Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 51


__ADS_3

Begitu Afia dan Hendry meninggalkan rumah itu, Kirana yang melihat kepergian putrinya itu hanya bisa menangis senggugukan tidak mampu menahan kesedihannya.


"Kamu benar-benar bisa melihat adik mu seperti ini Naura?".


"Loh, kok ibu kok jadi menyalahkan aku? Ya itukan salah dia sendiri sudah berani melakukan yang tidak seharusnya dia lakukan. Biarkan saja bu, paling Afia nanti kembali pulang setelah dia menyadari apa yang telah dia lakukan".


Setelah itu Naura pergi meninggalkannya.


Sedangkan Hendry dan Afia yang baru tiba di kontrakan. Hendry lalu membawa Afia duduk diatas tempat tidur sambil menggenggam kedua tangannya.


"Fia, ujian sudah di depan mata kita. Apapun yang terjadi, suatu saat nanti aku akan membuat mu bahagia. Aku mohon bersabar lah, begitu kita lulus aku akan mencari pekerjaan yang layak".


"Mmmmmm" angguk Afia tersenyum.


_


_


Hingga sekarang ujian nasional telah di depan mata, Hendry dan Afia sedang bersiap-siap berangkat ke sekolah. "Kamu sudah selesai sayang?" tanya Hendry.


"Sudah Hend. Bagaimana dengan mu?".


"Mmmmm" Hendry lalu berjongkok di hadapan Afia melihat perutnya yang sudah membuncit. "Anak Daddy, hari ini Daddy dan Mommy mu akan segera mengikuti ujian nasional. Kamu jangan nakal yah, biarkan Mommy belajar dengan tenang" Hendry tersenyum dan tak lupa mencium keningnya Afia.


"Kita berangkat Hend?".


"Ayo".


Kedua orang itu pun langsung berangkat ke sekolah, dan sesampainya disana, mata para siswa siswi tiba-tiba melihat kearah perut Afia yang tampak membuncit sambil berbisik-bisik sana kemari.


"Hend, sepertinya mereka sedang membicarakan aku".


"Biarkan saja sayang. Kamu tidak usah pedulikan mereka".


Hingga saat mereka tiba di depan pintu ruang ujian, Hendry melihat ketiga sahabatnya itu berada disana. "Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanyanya heran.


"Kamu tebak sendiri Handry bagaimana bisa kami ada disini?" balas Chan tersenyum.


Abian lalu mendekatinya, "Kami hanya singgah sebentar saja untuk memastikan kamu kalau kalian berdua benar-benar ikut ujian. Kalau gitu kami pergi dulu, pulang sekolah nanti aku ingin mengajak kalian makan siang bersama".

__ADS_1


Hendry tersenyum, "Mmmmm" angguknya. Ketiga sahabatnya itu pergi meninggalkan mereka berdua, ia lalu melirik kearah Afia ya sedang tersenyum kepadanya. "Kenapa?".


"Hhhmmm?".


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu?".


Afia lalu tertawa memukul lengannya, "Kamu ada-ada saja. Emang kenapa kalau aku tersenyum?".


"Tidak. Ayo masuk" jawab Hendry.


Hingga jam ujian telah selesai, Hendry kemudian keluar sebentar meninggalkan Afia di dalam kelas. Lalu salah satu wanita itu mendekatinya, "Yah, kamu dari kelas sebelah kan?".


Afia tersenyum mengangguk, "Iya, kenapa?".


"Kalian berdua pacaran yah?".


Dan lagi-lagi Afia tersenyum mengangguk.


"Oh pantas saja".


"Emang kenapa kalian bertanya seperti itu?" tanya Afia penasaran.


Afia pun langsung terdiam saat mereka mengolok-olok dirinya berkata kalau jadi perempuan itu jangan terlalu murahan.


"Sebaiknya kalian pergi saja. Aku tidak mau berurusan dengan kalian" ucap Afia menyambar tasnya. Namun salah satu wanita itu menahan pergelangan tangannya, "Lepaskan enggak?".


"Kamu mau kemana?" tawa mereka melihat kedua mata Afia memerah menahan tangis. "Jangan menangis, kami tidak melakukan apa-apa kepada mu. Iya enggak teman-teman?".


"Iya tuh, masa gitu doang kamu langsung menangis? Huuuhhh.. Cengeng banget sih hahahahah" tawa mereka kembali.


Afia lalu melap air matanya, "Minggir enggak? Kalau kalian tidak minggir...


"Afia?" panggil Hendry baru kembali ke dalam kelas tersebut. "Ada apa ini?" ia lalu melihat pergelangan tangan Afia di cekal oleh si wanita yang merasa paling iya di dalam kelas itu. "Kamu siapa berani menyentuh tangan kekasih ku?".


Ia tersenyum mengangkat kedua bahunya, "Menurut mu siapa aku hhhmm? Kamu tidak tau siapa putri dari kepala sekolah disini?".


"Oh.. Jadi karna kamu putri kepala sekolah disini seenak mu saja menyentuhnya?".


Ia tertawa kembali, "Tidak, aku hanya ingin berteman baik saja dengan kekasih mu ini" ia pun melirik Afia dengan sinis. "Sepertinya kekasih mu sedang hamil? Apa aku benar?".

__ADS_1


"Lalu apa urusannya dengan mu?".


"Tidak ada sih. Hanya saja nama baik sekolah kita jadi buruk hanya karna ulah kalian berdua" jawabnya. "Atau kalian berdua tidak tau malu lagi? Atau urat ******** kalian berdua sudah putus? Wah.. Aku tidak habis pikir".


Hendry melangkah mendekatinya dengan mata tajam, "Itu bukan urusan kamu. Urus saja diri mu sendiri apa kamu sudah benar atau tidak. Minggir!" Hendry lalu menyambar tasnya. Setelah itu ia membawa Afia pergi dari sana.


Begitu berada di halte bus, Afia masih saja menangis meskipun Hendry sudah memeluk tubuhnya.


"Maafkan aku sayang. Ini semua salah ku. Jangan menangis lagi yah, aku mohon. Bayi kita nanti jadi ikutan sedih".


Hingga akhirnya Afia berhenti, ia menatap Hendry dengan tatapan sendu. "Tidak, bukan kamu yang salah Hendry. Aku yang salah tidak bisa melawan mereka".


"Sekarang kamu jangan menangis lagi yah".


"Mmmmm".


.


Sesampainya mereka di restoran yang Chan janjikan tadi. Abian, Dafa dan Chan sudah menunggu disana dengan beberapa hidangan yang sangat lezat tersaji diatas meja.


"Sorry kami datang terlambat. Apa kalian sudah menunggu lama?" tanya Hendry ikutan bergabung duduk disana bersama dengan mereka.


"Masih 20 menit lamanya. Tapi kenapa dengan wajah kekasih mu ini? Seperti habis menangis?" tanya Abian. "Atau kamu melukai dia Hend?".


Afia tersenyum tipis, "Tidak, aku tadi hanya kelilipan saja sampai membuat aku mengeluarkan air mata".


"Kamu yakin bukan karna Hendry memarahi mu atau yang lain?".


"Iya".


Lalu Dafa menyuruh mereka untuk segera menikmati makanan yang berada diatas meja itu. Dan dengan senangnya, semenjak Afia hamil anaknya Hendry. Entah kenapa ia selalu bersemangat setiap kali dia melihat makanan, apalagi makanan ini makanan yang sangat ia sukai.


Tetapi berbeda halnya dengan Hendry, setiap kali ia melihat Afia tersenyum bahagia melihat makanan yang setiap kali ia bawa membuat hatinya terpukul. Karna makanan yang selalu ia bawa adalah makanan yang berada di pinggir jalan yang harganya sangat murah dan juga kebersihan dari makanan itu tidak bisa ia jamin.


"Ada apa Hendry?" tanya Dafa. "Kenapa kamu hanya memandanginya saja?".


"Tidak, aku hanya merasa sudah sangat lama sekali aku tidak pernah menikmati hidangan semewah ini lagi. Terima kasih banyak sudah mengajak kami berdua makan siang bersama".


"Hey bro.. Tidak usah berkata seperti itu. Kamu membuat selera makan ku jadi berkurang" ujar Abian kecewa kepada dirinya sendiri telah melupakan Hendry yang selama ini selalu bersama dengan mereka. "Bro, kita minta maaf sudah tidak punya banyak waktu lagi bersama".

__ADS_1


Kedua orang itu pun ikutan menyadari kalau selama ini mereka sudah sangat jarang berkumpul bersama seperti sedia kala.


__ADS_2