
Di dalam gedung tua tempat mereka latihan basket, Sinta di kurung oleh Abian, Chan dan Dafa. Kemudian Hendry tersenyum, "He-hendry" kaget Sinta dengan mata membulat.
"Mmmm.. Kenapa Sinta?" senyum Hendry seperti biasa ia menggoda gadis-gadis cantik.
"Tolong maafkan aku Hend, aku tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi, aku janji Hend, aku tau aku salah. Tolong maafkan aku Hend" ucap Sinta penuh dengan penyesalan.
"Hhmmsss.. Kamu lihat ini semua, gara-gara kamu kulit ku jadi seperti ini, dan gara-gara kamu juga aku di keluarkan dari sekolah. Tapi itu tidak jadi masalah, yang jadi masalahnya sekarang kamu hampir saja membunuh ku. Kamu pikir kamu bisa menebusnya hhmmm?".
"Maafkan aku Hendry".
"Maaf? hahahaha. Mudah sekali mulut mu ini bilang maaf dengan apa yang telah kamu lakukan".
"Aku benar-benar minta maaf Hendry, aku janji tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Tolong lepaskan aku dan biarkan aku pergi" isak Sinta memohon.
Sedangkan Abian dan Chan hanya tersenyum-senyum saja melihat Sinta yang sedang memohon kepada Hendry. "Jangan kasih ampun Hend, hajar saja terus. Orang seperti dia tidak usah di kasihani" ujar Chan.
Sinta melirik Chan, ia pikir Chan yang selama ini terlihat sedikit kalem diantara mereka ternyata pria bangsat juga yang tidak beda jauh dari sahabatnya. "Kamu!".
"Kenapa Sinta? sebenarnya kamu cantik. tapi sayangnya kamu terlalu murahan sekali. Bagaimana bisa Tio sangat tergila-gila kepada mu?" geleng Chan.
"Hend, aku mencintai mu".
"Apa? hahahaha" tawa Abian dan Chan mengejek Sinta menyatakan perasaannya kepada Hendry. "Yah..!! kamu bukalah tipe kita. Bagaimana bisa kamu menyatakan cinta kepada Hendry setelah apa yang kamu lakukan kepadanya?" kesal Abian.
"Aku tidak bicara kepada mu. Diamlah!".
Abian menyeringai, "Sepertinya dia belum kapok juga yah dengan apa yang telah kita lakukan kepadanya. Atau masih kurang?" tanya Abian mendekati Sinta yang terikat diatas kursi. "Sangking murahannya kamu, kamu tidak bisa membedakan suara Dafa dengan suara Hendry. Dan sekarang kamu berada disini karna kegenitan kamu".
Sinta tertawa, "Terus apa bedanya dengan kalian hhmm? kalian juga tidak jauh beda dengan ku. Sekarang lepaskan aku, kalau tidak aku akan melaporkan kalian berempat ke kantor polisi".
"Silahkan.. Aku akan menghubungi polisi" Hendry memberikan ponselnya. "Ini, ayo ngomong" namun Sinta malah terdiam, ia malah tak berkutik. Kemudian Hendry menarik wajah Sinta dengan menekannya.
"Aahh.. Sakit Hend" ringis Sinta.
"Ingat ini Sinta. Kalian ini aku akan membiarkan mu".
"Tapi Hend, dia harus di hajar dengan apa yang telah Sinta lakukan kepada mu" kesal Abian tidak terima Hendry membebaskan Sinta begitu saja.
"Biarkan saja, aku terlalu lelah Bian berurusan dengannya. Lepaskan dia Chan".
"Mmmmm" Chan segera melepaskan ikatan tali Sinta.
"Ini yang terakhir kalinya kamu menunjukkan wajah ini dihadapan ku. Kalau kamu masih berani menunjukkan wajah ini, aku tidak akan segan-segan mempermalukan kamu di depan umum".
Dengan tangan mengepal, Sinta langsung pergi dari hadapan mereka bertiga. Kemudian ia melihat wajah kesal kedua sahabatnya itu, "Papa menghukum ku, sekarang aku tidak punya apa-apa lagi".
__ADS_1
"Maksud kamu Hend?" tanya Abian.
"Papa menarik semua fasilitas ku".
"Jadi sekarang kamu".
"Aku tidak punya apa-apa lagi".
"Lalu apa yang akan kamu lakukan Hend?" tanya Chan.
Hendry menghela nafas, "Aku akan mencari pekerjaan, kalau kalian tau ada lowongan cepat beritahu aku".
"Ayolah bro.. Kamu pasti sedang bercanda kan?" tanya ulang Chan tidak percaya.
"Aku mengatakan yang sebenarnya Chan. Ayo, aku masih ingin membawanya lagi keliling kota".
.
Hampir 1 jam lamanya Freya dan Dafa menunggu di dalam sana, Freya mulai merasa bosan. Kemudian Freya memanggil Dafa, "Kenapa? sebentar lagi pasti mereka datang. Bersabarlah" ucap Dafa.
"Ini sudah 1 jam lamanya tapi mereka belum juga datang. Kamu yakin kak Hendry baik-baik saja".
"Iya, atau kalau kamu bosan aku bisa membawa mu jalan-jalan sebentar".
"Tidak usah" jawab Freya dengan cepat. Dafa pun langsung tersenyum, baru kali ini ia ditolak oleh gadis yang tidak mengenalnya, "Kenapa kamu tersenyum?".
"Kamu aneh".
"Hahahahah" tawa Dafa semakin membuat Freya heran. Lalu ia bertanya kepada Freya asal kedatangannya dari mana, namun Hendry dan yang lainnya tiba-tiba muncul di hadapan mereka.
"Kak" senyum Freya.
"Maaf membuat mu menunggu terlalu lama".
"Tidak apa-apa kak. Ayo".
"Tunggu" tahan Hendry melihat ketiga sahabatnya itu. "Aku balik duluan yah, sorry enggak bisa ikut latihan hari ini".
"Tidak apa-apa Hend, hati-hati dijalan" ujar Abian.
"Mmmm.. Duluan yah".
"Ok bro".
Hendry dan Freya segera memasuki mobil. "Kamu mau kemana? aku akan mengantar mu".
__ADS_1
"Ke mall kak, Freya mau nonton".
"Ya sudah" kali ini Hendry akan menuruti semua keinginan Freya yang ingin menonton bioskop, meskipun hal itu akan membuatnya bosan.
"Kak, boleh enggak Eya nanya?".
"Apa itu?" tanya balik Hendry fokus menyetir.
"Kak Hendry sudah punya pacar?".
Hendry tersenyum, "Kenapa kamu bertanya itu?".
"Eya penasaran kak" jawabnya dengan suara pelan.
"Oohh.. Aku punya" jawab Hendry berbohong, karna ia punya filing kalau Freya akan mengatakan ia menyukai dirinya. "Kenapa kamu bertanya itu Eya? kamu juga pasti sudah punya pacar. Iya kali kalau kamu belum punya kekasih sampai sekarang".
"Eya enggak punya pacar kak".
"Benarkah?".
"Mmmmm.. Aku menyukai kak Hendry" jawab Freya menatap kearah jendela kaca mobil.
Hendry terdiam, ia sudah menebak kalau Freya akan berkata seperti itu. Namun ia lebih memilih diam dari pada memperumit keadaan, "Kak" panggil Freya.
"Mmmmm?".
"Apa pacar kakak lebih cantik dari Eya?".
"Kalian berdua sama-sama cantik, kenapa?".
"Aku rasa wanita itu pasti lebih cantik dari Eya. Selamat ya kak, semoga hubungan kakak.." gantung Freya menatap wajah tampan Hendry yang sudah sangat lama ia sukai. "Tidak bisakah kak Hendry lebih memilih aku dari pada wanita itu?".
"Hhhmmm?".
"Aku mencintai kak Hendry" ucap Freya memberanikan diri. "Sudah sangat lama aku mencintai kak Hendry. Please kak, tolong balas perasaan Eya".
Hendry pun langsung menepikan mobilnya, kemudian menatap Freya yang sedang melihatnya. Tetapi Freya yang sudah terlanjur sakit hati, ia pun dengan cepat mencium bibir Hendry. "Maafkan aku kak" ucap Freya dalam hati.
Dengan marah Hendry mengepal kedua tangannya, setelah itu Hendry melepaskan ciuman Freya. Lalu ia turun dari dalam mobil sambil mengusap wajah dengan kasar. "Wanita bodoh" umpat Hendry dalam hati.
Melihat itu, kedua mata Freya berkaca-kaca akibat dari kebodohannya, lalu ia menghampiri Hendry. "Kak, maaf sudah membuat kak Hendry tidak nyaman" tunduk Freya.
Hendry menghela nafas, "Tidak apa-apa, masuklah. Aku akan membawa mu ke mall".
"Kak Hendry marah?".
__ADS_1
"Masuklah" jawab Hendry langsung masuk kedalam mobilnya.