Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Aku Tidak Ingin Kehilanganmu


__ADS_3


Ryan -



"Tolong jangan pukul dia Mark. hentikan" Ucap Anna. Ryan melihat istrinya menangis dan mencoba menarik Mark menjauh dari Ryan sebisa mungkin.


"Persetan.. dia tidak seharusnya menangis seperti ini. Karena hal ini akan mempengaruhi bayi dan kesehatan dirinya sendiri.


"Marianna masuk ke kamarmu. SEKARANG" teriak Mark. Anna tersentak dan melepaskan tangannya sebelum mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu menyakitinya. Tolong hentikan" Hati Ryan penuh dengan cinta dan kebanggaan karena Anna sangat mencintainya.


"Aku tidak ingin kehilanganmu, apapun yang Mark lakukan tidak mungkin bisa membuat Anna meninggalkanku" Batin Ryan.


"Lihat, dia milikku" Ryan menyeringai pada Mark lalu mendorongnya menjauh. Dia melihat Mark mengepalkan tangan, dan rahangnya. Terlihat penuh dengan kebencian dan kemarahan.


"Aku terluka dan aku ingin menyakitimu, Ketika aku tahu bahwa Anna diambil olehmu, aku kehilangan kewarasanku. Tapi yang paling menyakitkan adalah melihat air mata Ezra"


"Dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. hanya pergi ke kamar dan mengambil salah satu pakaian Anna lalu menangis. Diam-diam dia menghirup aromanya.


'Daddy, aku harus tinggal dengan mommy' Hanya itu yang Ezra katakan. Hati ku masih sakit melihat putraku seperti itu. Aku tidak ingin kehilangan kamu" Ucap Ryan kepada Anna.

__ADS_1


"Dia tidak pernah menjadi milikmu" Suara Mark terdengar sangat marah. Ryan jadi ingat pertama kali mereka bertengkar bertahun-tahun yang lalu setelah Mark mengetahui bahwa nenek Ryan terlibat tentang penculikan Anna dan Erza. Setelah bertahun-tahun mereka bertemu di sini lagi.


"Bagaimana kamu bisa mengatakan itu Mark? Lihat jari tangannya, dia memakai cincin pernikahan yang kupasang pada jarinya" Ryan menyeringai pada Mark dan melihat wajah Mark menjadi gelap karena emosi.


"Dia istriku" Ryan menatap mata Mark dan berkata dengan suara pelan. Ryan ingin pergi dengan Anna sesegera mungkin. Setelah Ryan mengatakan itu, Mark meninju wajah Ryan. Terdengar tangisan Anna lagi.


"Mungkin aku memang pantas mendapatkan ini karena menjauhkan dari adiknya, kematian Erza dan semua yang terjadi pada mereka karena keluargaku" Batin Ryan.


"Dia adalah rahim sewaanmu ya? Dia melahirkan putramu demi uang? kamu keparat, yang telah menipunya, serta adiku kehilangan nyawanya. Aku membencimu Ryan. Aku sangat membenci lebih dari yang pernah kubayangkan" Ucap Mark. Ryan menyeka darah dari mulutnya dan menatap wajah Mark, terlihat sorot rasa sakit dari mata Mark. Ryan kembali menatap Anna dan melihat dia menangis sambil menggigit bibirnya. Hati Ryan terasa kebas karena apa yang Mark katakan adalah benar. Semuanya terjadi karena keluarganya. Ryan tidak tahu apa-apa, tapi neneknya mengetahui segalanya. Bahkan dia yang membantu mereka menculik Anna dan Erza. Masa muda Anna dan Erza benar-benar hancur olehnya.


"Hentikan... tolong hentikan semua ini. Tidak bisakah kita berbicara tanpa berkelahi?" Anna mendekat lagi dan meraih lengan Mark, tapi Mark terlalu kasar untuk menghentikan tindakan Anna.


"Menjauhlah Marianna. Aku akan membunuhnya sekarang juha" Dengan itu Mark melepaskan tangan Anna dengan paksa, dan hal itu membuat Anna jatuh ke lantai.


"Ah" Jeritan Anna membuat Ryan kehilangan kewarasan, hatinya bergetar hebat.


"Kau benar-benar mendorongnya" teriak Ryan pada Mark sambil melihat darah menetes dari sudut mulutnya. Ryan merasa senang karena Mark juga memukulnya.


"Kamu tidak berhak berbicara seperti itu tentang dia Ryan. Pergi dari rumahku. Dia akan segera menceraikanmu" Jawab Mark.


"Perceraian? Tidak mungkin aku akan membiarkan itu terjadi" Ucap Ryan.


"Kita tidak akan pernah bercerai, Mark. Itu adalah keputusan orang tuamu untuk memberikannya kepadaku. Dia milikku sejak awal" Ryan melepaskan Mark dan berdiri lalu berjalan mendekati Anna.

__ADS_1


"Kamu baik-baik saja?" Ryan bertanya pada istrinya. Anna pun mengangguk pada Ryan dengan air mata dipipinya.


"Syukurlah hal itu tidak menyakitimu. Ayo pergi. Ezra sudah menunggu" Ryan menangkap pergelangan tangan dan menarik Anna ke arahnya.


"Kamu milikku, dan aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada hubungan kita" Bisik Ryan.


"Marianna kamu tidak bisa pergi kemana-mana. Bisakah kamu tetap pergi bersamanya setelah mengetahui keluarganya adalah menyebab semuanya? Saudara kita juga meninggal karena mereka" Ryan menatap Anna. Dan Annapun membalas tatapan tatapan Ryan. Ryan menguatkan hatinta dan ketakutan tiba-tiba menyelimutinya.


"Kenapa kamu tidak memberitahuku Ryan? Bukankah ini tidak adil?" Anna menarik tangannya ke belakang dan mundur beberapa langkah. Ryan merasakan perasaan sesak di dadanya saat menatap istrinya melangkah mundur menjauh darinya.


"Apakah.. dia juga mencoba meninggalkanku? " Batin Ryan.


"Aku... tidak.. aku tidak ingin kehilanganmu Ruli" Tenggorokan Ryan terasa kering. Dan perlahan dia melangkah mendekati istrinya. Anna menatap Ryan dengan mata merahnya dan menggelengkan kepala.


"Jadi kamu tahu. Sejak kapan? " Anna bertanya pada Ryan dengan air matanya keluar membasahi pipinya. Detak jantung Ryan berpacu meningkat lebih cepat serta rasa takut menguasainya.


"Saat ulang tahun Ezra" Ryan tidak ingin berbohong. Anna menatap dirinya dan bibirnya sedikit terbuka seolah-olah dia akan mengatakan sesuatu. Ryan ingin mendekati istrinya dan memeluknya, tapi sebelum itu Ryan ditarik kembali oleh Mark.


"Bajingan. Kamu tidak pantas mendapatkannya" Ryan kembali mendengar suara marah Mark dan merasakan tinju kembali mendarat di wajahnya. Tapi fikiran Ryan hanya terfokus pada tatapan penuh luka di mata Anna.


"Dia akan meninggalkanku? Tidak boleh. Ini tidak boleh terjadi" Batin Ryan.


"Mark tolong hentikan. Tidak perlu berantem" Terdengar istri Mark berkata sambil berjalan ke arah suaminya.

__ADS_1


"MARK...lepaskan dia" Ryan mendengar suara yang tak asing dan terdengar marah. Dia menoleh untuk melihat siapa yang berkata. Dan ternyata itu adalah kakek Mark. Ryan mengatupkan bibir dan menatap kakek. Kakek adalah satu-satunya orang yang memperlakukan Ryan dengan baik setelah semua yang terjadi. Dia bisa mengerti Ryan.


"Sudah bertahun-tahun Ryan" Mark melepaskan Ryan saat mendengar suara kakeknya, lalu kakek datang kepada Ryan dan tersenyum padanya. Ryan mengangguk. Dan terlihat anak kecil yang bersembunyi di belakangnya. Dia mengerutkan kening ke arahku dan dia dengan cepat membuang muka saat aku menatapnya. Pasti anak Mark.


__ADS_2