
Berada di kantin belakang, Hendry masih saja marah kepada si guru killer yang sudah menampar wajah tampannya sampai dua kali.
"Bro, kamu harus bisa menahan emosi. Jangan sampai kamu di keluarkan lagi dari sekolah, masa kamu enggak bosan kita berempat pindah-pindah terus" ujar Dafa mengingatkannya.
Hendry menghela nafas, "Berikan aku rokok" mintanya kepada Dafa.
"Ini, untung saja kemarin aku membelinya".
"Kalau aku di keluarkan dari sekolah ini, kalian bertiga tidak usah mengikuti ku. Bertahanlah disini" ucap Hendry menghisap rokoknya.
"Kamu tidak boleh berkata seperti itu Hend, kita sudah berjanji kalau kita akan selalu bersama sampai kapan pun" ujar Chan.
"Mmmm.. Kita akan selalu bersama" sambung Abian.
"Tidak, kalian tidak boleh pindah dari sekolah ini kalau kalian masih menganggap ku sahabat" ancam Hendry membuang puntung rokoknya. Lalu ia pergi meninggalkan mereka.
"Hend, kamu mau kemana?" teriak Abian.
"Ruang kepala sekolah" jawabnya.
"Ck, kenapa harus seperti ini sih? ini semua karna guru killer itu. Aku sangat membencinya sampai aku ingin membunuhnya" geram Dafa mengepal tangan.
"Aku juga" sambung Chan.
.
Di ruang kepala sekolah Hendry mendudukan diri diatas sofa. Ia melihat si kepala sekolah menatapnya dengan tatapan kecewa. "Hendry, bapak tau kalau kamu itu anak yang baik. Tapi kenapa kamu harus membuat mereka marah?".
"Maaf pak" jawab Hendry singkat.
"Kamu baik-baik saja? kenapa dengan kulit mu?" tanyanya melihat wajah dan juga tangan Hendry yang bermerah.
"Alergi pak".
"Mmmmm.. Kamu sudah memeriksa kerumah sakit?".
"Sudah pak".
"Baiklah, bapak langsung ke intinya saja kita tidak usah menunggu ibu itu. Bapak punya kenalan disekolah ini, kebetulan dia disana sebagai kepala sekolah juga, dia bersedia menerima kamu disana Hend. Jadi, selesai ujian kamu bisa pindah kesana".
Hendry menghela nafas lagi, "Tolong jangan keluarkan mereka pak, meskipun mereka sendiri yang meminta keluar dari sekolah ini" ucap Hendry menerima formulir calon sekolah barunya.
"Mmmm.. Bapak tidak akan mengeluarkan mereka".
"Terima kasih pak".
Tok.. Tok..
__ADS_1
"Masuk" jawab si kepala sekolah.
Ceklek!
"Silahkan duduk buk".
"Terima kasih pak" duduknya di hadapan Hendry. "Bagaimana pak, saya sudah mendapatkan beberapa persetujuan dari guru yang lain, kalau mereka juga setuju anak ini di keluarkan dari sekolah kita dengan alasan yang sama".
"Iya buk, saya sudah membuat persetujuan dengan orang tua Hendry kalau dia bakalan di keluarin dari sekolah ini dengan catatan tunggu dia selesai ujian penaikan kelas 3".
"Apa? kenapa pak?".
"Ibu tau sendiri, kalau hari senin sudah ujian".
Ia mendengus melihat Hendry yang sama sekali tidak perduli, kemudian Hendry melihatnya dengan senyum mengejek kalau dirinya baik-baik saja meskipun harus di keluarkan dari sekolah tersebut.
.
Pulang sekolah Hendry langsung kembali kerumah. Ia merasa kalau sesuatu akan terjadi kepadanya, namun sebelum ia pulang kerumah, ia terlebih dahulu menjemput mobilnya ke kantor polisi.
DDDRRRTTT.. DDDRRRTTT..
"Iya ma" jawab Hendry.
"Hendry kamu dimana sayang?".
"Cepat pulang sayang, papa kamu sangat marah sekali".
"Hendry tau ma, kalau gitu Hendry tutup dulu".
"Iya sayang. Hati-hati bawa mobilnya, enggak usah ngebut".
"Iya ma" Hendry menutup ponselnya, kemudian ia menatap keatas langit yang sudah sore. "Aahhh.." dengus Hendry berjalan kearah mobilnya.
20 menit sesampainya dirumah, ia melihat para pelayan di rumah itu sangat ketakutan kepada Hendry yang akan mendapatkan amukan dari Abbas. "Hendry" panggil Dina memeluk putranya itu.
"Ma" kaget Hendry saat Abbas menarik Dina dari dalam pelukannya. Kemudian Hendry mendapatkan beberapa pukulan di wajahnya.
BBUUNNGGHHH.. BBUUNNGGHHH..
"Pa, hentikan" teriak Dina. "Mama mohon pa hentikan, mama mohon pa hiks.. hiks.. Tolong jangan pukul anak kita lagi pa, mama mohon" isak Dina melihat Hendry yang terkapar diatas lantai dengan darah yang keluar dari dalam lubang hidungnya dan juga dari sudut bibir Hendry yang pecah.
Lalu Abbas menarik Hendry bangkit berdiri, "Sekarang mau kamu apa? selama ini papa sudah membebaskan kamu. Tapi apa balas mu sama papa dan mama Hendry?".
"Maaf pa" tunduk Hendry.
"Maaf apa? papa sudah bosan mendengar kata maaf dari mulut mu ini. Tapi kamu masih saja berulah, kamu pikir papa enggak malu Hendry?" bentak Abbas meremas tangannya.
__ADS_1
"Maaf pa" ucap Hendry lagi.
"Sudah pa, sudah.. Kasihan Hendry, lihat" gantung Dina baru menyadari bintik-bintik merah di tubuh putra satu-satunya itu. "Hendry, ke-kenapa dengan kulit mu nak?" tanya Dina memeriksa tubuh putra kesayangannya itu yang dipenuhi bintik-bintik merah.
"Tidak apa-apa ma, Hendry baik-baik saja".
"Baik-baik saja dari mana nak? kamu lihat ini. Ayo, sekarang ikut mama" bawa Dina kedalam ruangan khususnya dan di ikuti oleh Abbas dari belakang. Tetapi sebelum Dina memeriksanya, ia terlebih dahulu mengobati bekas luka amukan Abbas, baru ia memeriksa kalau Hendry baik-baik saja atau tidak.
Setelah Dina memeriksanya baru ia terlihat tenang, "Hendry sudah bilang ma kalau Hendry baik-baik saja".
"Syukurlah. Mama khawatir kamu kenapa-napa sayang".
"Maafkan Hendry sudah membuat mama khawatir".
"Maafkan mama juga sayang karna sudah tidak memperhatikan kamu selama ini. Sekarang kamu minta maaf sama papa".
Hendry melirik Abbas, "Maafkan Hendry pa, Hendry siap menerima hukuman apa yang akan papa berikan".
Abbas menarik nafas, "Mulai hari ini kami tidak akan memberi mu fasilitas. Dan mulai hari ini juga mobil, uang dan semuanya akan papa blokir, jadi silahkan kamu cari uang sendiri dan gunakan angkutan umum kalau kamu bepergian. Dikantor papa sedang penerimaan karyawan, kalau kamu mau silahkan bekerja disana dan jangan berharap apa-apa".
"Iya pa" jawab Hendry. Setelah itu Abbas keluar, ia melihat Dina yang masih sedih. "Sudah ma, Hendry baik-baik saja".
"Sayang, berhenti main-main dengan papa kamu. Kamu tau sendiri selama ini papa memberi kebebasan sama kamu, itu semua karna papa percaya sama kamu sayang. Jadi kali ini mama harap kamu tidak akan mengecewakan papa lagi".
"Iya ma".
"Ya sudah, naiklah. Siap itu kamu turun makan malam".
"Iya ma" Hendry segera keluar dari dalam sana menuju kamarnya yang berada di lantai dua.
DDDRRRRTTTT.. DDDRRRTTTT..
"Mmmmm" jawab Hendry.
"Hend kamu baik-baik saja? kami sangat mengkhawatirkan kamu?" tanya Abian.
"Aku baik-baik saja Bian" jawab Hendry menyentuh sudut bibirnya yang pecah. "Dan beritahu yang lainnya kalau besok aku tidak bisa latihan, senin aku akan cerita apa yang terjadi".
"Ya sudah aku akan memberitahu Dafa dan Chan. Lalu bagaimana dengan Sinta? ini semua juga gara-gara wanita sialan itu".
Hendry menghela nafas, "Wanita sialan itu, setiap kali aku mengingat wajahnya aku ingin sekali membunuhnya. Aku mau kalian bertiga yang membereskan dia".
"Ya sudah kalau gitu. Kami akan melakukan seperti biasa".
"Mmmmm.. Thank you Bian".
"Ok bro" begitu Abian mematikan ponselnya, Hendry pun langsung masuk kedalam kamar mandi membersihkan tubuhnya yang terasa bau dan lengket.
__ADS_1