
Sayangnya Freya langsung menahan pergelangan tangan Afia membuat ia terpaksa menghentikan kedua langkah kakinya. "Kamu mau kemana? Aku belum selesai bicara kamu sudah mau langsung pergi begitu saja. Lihat aku".
Afia memutar tubuhnya, ia melihat Freya tersenyum sinis kepadanya. "A-ada apa? Tolong lepaskan aku".
"Aku ingin bicara dengan mu. Duduklah dulu".
"Maaf, aku harus pergi. Sebaiknya kamu bicara... Aakkhhh" Afia kesakitan, Freya yang tidak suka melihat ketidaksopanan Afia membuat ia menarik dagunya dengan sekuat tenaga. "Apa yang kamu lakukan?".
"Kamu bertanya apa yang aku lakukan hhhmm? Kamu tidak tau kalau aku ini keponakan dari keluarga Mapolo? Asal kamu tau yah, mau sampai kapan pun kamu tidak akan pernah berhasil mendapat Hendry dari ku".
Afia terdiam, ia menundukkan kepala itu kembali di hadapan Freya. "Maaf, aku tidak mengerti maksud kam...
"Kamu kamu kamu kamu.. Kamu pikir kamu siapa haahhh memanggil ku dengan sebutan kamu?".
"Akh, maafkan saya nona" jawab Afia langsung. Kemudian Freya menarik nafas panjang, ia terlihat sangat marah kepada Afia yang terus-menerus menundukkan kepala di hadapannya.
"Yah, asal kamu tau ya setelah apa yang kamu lakukan kepada Hendry. Aku sama sekali tidak percaya kalau bayi yang kamu kandung itu adakah anak Hendry. Kamu pasti berbohong kan? Ayo jawab".
Afia menggeleng kepala, "Tidak nona, saya tidak berbohong dengan bayi ini. Saya sama sekali tidak berbohong".
"Benarkah?".
"Iya nona saya tidak berbohong".
"Baiklah kalau begitu, besok kamu ikut aku untuk memastikan kalau bayi itu adalah anak Hendry".
"Apa?" kaget Afia mengangkat kepala. "Maksud nona bagaimana?".
"Besok kamu harus memeriksanya ke rumah sakit" jawab Freya. Setelah itu ia pergi meninggalkannya. Lalu Afia menjatuhkan tubuhnya diatas tanah yang dingin, air matanya mengalir di kedua pipi mulus Afia sembari meremas berumputan.
.
Besok paginya seperti yang Freya ucapakan, ia menyuruh Siska membawa Afia dari dalam kamarnya. Sedangkan ia menunggu di depan mobil bersama dengan Dina yang sudah Freya minta izin kepadanya untuk memastikan kalau bayi itu adalah anak Hendry karena Freya sama sekali tidak mempercayai kalau bayi itu darah daging Hendry.
Begitu Afia tiba disana, mereka menyuruh Afia masuk ke dalam mobil. Lalu kedua orang itu menyusulnya masuk ke dalam sambil menyuruh si supir segera membawa kerumah sakit milik keluarga Mapolo.
Di dalam mobil Afia melihat keluar jendela kaca, namun tatapannya penuh dengan kekosongan. Yang ingin dia lakukan sekarang adalah memberitahu Hendry mengenai apa yang sudah keluarganya lakukan kepadanya termasuk Freya. Tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah.
__ADS_1
Hingga kini mereka sudah tiba dirumah sakit, Dina membawa Afia memasuki ruangan khusus ibu hamil. Setelah itu si dokter yang mereka temui melihat Afia dari atas sampai bawah dengan wajah sedih.
"Ada yang bisa saya bantu dok?" tanyanya.
"Iya, saya mau kamu memeriksanya terlebih dahulu apakah dia benar-benar hamil atau tidak".
"Baik dok".
Sedangkan Afia yang mendengar perkataan Dina membuat kedua matanya langsung berkaca-kaca tidak percaya kalau Dina akan berkata seperti itu di hadapannya dengan berkata kalau dia benar-benar hamil atau tidak.
"Mari ikut saya" ucap si dokter.
Afia melap air matanya, ia berjalan mengikuti dari belakang langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur seperti perkataan si sang dokter.
"Baiklah, kita akan memeriksa. Tunggu sebentar yah" si dokter pun mengoleskan sebuah cairan di perut Afia yang membuncit dengan lembut, kemudian Afia merasakan sebuah benda memutar-mutar di atas perutnya.
"Bagaimana dok?" tanya Freya.
Si dokter lalu tersenyum melihat mereka secara bergantian, "Dia benar-benar hamil, bayinya seorang anak laki-laki. Dan seperti yang saya lihat, perkembagan janin ini begitu sangat sempurna" jawab si dokter melihat Afia. "Selamat yah, bayi kamu sangat...
"Jadi dia benar-benar hamil dok?" tanya Freya kembali tidak percaya.
"Kamu ikut saya" jawab Dina.
Tanpa menolak permintaan Dina, ia pun segera mengikuti dari belakang. "Ada apa dok?".
"Apakah di usia kandungan ya yang seperti ini sudah bisa melakukan tes DNA? Saya ingin memastikan kalau bayi yang dia kandung itu adalah bayi putra ku. Karna wanita itu baru saja mengakui kalau putra ku menghamili dia".
Si dokter sempat terkejut, tapi setelah itu ia mengangguk. "Bisa dok, tapi apakah ibu dari bayi itu mau melakukan tes DNA di usia kandungan seperti ini? Saya takut pasien tidak mau dok".
"Kamu tenang saja, lakukan saja seperti yang saya perintahkan. Karna itu saya mau kamu melakukannya sekarang juga".
"Baiklah dok".
Mereka masuk kembali ke dalam ruangan itu, Dina melihat Afia menatapnya dengan tatapan kosong seperti sedang berkata kalau dia tidak mau melakukan hal konyol tersebut. Namun sayangnya, ia tidak bisa melarang Dina untuk tidak melakukan tes DNA.
"Anak ku, maafkan ibu mu ini yang tidak bisa melakukan apa-apa. Maafkan ibu anak ku".
__ADS_1
Afia lalu di bawa kesebuah ruangan yang tidak ia tau ruangan apa itu, kemudian si suster menyuntik dirinya, tidak menunggu lama, ia merasa ngantuk hingga akhirnya ia tertidur dan tidak tau apa lagi yang terjadi kepadanya.
_
Sore harinya Afia membuka mata, ia melihat keatas langit-langit kamar itu dengan mata samar(Berkunang-kunang).
"Aku dimana?" Ia menyentuh perutnya, ia masih merasakan perutnya menonjol, itu artinya bayinya baik-baik saja meskipun ia sedikit merasakan kram di bagian sana.
"Ya Tuhan apa yang terjadi kepada ku? Kenapa aku tidak melihat Tante Dina disini atau pun..
Ceklek!
"Kamu sudah sadar?".
Freya berjalan mendekatinya, ia melihat Afia telah membuka kedua matanya. "Kamu baik-baik saja?".
"Mmmm, saya baik-baik saja nona. Tapi saya merasa sakit di bagian sini. Saya takut terjadi sesuatu kepada bayi ku. Apa bayi saya baik-baik saja?".
Freya tertawa, "Kamu kok nanya saya? Yah kamu tanya sendiri kepada dokter yang sudah mengoperasi mu".
"Apa?".
"Kenapa?".
"Tolong jawab pertanyaan ku, apakah bayi ku baik-baik saja?" kedua mata Afia langsung menetes air mata. "Aku mohon tolong katakan kepada ku kalau bayi ku baik-baik saja hiks.. hiks.. hiks...".
"Ck" Freya berdecak kesal. Setelah itu ia pergi meninggalkan Afia dari pada ia harus mendengar suara tangisannya.
Afia lalu mencoba mencari keberadaan ponselnya, kali ini ia benar-benar sangat marah kepada ibu dan saudara Hendry yang sudah memperlakukan dirinya seperti ini. Namun sayangnya, ia tidak menemukan ponsel itu.
Afia menuruni tempat tidur, ia berjalan membawa infusnya keluar dari dalam kamar mencari keberadaan salah satu perawat disana untuk meminjam ponsel mereka tanpa peduli dengan rasa sakit yang ia rasa.
"Permisi, bisakah kamu meminjamkan ponsel mu sebentar saja kepada ku?" tanya Afia.
Si perawat itu pun melihat Afia, ia pun mengeluarkan ponselnya dari dalam saku memberikan di hadapannya.
"Terima kasih, aku memakainya hanya sebentar saja".
__ADS_1
DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT....