
Matahari kembali terbit, jam telah menunjukkan pukul 7 pagi dan tak seorang yang datang mengetuk pintu kamar Afia untuk membangunkan dirinya seperti biasanya hingga akhirnya Afia terbangun sendiri. Ia menuruni tempat tidur, lalu memasuki kamar mandi membasuh wajahnya sambil memperhatikan di depan pantulan cermin.
"Aneh, tumben Siska tidak menggedor-gedor pintu kamar ku? Biasanya jam 6 pagi dia sudah ribut sana sini. Tapi ini, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 7:37 menit".
Afia segera meninggalkan kamar mandi dan tidak lupa melap seluruh wajahnya sebelum ia keluar dari dalam kamar. Kemudian Afia melihat beberapa para pelayan dirumah itu tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Hallo, selamat pagi" ucap Afia menyapa.
Namun tidak ada balasan dari mereka. Setelah itu Afia berjalan memasuki dapur, ia melihat pelayan disana juga sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
"Selamat pagi semuanya" sapa Afia lagi dengan senyum ramah. "Ada yang bisa aku bantu?".
Lalu salah satu pelayan itu melihatnya, ia langsung berjalan mendekati Afia dan berkata. "Tidak ada yang perlu kamu bantu, sebaiknya kamu pergi saja dari pada harus menganggu kami".
Afia mengernyitkan dahi, ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi kepada mereka yang tiba-tiba bersikap seperti ini. "Maaf, aku ingin bertanya kenapa kalian jadi seperti ini kepada ku? Bukankah selama ini kalian selalu menyuruh ku mengerjakan apa yang harus aku kerjakan?".
"Apa kamu tidak mendengar ku?" si pelayan tersebut mulai terlihat kesal.
Afia mendengus, ia melihat mereka satu persatu tak seorang pun melihat kearahnya.
"Baiklah kalau gitu, aku tidak tau apa yang terjadi kepada kalian. Tapi kalian bersikap kepada ku seolah-olah kalian tidak melihat ku disini".
Hingga akhirnya Afia melangkah pergi meninggalkan dapur dan berjalan menuju taman belakang dimana Siska yang sedang membersihkan taman bersama dengan beberapa rekan kerjanya biasa membersihkan taman itu.
"Siska!" panggil Afia. "Siska!" panggilnya lagi sampai membuat Siska melihat kearahnya. "Ada yang bisa ku bantu?".
Siska tidak perduli, ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda oleh Afia karena memanggil namanya.
"Siska kenapa kamu jadi mendiamkan aku seperti ini? Kamu marah kepada ku? Tapi bukan cuman kamu saja. Beberapa pelayan dirumah ini juga mendiamkan aku. Apa aku baru saja melakukan kesalahan kepada kalian?".
"Yah..!" Siska terlihat kesal. Ia menatap Afia dengan tatapan tidak suka seperti ingin membuang tubuh Afia dari hadapannya sekarang juga. "Sebaiknya kamu pergi saja dari sini. Jangan menganggu kami".
__ADS_1
"Ada apa dengan kalian semua Siska. Jangan membuat ku bingung seperti ini. Dan kamu juga tidak seperti biasanya tidak datang membangunkan aku ke kamar".
"Pergi enggak sekarang juga dari hadapan ku? Kalau tidak, aku akan menyiram mu dengan air ini?".
Afia melangkah mundur, ia pun segera pergi meninggalkan Siska bersama dengan yang lainnya di taman sana. Kemudian Afia berpikir ada apa dengan mereka hingga dirinya memutuskan pergi menemui Dina untuk menanyakan hal tersebut.
Begitu Afia menemukan Dina yang baru selesai sarapan pagi bersama dengan Abbas sang suami. Afia langsung berlari kecil sambil memanggil nama Dina.
"Ada apa?" tanya Dina.
Afia tersenyum tipis, "Selamat pagi Tante Om".
"Pagi Afia. Kalau gitu papa duluan ya ma".
"Iya pa".
Seperginya Abbas dari hadapan keduanya, Dina melihat Afia kembali dengan wajah tidak suka. "Hehehe.. Maaf sudah menganggu waktu Tante pagi ini. Aku hanya mau bertanya saja, kenapa dengan semua para pelayan dirumah ini tidak ada yang mau memberikan pekerjaan kepada ku? Padahal aku sudah menanyakan hal itu kepada mereka".
Dina langsung tertawa sinis, "Jadi karna itu kamu datang kemari mencari saya?".
"Kenapa kamu tidak tanya mereka saja? Kenapa kamu malah bertanya kepada saya?".
"Karna mereka tidak ada yang mau memberikan jawaban kepada ku tante makannya aku datang kemari ingin menanyakan hal itu. Aku rasa Tante tau".
"Saya tidak tau" jawab Dina. Setelah itu ia pergi meninggalkan Afia yang masih bertanya-tanya dalam hatinya kenapa mereka bisa seperti itu.
.
Mendapatkan perlakuan seperti ini dari mereka, Afia semakin merasa tidak menyukai tinggal berlama-lama dirumah keluarga Mapolo. Ia lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku, ia kemudian menghubungi nomor sang ibu yang sedang berada di tempat ia bekerja yang tak lain adalah rumah Sinta.
"Hallo bu. Kenapa ibu semalam menghubungi ku? Maaf yah, Afia tidak bisa menjawabnya".
__ADS_1
"Tidak apa-apa nak. Kamu sedang dimana? Ibu sangat merindukan kamu".
"Afia sedang dirumah Bu. Afia juga sangat merindukan ibu. Apa yang sedang ibu lakukan sekarang? Apa ibu berada di tempat kerja?".
"Iya Fia. Sebentar lagi ibu akan pulang. Tidak bisakah kamu menemui ibu sebentar saja?".
"Iya Bu, Afia kesana sekarang juga. Kalau gitu Afia tutup dulu ya Bu. Atau ibu mau dibawakan sesuatu?".
"Tidak usah Fia, kamu datang saja ibu sudah senang sekali".
"Iya Bu. Aku akan segera kesana".
Afia mematikan ponselnya, ia memasuki kamarnya kembali saat ia tengah berada di taman belakang termenung seorang diri tanpa seorang pun disana yang berniat mengajak bicara. Dan tidak ingin berlama-lama lagi, ia keluar dari dalam kamar dengan pakaian santai.
Lalu Siska melihatnya, Afia tersenyum tipis meskipun tidak dibalas olehnya. "Siska tunggu. Aku mau keluar sebentar menemui ibu ku. Nanti kalau Tante Dina mencari ku, tolong beritahu beliau kalau aku pergi sebentar yah".
Siska tidak perduli, ia langsung pergi dari hadapannya. Begitu juga dengan Afia, dia tidak ambil pusing kalau pun Siska tidak menyampaikan pesannya karna ia juga tau kalau Dina tidak akan menanyakan dirinya kemana pun ia pergi.
Hingga kini Afia berada di halte bus, ia menunggu disana bus yang akan menuju alamat rumah Sinta yang berada di kawasan elit. Setelah menunggu hampir 20 menit lamanya, akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba di hadapannya, ia pun langsung naik ke dalam bus tersebut.
Menempuh perjalanan menggunakan angkutan umum memang akan memakan waktu kurang lebih 30 menit lamanya di akibatkan jalanan kota yang sering terkena macet.
"Hallo permisi, boleh saya duduk disini?".
Seorang pria paruh baya meminta izin kepada Afia supaya ia bisa duduk di sebelahnya. Namun Afia yang melihat disebelahnya masih banyak kursi kosong membuat ia menolak permintaan si pria itu dan berkata kalau dia sedang hamil. Itu artinya dia tidak ingin di ganggu.
Tetapi pria paruh baya tersebut tetap memaksakan diri untuk duduk disebelah Afia hingga ia duduk sendiri. Sedangkan Afia yang merasa tidak nyaman, ia pun segera menyuruh si supir bus berhenti di tengah perjalanannya menuju rumah Sinta.
"Terima kasih pak".
__ADS_1
"Ya".
Afia lalu menghela nafas legah, ia melihat bus tersebut telah melaju dari hadapannya. Dan sekarang ia mencari sebuah taksi, karna hari semakin sore, ia takut kalau Kirana tidak bisa menunggunya disana yang sudah berjanji akan menemui kerumah Sinta.