
3 hari kemudian, akhirnya Dina membuka mata melihat Abbas, Hendry dan Afia berada di dekatnya. "Papa?".
"Iya ma. Ini papa" angguk Abbas tersenyum sedih. "Terima kasih ma, terima kasih banyak sudah mau membuka mata kembali".
"Maafkan mama pa. Karna mama papa jadi menangis seperti ini".
"Papa juga minta maaf ma".
Kemudian Dina melirik kearah Hendry yang berada di sebelah Abbas, "Kamu benar-benar tidak merindukan mama Hendry?".
Hendry kembali meneteskan air matanya, "Aku merindukan mama, aku sangat merindukan mama. Maafkan aku ma".
"Mmmmm.. Mama juga minta maaf sayang. Maafkan mama sudah menjadi ibu yang egois" angguk Dina merentangkan kedua tangannya. "Kemarilah sayang, mama ingin memeluk mu" Hendry pun langsung memeluknya.
Setelah itu ia melihat Afia yang sedari tadi tersenyum kepadanya, lalu Hendry memperkenalkan Afia dan menceritakan semua tentangnya dan yang dia alami saat bersama dengan wanita pujaan hatinya itu.
"Hallo Tante. Nama ku Afia. Senang bertemu dengan Tante hehehehe".
Dina tersenyum, "Kamu cantik sekali. Sudah berapa bulan kandungan kamu?".
"Baru melewati tiga bulan Tante".
"Mmmmm, Apa selama ini Hendry memperlakukan kamu dengan baik?".
"Iya Tante. Dia sangat baik dan perhatian terhadap aku dan juga bayi kami Tante".
"Lalu bagaimana dengan sekolah kalian berdua?".
"Semua berjalan dengan baik Tante".
"Baguslah kalau gitu. Terus, apa selama ini kamu tau siapa Hendry yang sebenarnya?".
Afia terdiam, ia melihat kearah Hendry yang mengangguk. "Sebelumnya aku tidak tau siapa Hendry yang sebenarnya Tante. Yang aku tau Hendry anak orang biasa sama seperti dengan ku".
"Oh begitu. Jadi sekarang kamu sudah tau dia siapa?".
Dan lagi-lagi Afia melirik kearah Hendry, "I-iya Tante. Kemarin Hendry memberitahu aku yang sebenarnya".
"Kamu tidak terkejut?".
"Hhhmm? Akh, maaf Tante. Iya, aku sangat terkejut sekali sampai aku tidak bisa mempercayainya apa yang Hendry katakan. Tapi begitu Hendry menunjukkan buktinya kalau dia benar-benar putra dari keluarga Mapolo baru aku bisa mempercayainya Tante dan perusahaan Mapolo adalah tempat aku bekerja".
__ADS_1
"Maksudnya? Kamu kerja di Mapolo group?".
"Iya Tante. Tapi aku bekerja di bagian kebersihan cleaning servis. Dan aku sudah lama bekerja disana, aku mengenal tuan Abbas dan juga Tante".
"Oh, terima kasih ya sudah mau menjaga Hendry ku selama ini. Karna ujian nasional sudah selesai, kamu mau kan tinggal dirumah kami?".
"Maksudnya Tante aku tinggal disana sama Hendry gitu?".
"Iya kamu tinggal di istana rumah milik keluarga Mapolo. Kamu bersedia kan?".
Afia lalu tertawa kecil, ia terlihat senang sekali sampai membuat Hendry terlihat gemas kepada kekasih mungilnya itu, "Mau tante, aku mau sekali. Tapi sebelumnya, aku mau Hendry izin dulu kepada ibu ku. Boleh kan Tante?".
"Iya boleh. Sekarang juga kalian pergilah. Kami akan menunggu dirumah".
"Iya Tante. Ayo Hendry, kita izin dulu sama ibu ku...
"Tunggu dulu" tahan Dina. "Tapi kamu tidak boleh memberitahu keluarga mu kalau Hendry anak dari keluarga Mapolo. Boleh kamu janji itu?".
"Iya Tante, aku tidak akan memberitahu mereka. Kalau gitu kamu pergi dulu ya tante".
"Iya, kalian berdua hati-hati dijalan".
Setelah itu Afia dan Hendry langsung pergi meninggalkan ruangan Dina. Dan Afia tiada henti-hentinya tersenyum lebar, ia benar-benar sangat bahagia sekali akhirnya keluarga Hendry mau menerimanya.
"Mereka sangat baik sekali sayang. Aku-nya saja yang sering melawan perintah mereka. Nanti juga mereka akan lebih dekat lagi dengan mu sayang".
"Hehehehe.. Iya. Itu artinya kamu bisa lanjut kuliah dong Hendry" ucap Afia membuat Hendry menghentikan kedua langkah kakinya. "Kenapa? Aku setuju kok kalau kamu lanjut kuliah. Lagian kamu memang harus lanjut kuliah untuk mencapai cita-cita mu. Kalau aku sampai disini saja Hendry, aku sudah cape belajar terus tapi enggak mau pintar-pintar hihihihihi".
Hendry tersenyum geleng kepala, "Kamu yakin enggak mau kuliah?".
"Mmmm, kamu saja yang kuliah Hendry".
.
Hingga kini mereka telah tiba dirumah, namun Afia tidak menemukan satu orang pun di dalam rumah tersebut, baik itu Naura dan ibunya. "Kemana perginya ibu? Biasanya jam segini ini ibu sudah pulang kerja?" gumam Afia.
"Kenapa Fia?" tanya Hendry.
"Ibu belum pulang Hend. Padahal ini sudah hampir jam 6 sore.. Oo, itu ibu sudah datang. Ibu" panggilannya.
Kirana lalu berjalan mendekati putrinya itu, ia melihat Afia dari atas sampai bawah untuk memastikan kalau putrinya itu baik-baik saja.
__ADS_1
"Aku baik-baik saja Bu. Tapi kenapa ibu lama sekali pulang? Tumben tidak seperti biasanya Bu".
"Iya, tadi jalanan sangat macet sekali. Ayo duduk, ibu akan membuatkan teh manis untuk kalian berdua".
"Iya Bu terima kasih" angguk Afia membawa Hendry duduk diatas kursi. Ia kemudian menyusul ibunya itu ke dalam dapur, "Bu, Afia mau bicara sama ibu".
Kirana melihatnya, perasaannya tiba-tiba tidak enak saat Afia berkata ada sesuatu hal penting ingin ia bicarakan.
"Hey, ibu jangan melihat ku seperti ini. Aku tidak akan kemana-mana, aku akan tetap disini bersama dengan ibu" Afia memeluknya. "Tapi...
"Tapi apa Fia?".
"Aku dan Hendry akan pindah rumah Bu ke kota. Tidak apa-apa kan Bu? Afia berjanji akan sering mengunjungi ibu dan tempat kerja ibu juga kan ada di kota".
"Kenapa harus pindah Fia? Kenapa tidak disini saja? Rumah kontrakan kalian berdua bisa lebih murah dan sisanya bisa kalian tabung untuk biaya lahiran kamu nanti Fia. Kamu tau sendiri kan kalau biaya rumah kontrakan di kota itu sangat mahal?".
"Iya Bu Fia tau. Tapi ibu tidak usah khawatir, kami bisa...
"Ngapain kamu disini?" potong Naura yang baru pulang dari kampus. "Sedang apa mereka disini Bu?".
"Naura!" tegur ibunya. "Kamu baru pulang tapi sudah marah-marah seperti ini".
"Siapa yang marah Bu? Aku sama sekali tidak marah, aku hanya tidak suka saja melihat kedua orang ini ada dirumah kita" jawab Naura dengan sombongnya.
"Astaga Naura...
"Udah akh, lebih baik aku masuk kamar saja dari pada melihat mereka".
Kemudian ibunya itu menghela nafas berat melihat Naura yang benar-benar sangat membenci adiknya itu. Padahal Afia juga yang selalu membantu biaya kuliahnya meskipun Naura bersiap kurang ajah seperti ini kepada dirinya.
"Afia, tolong maafkan kakak kamu yah. Mulai hari ini, berhentilah membantu biaya kuliah kakak kamu, ibu masih sanggup membayar biaya kuliahnya".
"Tapi Bu, bagaimana dengan hutang yang kemarin ayah pinjam? Pakai uang apa ibu akan membayarnya kalau Afia...
"Sudah, mulai dari sekarang kamu berhenti memikirkan itu semua. Ibu hanya ingin kamu fokus dengan kandungan mu saja".
"Tidak Bu.. Apapun yang terjadi aku akan tetap membantu ibu".
"Jangan Fia. Kamu tidak kasihan melihat Hendry yang banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup kalian berdua? Kasihan dia".
"Hhhmmss.. Jadi ibu benar-benar tidak mau lagi menerima bantuan Afia Bu?".
__ADS_1
"Iya nak".
"Ya sudah kalau gitu. Tapi kalau ibu butuh uang, ibu jangan segan-segan beritahu Afia yah".