Rasa dan Nafsu

Rasa dan Nafsu
Bab 19


__ADS_3

"Dia kenapa?".


"Hhhmm?".


"Hendry, dia kenapa? apa dia sakit?" Afia kebingungan, lalu mengangguk. "Kenapa tidak memberi tahu ibu? yang lainnya tolong bawa di keruang UKS".


"Sepertinya tidak usah buk, tadi Afia juga sudah menyuruhnya, tapi di malah menolak dan berkata dia istirahat disini saja".


"Oohh, asalkan kamu tidak merasa terganggu saja. Begitu jam istirahat, kamu beli obat untuknya. Nanti kamu minta uang sama ibu".


"Iya buk".


"Baiklah, kita kembali fokus dengan pelajaran".


Sedangkan Hendry yang mendengar percakapan Afia dengan si guru tersebut langsung tersenyum tipis, kemudian ia melirik Afia. "Wah, ternyata kamu pintar juga berbohong".


Afia terkejut, ia langsung melihat Hendry yang sedang melihatnya. "Kenapa kamu bangun? tidurlah kembali".


"Aku tidak ngantuk lagi" Hendry mengangkat kepalanya, ia kembali fokus ke depan papan tulis sana.


Afia tertawa kecil sambil geleng kepala, ia benar-benar tidak mengerti dengan laki-laki yang berada di sampingnya itu.


Setelah mata pelajaran mereka selesai, para siswa dan siswi di kelas itu segera keluar dari dalam menuju kantin. "Afia" panggil Delvi.


"Maaf Del, aku sangat kenyang. Bisakah kamu pergi sendiri saja? maaf".


Delvi tersenyum, "Tidak apa-apa, kamu mau sesuatu? aku akan membawanya dari kantin".


"Tidak usah Del, terima kasih".


"Kalau gitu aku pergi dulu".


"Mmmmm".


"Kamu benar-benar kenyang?" Tanya Hendry melihatnya.


"Apa?".


"Kamu memang benar-benar sangat pintar berbohong. Sedari tadi aku sudah mendengar perut mu meminta untuk di isi, tapi kamu malah mengatakan kalau kamu sedang kenyang" Hendry berdiri, lalu mengajak Afia keluar dari dalam kelas mereka.


"Tidak, kalau kamu ingin pergi, pergilah. Tidak usah pedulikan aku. Aku benar-benar sangat kenyang" namun Hendry malah menarik tangannya pergi dari sana. "Yah, lepaskan tangan ku".


"Diamlah, kamu terlalu berisik".


"Tangan ku sakit Hendry" bentak Afia marah. Hendry pun langsung menghentikan langkahnya, lalu melepaskan pergelangan tangannya. "Kamu kasar sekali".


"Maaf, kalau kamu tidak menolak ku kamu pasti tidak akan kesakitan".


Afia menyeringai, "Kamu sangat menyebalkan sekal.." gantungnya melihat Raga berjalan di ujung lorong bersama dengan teman-temannya "Ra-raga".


"Ada apa?" tanya Hendry. Kemudian ia melihat kearah pandangan mata Afia, "Siapa mereka?".

__ADS_1


"Murid paling bandel di sekolah ini. Yah, beri mereka jalan" jawab Afia menarik tangan Hendry. Namun bukannya minggir, Hendry malah menatap mereka berlima.


Lalu mereka tertawa mengejek melihat Hendry yang sama sekali tidak takut kepada mereka. "Yah, kamu tidak takut?" tanya Raga.


Hendry memijit keningnya, setelah itu ia menarik tangan Afia pergi dari sana. Tetapi tangan kekar Raga dengan cepat menahan tangan Afia, "Kamu mau kemana? urusan mu dengan ku belum selesai?".


"Lepaskan tangannya, kami tidak punya urusan dengan mu".


Raga menyeringai, "Kurang ajar, berani-beraninya kamu mempermainkan ku. Kamu tidak tau siapa aku? atau kamu siswa pindahan disini?".


"Iya" jawab Afia. "Dia siswa pindahan disini, jadi aku mohon tolong maafkan dia. Kedepannya kejadian ini tidak akan terulang lagi. Ayo" tarik Afia.


Namun Raga lagi-lagi menarik tangannya, kemudian menghempaskan tubuh Afia di atas lantai. "Kamu pikir aku siapa haahh? wanita ******" teriak Raga.


BBUUNNGGHHH..


Begitu Raga menyebut Afia wanita ******, Hendry pun langsung menendang punggung Raga dari belakang. "Yah...!!" teriak Raga sangat marah.


Hendry tertawa mengejek, "Aahh, maaf. Kaki ku tiba-tiba terpelesek. Apa rasanya sangat sakit? aku yakin rasanya pasti sakit. Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku membawa mu kerumah sakit".


"Yah...!!" teriak Raga kembali mengepal tangan.


"Eeiiss, kamu berisik sekali. Suara mu hampir saja membuat gendang telinga ku pecah. Ayo" ajak Hendry mengulurkan tangannya.


Dengan mata membulat Afia melirik Raga yang terkapar disampingnya begitu Hendry menendangnya, lalu ia menyambar tangan Hendry. "Hend!".


"Sshhuueett" senyum Hendry membawanya pergi dari sana. Tetapi para teman-teman Raga yang tidak terima dengan apa yang barusan Hendry lakukan, salah satu diantara mereka langsung melemparkan sepatu tepat di kepala Hendry sampai kaca mata yang ia pakai tercampak diatas lantai.


"Yah, bawakan sepatu itu kemari?" ucap Rizal.


Tersenyum, "Menurut mu, apa aku baik-baik saja?" tanya balik Hendry.


Afia menggeleng, "Kamu tidak baik-baik saja".


"Benar, aku tidak sedang baik-baik saja. Apa sebaiknya aku membiarkan mereka atau kamu ingin melihat mereka berlima masuk rumah sakit?".


"Jangan lakukan itu, sebaiknya kita pergi. Aku takut kamu nanti terluka, ayo aku akan menghitung sama 3" ajak Afia membawa Hendry berlari dari sana dengan tawa senang dan juga ketakutan.


.


Setelah mereka berada di lapangan bola, Afia memberikan sebotol minuman di tangan Hendry, "Terima kasih".


"Mmmm" Afia menatap lurus kearah siswa yang sedang bermain bola voly. "Hendry, kamu suka main bola itu?".


"Tidak".


"Kenapa? aku sangat menyukai permainan itu" Kemudian Hendry melihat Afia, ia memperhatikan wajahnya yang sedang tersenyum sampai membuat Afia yang merasa sedang di perhatikan membuat ia melihat Hendry. "Kenapa? apa ada sesuatu diwajah ku?".


Hendry menggeleng. Lalu meminum minuman botol itu sampai habis, "Afia, kamu tidak mengenal ku?".


"Maksud kamu?".

__ADS_1


"Aku mengenal mu, sudah hampir 1 bulan lamanya. Kamu baik-baik saja?".


Mendengar itu Afia semakin kebingungan melihat Hendry. "Kenapa kamu berkata sedemikian? dan bagaimana bisa kamu mengenal ku? aku sama sekali tidak mengenal mu".


Hendry tersenyum kembali, lalu membuka kaca mata dan juga tompel yang berada di bawah matanya. "Bagaimana? apa kamu masih belum mengenal ku?".


Afia pun masih belum mengenalnya, kemudian Hendry mengacak-acak rambut polos yang sengaja ia sisir. "Sekarang kamu masih belum mengenal ku?".


"Haahh.. Kamu? bagaimana bisa kamu berada disini?" Senyum Afia menunjukkan gigi rata.


"Kamu ada-ada saja, tentu saja bersekolah sama seperti mu".


"Terus, kenapa kamu berpenampilan seperti ini sampai aku benar-benar tidak mengenali mu?".


"Aku tidak suka menjadi pusat perhatian".


"Hahahahah" tawa Afia. "Hend, mau setampan apa pun kamu kalau kamu orang biasa seperti aku, siswi disekolah kita ini tidak akan pernah tertarik kepada mu".


"Maksud kamu?".


"Iya, mereka hanya tertarik dengan pria kaya dan tampan. Kalau soal wajah sih bisa di bilang kamu paling tampan disekolah ini, tapi karna kamu orang miskin seperti aku, mereka tetap menganggap mu tidak berguna".


"Jadi seperti itu?".


"Iya".


"Lalu bagaimana dengan mu?".


"Kenapa dengan ku?".


"Apa kamu juga seperti mereka?".


"Hey, kamu ada-ada saja. Laki-laki mana yang mau dengan wanita miskin seperti aku?".


"Kamu gadis miskin?".


"Iya, tapi kamu juga jangan ikutan mengejek ku. Cukup di kelas kita saja".


"Kamu tidak marah?".


"Kenapa aku harus marah? itu kenyataan yang tidak bisa aku tutupi. Nanti juga kamu akan rasakan bagaimana mereka menindas orang miskin seperti ku".


"Mereka tidak akan bisa melakukan itu kepada ku".


"Apa karna kamu laki-laki?".


"Tidak".


"Terus?".


"Rahasia".

__ADS_1


Afia tertawa, lalu meminta Hendry menjadi temannya, itupun kalau Hendry mau. Namun bukannya menjawab, Hendry malah bertanya. "Kamu menyukai ku?".


Deng.....


__ADS_2