
~Ryan~
"Datanglah ke kantor, ada sesuatu yang penting yang harus kuberitahukan padamu" Ryan membaca pesan diponselnya yang dikirimkan oleh Chris kepadanya saat pulang dengan Anna. Ryan meminta istrinya untuk menunggu dan nanti akan pergi keluar untuk makan malam setelah dirinya kembali. Setelah mengantarkan Anna sampai di apartemen, Ryan segera pergi ke kantor dan melihat Chris sudah ada di sana.
"Ada apa? " Tanya Ryan pada Chris sambil duduk di sofa. Chris memperhatikan Ryan sebentar dan menghela nafas.
"Ini tentang Mariana. Setelah dia dan Erza diculik, dia melarikan diri dari pria yang menculiknya lalu ditemukan oleh orang yang tidak punya anak"
"Aku masih belum dapat menemukan siapa yang melakukannya, tapi aku setelah mengirim orang-orangku untuk melacak seseorang. Kami bisa menangkapnya, kami dapat mengetahui kebenarannya"
"Aku tahu semua hal ini dari seorang wanita paruh baya. Katanya Anna punya dua nomor telepon. Dan spudah bertahun-tahun, tapi wanita paruh baya itu bilang, dia tidak bisa melupakan wajah gadis kecil itu saat ditabrak mobil" Chris menyelesaikan ucapannya sambil menghela nafas panjang. Hati Ryan terluka karena apa yang terjadi pada Mariana. Masa kecilnya berubah menjadi kesengsaraan karena kecurangan.
"Apakah kamu mendapatkan dua nomor itu darinya?" Ryan bertanya, Chris mengangguk dan mengambil secarik kertas. Lalu memberikan kertas itu kepada Ryan. Saat itu Ryan menatap kertas yang berlumuran darah. Hanya satu nomor yang terlihat, itupun hanya lima nomor terakhir yang bisa dilihat dengan jelas. Satu nomor lagi tak terlihat karena berlumuran darah.
"10998. Mengapa aku merasa mengenali nomor itu... 1-0-9-9-8.... Tidak... tidak mungkin kan? Mariana membenciku ketika masih kecil, tapi kenapa itu nomor telepon lamaku? " Gumam Ryan. Hatinya bergetar hebat.
"Apakah Mariana akan meneleponku hari itu. Apakah dia bisa ingat? Dan mungkin nomor yang satunya adalah nomor Mark. Aku tidak salah, itu adalah lima digit terakhir nomor teleponku dulu" Ryan terus bergumam sambil memegang dan melihat secarik kertas yang dipegangnya.
"Ada apa Ryan? " Chris bertanya lalu duduk di samping Ryan.
"Apakah kamu ingat nomor telepon lamaku sebelum kita pergi ke kamp militer? " Ryan bertanya pada chris, karena dialah yang menyimpan nomor semua orang. Chris selalu mengatakan semuanya akan berguna di masa depan.
"Ya... tapi aku tidak membawanya sekarang. Aku akan memberitahumu kalau sudah pulang" kata Chris lalu mengambil kertas itu dari tangan Ryan.
"Bukankah ini lima digit terakhir nomor telepon lamaku? " Ryan bersandar di sofa dan bertanya pada Chris. Chris segera menatap Ryan dan kembali melihat kertas itu.
"Aku hanya ingat yang 9-9-8 ini. Aku akan melihatnya nanti" Jawab Chris. Ryan mengangguk pada Chris dan memejamkan mata.
"Kenapa Mariana ingat nomormu? Bukankah dia selalu memarahimu dan selalu bilang bahwa dirinya membencimu? " Ryan tersenyum karena apa yang Chris katakan.
__ADS_1
"Tentu saja dia membenciku karena aku memakan makanan kesukaannya setiap hari, dan satu lagi, aku memasuki kamarnya saat dia sedang berganti pakaian tanpa mengetuk pintu. Aku tidak melihat apa-apa selain bahunya dan beberapa inci di atas lututnya, tetapi dia memukulku hari itu" Batin Ryan mengingat semuanya.
"Aku juga tidak tahu kalau itu" Ryan memandang Chris dan berbicara sambil tersenyum. Terdengar Chris yang tertawa.
"Mungkin kamu naksir dia waktu kecil" Chris tertawa sambil mengeluarkan satu bungkus rokok.
"Kegilaan di masa kecil... Aku benar-benar meragukan itu..." Batin Ryan, lalu dia juga mengambil satu rokok dari kotaknya dan menyalakannya.
"Ngomong-ngomong kamu menikah dengan nona muda dari keluarga Holland. Tunggu... Ryan, Ada pertunangan yang diumumkan antara dua keluarga kan? Jadi itu Marianna dan kamu.... Sial" Chris berteriak sambil menatap Ryan dan Ryan hanya mengangguk padanya.
"Tentu saja karena persahabatan antara keluarga kami, Marianna melamarku karena dia adalah satu-satunya gadis dari keluarga Holland" Jawab Ryan.
"Bagaimana jika Rulianna mengingat semuanya dan Mark menemukannya? " Tanya Chris.
"Aku tidak takut Anna kembali ingatannya, tetapi aku takut menghadapi apa yang akan terjadi jika Mark menemukan adiknya"
"Jadi itu sebabnya kamu tiba-tiba menikahinya. Kebenaran tidak bisa disembunyikan selamanya. Mark akan segera menemukan kebenaran itu" Chris berkata serius.
"Kamu benar, Mark tidak bisa menemukan saudara laki-laki dan perempuannya selama bertahun-tahun, tapi dia masih belum menyerah" Ryan membalas ucapan Chris.
"Itu bukan satu-satunya alasan. Aku ingin menikahi Anna sejak pertama aku melihatnya di depan rumah sakit, dan sejak pertama juga aku tidur dengannya. Tetapi setelah menemukan kenyataan ini, aku memutuskan untuk menikahinya sesegera mungkin dan menjadikan Anna sebagai istri dan ibu dari anakku" Ryan membuang puntung rokok dan berbicara, karena Ryan adalah alasan Anna kehilangan semua hal yang berharga, bahkan keperawanannya.
"Dia pantas mendapatkan lebih dari ini Chris. Lihatlah kehidupan yang dia habiskan di masa mudanya, dan lihat pula saat dia menjadi nona muda dari keluarga Holland. Jika Erza dan Anna bersama keluarga mereka yang sebenarnya, Erza tidak akan pernah mati dan Anna tidak akan pernah menyewakan rahimnya" Ryan berkata dengan pelan.
"Apa yang kamu lakukan pada teman Anna? " Ryan bertanya pada Chris. Chris menatap Ryan dan menghela nafas.
"Huuuh... Dia wanita yang rumit. Aku bertanya mengapa dia tinggal di tempat yang murah dan tidak aman. Dia cuma bilang karena tidak punya uang dan dia tidak tidur dengan pria untuk mendapatkan uang" Jawab Chris. Lalu Ryan tertawa saat mendengarnya.
"Dia mengatakan yang sebenarnya tentang kamu. Kamu tidur dengan wanita dan memberi mereka kemewahan. Chris... Hentikan gaya hidup sialan itu" Ryan menatap Chris dengan jijik dan mendapati sepupunya itu tersenyum. "Aku belum pernah tidur dengan wanita manapun, Ryan. Yang aku lakukan hanyalah *******. Tapi sungguh sial... Rasanya menjijikkan menyentuh wanita lain setelah aku melihat Amelia, aku hanya ingin tidur dengannya" Chris menatap Ryan dengan tatapan serius.
__ADS_1
"Hanya itu? Kamu belum melakukan hal itu kan? " Ryan bertanya pada Chris dengan terkejut karena Ryan benar-benar tidak percaya dengan sepupunya kali ini.
"Semua orang di kota ini tahu karaktermu Chris" Ucap Ryan.
"Apakah ada yang melihat aku tidur dengan seorang wanita atau bangun di ranjang yang sama? Setidaknya orang mana yang pernah melihatku di depan umum dengan seorang wanita atau melihat seorang wanita di rumahku? " Ucap Ryan.
"Ini aku Ryan. Wanita seperti mereka tidak pantas berhubungan denganku. Aku tidak ingin tidur dengan seorang wanita yang hanya menanggalkan pakaiannya di depan seorang pria tanpa rasa malu. Dan aku dapat mengetahui sifat seorang wanita hanya dengan melihat wajahnya. Aku telah melihat begitu banyak dari mereka Ryan. Mata mereka berbinar ketika mereka melihat uang tetapi tidak seperti Amelia. Lihat saja dia... urghh.. Dia itu... Mengganggu fikiranku" Chris berkata. Ryapun paham, iya menghela nafas dan mengangguk pada Chris.
"Itu adalah hal yang sama yang terjadi padaku setelah menyentuh Anna. Tidak ada wanita yang bisa menandinginya" Ryan merasa senang karena akhirnya Chris akan menyingkirkan kehidupan kelam yang dia jalani.
"Bagaimana aku bisa membuatnya mencintaiku? Dia mengabaikanku begitu saja. Kemarin saja, dia tidak mengucapkan terima kasih saat aku memberinya tumpangan" Chris mendesah frustasi. Ryan tertawa ketika Chris mengatakan itu.
"Lihat apa yang terjadi pada Chris William. Dia wanita pertama yang kamu antarkan? " Ryan menggoda Chris yang ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah.
"Tentu saja aku benar, karena kamu benar-benar memiliki standar dalam memilih wanita. Hanya kamu tiduri, dan tidak lebih dari itu. Ehh... bukan sebuah hubungan, hanya ******* dan tidak lebih. Tidak ada tumpangan untuk mengantarkan mereka pulang, tidak ada kencan dan kamu bahkan tidak melepas seluruh pakaianmu di depan seorang wanita" Ryan semakin menggoda Chris. Mencoba memprovokasi.
"Apakah kamu pernah mencium seorang wanita yang pernah kamu tiduri? " Ryan bertanya kepada Chris karena ingin tahu. Tidak ada yang akan percaya jika Chris mengatakan dirinya belum mencium seorang wanita, tetapi Ryan percaya jika Chris akan mengakuinya.
"Tidak... Sial kamu Ryan" Ryan berdiri dari kursi dan menatap Ryan dengan wajah malas. Ryan menebak dengan benar. Chris belum pernah mencium seorang wanita.
"Jadi, bibirmu masih murni. Bukan hanya bibir... Hahhaha" Ryan semakin menggoda Chris karena itu adalah hal yang sangat menyenangkan sejak mereka masih kecil. Menggodanya adalah suatu kebahagian yang melebihi apapun.
"Kamu lebih baik tutup mulutmu, Ryan" Setelah itu Chris pergi. Ryan tertawa selama beberapa saat karena perubahan di wajah Chris.
Saat Ryan sudah berhenti tertawa, tiba-tiba Ryan teringat betapa cantiknya Anna hari ini. Senyumnya adalah sesuatu yang dicintai Ryan dalam hidupnya. Iya teringat wajah Anna ketika dia keluar dari ruangan dokter. Ryan jelas merasa Anna sedang memikirkan sesuatu. Ryan ingin mengetahuinya tapi Anna menyembunyikan semuanya dengan senyuman. Ryan tahu ini tentang dirinya dan adiknya yang sudah meninggal. Ryan menghela nafas sambil mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Atur mansion yang akan kudatangi malam ini" Ucap Ryan saat panggilan sudah tersambung. Setelahnya iya mematikan telepon tanpa mendengar jawaban.
"Tidak ada gunanya tinggal di apartemen sempit itu. Tidak ada taman, tidak ada udara segar, Ezra bahkan tidak bisa bermain dengan bebas" Gumam Ryan.
__ADS_1