Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 37


__ADS_3

Begitu Afia berhasil mendapatkan izin dari sang leader. Afia melihatnya, "Bagaimana? apa bu Eva memberikan izin?".


"Mmm, bu Eva memberikan izin. Sekarang kamu mau cari kontrakan dimana? kalau boleh kamu tidak usah mencari rumah kontrakan yang jauh supaya kamu tidak usah menghabiskan uang terlalu banyak".


"Kalau gitu, bagaimana kalau aku mencari rumah sewa di sekitaran dekat rumah mu? aku rasa itu jauh lebih bagus supaya kita bisa pulang bereng. Bagaimana?".


"Bisa sih. Cuman kamu yakin mau tinggal di sekitar sana? jaraknya cukup jauh juga loh dari sekolah".


"Tidak apa-apa. Asalkan aku selalu bersama dengan mu".


"Ya sudah kalau kamu mau, dan ketepatan juga di dekat rumah ku sedang menerima anak kos. Ayo, aku akan membawa mu kesana".


"Ayo" genggam Hendry ditangannya.


Hingga kini mereka telah tiba disana, si ibu kos yang tadi Afia bicarakan berdiri dihadapan mereka. "Dia siapa Fia?" tanyanya.


"Teman satu kelas Fia bu. Dia sedang mencari rumah sewa disekitaran sini, ibu masih punya kamar kosong?".


"Dia sangat tampan sekali Fia. Ayo, ketepatan sekali ibu masih punya 3 kamar lagi yang kosong. Tapi".


"Tapi apa bu?".


"Begini Fia, ibu lupa kalau kamar yang tiga ini bayarannya cukup mahal dari yang lainnya. Apa dia bisa membayarnya 3 jt perbulan?".


"Apa?" kaget Afia mendengar harga kamar tersebut. "Ibu serius dengan harga itu? masa iya bu sampai 3 juta. Bukankah harga kamar sewa ibu hanya 600 rb perbulan yah?".


"Iya Fia, tapi yang harga segitu sudah penuh. Dan sekarang yang sisa hanya itu saja, coba kamu tanya dia, siapa tau dia mau".


"Hey, ibu yang benar saja. Mana mungkin dia punya uang sebanyak itu untuk membayar uang sewa se besar ini. Kalau gitu kami pergi dulu bu..


"Kenapa?" tahan Hendry.


"Kita cari yang lain saja. Harga sewanya sangat mahal".


"Berapa?".


"3 jt perbulan".


"Ya sudah itu saja".


"Apa?".

__ADS_1


"Mmmm, kenapa? itukan harga yang murah" jawab Hendry membuat Afia tertawa begitu juga dengan si ibu kos. "Hendry itu murah dari mana? itu sangat mahal".


"Tidak apa-apa. Saya pesan itu saja satu".


"Hendry hentikan. Kamu punya uang membayarnya? lalu bagaimana dengan kebutuhan hidup kamu? gaji kita saja perbulan hanya 6 juta. Bukan lagi uang sekolah kamu, uang makan kamu, ongkos dan uang jajan kamu. Itu benar-benar tidak cukup untuk kamu Hend, kita cari yang lain saja yah".


"Tidak usah. Saya pilih yang itu bu, tolong bawakan kami kesana".


"Ya sudah ayo ikut ibu".


"Iya, ayo" tariknya membawa Afia naik kelantai atas. "Tidak apa-apa, aku masih punya uang untuk membayarnya".


"Kamu yakin Hendry?".


"Mmmmm".


Begitu si ibu itu membukakan pintu kamar yang ingin Hendry sewa, mereka bertiga langsung masuk kedalam, afia melihat kamar tersebut sangat bagus dan juga sedikit elit. Tetapi berbeda dengan Hendry, ia melihat kamar tersebut terlihat sangat tidak nyaman dan juga terasa sangat sempit. Namun karna kontrakan tersebut terbilang cukup dekat dengan rumah Afia. Ia pun terpaksa menyukai kamar itu, "Saya menyukainya, tapi bisakah seprei ini di ganti dengan yang baru? ah tidak usah. Lupakan saja, nanti saya akan menggantinya" ucap Hendry melihat Afia.


"Berarti kamu setuju tinggal di ruangan ini?" tanya si ibu kos.


"Iya. Dan saya akan membayarnya dengan uang tunai" jawab Hendry mengeluarkan dompetnya, tetapi tidak satu lembar pun berada di dalam dompetnya membuat si ibu kos tersebut merasa curiga kalau Hendry tidak memiliki uang. "Hahaha, sepertinya saya harus pergi ke bank. Bisakah kami tinggal dulu".


"Apa bisa?".


"Mmmmm, berikan".


Hendry melirik Afia, "Kenapa?" tanyanya.


"Sebentar bu" Hendry membawanya keluar. "Fia, bisakah kamu meminjamkan uang mu kepada ku? nanti aku akan membayarnya. Percaya kepada ku, aku benar-benar akan membayar mu".


"Kamu ada-ada saja Hend. Ya sudah, kamu boleh menggunakan ini".


"Terima kasih sayang" senang Hendry menerima kartu tersebut. Lalu mereka masuk kembali kedalam ruangan, "Ini bu".


"Kalian tunggu disini, ibu mengambilnya dulu".


"Iya bu" angguk Afia. Lalu ia mendudukkan diri diatas kasur itu sambil melihat sekitar kamar Hendry. "Wajar sih ini sangat mahal Hend. Lihatlah kamar ini sangat luas dan juga sangat lengkap, ada ac, ada tv, ada tempat tidur, ada lemari ada kulkas dan ada wastafel mini ya juga dan kamar mandi yang bagus. Tapi uang sebanyak 3 jt itu juga sangat disayangkan dibuang hanya untuk memiliki kamar senyaman ini. Mendingan itu kamu gunakan untuk kebutuhan kamu".


"Tidak apa-apa, lagian aku menyukai tempat ini untuk aku bisa bercinta dengan mu" jawab Hendry menjatuhkan tubuhnya disamping Afia.


"Yah.. Kenapa kamu membahasnya disini? bagaimana kalau orang lain dengar atau ibu tadi? kamu mau kita jadi bahan gosip mereka".

__ADS_1


"Jangan khawatir, tidak akan ada orang yang mendengarnya".


"Terserah kamu saja deh" kesal Afia membuat Hendry tersenyum menarik tangannya. "Ah, Hendry".


"Kenapa?".


"Afia" seketika Afia langsung berdiri begitu si ibu kos tersebut memasuki kamar itu kembali. "Hahahah, apa ibu menganggu kalian?".


"Tidak bu" jawab Afia menghampirinya.


"Ibu pikir ibu menganggu kalian. Sekarang masukkan berapa nomor pin kamu".


"Iya bu" begitu Afia memasukkan nomor pin kartu atm ya, transaksi pun langsung berlangsung. "Sudah bu?".


"Sudah, terima kasih banyak ya Fia. Tapi kalau boleh saran ibu jangan mau di manfaatkan laki-laki yah, sayang uang kamu di gunakan oleh pria yang hanya memanfaatkan modal tampan saja. Ingat ibu kamu yang sudah cape-cape kerja sana sini demi kebutuhan keluarga kalian begitu juga dengan kamu yang masih sekolah sudah mencari uang sendiri. Ibu mau kamu harus hati-hati".


"Iya bu, Afia akan mengingatnya. Tapi dia bukanlah orang yang seperti itu. Dia laki-laki baik yang pernah Afia temui".


"Bagus deh kalau dia bukan seperti itu. Ibu hanya merasa saja tadi itu dia hanya modus bilang dia harus ke bank. Tapi buktinya dia malah menggunakan kartu kamu, udah gengsi ya selangit. Bagaimana bisa orang biasa seperti dia menggunakan kamar sebagus ini, padahal orang yang biasa menyewa kamar ini hanyalah kalangan dari pekerja kantoran yang berpenghasilan tinggi".


"Sudah bu, takutnya dia mendengar ibu membuat dia merasa tersinggung".


"Bagus dong kalau dia dengar. Itu artinya dia akan sadar kalau dia itu pria yang egois memanfaatkan orang seperti kamu. Kalau gitu ibu pergi dulu".


"Iya bu terima kasih".


"Sama-sama Fia" angguk si ibu kos pergi dari sana.


Kemudian Afia melihat Hendry yang pura-pura tertidur. "Tidak usah mendengarnya, aku selalu mempercayai mu".


"Kalau gitu berikan aku pelukan".


"Sekarang?".


"Mmmm, berikan aku pelukan Afia ku sayang".


"Aku akan memeluk mu asalkan kamu tidak merasa tersinggung dengan apa yang barusan ibu itu katakan".


"Aku tidak akan merasa tersinggung sayang hanya karna dia. Cepat berikan aku pelukan, aku sangat mengantuk sekali".


"Baiklah, aku akan memeluk mu" senyum Afia memberinya pelukan.

__ADS_1


__ADS_2