang manis dan imut ini? " Anna bertanya dalam hati.


"Tante... Sangat cantik. Kamu sangat mirip dengannya. Apakah kamu..." Ucapannya terpotong oleh suara seorang wanita.


"Tuan muda kecil... Ya Tuhan... Ini dia. Ayo tuan, tuan besar marah pada ayahmu sehingga meminta saya untuk membawamu kepadanya" Wanita tua yang baru saja datang berbicara dan anak laki-laki itu menatapnya dengan tersentak.


"Apa yang terjadi dengan wajahmu... Tuan besar akan membunuhku" Wanita itu berteriak dan menyentuh wajah bocah itu. Tiba-tiba Anna merasa bersalah atas apa yang terjadi padanya.


"Aku jatuh. Ayo pergi" Bocah itu berbalik untuk pergi tetapi berhenti lagi dan kembali menatapku.


"Tante sampai jumpa" Ucapnya sambil menoleh.


"Apa maksudnya? " Gumam Anna bingung. Bocah itu lebih tua dari Ezra. Anna pikir anak itu berusia tujuh atau delapan tahun. Tetapi Anna merasa sangat familiar dengan anak itu.

__ADS_1


Tidak... bagaimana bisa, aku belum pernah melihat dia sebelumnya" Batin Anna.


__ADS_2