Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 47


__ADS_3

Afia lalu menggenggam erat pergelangan tangan Hendry sambil menatapnya dengan mata sendu. "Kamu tidak usah mendengarkan apa yang barusan kak Naura katakan yah Hendry. Sampai kapan pun aku akan selalu mencintai mu".


"Jangan khawatir Fia. Aku tidak akan terpengaruh".


"Terima kasih Hendry".


"Kalau gitu aku pulang dulu yah. Besok pagi aku akan kemari menjemput mu".


"Iya" angguk Afia.


Seperginya Hendry dari rumah itu, Afia masuk kembali kedalam melihat ibunya duduk seorang diri diatas sofa dengan nafas berat membuat ia merasa sangat bersalah.


"Ibu, maafkan Afia yah sudah menjadi anak yang..


"Jangan berkata seperti itu Fia. Ibu tidak pernah menyalahkan kamu Nak. Sekarang kamu masuklah, besok kamu harus berangkat sekolah".


"Iya Bu. Tapi Afia tidak bakalan bisa tidur sebelum Afia melihat ibu masuk ke dalam kamar duluan".


Larasati melihatnya, "Tidak apa-apa, kamu istirahat lah duluan. Jangan khawatirkan ibu".


"Afia sudah bilang Bu kalau Afia tidak akan masuk ke dalam kamar sebelum ibu masuk duluan".


"Ya sudah" ucap Larasati bangkit berdiri dari atas sofa menuju kamarnya. Begitu juga dengan Afia, ia pun segera memasuki kamarnya melihat Naura sedang berkomunikasi dengan kekasihnya.


"Selamat malam kak".


"Mmmmm" balas Naura dengan gumaman.


Sedangkan Hendry yang baru selesai membersihkan tubuhnya. Ia terlihat lelah sekali membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dan pikirannya selalu tertuju kepada bayi yang berada di dalam kandungan Afia, ia harus bagaimana? Apa yang harus ia lakukan?.


DDDDRRRTTT... DDDDRRRTTT..


Hendry lalu menyambar ponselnya, ia melihat ibunya lah orang yang baru saja menghubunginya itu. "Iya ma?" jawab Hendry.


"Kamu lagi dimana sayang? Mama sangat merindukan kamu. Kemarin mama dengar kalau kamu..


"Hahahhaha" potong Hendry tertawa. "Kemarin Dafa kecelakaan ma makanya aku berada disana".


"Mama tau. Tapi katanya kamu memesan satu kamar eksekutif. Ayo jujur sama mama Hendry, siapa wanita itu? Apa dia kekasih mu?".

__ADS_1


Hendry kemudian memejamkan kedua matanya, "Ma, bisakah besok siang kita bertemu? Ada hal penting yang ingin Hendry bicara sama mama".


"Sepertinya sesuatu yang sangat penting sekali. Baiklah, mama akan menunggumu di restoran xx".


"Iya ma" Hendry lalu membaringkan tubuhnya kembali, tidak ada cara lain lagi selain memberitahu ibunya yang sebenarnya. Menurut dia itu jauh lebih baik dari pada akhirnya nanti semakin bertambah parah.


.


Esok pagi harinya ia telah berada di depan teras rumah Afia menunggu berangkat sekolah. Namun yang keluar malah ibunya Afia, "Ekh nak Hendry!" senyumnya.


"Iya bibi. Afia ya sedang apa bibi?".


"Oh Afia lagi sarapan nak Hendry. Ayo masuk" ajak ya membawa Hendry masuk ke dalam rumah tersebut melihat Afia tengah menikmati sarapan bersama dengan sang kakak yang tak lain adalah Naura.


"Selama pagi Afia" Senyum Hendry kepadanya dan juga kepada Naura yang sedang melihatnya dengan tatapan sinis.


"Pagi juga Hendry. Kamu duduk disini ajah di samping aku hehehhehe".


"Mmmmm".


Lalu Larasati memberikan sarapan paginya di hadapan Hendry. Dengan senangnya, Hendry tidak lupa mengucapkan terimakasih kasih banyak sudah mau repot-repot. Tetapi Naura yang sangat tidak menyukainya, ia tanpa menjaga perasaan orang lain langsung berkata.


"Aku tidak perduli kak" balas Afia dengan santai. "Hendry, kamu mau hidup miskin atau kaya aku akan tetap setia sama kamu dan menua nantinya bersama dengan mu. Jadi kamu tidak usah dengarkan apa kata orang lain ok".


"Iya sayang. Dan aku berjanji akan membuat mu satu-satunya wanita terbahagia di dunia ini" angguk Hendry.


mendengar perkataan Hendry yang begitu sangat menyakinkan. Afia dan ibunya tertawa senang, berbeda halnya dengan Naura yang malah pergi begitu saja menyudahi sarapan paginya.


"Naura pamit duluan pergi Bu" ucapnya.


"Iya Nak, kamu hati-hati dijalan yah".


"Mmmmmm".


Tidak lama lagi, Afia dan Hendry pun selesai menikmati sarapan pagi mereka berdua. Afia kemudian menyalim tangan sang ibu, namun Hendry yang masih berdiri di posisinya membuat Afia menyuruh Hendry juga ikutan menyalim tangan ibunya. Tampa menolak, Hendry pun segera melakukan seperti yang baru saja Afia lakukan.


"Kalau gitu kami berangkat dulu ya Bu".


"Iya nak, kalian berdua hati-hati di jalan".

__ADS_1


"Iya Bu".


_


_


Di kediaman keluarga Mapolo, Dina memberitahu suaminya itu kalau siang nanti ia akan bertemu dengan putranya yang tiba-tiba mengajaknya bertemu.


Abbas mengangguk.


"Papa merasa aneh tidak? Kenapa Hendry tiba-tiba ingin mengajak mama bertemu sedangkan selama ini Hendry sangat malas kalau sudah mama mengajak Hendry bertemu. Tapi ini dia sendiri loh pa yang ngajak mama dan itu juga Hendry ingin bicara mengenai hal serius. Apa menurut papa ini benar-benar tidak aneh?".


"Ya sudah mama dengarkan ajah dulu nanti apa yang ingin anak itu bicarakan".


"Iya sih pa. Cuman mama merasa ada sesuatu yang aneh gitu. Perasaan mama juga jadi tidak enak. Terus pa, bagaimana nantinya kalau sesuatu yang tidak kita inginkan Hendry beritahu. Apa yang harus kita lakukan Pa?".


"Kan papa sudah bilang ma. Dengarkan ajah dulu apa yang ingin Hendry bicarakan".


"Iya pa".


.


Dirumah sakit, Dini bukannya bekerja. Ia masih kepikiran sambil menebak-nebak sesuatu hal penting apa yang ingin Hendry bicara kepadanya. Tidak mungkin mengenai hal uang? atau hal yang lain yang berbaur dengan hal uang. Lalu apa?.


Dina kemudian melirik jam tangannya, jam telah menunjukkan pukul 11 siang. Ia pun segera bersiap-siap menuju restoran tersebut tempat ia membuat perjanjian kepada Hendry.


"Hendry kamu mau kemana? Kamu enggak kerja hari ini?" tanya Afia.


"Hari ini aku enggak kerja sayang. Kamu juga, kamu dirumah ajah istirahat yah. Aku enggak mau terjadi apa-apa dengan mu dan juga bayi kita".


"Kamu sudah gila Hendry. Kalau aku enggak kerja mau makan apa nanti aku dan anak kita? Ya sudah kalau kamu enggak kerja. Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu kerjakan. Enggak apa-apa aku berangkat sendiri".


"Aku sudah bilang kamu tidak usah kerja sayang. Biar aku saja yang mencari uang untuk kebutuhan kamu dan juga calon bayi kita".


"Kamu terlalu banyak bicara Hendry. Sudah sana pergi, aku berangkat kerja dulu. Akh iya, kalau nanti kamu pulang cepat jangan lupa datang menjemput ku yah. Aku akan menunggumu ok?".


"Tapi Fia..


"Tidak ada tapi-tapian Hendry. Aku berangkat dulu" Afia langsung pergi meninggalkannya menuju halte bus tempat ia selama ini menunggu.

__ADS_1


__ADS_2