Rahim Bayaran Sang Milyarder

Rahim Bayaran Sang Milyarder
Tetap Akan Pergi


__ADS_3

"Kapan? " tanya Ryan. Dengan segera Anna ke arah mereka.


"Kita harus segera berangkat besok pagi" jawab seorang lelaki di antara mereka.


"Ryan..." Panggil Anna di saat sudah mendekat. Semua menoleh dan menatap Anna. Ryan menatap Anna sambil tersenyum. Namun Anna tidak tega untuk tidak membalas senyuman suaminya.


"Anna... Tidurlah, setelah ini aku akan menyusulmu sebentar lagi" ucap Ryan. Namun dengan cepat Anna menggeleng karena tidak mau. Dia melihat 3 orang pria yang mengenakan seragam militer berdiri disamping Ryan.


"Apa yang terjadi Kenapa mereka semua ada disini?" tanya Anna sambil meraih tangan Ryan untuk mendekat ke arahnya.


" Mohon maaf karena kami harus mengganggu istirahat Anda di tengah malam seperti ini nyonya. Ada hal penting yang harus kami bicarakan dengan Tuan Ryan" ucap salah satu dari mereka. Namun Ana merasa tidak ingin mereka membicarakan apapun dengan Ryan. Anna tidak menyukainya.


" Oh... Aku kira kamu sudah selesai berdiskusi dengan suamiku. Dan kini saatnya aku harus mengajak suami untuk beristirahat" jawab Anna. Seketika mereka bertiga menatap Anna sebentar lalu beralih menatap ke arah Ryan.


"Rulianna, aku harus pergi dengan mereka sekarang juga" Ucap Ryan. Serasa dunia Anna runtuh saat mendengar semua itu.


"Kamu tidak boleh pergi, suruh saja mereka pergi. Aku sudah mengantuk" Anna berkata dengan tersenyum. Mata biru Ryan yang indah terlihat tidak seperti biasanya. Anna merasa ingin menangis sekeras-kerasnya, namun Anna menahan agar hal itu tidak terjadi.


"Ini misi penting Anna, kita harus pergi kesana. Kamu tunggulah aku selama tiga bulan" Ryan berkata sambil memegang kedua bahu Anna.


"3 bulan... Apakah dia gila" batin Ana.

__ADS_1


"Tidak bisa. Aku tidak bisa menunggu tanpamu. Apa-apaan kamu ini. Kamu tidak boleh pergi" Anna berkata dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kalian... Carilah orang lain yang cocok untuk misi kalian itu. Jangan dia. Tolong mengertilah. Dia memiliki 2 anak kecil yang masih membutuhkan ayahnya. Jadi pergilah sekarang juga" Anna berkata sambil menatap ke arah ketiga berpakaian militer tersebut. Namun mereka menggelengkan kepala.


"Kami diminta untuk membawa pasukan Ryan Sanskara William yang tuan muda miliki beberapa tahun yang lalu. Maafkan kami. Kami mengerti perasaanmu Nyonya. Tapi tuan muda harus tetap ikut bersama kami karena ada banyak nyawa yang harus diselamatkan"Ucap seseorang lagi.


"Kenapa hanya lelakiku? Apa maksud semua ini? " Tanya Anna.


"Ryan... Kamu tidak boleh pergi dengan mereka. Bagaimana kamu bisa tega meninggalkan aku dan kedua anakmu. Raylie baru berusia 2 tahun dan Ezra baru 6 tahun" Anna menatap suaminya dan berkata. Ryan menatap istrinya sebentar lalu menghela nafas.


"Aku harus pergi Anna. Ini tentang anak-anak kecil itu" Jawab Ryan. Tanpa disadari, air mata Anna menetes dengan sendirinya. Anna tidak ingin egois, namun dia juga tidak bisa membiarkan Ryan pergi untuk sebuah misi berdarah seperti ini.


"Aku berjanji, aku akan kembali dalam waktu tiga bulan. Aku tidak berfikir jika anak-anakku akan melupakannku atau tidak ingat kepadaku" Ryan berkata sambil menarik Anna dalam pelukannya.


"Apakah dia akan benar-benar pergi? " Batin Anna.


"Tidak... Kamu tidak boleh meninggalkanku. Tolong Ryan. Jika kamu pergi, aku akan bunuh diri" Ucap Anna mengancam. Ryan menatap dirinya sambil mengerutkan keningnya.


"Rulianna... Jangan coba-coba ya. Tunggu, aku akan kembali dalam waktu tiga bulan" Ryan berkata dengan tegas dan Anna hanya memalingkan wajahnya.


"Bahkan kamu baru saja tidur denganku beberapa saat yang lalu. Bagaimana jika aku hamil? " Anna tetap ingn Ryan berada di rumah. Iya berkata sambil menghela nafas. Ryan meraih pinggang Anna.

__ADS_1


"Bahkan jika kamu hamil aku akan tetap berada di sini untukmu. Tunggu aku. Aku berjanji akan kembali setelah 3 bulan. Jangan khawatir" Ryan berkata dengan lembut sambil mencium kening Anna. Namun hal itu tetap saja tidak dapat menenangkan hati Anna. Perasaan takut kehilangan tumbuh dengan subur dalam hati Anna. Dan Anna tahu Ryan akan tetap meninggalkan Anna apapun yang terjadi.


"Jadi aku tidak bisa menghentikanmu? " Ucap Anna dengan menghela nafas berat. Ryan pun mengangguk kepadanya. Anna merasa emosinya berada di ubun-ubun saat menatap suaminya.


"Kamu pergi sekarang? " Tanya Anna. Ryan mengangguk sambil memalingkan muka dari tatapan Ryan.


"Tidak... Aku tidak ingin dia pergi. Aku takut. Bagaimana jika aku tidak bisa melihatnya lagi" Batin Anna.


"Bisakah kamu pergi besok pagi setelah Ezra dan Raylie bangun? " Tanya Anna. Ryan menatap ke arah ketiga pria disampingnya, sesaat kemudian dia mengangguk.


"Tuan, kami akan kembali kesini besok pagi pukul 06.30 pagi" Setelah itu ketiga pria berseragam militer tersebut pergi meninggalkan rumah setelah memberi tanda penghormatan kepada Ryan. Tanpa menunggu mereka pergi, Anna berlari ke lantai atas lalu masuk ke dalam kamar. Anna tidak ingin menangis. Dia menggigit bibir bawahnya begitu keras dan memaksa air matanya untuk tidak menetes. Kemudian dia merangkak naik ke tempat tidur lalu memejamkan matanya rapat-rapat.


"Rulianna..." Suara Ryan terdengar dibelakang Anna. Dan dia perlahan juga naik ke atas tempat tidur menyusul istrinya. Anna tidak menoleh ke arah Ryan. Dia hanya terdiam tanpa bersuara.


"Anna... Aku tahu kamu marah kepadaku. Aku berjanji aku akan kembali. Ini hanya tiga bulan. Sebenarnya aku juga tidak ingin pergi. Tapi misi penyelamatan ini sangat penting. Tolong jangan marah kepadaku. Aku mencintaimu" Ucap Ryan. Anna perlahan berbalik badan dan langsung memeluk Ryan, setelah itu iya membenamkan wajahnya di dada Ryan.


"Kamu lebih baik segera kembali setelah misi itu selesai. Atau aku akan tidur dengan laki-laki lain" Anna memperingatkan suaminya. Hanya itu yang bisa dia lakukan.


"Anna, jangan berani-beraninya ya kamu, atau aku akan membunuh siapa saja yang berani menyentuhmu" Anna mendengar suara marah suaminya. Dan Anna yakin jika suaminya pasti akan kembali disaat itu.


"Kalau begitu kamu harus kembali dalam waltu 3 bulan lagi. Aku memberimu waktu maksimal 3 bulan 4 hari. Kalau kamu tidak kembali, aku akan benar-benar tidur dengan lelaki lain" Setelah mengatakan itu, Anna memeluk Ryan dengan begitu erat. Iya berusaha memejamkan matanya untuk tidur. Namun hal itu sangat sulit untuk Anna. Mengingat dirinya tidak akan bisa seperti ini selama tiga bulan. Akhirnya disaat sudah benar-benar lelah, Anna tertidur. Di pagi harinya, pukul 4 pagi Anna terbangun. Iya menatap suaminya yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2