Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 45


__ADS_3

Deng!


Bagaikan di sambar petir kedua Afia mata langsung berkaca-kaca saat Hendry lebih memilih putus darinya ketimbang meminta maaf kepada guru tersebut. "Baiklah kalau itu yang kamu mau Hendry. Mulai dari sekarang aku tidak akan pernah sudih melihat mu lagi, kita berdua benar-benar putus" teriaknya berlari dari sana.


Sedangkan Hendry seketika menghentikan langkah kakinya menoleh kebelakang. Tetapi ia tidak melihat Afia berdiri disana lagi, setalah itu Hendry kembali melanjutkan kedua langkah kakinya menuju lapangan basket.


"Dasar bajingan. Dia pikir dia siapa seenaknya saja meminta putus dari ku? Lihat saja, aku tidak akan pernah main-main dengan perkataan ku sendiri. Aku benar-benar membencinya, iya aku sangat membencinya" gumam Afia.


Lalu ia melihat keatas langit yang begitu sangat biru, namun tidak sebiru hatinya saat ini. Sembari memikirkan masa depan, Afia tidak tau apa yang akan terjadi kepadanya di tahun kedepannya. Sedangkan ujian nasional semakin mendekat, dan ia masih tidak tau kemana akhir dari tujuannya.


"Bagaimana dengan Hendry? Apa dia benar-benar akan pergi meninggalkan aku setelah kami lulus nanti? hhhmmss ck" Afia menghela nafas berat.


Kemudian melihat sekitarnya, satu persatu siswa siswi disekolah itu telah keluar dari dalam ruangan mereka masing-masing. Namun saat itu juga, Afia mengernyitkan dahi mendengar salah satu siswi meneriaki nama Hendry yang sedang bermain basket di lapangan.


"Hendry?" gumam Afia.


Dengan rasa penasaran ia pun mengikuti mereka dari belakang menuju lapangan basket. Dan benar sekali seperti yang Afia dengar tadi kalau Hendry sedang berada disana, ia pun langsung melihatnya bermain bola basket bersama dengan yang lainnya dan Hendry benar-benar terlihat sangat tampan sekali sehingga para wanita yang sedang meneriaki namanya sangat tergila-gila dengan ketampanannya.


"OMG-OMG.. Kenapa dia sangat tampan sekali? Yah, kalian lihatlah betapa tampannya dia" ujar salah satu siswa itu.


"Iya dia sangat tampan sekali. Astaga ya Tuhan, kenapa ada pria setampan dia ya ampun. Bisakah aku menjadi kekasihnya?".


"Tidak mungkin dia mau sama kita. Kamu lihat sendiri kalau dia itu bak seorang pangeran yang berasal dari negeri dongeng. Aku yakin kalau dia pasti sudah punya kekasih. Tapi kalau di pikir-pikir enggak apa-apa juga sih kalau Hendry menyukai kita, aku rasa tidak ada yang salah. Iya enggak?".


"Setuju. Tapi masalahnya kalian ingat enggak kejadian kemarin saat dia bertengkar dengan.. Mereka" tunjuknya kearah Nesa dan Fany yang baru tiba disana.


"Apa?" tanya Nesa datar.

__ADS_1


Ia tersenyum, "Tidak ada apa-apa. Sedang apa kalian berdua datang kemari? Jangan bilang kalian berdua juga ingin melihat Hendry sedang bermain?" merasa lucu mereka langsung menertawai Nesa dan Fany yang ikutan berada disana. "Tapi enggak apa-apa juga sih. Iya enggak gays? Asalkan mereka berdua tidak membuat keributan".


"Mmmmm" angguk mereka.


Sedangkan Afia yang sedari tadi mendengar mereka hanya bisa diam tanpa berani ikut campur. Lalu Nesa melihatnya, "Sedang apa kamu disini?".


"Hhhmmm? Akh, tidak" jawab Afia melangkah menjauh dari keduanya. Ia kemudian mendudukkan diri disalah satu kursi sambil melihat kearah Hendry. "Sepertinya dia sedang tebar pesona setelah kami berdua putus. Dasar laki-laki kurang ajar! Tapi apa iya kami berdua benar-benar putus?".


"Yah!".


"Astaga!" kaget Afia saat Nesa tiba-tiba datang mendorong dirinya hampir saja terjatuh kalau saja ia tidak segera menahan tubuhnya. "Apa yang sedang kalian berdua lakukan?".


Kedua orang itu pun bukannya merasa bersalah, Nesa dan Fany malah menertawainya dengan mendorong kepalanya. "Ekh anak orang miskin. Kamu enggak di ajak disini, sana pergi. Buat semak ajah".


Sambil menahan emosi Afia mengepal kedua tangannya, "Kalian berdua bisa enggak satu hari saja enggak menganggu ku? Kalian pikir karna selama ini aku diam-diam saja aku tidak bisa melawan kalian?".


"Astaga Fany, itu menakutkan sekali hahahhaha" tawa keduanya. "Yah, sebelum orang miskin seperti mu minggat dari sekolah ini kami tidak akan pernah berhenti menganggu mu" jawab Nesa dengan sombongnya.


"Kamu mau tau karena apa? Ayo beritahu dia Fany".


"Karna manusia miskin seperti kamu hanya membuat semak di sekolah ini bersama dengan dia" jawab Fany sembari menunjuk kearah Hendry yang sangat asik bermain basket. "Dia hanya menang tampang saja, sekali miskin dia tetaplah miskin seperti kamu Afia".


Kemudian Afia menyeringai membuat keduanya menatapnya heran telah berani tersenyum seperti itu kepada mereka.


"Kalian itu terlalu sombong yang belum jadi apa-apa. Asal kalian tau yah, aku malah kasihan melihat kalian berdua yang hanya beban orang tua saja".


"Apa?" geram Nesa ingin memukulnya kalau saja Afia tidak langsung bangkit berdiri dari hadapan keduanya. "Kamu berani sama kami Fia hahhh?".

__ADS_1


"Kalau iya kenapa hhmmm? Kamu pikir aku takut Nesa hahh?".


"Hhhyyiiaarrkkhhhh" dengan sangat kesal bercampur marah Nesa memukul wajah Afia sampai beberapa kali dibantu oleh sang sahabat yaitu Fany yang ikutan geram kepada Afia. Namun Afia yang kewalahan tidak dapat melawan keduanya hingga akhirnya perhatian itu tertuju kepada mereka.


"Ada apa disana?" tanya salah satu rekan main Hendry kepadanya membuat mereka menghentikan permainan itu. "Ooo, itu bukankah Nesa sama Fany lagi bertengkar? Tapi mereka bertengkar sama siapa?".


Dengan rasa penasaran mereka berlari menghampiri kejadian tersebut, sedangkan Hendry tanpa peduli ia melanjutkan permainannya hingga ia mendengar salah satu siswa itu berkata kalau orang yang Nesa dan Fany itu serang adakah Afia.


Hendry pun segera berlari menyuruh mereka bergeser agar ia bisa lewat. Dan benar sekali, Afia lah orang yang baru saja menjadi target keduanya. Dengan sangat marah, Hendry lalu menarik tangan Nesa.


"Ka-kamu?".


BBUUNNGGGHHHH...


Tanpa perduli dengan Nesa yang seorang wanita, ia langsung melayangkan satu pukulan tepat diwajahnya membuat Nesa saat itu juga jatuh pingsan.


"OMG!" kaget mereka semua begitu juga dengan Fany yang bergetar melihat Nesa jatuh pingsan tepat di hadapannya.


"He-Hendry...


BBUUNNGGGHHHH..


Sama halnya ia lakukan kepada Nesa, tanpa peduli ia juga tetap memukulnya sampai jatuh pingsan membuat yang lainnya dua kali menatap kagum kepada Hendry telah berani melakukan hal itu.


Kemudian ia melihat wajah Afia yang babak belur dengan mata berkaca-kaca. "Sakit Hendry" tangisnya Afia.


Hendry lalu mengangkat tubuhnya pergi dari sana, "Maafkan aku".

__ADS_1


Dan lagi-lagi mereka menatap kagum kearah Hendry yang sudah menjauh dari hadapan mereka. "Tapi kalau di pikir-pikir, seperti mereka berdua memiliki hubungan. Bukankah seperti itu yang kalian lihat?".


"Mmmmm, kami juga merasakan hal yang sama. Tidak mungkin dia semarah itu kepada Afia kalau bukan mereka menjalin sebuah hubungan".


__ADS_2