Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 10


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Hendry dan ketiga sahabatnya mengikuti ujian penaikan disekolah yang akan ia tinggalkan. "Selamat pagi" sapa guru yang mengawas di kelas tersebut.


"Pagi buk" balas mereka.


"Pagi yang cerah. Ibu berharap kalian semua dapat menjawab soal dari ini semua dan tolong jangan ada yang mencontek yah. Bisa di pahami?".


"Bisa buk" jawab mereka.


"Sekarang mari kita mulai. Tio, tolong kamu bagikan soal ini".


"Siap bu" jawab Tio segera membagikan soal ujian mereka serta lembar jawaban.


Lalu si guru tersebut bertanya, "Ada yang tidak kebagian?".


"Kami bu" jawab Hendry.


"Loh kenapa? ya sudah kamu jemput kemari".


Hendry pun langsung menjemput soal dan lembar ujiannya, kemudian ia melirik kearah Tio yang memang sengaja melewati mereka saat membagi lembar jawaban bersama ketiga sahabatnya. "Ada apa dengannya? kenapa dia tidak membagi kepada kita juga?" ujar Chan melihat kearah Tio.


"Tidak tau" jawab Hendry.


Setelah itu ujian pun berlangsung, dan seperti biasa Hendry tidak membutuhkan waktu yang lama bagi ia menyelesaikan soal ujian. "Kamu sudah selesai Hend?" tanya Chan.


"Mmmmm.. Kamu mau?".


"Tidak, kamu pikir aku tidak bisa menjawabnya" senyum Chan menunjuk otaknya.


"Syukurlah. Cepat kerjakan, aku ingin merokok".


"Hendry, kamu sudah selesai? ujian baru berlangsung selama 20 menit" tanya guru yang mengawas di ruangan mereka melihat Hendry bersantai.


"Mmmmm" jawab Hendry. "Boleh saya keluar?".


Mereka semua melirik kearah Hendry, lalu Tio menyeringai. "Tentu saja dia menyelesaikannya dengan waktu yang singkat. Dan kita semua telah dibodohi oleh mereka".


"Maksud kamu Tio?" tanya yang lainnya.


"Kalian tidak tau kalau dia dan juga ketiga sahabatnya itu telah mencuri soal ujian kita dari jauh hari kemarin".


"Apa kamu sudah gila?" geram Dafa mengepal kedua tangannya mendengar Tio.


"Gila? hahahha.. Kalian berempat yang sudah gila. Aahh, dan pantas saja kalian berempat kemarin mendapatkan nilai yang memuaskan. Ternyata kalian mencurinya".


"Yah.. Hentikan" ujar Hendry.

__ADS_1


Tio tertawa, lalu ia melihat teman satu kelasnya yang masih kebingungan. "Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa memeriksa tas mereka".


Hendry menyeringai, meskipun kemarin ia dan teman-temannya mencuri soal ujian, tapi itu mereka lakukan hanya untuk bersenang-senang saja dengan alasan supaya mereka bisa berkumpul bersama. "Mmmm.. Mari kita pastikan kalau mereka benar-benar mencuri soal ujian" ucap mereka mendekati Chan, Hendry, Abian dan Dafa.


Kemudian Chan melihat ketiga sahabatnya itu, "Yah.. Kamu tidak membawanya kan?" tanya Chan kepada Hendry.


"Hhhmmmsss.. Tidak tau, dari kemarin aku belum membuka tas ku".


"Aaiiisss.. Bagaimana ini? kenapa kamu tidak memeriksa tas mu sebelum kamu berangkat ke sekolah sih Hend?" khawatir Chan, Abian dan Dafa.


Dengan senyum sinis Tio melihat kegelisahan diwajah Chan, Abian dan Dafa. "Akhirnya kalian ketahuan" batin Tio.


"Kami menemukannya" ujar salah satu diantara mereka setelah memeriksa tas mereka berempat.


"Apa? jadi benar soal ujian kita sudah bocor?" tanya yang lainnya.


"Benar, dan aku menemukannya di tas Hendry".


"Apa? Hendry?" kaget mereka melihat Hendry sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. "Kamu benar-benar jahat Hendry, kamu tega membohongi kita semua demi mendapatkan nilai yang sempurna. Wah, luar biasa".


"Enak yah jadi orang kaya, soal ujian pun bisa berada di tangannya".


"Hentikan" ucap Hendry mencoba menahan emosi.


"Iya bu, kita tidak terima kalau seperti ini" ujar yang lainnya.


"Baiklah, kalau gitu kalian semua tenang dulu. Biar ibu yang membawa dia keruang kepala sekolah, kalian bisa lanjut ujian ok. Tio, tolong awasi mereka, kalau sudah selesai kamu langsung kumpulkan lembar jawaban kalian".


"Siap buk" jawab Tio tersenyum senang.


Lalu Hendry mengingatkan ketiga sahabatnya itu supaya tidak ikut campur, "Tapi Hend, itu semua ide kita bersama" ucap Dafa.


"Sshhuueeettt.. Lagian aku sudah di pindahkan dari sekolah ini. Kalian harus bertahan disini, jangan gara-gara aku kalian pindah lagi. Aku pergi".


"Tapi Hend" namun Hendry dengan cepat melangkahkan kedua kakinya pergi dari sana menuju ruang kelapa sekolah yang ketepatan guru BK mereka juga berada disana.


"Ada apa ini?" tanya si guru BK tersebut melihat Hendry dan guru yang mengawas di ruangannya.


"Ini pak, Hendry baru saja ketahuan mencuri soal ujian" jawab guru yang mengawas di ruangannya.


"Apa?" kaget mereka tidak percaya kalau Hendry melakukan hal tersebut. "Bagaimana bisa dia mencuri soal ujian, ibu yakin dia mencurinya?".


"Iya pak, teman satu kelasnya sendiri yang menemukan soal ujian ini di dalam tasnya. Dan juga Hendry tidak menyangkalnya".


"Apa? jadi benar ini milik kamu Hendry?" tanya si guru BK itu.

__ADS_1


"Iya pak" jawab Hendry.


"Kenapa? kenapa kau mencurinya Hendry?".


Hendry mendengus, "Saya mencurinya untuk bersenang-senang saja. Bukan berarti saya benar-benar mempelajarinya untuk mendapatkan nilai yang sempurna" jawabnya tampa berbohong.


"Apa? bersenang-senang?" tanya si guru BK mulai terpancing emosi. "Segitunya kah kamu mempermainkan soal ujian ini?".


Hendry terdiam.


"Jawab!" teriaknya.


"Maafkan saya pa..


PPPLLAAKKK...


"Kurang ajar, berani-berani ya kamu berkata untuk bersenang-senang saja. Kamu pikir kamu siapa hahh? jangan kamu pikir karna kamu anak orang kaya, kamu bisa melakukan sesuka hati mu. Sekarang juga telpon orang tua mu, kalau tidak saya akan membawa mu kekantor polisi. Cepat!" teriaknya lagi.


"Lebih baik bapak membawa saya ke kantor polisi dari pada bapak memberi tahu kedua orang tua saya" ucap Hendry.


"Dan sekarang kamu berani membuat penawaran dengan saya? buk, tolong temukan untuk saya nomor telepon kedua orang tuanya".


"Tidak usah, biar saya saja yang memanggil mereka kemari. Ibu bisa keluar" ujar si kepala sekolah mengeluarkan ponselnya.


"Baik pak" angguknya keluar dari dalam sana.


Kemudian si kepala sekolah menyuruh Hendry duduk. "Saya sudah memberitahu orang tua mu. Sebaiknya kamu bersiap-siap".


Hendry menghela nafas, ia yakin kalau Abbas akan sangat marah besar kepada dirinya yang sudah berulah kembali. "Sial, kenapa aku malah membawanya kemari?" umpat Hendry dalam hati.


Hampir 1 jam lamanya mereka menunggu disana, siswa siswa pun telah kembali masuk kedalam ruangan mereka masing-masing. "Bian, kamu yakin Hendry akan baik-baik saja? padahal ini kesalahan kita bersama" ujar Dafa tidak bisa tenang begitu Hendry pergi meninggalkan mereka.


"Aku juga tidak tau, kamu dengar sendiri tadi apa yang Hendry ucapkan kepada kita".


"Iya, tapi kalau seperti ini aku malah terlihat seperti pengecut melihat sahabat sendiri masuk kedalam perangkat seorang diri. Padahal dia tidak sendiri".


"Lalu apa yang akan kita lakukan untuk menolongnya Daf?" tanya Chan merasa tidak terima jika hanya Hendry saja yang menerima hukuman.


"Kita harus bersamanya. Ayo, mari kita katakan kalau kita bertiga juga ikut melakukan hal konyol ini" jawab Abian.


"Ayo" angguk Dafa dan Chan bangkit berdiri, namun guru yang mengawas di ruangan mereka pun telah tiba disana.


"Kenapa kalian berdiri? ayo duduk" Dafa melirik Abian, "Kalian tidak mendengarkan ibu?".


"Maafkan kami buk, kami ada urusan sebentar" jawab Abian langsung keluar dari sana bersama dengan Chan dan Dafa.

__ADS_1


__ADS_2